ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
OBAT-OBATAN


__ADS_3

Rengekan Shin terdengar, menolak untuk dirawat karena sangat penasaran dengan sosok Dokter Liana.


Diana dan Papa Calvin sampai binggung, tidak mengerti siapa orang yang sedang Shin bicarakan. Dia seharusnya mengkhawatirkan matanya, bukan sibuk mencari tahu tentang seseorang.


"Siapa yang kamu bicarakan? Papa tidak mengerti."


"Papa pasti tahu Dokter Liana, dia siapa?"


"Liana? Dokter? apa dia yang menangani kamu?" Calvin melihat ke arah Diana, kepala Di menggeleng karena Dokter yang menangani Shin Dokter Arjuna.


Suara rengekan Shin semakin kuat, langsung berdiri berjalan ke arah meja sampai menjatuhkan barang-barang Diana.


Papa Calvin langsung membantu Shin untuk berdiri, berbicara baik-baik tidak harus dengan amukan.


"Dokter Liana Pa,"


"Dokter Li? apa Dokter Liana yang menangani Citra?" tatapan Di melihat Dokter Calvin yang baru menyadari Dokter yang Shin bicarakan.


Papa Calvin sangat mengenal Dokter Li, dia Dokter yang sangat berpengalaman dalam bidangnya. Dan kemampuannya cukup diakui oleh keluarga Leondra.


Keluarga juga sudah menganggap Dokter Li bagian dari Leondra karena secara turun-temurun keluarganya menjadi dokter pribadi keluarga.


"Apa dia cantik Pa?"


"Iya dia cantik, baik, tutur katanya sopan, dia Dokter yang profesional." Papa Calvin menjelaskan karakter Li.


Kepala Shin langsung tertunduk, tidak bersemangat sama sekali. Apa lagi hubungan dengan keluarga Leondra sangat baik.


Dokter Li terlahir dari keluarga baik, berpendidikan tinggi, memiliki gelar, keluarganya memiliki peran penting.


Shin tidak bisa dibandingkan dengan Li, dirinya kalah dari segala segi. Kehidupan Shin dan Li berbanding terbalik.


"Dokter Li tidak secantik kamu Shin, masih kalah jauh. Diana lebih cantik dari Dokter Li."


"Benarkah, Shin lebih percaya kepada Kak Di." Senyuman Diana terlihat, langsung memeluk Diana, tapi salah peluk.


Papa Calvin memeluk lembut Shin, Putrinya pastinya paling cantik tidak bisa dibandingkan dengan siapapun.


Tawa Shin terdengar, meminta Papanya mengatakan jika Shin lebih cantik dari Dokter Li.


"Putri Papa jauh lebih cantik dan baik dari siapapun." Tangan Calvin mengusap kepala Shin, memintanya untuk segera beristirahat.


Papa Calvin ingin menemui Juna, dan menindaklanjuti soal kondisi Shin. Diana juga ikut pergi untuk memastikan bahaya obat yang Shin konsumsi.

__ADS_1


Langkah Dokter Calvin berhenti, menatap Diana yang berjalan di belakangnya. Kepala Di tertunduk masih melihat laporan Shin.


"Apa yang sebenarnya terjadi Dokter Di?"


"Lebih baik kita tanyakan langsung kepada Dokter Juna Pa, dia yang menangani pertama kali." Di berjalan beriringan ke arah ruangan Juna.


Dokter Calvin menatap beberapa orang yang melewati mereka, Diana juga langsung menoleh ke belakang.


"Pa, Diana mohon jangan turun tangan. Genta sudah turun langsung dan mulai melakukan penyelidikan, lebih baik berikan Genta kepercayaan untuk mengungkap hubungannya dan Shin." Di mengetuk pintu ruangan Juna.


"Dia terlalu lambat Di, sejak Papa meninggal Genta mengabaikan ucapan Gemal, salahnya aku tidak pernah bertanya siapa Genta kepada Papa dahulu." Calvin langsung melangkah masuk, melihat Juna yang duduk sambil tersenyum.


"Mereka tidak ada hubungan darah Pa, aku dan Gemal sudah mencari tahu tiga tahun yang lalu." Di menghela nafasnya, langsung duduk di dihadapan Juna.


Calvin dan Diana menghentikan pembicaraan mereka, membiarkan Genta mengurus masalah keluarganya, hal utama yang harus Calvin lakukan menyembuhkan Shin.


Ekspresi wajah Juna sangat santai, dia langsung menyerahkan jadwal operasi untuk Shin. Sebelum Calvin dan Diana bertanya Juna sudah bicara lebih dulu, jika dirinya tahu Shin mengkonsumsi obat berbahaya.


"Sudah berapa lama dia mengkonsumsi obat ini Juna?" tangan Calvin memegang obat yang Shin minum.


"Perkiraan Juna tiga bulan yang lalu,"


"Kondisi Shin sangat kuat, kenapa bisa langsung mengalami kebutaan?" Di juga penasaran penyebab Shin buta.


"Penglihatan sudah mulai rabun, tapi mungkin masih berpikir positif lelah bekerja, tubuhnya mulai sakit, cepat lelah, tapi energinya masih full." Juna menunjukkan penyebaran obat.


Saat Shin dan Tika bertarung cendera sudah parah, Juna mengobatinya dan mulai sadar ada yang tidak biasa sehingga melakukan pengecekkan detail dan menemukan sesuatu yang fatal.


Pertarungan kembali terjadi dalam jangka waktu dekat, pukulan di tulang belakang menyebabkan kebutaan permanen.


"Jika kamu tidak bertindak, mungkin Shin juga lumpuh." Kepala Papa Calvin tertunduk.


"Dokter Calvin benar, aku fokus untuk menghindari kelumpuhan dan salahnya aku lengah di bagian lain. Syukurlah Shin tidak mengalami mati otak, dan hanya buta." Juna membalik map yang diberikan kepada Diana.


"Bagaimana soal pengobatan Jun?"


"Ini hasil laporan kondisi Shin, besok Juna akan melakukan operasi. Obat-obatan yang aku berikan kepada Shin, berhasil menghentikan penyebaran obat yang sebelumnya dirinya minum." Juna menunjukkan laptopnya, memberitahu resikonya.


Diana menghela napasnya, tidak ada pilihan lain keputusan Juna yang paling tepat. Di sependapat dan mendukung Juna untuk segera bertindak.


"Kira-kira siapa yang bisa mendekati Shin? dia tidak mudah didekati, apalagi sampai bisa meminum obat berbahaya." Kepala Diana pusing berpikir.


Suasana hening, tidak ada yang tahu siapa pelaku yang menukar obat-obatan Shin. Diana juga tahu jika Shin, memiliki kemampuan dalam dunia medis hanya saja tidak didalami.

__ADS_1


"Diana tidak percaya Shin bisa ditipu orang dalam?"


"Penjahat tidak semuanya orang dalam, bisa saja orang yang hanya lewat sesekali." Juna menutup semua berkasnya melihat ke arah pintu.


Shin berdiri di balik pintu dan mendengar semua pembicaraan, senyuman Shin terlihat langsung melangkah pergi.


"Aku keluar dulu, kita bertemu besok saat operasi." Juna langsung keluar, mengikuti Shin yang sudah melangkah pergi.


Tanpa mengunakan tongkat, Shin berjalan selayaknya orang normal. Langkanya pelan, sesekali berhenti.


"Apa Atika juga tahu? apa Kak Genta juga tahu? kenapa aku bodoh sekali." Shin memukul kepalanya sendiri.


Langkah Shin terhenti saat menabrak tempat sampah, beberapa orang langsung membantunya berdiri.


Shin bergerak langsung membanting orang yang memegang pinggangnya, Juna langsung berlari mengejar pria yang sudah menyayat perut Shin.


"Sialan, mereka masih mengincar nyawaku." Shin tersenyum sinis, merasakan ada darah di tangannya.


"Shin, kamu berdarah."


"Ini darah pria tadi, aku yang menyayat perutnya. Jangan katakan apapun kepada Papa, anggap ini tidak terjadi." Shin tersenyum, merasakan Juna yang tegang.


"Bagaimana kamu bisa tahu jika dia pria?"


Tawa Shin langsung terdengar, Juna terlalu lucu bagi Shin. Tentu dirinya tahu, saat membanting lawannya sangat berat.


"Kamu masih bisa tertawa? ada orang yang ingin kamu mati." Juna tidak habis pikir melihat Shin yang cekikikan tertawa.


"Cepat sembuhkan mata Shin Ay Jun, aku ingin melihat sehebat apa mereka?" Shin tersenyum sinis, mencium bau darah di tangannya.


***


follow Ig Vhiaazaira


***


episode selanjutnya balik ke Tika.


Kenapa digabung kak? kenapa tidak dipisah saja antara kisah Shin dan Tika.


Bukan aku tidak mau memisahkan, tapi konflik mereka bersangkutan. Biar cepat, aku putuskan gabung.


***

__ADS_1


-


__ADS_2