
Keluarga berkumpul di restoran mewah menyambut kepulangan Diana, rusuh dan kacau semakin parah sejak kehadiran Diana.
Makanan sudah siap di atas meja, tapi pertengkaran Tika dan Diana belum juga berakhir.
"Lima tahun sudah berlalu, aku berpikir Diana akan dewasa, tapi kenyataannya dia masih kekanakan." Kepala Dika geleng-geleng melihat Diana yang mengunyah makanannya.
Suara ketukan pintu terdengar, Diana mempersilahkan Salsa masuk. Dika menatap tajam Diana yang membawa orang lain.
"Selamat malam semuanya." Senyuman Salsa terlihat menatap Dika yang mengabaikannya.
Tika memeluk Salsa, memberikan tempat untuk makan bersama keluarganya.
"Salsa, ayo makan. Kamu pasti lelah di rumah sakit, bekerja dua puluh empat jam." Anggun mengambil makanan, meminta Salsa mencicipi makanan.
Tatapan Salsa melihat ke arah Dika yang sangat dingin dan cuek, Diana juga memperhatikan sikap Dika yang biasanya heboh, saat ada Salsa mendadak diam.
Ria sudah bekali-kali berbicara menyapa Dika, tapi hanya diam seribu bahasa. Sesekali senyuman terlihat.
Salsa menyadari keheningan Dika, karena kehadiran dirinya. Meksipun Salsa tidak tahu penyebab Dika berubah dan mengabaikannya.
Makan malam hampir selesai, Anggun dan Dimas pulang bersama Altha, Aliya dan anak-anaknya.
Dika juga langsung pamit pulang, karena ingin bertemu seseorang untuk membahas pekerjaan.
Hanya tersisa Diana dan Salsa yang masih duduk berdua sambil mengemil, juga mengobrol santai.
"Sal, ada masalah apa dengan Dika? kenapa dia berubah?" Di sangat penasaran, dia berpikir Dika sudah menikah dengan Salsa, tapi ternyata hubungan keduanya regang.
Salsa hanya menggelengkan kepalanya tidak mengerti, dia juga tidak paham dengan perubahan sikap Dika.
Menjalin hubungan selama dua tahun dalam keadaan baik-baik saja, Di sibuk bekerja dan Dika juga bekerja ke luar kota, bahkan berbulan-bulan di luar negeri.
Keduanya saling percaya dan memegang komitmen, tapi saat tahun ke tiga, Dika mulai berubah.
"Dia tidak pernah memberikan kabar, dan saat bertemu langsung memutuskan hubungan karena melihat Aku bersama dokter Hendrik." Kepala Salsa tertunduk, karena dia berharap Dika melamarnya bukan meninggalkannya.
"Dika punya pacar baru?"
"Entahlah, aku selalu meminta penjelasan, tapi dia menghindar bahkan memblokir semua akun." Salsa menunjukkan sosial medianya, dan nomor Dika yang tidak bisa dihubungi.
Air mata Salsa menetes, hatinya sakit sekali melihat Dika benar-benar tidak menganggapnya lagi.
Meksipun masih cinta, Salsa masih menjaga harga dirinya sebagai seorang wanita. Dia tidak ingin mengemis cinta, jika Dika tidak menginginkan Salsa hanya bisa merelakan.
"Di, jujur aku tidak rela dia bersama wanita lain, tapi apa boleh buat jika dia bahagia." Tangisan Salsa terdengar seperti ABG yang patah hati.
__ADS_1
"Usia kalian sudah tiga puluh, berhenti berdiam diri. Cinta harus di perjuangkan." Diana merangkul Salsa dan akan membantunya mencari tahu penyebab Dika berubah.
Senyuman Salsa terlihat, dia juga akan membantu Diana mendekati dokter Hendrik. Mereka saling mengenal cukup lama, karena Hendrik donatur tetap di panti Salsa.
"Sepakat, ini baru namanya saling menguntungkan. Dika memang pemarah, tapi tidak mungkin sampai menghamili anak orang." Diana langsung melotot, Salsa memukul Di agar tidak bicara sembarangan.
Diana tertawa melihat Salsa yang masih sangat mencintai Dika, tidak terima lelaki yang dicintainya dijelekkan.
Di dan Salsa langsung berdiri ingin pulang, pintu ruangan terbuka membuat Salsa dan Diana kaget.
"Kak Dika belum pulang?" Di menatap Dika yang melihat ke arah Salsa.
"Kak Dimas meminta aku mengantar kamu pulang." Dika langsung melangkah lebih dulu.
Diana mengangkat tangannya ingin memukul Dika, Salsa semakin sedih mendengar suara dingin mantan kekasihnya.
"Di aku pulang dulu ya." Salsa melambaikan tangannya langsung melangkah pergi.
"Ikut kita saja, sekalian kita antar." Diana menarik tangan Salsa agar masuk mobil.
Salsa langsung menolak, dia sudah menghubungi taksi agar menjemputnya.
"Masuk Di, jika orang tidak ingin jangan dipaksa." Dika membunyikan klakson mobilnya.
Diana mengaruk kepalanya, dia tidak ingin menjadi penonton pertengkaran keduanya yang sudah pasti perang.
Sebuah motor ninja berhenti, Diana langsung tersenyum menutup pintu mobil meminta Dika mengantar Salsa lebih dulu, karena dia punya urusan.
"Aku balas kamu polisi sialan." Di langsung masuk kembali ke dalam restoran.
Gemal kaget melihat Diana ada di belakangnya, mengabaikan Diana karena dirinya sedang ada urusan penting.
"Kamu ingin kencan?"
"Diamlah, sebaiknya kamu pergi." Gemal menunjukkan identitasnya kepada pemilik restoran, langsung melangkah masuk ke ruangan pribadi.
Diana mengikuti Gemal yang sedang mengintai, tatapan Gemal sinis merasa terganggu.
"Kamu bisa pergi tidak?"
"Tidak bisa, aku ingin memberikan kamu pelajaran." Diana melipat tangannya di dada.
"Aku sudah belajar selama lima belas tahun, kepala aku rasanya sudah hampir pecah, jadi sorry saja."
Suara langkah beberapa orang keluar, bocoran keberadaan polisi sudah terdengar. Gemal langsung ingin bergerak.
__ADS_1
Diana menahan tangan Gemal, menakup wajahnya ingin mencium membuat beberapa orang melewati mereka.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Jika menyamar, totalitas jangan setengah-setengah." Di memeluk Gemal yang juga langsung memeluknya.
Setelah sepi, Gemal langsung menghubungi tim jika target melarikan diri dan barang bukti sudah dibawa pergi.
Diana langsung berlari keluar, diikuti oleh Gemal yang langsung menjalankan motornya. Di juga langsung ikut.
Kebut-kebutan di jalanan terjadi, Diana langsung mengambil senjata Gemal yang diarahkan ke ban mobil sampai dua ban pecah.
Tatapan Gemal tajam mengumpat Diana yang ikut campur, jika sampai melukai warga pasti Gemal akan tekena masalah.
Mobil berhenti, Gemal langsung turun mendekati mobil untuk menghentikan pengedar sabu.
"Bodoh, aku rasa kamu belum berpengalaman." Diana menarik Gemal yang hampir tertembak.
Diana langsung lompat ke atas mobil, memukul kuat kaca mobil sampai pecah. Melayangkan tendangan ke dalam mobil sampai dua orang yang mengendarai membuka pintu untuk melarikan diri.
"Kalian tidak akan lolos." Di langsung meminta Gemal menghentikan dua orang yang melarikan diri.
Pertarungan terjadi di jalanan, beberapa polisi mulai berdatangan. Langsung menangkap empat pelaku.
Beberapa barang bukti juga diamankan, dan kasus keberadaan bandar terbongkar.
"Kamu baik-baik saja?"
"Kamu bodoh, polisi culun tidak keren sama sekali." Diana menatap sinis, langsung menaiki motor Gemal.
Diana meminta Gemal naik, dan melaporkan keberadaan bandar sebelum melarikan diri.
"Tunggu, biar aku yang menyetir."
"Naiklah, jika tidak aku tinggalkan." Di mengancam membuat Gemal tepaksa ikut.
Laju motor bekali-kali lipat dari kecepatan Gemal, kedua tangan pria tampan memeluk pinggang kecil Diana.
Mata Gemal terpejam karena ketakutan, Diana hanya menahan tawa melihat tingkah Gemal yang meminta Diana menurunkan kecepatannya.
Jalanan masuk ke hutan, motor sudah terbang membuat Gemal muntah.
Diana menghentikan motor, karena bajunya penuh muntah. Penjahat tidak dapat, Gemal sekarat dan menyasar di hutan.
***
__ADS_1