
Suara teriakan Diana terdengar menggema, memasuki rumah Altha yang semakin besar dan mewah, bahkan bertingkat-tingkat.
"Hai, Arjuanda. Kak Di pulang." Diana joget-joget ingin mencium bocah kecil mengemaskan.
"Kak di memangnya dari mana?" Juan mencium tangan Di, tapi menolak dicium.
Bibir Diana monyong, kesal melihat Juan versi kecil Juna. Saat melihat Tika yang berjalan menuruni tangga, Di langsung berlari merentangkan tangannya.
Suara dentuman jatuh terdengar, Diana jatuh tersungkur karena menginjak bola kecil milik Ria yang sengaja dia lempar sembarang.
Tika langsung tertawa terpingkal-pingkal, duduk di tangga tidak bisa menahan tawanya melihat hidung Diana berdarah.
Riana juga sudah tertawa cekikikan melihat Diana yang tengkurap di lantai, tanpa rasa bersalah Ria menendang bola tepat mengenai kepala Diana.
"Kakak jahat, Ria pukul ya." Suara Riana teriak terdengar ingin menjambak Diana.
Di langsung mengangkat Ria dengan satu tangan, Tika sudah guling-guling tertawa melihat adiknya berperang dengan Diana.
"Aduh sakitnya perut Tika." Suara tawa Tika tidak bisa berhenti.
Diana duduk bersama Tika yang langsung memeluk adiknya yang sangat nakal, Diana sampai geleng-geleng melihat Ria.
"Tika dulu bisa dijadikan teman, ini anak mirip siluman." Di menatap sinis Ria yang memeluk kakaknya.
"Ria lapor kak Juna, nanti kak Di bakal di marah, kasih tahu Papi juga."
"Bodok amat! emang gue pikirin." Di meremas wajah Ria yang mengemaskan.
Aliya muncul melihat kakaknya kembali, dan saat tiba langsung acak-acakan juga bertengkar dengan Ria.
"Rumah ini semakin mewah, kalian ngepet ya?" Diana tertawa langsung berlari keluar rumah untuk menemui Mommynya.
Tika juga menyusul Diana, banyak hal yang ingin mereka ceritakan setelah lima tahun tidak bertemu.
Pelukan Diana erat kepada Mommynya yang menatap foto keluarga mereka.
"Diana, kamu pulang. Kenapa baru sekarang? Mommy kangen kamu Di." Anggun langsung menangis menciumi wajah Diana yang semakin kurus, wajahnya pucat dan tidak menor lagi.
"Mommy jangan menangis." Diana juga langsung menangis karena merindukan Mommynya.
"Jangan pergi lagi, kamu harus tinggal di sini. Mommy kesepian." Anggun mengusap air matanya.
Diana tersenyum memeluk erat, sebenarnya dirinya sudah kembali sejak tiga bulan yang lalu, tapi belum bisa bertemu karena ada banyak jadwal operasi di beberapa tempat.
__ADS_1
Diana belum menentukan rumah sakit, dan sekarang memilih dan langsung kembali setelah menyelesaikan operasi terakhir.
"Kamu jangan bekerja terlalu lelah, kenapa sekarang kurus?" suara tangisan Anggun semakin menjadi-jadi.
Di tersenyum mengusap air mata wanita yang sangat menyayanginya, sejak diangkat anak Di tidak pernah merasakan dibedakan antara dirinya dan Dean.
"Diana diet Mom, ini tubuh terseksi." Di berputar-putar mencari adiknya Dean yang sedang bermain.
Suara tawa Dean terdengar, memeluk Diana yang selalu memarahinya dari balik telpon.
"Kenapa kak Di pulang? Dean suka jika tidak ada kak Di."
Diana langsung melotot, memanggul adiknya dan melemparkan Dean di atas sofa.
"Mommy Diana lapar."
"Tidak boleh, kak Di harus masak sendiri."
Tika memukul kepala Dean, memintanya untuk diam. Laki-laki mulutnya cerewet seperti perempuan.
Dean langsung ingin melaporkan Tika kepada Juan dan Juna agar di marah, karena memukulnya.
"Kamu pasti kesulitan mengurus mereka?" Di tersenyum memeluk Tika yang semakin cantik.
"Siapa bilang? mereka yang kesulitan karena ada Tika. Kak Juna setiap hari marah mengalahkan Mami." Tika tersenyum manis, jika dirinya sangat suka membuat kacau.
"Kakak, assalamualaikum. Ria si cantik, manis dan imut datang." Senyuman Ria terlihat langsung duduk di samping Diana yang menatapnya sinis.
"Ish, pede banget! Ria cantik, manis, mirip baby yang setengah sinting." Suara tawa Diana dan Tika terdengar melihat Ria yang cemberut.
Ria langsung menampar mulut Diana, tendangan Di kuat membuat satu meja tamu pecah berhamburan.
Diana, Tika dan Ria langsung berdiri di atas sofa, melihat meja kaca pecah. Anggun langsung berlari melihat meja kaca yang baru satu hari di beli pecah.
"Bukan Diana."
"Bukan Tika juga." Kepala Tika menggeleng.
"Ria juga bukan mommy, sumpah. Ria tidak pernah bohong, Kak Di sama kak Tika yang salah, Ria anak baik." Kedua tangan Ria memohon.
Tika menatap tajam adiknya, tidak boleh membawa nama dirinya dalam masalah apapun.
"Mommy, kak Tika juga tidak salah. Kak Diana yang salah."
__ADS_1
Diana langsung melotot, matanya hampir keluar mengutuk Ria yang memojokkannya.
"Eh salah lagi, kita bertiga tidak salah. Ini semua salahnya Mommy, kenapa mejanya di sini." Riana memarahi Anggun untuk menutupi kesalahan mereka bertiga.
Aliya datang bersama Altha dan Dimas, kaget melihat banyaknya pecahan kaca dan melihat tiga wanita pengacau ada di atas sofa.
"Astaghfirullah Al azim, sabar Aliya." Al mengusap dadanya melihat dua putrinya juga terlibat.
"Wow, meja baru Mommy pecah." Dean bertepuk tangan.
Juna dan Juan juga muncul, kaget melihat pecahan kaca yang sampai depan pintu. Melihat Diana juga sudah kembali.
"Siapa yang melakukan ini Ria?" Juna menatap adik bungsunya yang menundukkan kepalanya meminta pembelaan Tika.
Atika juga menundukkan kepalanya, jika kakaknya Juna yang bicara urusan pajang.
"Ria, kamu dengar tidak?"
Tatapan Ria melihat Tika dan Diana, langsung meminta maaf kepada kakaknya. Dia sedang bermain bersama Diana dan Tika, tapi Di menendangnya dan Tika menarik tangannya, lalu kakinya menendang kuat meja.
"Menurut kak Juna siapa yang salah, Ria tidak mungkin menendang meja jika kak Tika tidak menarik, kak Tika tidak mungkin menarik jika kak Di tidak menendang. Maka yang salah mejanya." Senyuman Ria, Tika dan Diana terlihat setuju.
Tika langsung ingin lompat, Aliya langsung teriak melarang Tika turun.
Tatapan semua orang melihat ke arah Ria dan Diana yang sudah turun lompat-lompat, langsung balik lagi ke atas sofa.
Suara tawa langsung pecah, Altha dan Dimas balik badan sambil tertawa lucu, Aliya dan Anggun juga sudah tertawa konyol.
Juna, Juan dan Dean hanya gelang-gelang kepala tidak paham lagi dengan tiga perempuan yang sangat kompak.
Altha mendekati Ria langsung menggendongnya, Juna juga mengambil adiknya Tika yang sudah menjauh dari kaca.
"Tidak ada yang ingin menggendong Diana?"
"Ingat umur kak Di." Juna langsung melangkah pulang, kepalanya pusing mendengar keributan.
"Kenapa tadi di minta balik lagi?" Di langsung turun, berjalan pelan mengejar Arjuna yang sudah menyebrangi jalan.
Diana sangat penasaran dengan Juna yang sudah menginjak remaja, dan wajahnya sangat tampan mengalahkan ketampanan dokter Hendrik yang dia sukai
"Arjuna, bantu kak Di."
"Tidak mau, kak Di pasti masih mengejar cinta dokter itu, dia bukan pria baik kak." Juna menatap tajam.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazara