
Tatapan Aliya tajam melihat ke arah pintu kamar mandi, Altha tidak mempedulikannya sama sekali dan masuk ke dalam dengan membanting pintu.
Al melangkah mendekat, melihat pintu yang tidak terkunci. Al bisa melihat Altha yang sedang menangis menundukkan kepalanya, duduk di lantai bersandar di bathub.
Air mata Aliya juga menetes melihat suaminya menangis, memegang dadanya. Al bisa merasakan kesedihan Altha yang tidak bisa dilihat oleh orang-orang yang dia sayangi.
Aliya melangkah masuk, berlutut melihat Alt yang masih menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya.
"Ayang, jangan menangis. Maafkan Aliya yang tidak menepati janji." Al menyentuh tangan Altha yang mencengkram kuat celananya.
Kepala Altha menggeleng, menatap Aliya langsung menyentuh wajahnya. Keduanya saling menangis dan berpelukan.
"Maafkan aku Aliya, aku tidak bisa melindungi kamu. Saat kamu kecil hingga menjadi istriku, aku gagal menjaga kamu agar selalu ada di sisiku." Alt memeluk sangat erat.
Aliya tidak bisa menahan tangisannya, memeluk Altha erat merasakan rindu yang tidak terbendung lagi.
"Maafkan Aliya Ayang, seharusnya Al ada mendampingi saat hari terberat Ayang."
Kedua tangan Altha mengusap air mata wanita yang sangat dirindukannya, wanita yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak, tidak tahu arah pulang, dan langkah pergi tanpa tujuan.
Alt mencium kening Aliya, mencium kedua pipinya dan menyatukan kening keduanya.
"Kamu ada, tapi aku tidak bisa melihatnya. Aku tidak bisa menemukan kamu." Alt menundukkan pandangannya, menyalahkan dirinya yang datang terlambat dan tidak bisa menjaga rumah tangganya.
Al menggelengkan kepalanya, Alt sudah melakukan yang terbaik. Apa yang terjadi menjadi ujian dalam hidup mereka, ujian untuk cinta keduanya.
"Aku mencari kamu, siang malam. Segala cara sudah aku lakukan, tapi kenapa aku tidak bisa menemukan kamu. Hati aku hancur Aliya." Alt menutup matanya, menahan air matanya agar berhenti menetes.
"Ayang, Al ada di dalam hati. Ke mana harus dicari saat aku ada di dalamnya. Sejauh apapun air laut pergi meninggalkan pantai, dia pasti kembali. Cinta Al akan kembali kepada pemiliknya." Aliya tersenyum sambil meneteskan air matanya, menyentuh dada suaminya.
Altha memeluk Al, tidak tahu benar atau salah apa yang dia lakukan. Tidak ada tempat untuk dirinya bertanya, hanya menyerahkan diri semoga apa yang dilakukan menjadi yang terbaik.
__ADS_1
Betapa beratnya bagi Altha setelah kehilangan Aliya, juga kehilangan putrinya. Alt ingin menangis dan menuntut atas kepergian Mora, tapi ada dua anaknya yang harus dikuatkan, Alt harus menjadi orang waras demi anak-anaknya.
Seandainya Aliya tahu hancurnya hati Altha membiarkan Citra kembali ke rumahnya, berbicara dengannya setelah apa yang Citra lakukan.
"Dia tidak kehilangan sama sekali Al atas kepergian Mora, hati aku sakit sekali menjadi satu-satunya orang yang hancur." Altha menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Maafkan Aliya."
"Kenapa kamu meminta maaf, dia yang seharusnya meminta maaf. Kamu ingin tahu, bahkan dia menampar Arjuna, bagaimana aku menyelamatkan trauma Juna." Alt meremas rambutnya.
Altha memukul dadanya, Aliya langsung menahan tangan Altha untuk menatapnya. Apa yang Altha lakukan sesuatu yang benar.
Sekarang bukan hanya mata Altha yang terbuka, tapi mata anak-anak. Ibu yang baik tidak akan meninggalkan anak-anak dengan alasan apapun, ayah yang baik dia yang mengutamakan perasaan anak-anaknya.
"Ayang, percaya sama Aliya. Arjuna lelaki yang kuat seperti Papinya, dia bisa menerima hal terberat dalam hidupnya, dia sudah dewasa dan memikirkan perasaan Papinya. Jika Juna egois dia akan memaksa kehendak, tapi dia tidak melakukan demi kebahagiaan Papinya. Putra kita anak yang luar biasa." Al menggenggam tangan Altha yang menghapus air matanya.
Tumpah sudah air mata yang sudah Altha tahan selama ini, rasa sesak yang menghimpit dadanya.
"Ayah Citra orang yang membunuh Mama Papa, aku sudah menghukumnya dan membuatnya membayar kejahatannya. Hati ini lega, tapi emosi dan rasa benci masih ada Al."
Al ada disisinya, dan tidak akan pernah meninggalkannya dan akan menjadi ibu yang baik untuk Tika dan Juna.
"Kamu terluka sayang?"
Al menggelengkan kepalanya, Altha tidak mempercayai Aliya memintanya jujur dan menjelaskan semua yang terjadi tanpa ada satupun yang disembunyikan.
Al menceritakan detail apa yang terjadi, dirinya berada di tempat yang mustahil dijangkau, apalagi keadaan Anggun yang buruk.
Alt memeluk istrinya, meminta maaf karena membuat Aliya terluka.
"Ayang, luka yang paling menyakitkan karena tidak ada Ayang dan anak-anak di sisi Al. Aliya takut tidak bisa menepati janji kepada Juna." Al mengusap air matanya, dirinya ingin pulang meskipun hanya hembusan nafas terakhir.
__ADS_1
Suara tangisan Tika terdengar, langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Memeluk erat Papinya, Juna juga meneteskan air matanya langsung masuk memeluk Maminya.
Altha memeluk anak dan istrinya, meminta maaf karena gagal membahagiakan. Altha meminta Aliya berjanji tidak akan menghilang lagi dengan alasan apapun.
Al masih terdiam, tidak menatap Altha dan anak-anak yang memintanya untuk tidak pergi lagi.
"Mami, kenapa diam saja? Mami tidak menyayangi kita?" Juna menaikan nada bicaranya membuat Aliya langsung tertawa.
"Iya Mami janji, tapi dengan satu syarat." Al tersenyum menatap tiga orang yang mengerutkan keningnya.
"Mami tidak boleh seperti itu, gunakan Tika sebagai alasan jika Mami tidak bisa jauh dari Tika." Atika mengedipkan matanya, menggoda Maminya.
"Syaratnya." Aliya langsung tertawa, gemes melihat anak-anaknya yang tidak sabaran, sedangkan Altha sudah deg-degan.
Altha menakup wajah istrinya, meminta Aliya jangan bercanda. Apa saling mencintai tidak cukup, mereka bisa bahagia tanpa harus ada yang pergi.
"Juna Tika harus siap punya adik lagi, dan Ayang harus mau menjadi Papi yang menyediakan waktu untuk kami." Al tersenyum melihat Altha yang terkejut.
Juna menganggukkan kepalanya, dia setuju dengan keinginan Maminya. Dalam hati Juna hanya berdoa jika adiknya harus laki-laki.
Atika langsung cemberut, ada adik lagi dan dia menjadi kakak lagi.
"Alhamdulillah, ya Allah." Altha langsung mencium seluruh wajah Aliya, memeluk kedua anaknya sambil tersenyum bahagia.
"Ayo kita siap-siap." Alt langsung berdiri.
"Kita mau membuat Dede ya Papi?" Tika langsung ingin menyiapkan baju bagus untuk menyambut adiknya.
Altha menggeleng, dia meminta kedua anaknya untuk bersiap-siap karena sudah azan. Altha ingin beribadah bersama keluarga kecilnya, mengucapkan syukur atas berkumpulnya mereka kembali.
Juna langsung menarik tangan adiknya, Aliya langsung masuk ke dalam pelukan Altha. Keduanya tahu ini awal dari perjalanan mereka yang sebenarnya, Alt siap dengan ujian yang lebih menantang hal paling penting Aliya selalu ada disisinya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazara