ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PENDARAHAN


__ADS_3

Suara langkah kaki terdengar di dalam bandara, langkah terhenti langsung melihat ke arah seorang wanita yang berlari kencang ke arahnya.


"Papi, jangankan tinggalkan Shin sendiri. Shin masih kecil, membutuhkan Papi dan Mami." Teriakkan terdengar, menabrak seorang Juna yang menghentikan langkahnya.


Mata Juna terpejam, earphone masih terpasang di telinganya. Sebuah buku terjatuh di samping Juna.


"Semuanya sudah berubah Shin, Mami dan Papi sudah bercerai. Sekarang terserah kamu ingin melakukan apa? jangan anggap kami hidup, begitupun kamu yang sudah mati di hidup kami." Tangan Shin di tepis langsung terlempar.


Juna menghela nafasnya, membawa buku lalu meninggalkan bandara begitu saja. Dirinya tidak ingin ikut campur dengan kehidupan orang lain.


Buku yang terjatuh memiliki nama, juga alamat yang sangat jelas. Juna membuka buku soal perawatan medis, membaca sampai akhir.


"Kita ke rumah sakit sekarang Pak." Juna langsung memejamkan matanya, mencerna apa yang baru saja dirinya baca.


Buku yang luar biasa dan baru pertama kalinya Juna lihat, buku yang tulis secara juga menjadi buku satu-satunya.


"Bagaimana aku mengembalikan buku ini? izinkan aku meminjamkannya." Juna bergumam pelan.


Sesampainya di rumah sakit Juna langsung menemui Salsa yang sudah menunggunya. Senyuman Salsa terlihat, mempersilahkan duduk.


"Bagaimana keadaan kak Di?"


"Selama kita bisa menghindari pendarahan, kemungkinan besar semua bayi selamat." Salsa menatap Juna yang semakin tampan.


Tidak terasa waktu cepat berlalu, tinggi Juna sudah melebihi dirinya. Arjuna sudah mendapatkan izin dari Hendrik untuk menggantikannya.


Salsa memberikan laptopnya, Juna langsung memasukkan flashdisk. Menunjukkan penelitian yang Juna dan Hendrik lakukan, tetapi hasilnya tidak maksimal.


Kemungkinan besar hanya ada satu bayi yang selamat, resikonya juga berbahaya untuk ibu jika terjadi pendarahan.


Sesaat Juna terdiam, menatap buku yang dirinya bawa langsung membuka kembali buku. Meminta Salsa meminjam tempat khusus untuk melakukan penelitian.


Salsa mengizinkan Juna, meninggalkan sendirian karena Salsa harus pulang menemui anaknya.


Rencana lahiran Diana dilakukan pagi hari, segala persiapan sudah dilakukan. Diana juga sudah siap meskipun kandungan baru ingin memasuki tujuh bulan.


Keluarga besar hanya bisa berdoa, memohon keselamatan untuk Diana dan kedua anaknya, lancar operasinya.


"Di, masih bisa bertahan sampai besok?" Gemal mengusap perut besar istrinya.


"Kak Gem, darah." Diana menunjuk darah yang sudah mengalir di kaki Diana.

__ADS_1


Gemal langsung berlari keluar, berteriak memanggil kedua orangtuanya, meminta supir menyiapkan mobil.


Diana mengalami pendarahan, Calvin dan Mam Jes langsung ke kamar, melihat jam baru pukul dua dini hari.


"Jangan panik Diana, kamu harus bertahan." Calvin memintanya tarik nafas buang nafas.


"Gendong Diana Gem, Mama menghubungi Anggun untuk segera menyusul ke rumah sakit." Suara langkah berlarian terdengar.


Mata Diana sudah terpejam, merasakan sakit yang luar biasa. Menggenggam baju Gemal sangat erat.


Darah semakin banyak keluar, tubuh Diana sudah lemas. Langsung jatuh pingsan, Gemal dan Calvin saling pandang.


Setibanya di rumah sakit, masih harus menunggu Salsa yang sebenarnya masih belum aktif, karena cuti melahirkan.


Calvin meminta dokter membantunya melakukan perawatan sementara, asisten Salsa yang berjaga langsung berlari ke arah ruangan Salsa, mengabari Arjuna jika Diana sudah tiba.


Kondisi ibu bayi buruk, kesadarannya sudah hilang. Pendarahan hebat, detak jantung Diana juga melemah.


"Hubungi Dokter Salsa segera, bayi harus segera dikeluarkan." Juna masih melakukan panggilan dengan Hendrik, menjelaskan kondisi Di yang sudah tidak sadarkan diri.


Arjuna menundukkan kepalanya, langsung masuk ke ruangan yang sudah di persiapan. Dokter Calvin di minta keluar, hanya ada Juna dan asisten Dokter Salsa.


Selamat pendarahan bisa dihentikan, kemungkinan besar bisa melakukan operasi.


***


Mendengar suara ponselnya, Salsa langsung menjawab setelah mendapatkan kabar soal Diana yang ingin melahirkan.


Salsa memang sudah bangun, karena anaknya rewel menangis terus. Rupanya ada hal buruk yang terjadi.


"Kak Dika, antar Salsa ke rumah sakit sekarang."


"Ada apa sayang?" Dika yang sudah bangun, menemani istrinya menjaga Dev yang tiba-tiba rewel.


Salsa menjelaskan kondisi Diana, langsung pergi masih menggunakan baju tidur. Dika juga langsung panik, kasihan melihat Diana yang sudah tidak sadarkan diri.


Tangan Salsa, mengusap kepala anaknya. Terpaksa harus membawa Dev yang masih kecil karena kondisi anaknya juga sedang rewel.


Dari ponselnya, Salsa bisa melihat apa yang Juna lakukan. Asistennya merekam tindakan cepat Juna.


"Kamu luar biasa Jun, aku juga tidak terpikirkan." Salsa tersenyum melihat Juna yang berhasil menghentikan pendarahan, hanya harus menyadarkan Diana, juga mengontrol detak jantung Di yang hampir hilang.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi Diana?"


"Tidak baik, kak Dika lebih cepat lagi." Salsa memeluk berdoa di dalam hatinya.


Butuh belasan menit untuk tiba di rumah sakit, Salsa berlari pelan sambil menggendong anaknya yang baru saja tertidur, tapi bangun kembali langsung menangis.


"Salsa." Anggun menatap panik, karena Diana kondisinya drop.


"Kak Anggun, tolong jaga Dev sebentar. Dia lagi rewel, Salsa harus masuk." Anak Salsa diserahkan kepada Anggun, meninggalkan susunya.


Calvin melihat Salsa berlari ke ruangan untuk mengambil baju, juga peralatan yang dibutuhkannya.


Nafas Salsa ngos-ngosan, membuka pintu ruangan operasi. Diana melihat jam sudah menunjukkan pukul tiga, tidak banyak dokter yang bisa membantu.


"Kita lahirkan sekarang." Salsa meminta Juna dan asistennya fokus dan membantunya mengeluarkan bayi.


"Aku bukan calon dokter kandungan Aunty?" Juna menatap Salsa yang menunjukkan senyuman tipis.


"Tugas kamu menjaga Diana, saat bayi berhasil di keluarkan, baru kamu tangani bayi, dan Aunty yang ambil alih soal Diana." Salsa tersenyum meminta Juna santai.


Mata Diana terbuka, Juna langsung menggenggam tangannya, senyuman Di terlihat mengusap wajah Arjuna yang sangat tampan.


"Tetap sadar kak Di, pendarahan bisa terjadi kembali. Juna ada di sini bersama jadi mohon tetap kuat." Juna melihat Salsa juga menatapnya.


Arjuna menganggukkan kepalanya, menyakitkan Salsa jika pendarahan sudah berhenti, tapi kemungkinan akan terjadi kembali.


Saat itu yang paling berbahaya untuk Diana, begitupun dengan janinya yang kemungkinan tidak ada yang selamat.


"Juna, siapa yang keselamatan harus diutamakan?"


"Bayi, jika sampai pendarahan. Tidak ada gunanya memprioritaskan kak Di, siapkan stok darah." Juna bicara sangat pelan.


Pikiran Salsa dan Juna sama, asisten Salsa takut melihat kondisi Diana, kasihan juga melihat baby kembar.


"Juna, Salsa selamat anakku. Dia generasi penerus keluarga Leondra, setidaknya aku pergi setelah meninggalkan harta berharga untuk Gemal." Air mata Diana menetes, menggenggam tangan Juna memohon untuk menjaga anaknya.


Juna tersenyum menatap Di, berjanji tidak akan melepaskan Diana. Jika bisa Ibu dan anak harus keluar dari ruangan operasi dalam keadaan baik.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2