
Di tempat pemakaman ramai, ada pemakaman secara besar. Dua puluh satu tulang belulang, dan juga satu jenazah yang mulai membusuk.
Semuanya dimakamkan di tempat pemakaman umum, Aliya dan Altha juga turut hadir untuk mengantarkan seluruh korban ke tempat yang tenang meskipun terlambat.
Dimas juga hadir bersama Anggun, keduanya tersenyum melihat Aliya dirangkul oleh suaminya. Kasus terbongkar saat Aliya sudah memiliki pelindung.
Tidak bisa Dimas bayangan jika Altha tidak nekat masuk terowongan, mungkin Aliya sudah menjadi salah satu korban yang akan dimakamkan secara bersamaan.
Aliya hanya diam saja melihat pemakaman dari awal sampai akhir, satu hal yang ingin Aliya lakukan meneteskan air matanya. Sesakit apapun hati Al, dia tidak bisa menangis.
"Mama, maafkan Aliya. Hati Al sakit, sangat sakit tetapi Al tidak bisa menangis. Kalian sudah bebas dari rasa sakit, hanya Aliya yang masih menderita." Al tersenyum, berbicara dalam hatinya.
"Kenapa Aliya tersenyum? apakah kematian lucu baginya?" Kenan mengerutkan keningnya merasa aneh.
"Aku juga pasti tersenyum jika melihat kamu terkubur bersama tulang belulang." Dika menahan tawanya.
Tatapan mata Dimas tajam melihat adiknya yang tertawa di tempat duka, Dika langsung memukul kepala Kenan agar diam. Dirinya bisa tekena masalah jika Dimas sudah marah.
Pemakaman selesai, Aliya langsung menaburkan bunga di makan kedua orangtuanya.
"Di mana Alina?"
"Makam Alina kosong, Tante kamu sudah melenyapkannya." Altha meminta Al segera menabur bunga.
Hujan akhirnya turun deras, Altha meminta payung. Sedangkan orang lain sudah berlarian.
Aliya berjalan bersama Altha meninggalkan pemakaman yang langsung basah, sejujurnya hati Al masih gelisah, tapi semuanya sudah berakhir.
Mobil melaju pergi, Anggun menggenggam tangan Aliya yang hanya diam saja. Al yang ceria sudah berubah.
"Al, kebenaran memang menyakitkan, tapi ini adil untuk semua korban. Kak Anggun tahu kamu sedih, Aliya masih punya kak Anggun." Genggaman tangan Anggun erat, dia sangat mengerti perasaan Aliya yang mendadak diam.
Senyuman Aliya terlihat, tidak ada gunanya dia bersedih. Dirinya tidak memiliki banyak moments yang harus dia ingat.
"Kak Anggun tahu tidak jika pak Roby akan menikah? kak Anggun baik-baik saja." Al menatap Altha dan Dimas yang duduk di depan mereka.
Aliya sengaja memanasi keduanya, menceritakan kedekatan Anggun dan Roby. Al berpikir Roby dan Anggun memiliki hubungan spesial tidak disangka jika ada wanita lain yang beruntung memiliki Roby.
Anggun mengerutkan keningnya, dia memang dekat dengan Roby, tapi tidak ada hubungan lebih.
"Kak Anggun kecewa." Al menatap memberikan kode.
__ADS_1
"Emh, pastinya. Dia pria baik, tampan, sangat penyayang. Sulit sekali menerima kenyataan jika dia akhirnya memilih pendamping hidup." Anggun menunjukkan wajahnya yang kecewa.
"Aliya juga kecewa kak, pak Roby guru terbaik Al. Dia lelaki yang sangat luar biasa berpengaruh dalam hidup Al." Mata Aliya tertutup.
"Tidak pantas Al kamu memuji lelaki seperti itu, tidak ada manusia yang sempurna." Altha mengerutkan keningnya.
"Jika dia sebaik itu di mata kalian, kenapa tidak hancurkan saja pernikahannya? selama belum sah masih ada kesempatan." Tatapan Dimas tajam melihat Aliya dan Anggun.
Aliya bertepuk tangan, meminta Dimas membantunya membatalkan pernikahan Roby dan Citra.
Anggun berteriak kaget, bukan hanya Anggun tetapi Dimas juga sama terkejutnya. Sungguh tidak bisa Anggun percaya lelaki sebaik Roby bisa menikahi wanita seperti Citra.
"Al, Roby tidak mungkin menikah dengan mantan istri Altha?"
"Itu faktanya kak, penikahan mereka tidak diadakan besar-besaran." Al menatap tajam meyakinkan Anggun.
"Aku tidak rela kak Roby menikahi wanita seperti dia." Anggun langsung mencari ponselnya.
Anggun melakukan panggilan kepada Roby, setelah mendapatkan jawaban Anggun langsung ke topik permasalahan. Dia masih berharap jika Roby tidak mengiyakan apapun yang dia pertanyakan.
Air mata Citra langsung menetes, tidak bisa Citra terima. Jika anak yang pernah Roby ceritakan tenyata anaknya Citra.
Lelaki sebaik Roby tidak harus menikahi wanita seburuk Citra, dia tidak tulus menginginkan Roby.
"Altha berhentikan mobilnya, aku turun di sini." Anggun mengusap air matanya.
"Jangan Alt, terus saja. Kamu tidak punya hak membatalkan pernikahan orang lain. Altha mantan suami saja tidak shock, jangan bodoh mencintai lelaki yang tidak menginginkan kamu." Tatapan Dimas tajam, kesal sekali melihat Anggun.
"Kak Roby tidak pantas untuk Citra."
"Siapa kamu yang punya hak menilainya? Anggun bahagia tidak dibentuk dari ucapan, tapi dari tindakan. Lelaki baik dia yang siap dengan resiko, bukan lari." Dimas menaikkan nada bicaranya.
Altha menepuk pundak Dimas agar santai saja, tidak harus marah-marah apalagi membentak wanita.
"Kak Dimas cemburu ya, pak Roby tulus menyayangi kak Anggun, berbeda dengan kak Dimas yang jahat kepada kak Anggun." Al tersenyum lucu, candaan Aliya di respon baik.
Dimas mengerutkan keningnya, menatap Anggun yang menangis. Langsung memberikan tisu meminta Anggun diam.
Altha hanya tersenyum melihat Dimas yang sangat dingin, satu-satunya lelaki yang berani membentak Anggun hanya Dimas.
"Diam, masih menangis aku tendang keluar mobil. Jangan tangisi lelaki yang ingin menikah."
__ADS_1
"Kak Roby masih bujang, Citra janda." Anggun menutup mulutnya.
"Kak Anggun, Aliya menikahi duda anak tiga. Kenapa Aliya yang disindir?" Al mengerutkan keningnya.
"Maaf Al, kak Anggun tidak menyindir kamu."
"Dimas juga duda, tapi kamu masih mencintai dia. Menikahlah Anggun, Dimas akan menunggu kamu janda." Altha tertawa, mengusap tangannya yang mendapatkan pukulan.
"Kak Anggun belum menikah sudah disumpah janda." Aliya tertawa kuat, meminta Anggun sabar.
Dimas tersenyum melihat Aliya bisa mudah tertawa, Altha juga tidak mempermasalahkan soal Citra yang akan menikah.
"Altha, bagaimana dengan anak-anak kamu?"
Altha mengangkat kedua bahunya, Alt belum bisa memikirkan cara memberitahu anak-anak soal ibu mereka.
"Santai saja, jika mereka bisa menerima Aliya berarti siap juga menerima ayah tiri. Masalahnya soal Mora, Tika pasti binggung kenapa adiknya bersama Mamanya, sedangkan dia tidak." Al menghela nafas kasar.
Anggun menatap tajam Aliya, Mora bukan anak Altha. Sudah pasti dia akan dibesarkan oleh ayah kandungnya.
Alasan Roby dan Citra menikah hanya karena Mora, rasa bersalah Roby sangat besar kepada putrinya.
"Aliya, kamu bisa menghabiskan sedikit waktu bersama Juna dan Tika. Perlahan buatlah mereka mengerti." Altha menghentikan mobilnya setelah sampai rumah.
Senyuman Aliya terlihat, tidak perlu Altha minta. Sudah menjadi kewajiban Al untuk menjaga hati anak-anaknya.
"Mami pulang, cepat masuk Mami." Tika membuka pintu menyambut Aliya penuh semangat.
"Apa yang kamu lakukan Tika?" Al curiga melihat senyuman putrinya.
"Mami jangan marah ya, Tika tidak sengaja." Tika menunjukkan jari-jarinya yang penuh kutek.
Aliya langsung teriak histeris, berlari kencang ke kamarnya untuk mengecek kutek yang baru saja dia koleksi.
"Atika!" Aliya berteriak.
"Iya Mami." Tika langsung berlari menemui Al.
"Dia tidak takut dengan Aliya, kemarahan Aliya menyenangkan bagi Tika." Anggun kebingungan.
"Beginilah isi rumah kami." Alt tersenyum mempersilahkan masuk.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazara