
Teriakan Shin terdengar, memegang pinggangnya saat terjatuh dari atas ranjang karena ditendang oleh Tika yang tidurnya sambil tersenyum dan memeluk bantal guling.
"Di mana ini?"
"Sudah siang, siap-siap bertemu Yayang." Tika lompat-lompat di atas tempat tidur.
Mata Shin menatap kesal, Tika menendangnya dari atas tempat tidur. Semalaman Tika tidak tidur karena bahagia.
Ponsel Tika berdering, panggilan dari Aliya terdengar meminta Tika segera ke rumah sakit. Tanpa pikir panjang, Tika langsung lompat mengambil kunci mobilnya untuk segera pergi.
"Ada apa Tika?"
"Mami menghubungi dari rumah sakit,"
Shin yang tidak tahu penyebab Mami Aliya menghubungi, Shin langsung mengambil kunci mobilnya yang tertukar dengan milik Tika bergegas pergi.
Dua mobil mewah meninggalkan hotel begitu saja, di jalanan kebut-kebutan sampai tiba di rumah sakit.
"Tika, ada ada apa dengan Ria?" Shin keluar dari mobil mengembalikan kunci mobil Tika, dan mengambil miliknya.
"Tidak ada apapun, hari ini Ria sudah boleh pulang." Senyuman Tika terlihat, berlari kencang ke dalam rumah sakit meninggalkan Shin yang masih mengumpulkan nyawanya.
"Sialan!" tubuh Shin terduduk di depan mobil sambil melamun.
Tidak ada yang Shin pikirkan, dia hanya ingin diam sambil begong. Melamun tanpa ada beban pikiran.
"Nyawa kamu belum muncul Shin?" Arjuna berdiri di depan Shin yang masih tetap melamun.
Tangan Juna menyentuh kening, dan denyut nadi Shin yang normal. Rambut acak-acakan seperti bangun tidur, mata Shin juga masih satu menahan ngantuk.
"Arshinta, sadarlah,"
"Kenapa disadarkan? Shin lagi enak melamun." Lipatan dikening terlihat, menunjukkan ekspresi marah karena sudah dibangunkan.
"Lihat tempat, ini umum. Kamu menjadi pusat perhatian." Tangan Shin ditarik, memaksanya untuk berdiri dan pulang ke rumah.
"Ada apa Jun? astaghfirullah. Kenapa kamu Shin?"
"Lagi melamun, pikiran Shin lagi kosong. Aku membutuhkan tidur, setidaknya tiga hari." Shin memeluk Juna yang menahan tubuhnya.
"Tidurlah, sebentar lagi kamu aku lempar ke tempat sampah." Tatapan mata Juna tajam meminta Shin pulang.
__ADS_1
Tatapan mata Shin juga sinis, berjalan masuk ke mobilnya. Altha langsung meminta Juna menghentikan, Shin mengantuk ingin membawa mobil bisa habis orang di jalanan.
"Tinggalkan saja mobil, antar pulang Jun." Alt membukakan pintu mobil, Shin tersenyum mengucapkan terima kasih kepada Altha.
Dari kejauhan Tika dan Ria berlari rebutan masuk mobil ingin pulang bersama Juna karena jika bersama Maminya pasti mendengar ocehan dan keromantisan orangtuanya.
"Shin pulang bersama Mami saja,"
"Baiklah, ayo pulang Pi." Aliya membukakan pintu mobil untuk Shin.
Sepanjang perjalanan Shin masih melamun membuat Aliya tersenyum dengan tingkah laku random anak-anak disekitarnya.
"Shin, kamu punya pacar?"
"Punya suami,"
Aliya dan Altha langsung melihat ke belakang,. menatap Shin yang tertawa pelan masih saja melamun.
"Siapa pria yang beruntung itu?" Al bersemangat mendengarkan cerita Shin tentang suaminya.
"Dia pria paling bodoh,"
Helaan napas terdengar, Shin juga tidak mengerti dirinya. Pertama melihat langsung jatuh cinta, dan sampai dirinya dewasa belum bisa mencari penggantinya.
"Cinta hanya satu kali Shin, jika berkali-kali itu kagum." Alt menimpali ucapan Shin.
"Uncle Altha, dulu mencintai Mama Citra, lalu mencintai Mami Aliya. Kenapa cintanya ada dua?" Shin menatap Altha tanpa sungkan.
Senyuman Altha terlihat, dan masih fokus di menyetir mobil. Aliya juga menatap suaminya meminta jawaban.
"Mami dan Papi jangan bertengkar, Shin hanya bertanya." Cepat Shin mengembalikan kesadarannya.
"Jawab Papi,"
Alt tertawa melihat istrinya yang penasaran, rasa kagum dan cinta beda tipis. Kagum sama halnya dengan sayang, bisa diberikan kepada siapapun yang dianggap spesial.
Kebersamaan dengan Citra tidak pernah Altha sesali, Alt mengenal Citra karena dia baik, dewasa, dan wanita pekerja keras. Alt mengenal sosok wanita yang dipikir ini jodoh dan akhir dari pencarian.
Satu dua tahun berlalu, zaman terus berubah, kemampuan orang terus meningkat dan keserakahan manusia tentu meningkat. Seandainya Citra masih menjadi sosok wanita yang Altha kenal, mungkin itu cinta. Alt melakukan kesalahan di awal, dia mengangumi apa yang terlihat di depan matanya bukan kenyataannya.
"Shin, jangan pernah mengatakan aku mencintai dia sejak pandangan pertama, Papi yakin itu rasa kagum kamu, kenali dia, keluarganya. Lakukan kesalahan agar kamu tahu bagaimana dia menyingkapi, jangan menjadi wanita baik, tunjukkan betapa buruknya kamu. Perlahan kamu akan tahu siapa dia." Alt menggenggam erat tangan istrinya.
__ADS_1
"Shin tahu semuanya, tapi Shin tidak bisa memilikinya." Kepala shin gatal melihat genggaman tangan di depannya.
"Tinggalkan, jika takdir mempersulit dan menyiksa kamu. Tinggalkan perasaan itu, kamu tidak harus melawan. Jika dia jodoh kamu, pasti bertemu." Al meminta Shin tidak memaksa kehendak
Senyuman Shin terlihat, dia sudah melakukannya sebelum mengatakan siapa orangnya. Shin yakin sesuatu yang dipaksakan tidak akan baik.
"Mami, bagaimana menurut Mami soal Dina sahabatnya Kak Ana?"
"Siapa Dina?"
"Mami tidak tahu? sahabatnya Kak Ana." Shin mengerutkan keningnya.
"Oh, pengurus panti. Dia juga seorang MUA, kamu ingin menikah gunakan dia saja,"
Pandangan Shin langsung keluar, Dina tidak memiliki cacat apapun. Apalagi dia wanita yang menjalani pekerjaan mulia. Shin membuang pikiran buruknya, tidak ingin memikirkan soal Ana, kemungkinan besar dia hanya wanita yang mirip saja.
"Ada masalah apa Shin?"
"Tidak ada Pi, Shin hanya bertanya. Jika dia MUA itu hal yang bagus, kita bisa melibatkan dia, jika ada acara khusus." Senyuman Shin terlihat, mengucapkan terima kasih karena Altha dan Aliya sudah mengantarkan pulang.
Al meminta Shin berhenti, mengagumi pria tidak salah. Wanita normal mencintai dalam diam, wanita seperti mereka harus berjuang sampai dapat. Jika tidak bisa baik, maka paksa.
Al menyemangati Shin agar segera mendapatkan cintanya, dan Al akan menjadi orang yang paling bahagia, jika Shin menemukan pangerannya.
"Aliya, jangan memberikan saran yang salah." Altha meminta Shin masuk rumah.
"Kenapa salah, aku memaksa Om sampai menjebak di kamar hotel. Anggun mengejar cinta Dimas bertahun-tahun, cinta kami memaksa." Al tersenyum bangga.
Shin menatap kaget, memberikan dua jempol untuk Aliya yang bar-bar menjebak seorang polisi di kamar hotel agar menikahinya.
Sikap pemberani Aliya diikuti oleh Tika yang memaksa Genta untuk tidur sekamar. Shin sangat memaklumi jika buah tidak mungkin jatuh jauh dari pohonnya.
"Siapa yang ingin tidur di hotel?" Altha dan Aliya sama kagetnya.
"Apa yang Al dulu lakukan jangan di contoh!" Al berteriak melihat Shin masuk ke dalam rumah.
Tawa Altha terdengar, Aliya memang tidak sesuai ucapannya. Hanya dia yang boleh melakukan kesalahan, anak-anak tidak boleh.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1