
Senyuman Aliya terlihat menatap Atika yang melangkah keluar dari kelasnya, langsung masuk mobil mencium pipi Maminya.
"Akhirnya Mami menepati janji untuk menjemput Tika." Senyuman manis terlihat.
Aliya juga tersenyum, langsung menjalankan mobilnya untuk makan siang bersama. Sebelum makan siang, Al mampir sebentar ke supermarket untuk membelikan Tika es krim kesukaannya.
Di tempat yang sama Tika melihat Mamanya bersama Roby dan Mora, tatapan tajam juga penuh tanda tanya.
Pintu mobil terbuka, Atika langsung berlari mengejar Mamanya. Suara sepatu Tika terdengar terus mengejar dan memanggil mamanya.
"Mama ... Ma tunggu Tika. Mama tunggu." Atika berlari kencang mengejar Citra yang masuk ke dalam mobilnya.
Aliya yang menyadari langsung menjatuhkan barang belanjaannya, berlari kencang mengejar Tika yang menyebrangi jalanan.
Sebuah mobil dengan kecepatan sangat tinggi mendekati Tika yang masih memanggil mamanya.
"Mama." Tika berteriak kuat.
Roby dan Citra langsung melihat Tika yang menyebrangi jalanan, sambil terus memanggil Mama.
Tatapan Roby tajam melihat Tika, langsung berlari ke jalanan karena ada mobil dengan kecepatan tinggi.
Roby berhasil menggendong Tika, suara klakson terdengar. Roby tidak bisa menghindar karena kecepatan mobil yang sangat kencang.
Tubuh Roby terlempar ke pinggir jalan, menutup mata Tika agar tidak melihat apa yang terjadi.
Citra berteriak kuat, tubuh Aliya tertabrak dan terlempar ke atas mobil lalu menggelinding jatuh. Bersyukur mobil yang lainnya sudah berhenti.
Roby dan Citra melihat Aliya berdiri, memegang kakinya yang terluka. Al melihat BN mobil dan memastikan akan memberikan pelajaran kepada siapapun yang berani menyentuhnya.
Al melihat Tika dalam pelukan Roby, matanya masih ditutup. Al langsung mendekati Citra dan menampar wajahnya kuat.
"Kamu gagal menjadi ibu yang baik, anak kamu ada tiga bukan hanya Mora. Berikan sedikit saja perhatian untuk Tika dan Juna. Perempuan sialan." Al meludahi Citra.
Al mendekati Roby, langsung mengambil putrinya Tika. Tatapan Roby sangat khawatir.
"Aliya kamu harus ke rumah sakit, saya akan mengantar kamu." Wajah cemas Roby terlihat.
"Tidak perlu, ajari calon istri anda untuk mencintai ketiga anaknya. Kenapa dia hanya merasa bersalah kepada Mora, dan melupakan kedua anaknya. Kalian selamatkan satu anak, dan menghancurkan masa depan kedua anak lainnya." Aliya langsung melangkah pergi.
Kaki Aliya masih penuh darah, jalannya juga pincang. Citra menatap wajah Tika yang meneteskan air matanya.
Tika masuk ke dalam mobil, Al juga langsung menjalankan mobilnya ke arah rumah. Menghubungi Altha jika Tika hampir mengalami kecelakaan.
Aliya dan Atika saling diam, tidak ada kata-kata yang keluar. Tika langsung menangis kuat, Al hanya diam saja tidak berencana untuk menenangkan putrinya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Altha sudah ada di rumah dengan wajah khawatir, langsung membuka pintu melihat keadaan Tika.
Tangisan Tika semakin kuat, langsung memeluk erat Papinya. Altha mengecek seluruh tubuh putrinya yang tidak mengalami luka sedikitpun.
"Apa yang terjadi Tika?"
"Tika melihat Mama, tapi Mama tidak ingin melihat Tika. Kenapa Pi?"
"Sayang, jika kamu ingin bertemu Mama, telpon dulu atau pergi ke tempat Mama, mengejar di jalanan itu bahaya." Alt menatap putrinya menjelaskan agar dirinya mengerti.
Aliya membuka pintu, langsung melangkah masuk. Altha langsung berdiri melihat jejak kaki Aliya penuh darah.
"Al berhenti."
"Biarkan aku sendiri, kamu jaga saja Tika." Al langsung melangkah ke kamarnya dan mengunci pintu rapat.
Aliya langsung masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya. Tubuh Aliya terasa remuk dan rasanya tulang sudah patah.
Bathub mandi berubah merah, Aliya tidak tahu bagian mana yang terluka, tidak ada rasa sakit hanya rasa takut jika Tika terluka parah.
Sambil berendam, Aliya menghubungi seseorang memintanya menyelidik soal mobil yang ingin menabrak Tika.
Aliya yakin mobil bisa menghindar, karena jarak Tika sudah dekat pinggir jalan.
Selesai berendam, Aliya meminta Helen ke kamarnya. Tatapan Helen cukup kaget melihat Al penuh luka.
"Apa yang terjadi kak?"
"Biasalah, terbang ditabrak mobil. Tubuh aku sakit semua, tolong kamu perbaikan tulang yang berpencar seperti biasanya." Aliya tertawa melihat Helen yang meringis.
Helen langsung mengobati kaki Aliya, meksipun ini bukan pertama kalinya Aliya kecelakaan. Bahkan dia bekali-kali kecelakaan saat balapan liar, bagi Al nyawanya ada seribu.
"Luka di kepala cukup parah kak, tidak ingin ke rumah sakit?"
"Aku ingin tidur Len, besok pasti tubuh aku tidak bisa digerakkan. Selama satu minggu ini, larang Juna, Tika dan Altha masuk. Kamu pegang kunci kamar." Al memejamkan matanya beristirahat.
Elen menuruti apa yang Aliya katakan, dia harus mengawasi Tika pulang dan pergi sekolah.
Di depan pintu kamar, Altha sudah berdiri dan menunggu Helen keluar. Altha mendengarkan penjelasan Elen, dan meminta untuk menjaga Aliya selama satu minggu.
Altha akan membawa anak-anak sementara menjauhi Aliya demi kebaikan, Al membawa Tika dan Juna ke apartemen Citra.
"Bagaimana keadaan Tika?"
"Dia baik-baik saja, kamu jaga anak-anak sebelum pernikahan. Aku ada pekerjaan ke luar kota." Altha tidak menunggu jawaban Citra, langsung melangkah pergi.
__ADS_1
Altha berbohong jika dirinya ingin pergi ke luar kota, dia hanya ingin anak-anak menjauhi Aliya sementara waktu, terutama Atika.
Alt ingin kedua anaknya merasakan perbedaan saat bersama Aliya dan Citra, meskipun Alt tidak pantas membandingkan keduanya.
***
Sudah tiga hari Aliya tidak turun dari atas tempat tidur, tubuhnya terasa remuk dan tidak berdaya.
"Di mana Tika?"
"Tidak tahu kak Al, mereka dibawa pergi oleh tuan."
"Bagaimana keadaan kamu Aliya?" Altha tersenyum meminta Elen keluar.
"Di mana anak-anak?"
"Bersama ibunya, aku ingin mereka menghabiskan waktu bersama Citra sebelum Citra memiliki kehidupan baru." Senyuman Altha terlihat, menatap Aliya yang merasakan tubuhnya sakit.
Aliya menceritakan soal kecelakaan, Al marah kepada dirinya sendiri. Seharusnya membawa Tika ke dalam, tidak meninggalkannya sendirian.
Al tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika Tika sampai terluka, Al bahkan tidak bisa menahan emosi melihat wajah Citra.
"Kamu cemburu dengan Citra?" Alt melihat luka di kaki Aliya yang mengering, karena Altha memanggil dokter tanpa sepengetahuan Aliya.
"Iya, kenapa dia harus mengejar Citra. Aku sangat menyayanginya, seharusnya ...." Al menundukkan kepalanya.
Altha tertawa kecil, dia tahu kasih sayang Aliya tulus, tapi tidak bisa dipungkiri jika Tika pasti juga menginginkan cinta Mamanya.
Hubungan ibu dan anak tidak bisa dipisahkan hanya karena rasa egois, Altha tahu Aliya berniat baik, dan sangat memprioritaskan Atika.
"Al, kamu penting dan ada di hati Tika, tapi hati kecilnya menyimpan moments bersama Mamanya." Altha meminta Aliya memaklumi anak-anak.
"Apa aku tidak bisa menjadi ibunya?"
"Di mata aku selama ini kamu sudah menjadi ibu yang baik. Cepat sembuh dan jangan meminta aku menjauh." Alt meminta Aliya beristirahat sampai sakit ditubuhnya menghilang.
Altha juga meninggalkan obat, dan beberapa cemilan kesukaan Aliya.
"Malam ini temani Al tidur." Senyuman Al terlihat setelah melihat Altha mengangguk.
***
done tiga bab
follow Ig Vhiaazara
__ADS_1