ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BELUM BERTEMU


__ADS_3

Pintu apartemen terbuka kembali, Genta melemparkan tas Tika. Flashdisk yang Genta temukan langsung dipasang di laptop.


Tidak peduli jika Tika marah, Genta yakin penyelidikan Tika sudah jauh bisa juga membahayakan dirinya.


Cukup lama Genta duduk di depan laptopnya, melihat beberapa potret foto seorang wanita yang tidak asing wajahnya.


Mata Genta terpejam, mencoba mengingat wanita yang ada di foto. Saat mata Genta terbuka, dia menyadari jika wanita yang kecelakaan pernah ke rumah sakit bersama Tika.


"Ini ponsel wanita itu?"


"Kenapa Om tua membuka sesuatu yang bukan milik Om? ini namanya pencurian." Tika sudah berdiri di belakang Genta dengan tatapan marah. Melihat kemarahan Tika, Genta tidak peduli sama sekali masih lanjut melihat isi flashdisk.


Suara barang jatuh, pecah dan berhamburan terdengar. Laptop Genta terlempar, menghantam tv yang langsung pecah. Getaran barang lain juga mulai berjatuhan.


Beberapa lukisan langsung jatuh ke bawa, barang-barang antik juga berjatuhan pecah berhamburan. Genta langsung berlari saat melihat satu Gucci bergetar, belum sempat ditangkap sudah jatuh.


Laptop jatuh menghantam meja sampai kaca retak, Atika yang melihat terkejut langsung panik. Apartemen Genta langsung berubah menjadi gudang barang pecah.


Tidak ada kata-kata yang keluar dari keduanya, wajah Tika langsung pucat, dirinya tidak memperhatikan terlebih dahulu lokasi dirinya melempar barang.


Apartemen Genta tidak besar, tetapi sangat lengkap. Banyak barang-barang antik dari kaca yang disimpan.


Tangan Genta memijit kepalanya, berjalan ke arah kamarnya membanting pintu sangat kuat membuat Tika memegang jantungnya.


"Astaga ... bagaimana ini?" Tika meraba meja, TV juga barang-barang lain yang sudah pecah.


Atika mengambil laptop, mencabut flashdisk. Tika langsung melangkah pergi mengambil barang-barangnya.


"Maafkan aku Om, ini privasi yang harus kita jaga masing-masing." Tika pergi meninggalkan apartemen Genta.


Di dalam kamar mandi, air menguyur tubuh Genta. Dari balik kaca, Genta menatap wajahnya masih mengingat jelas kode flashdisk Tika yang memiliki ciri khas.


Genta sangat yakin jika Tika memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Senjata yang digunakan, bukan barang ilegal tetapi senjata rahasia yang dimiliki oleh agen.


Tidak ada yang boleh mengenali mereka, bahkan keamanan negara sekalipun. Cara bekerja mereka diam-diam, dan selalu memberikan kode rahasia, jika bertemu seseorang.


"Lin, apa kamu agen Lin? agen rahasia yang hanya bekerja sendirian, belum ada yang mengetahui siapa kamu, tapi banyak negara yang mengakui kemampuannya." Genta mempercepat mandinya untuk segera ke rumah sakit menjenguk Shin.

__ADS_1


Selesai mandi, Genta tidak melihat keberadaan Tika lagi. Hanya tersisa barang-barang yang sudah pecah berhamburan.


Panggilan masuk dari ponsel Genta, Gemal meneriaki Genta jika target mereka lepas. Genta mendapatkan perintah untuk mengintai, tetapi hanya mengawasi dari kejauhan.


[Cari mereka Genta, jangan kembali sekalipun nyawa kamu taruhannya.]


[Maaf pak, bisa diundur saja. Aku masih ada pekerjaan.]


[Serahkan surat pengunduran diri, kamu pikir pekerjaan ini main-main.]


Panggilan mati, Genta berteriak kuat langsung menendang meja yang sudah retak akhirnya pecah seribu.


Pintu apartemen tertutup sangat kuat, Genta langsung berlari keluar untuk mengejar penjahat yang memang sudah diincar lebih dari satu minggu.


"Jangan sampai aku yang menemukan, pasti akan aku hancurkan." Mobil Genta melaju dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di gedung tua, beberapa anggota mendekati Genta menunjukkan lokasi mereka kehilangan pelaku.


Suara tembakan Genta terdengar, anggota lain menunduk kaget. Genta satu-satunya orang yang jarang melepaskan senjata, tetapi jika sudah terdengar emosi Genta sudah naik.


"Bagaimana bisa kehilangan?"


Teriakan dari balik drum bekas minyak terdengar, seorang pria terjatuh bersimbah darah meringis kesakitan.


Beberapa polisi langsung berlarian, menatap pelaku yang bersembunyi dan Genta bisa mengetahuinya. Lebih buruknya lagi Genta menebak paha pelaku.


"Harusnya aku menembak kepala kamu." Genta mengarahkan senjatanya di kepala.


Langkah Genta memasuki bangunan, melihat sekelilingnya yang terlihat rapuh. Ada beberapa bekas minuman, benda-benda yang digunakan para pengguna pergaulan bebas juga terlihat di beberapa titik.


"Pak sebaiknya kita kembali ke kantor,"


"Kalian saja yang mengintrogasi, katakan kepada atasan jika aku akan terlambat kembali." Genta mengambil botol minuman, mencium baunya.


Lokasi juga digunakan untuk pesta obat-obatan, Genta tidak mengerti apa yang sebenarnya dilakukan para anak muda, membuang-buang masa muda dengan merusak diri.


Kaki Genta menginjak sesuatu, mengetuk dan membersihkan sekitarnya. Genta melihat sebuah amplop coklat.

__ADS_1


Di dalamnya ada surat perintah yang dikirim oleh black market, Genta lebih terkejut lagi target yang mereka incar foto Shin.


"Jadi ini tempat pertemuan mereka, orang yang dikirim untuk menyakiti Citra juga berasal dari tempat ini." Genta menggelengkan kepalanya, ucapan Tika benar, jika pelaku hanya tahu bela diri tetapi tidak punya mental penjahat.


Suara ledakan kecil terdengar, bangunan dalam hitungan detik langsung runtuh. Genta yang tidak punya kesempatan untuk melarikan diri langsung hilang di dalam bangunan.


Beberapa polisi yang sudah siap pergi kaget, bangunan runtuh dan Genta masih terjebak di dalam. Mendekati bangunan juga tidak mungkin karena masih banyak reruntuhan.


"Pak Genta bisa mendengarkan kami!" suara teriakan memanggilnya Genta terdengar, tidak ada jawaban ataupun pergerakan.


Polisi langsung meminta bantuan, dan memberikan kabar kepada atasan juga kantor soal kondisi bangunan, lebih buruk lagi Genta masih terjebak di dalamnya.


Lebih dari dua jam, tidak ada pergerakan dari Genta. Beberapa tim penyelamat sudah berusaha masuk ke lokasi, bangunan yang runtuh dibongkar.


"Genta ... Gen, kenapa kamu ceroboh sekali bodoh." Gemal berlari ke dalam bangunan, menyingkirkan reruntuhan sambil memanggil Genta.


"Astaghfirullah, kenapa Genta bisa masuk sendirian?" Dimas melihat kaget bangunan tua rata.


Altha juga berlari masuk, mengacak rambutnya melihat bangunan. Posisi keberadaan Genta langsung dibongkar, puluhan orang dikerahkan untuk menyelamatkan Genta.


Gemal terduduk lemas, menyalahkan dirinya yang memaksa Genta untuk pergi padahal Gemal tahu jika adiknya sedang dalam kondisi marah.


"Gem, sebaiknya kamu keluar, biarkan tim yang mencari Genta." Dimas menarik tangan Gemal.


"Daddy, Genta pasti baik-baik saja. Dia pasti bertahan, aku tahu dia hanya terbaring di bawah." Kepala Gemal tertunduk, memikirkan kondisi Genta yang tertimpa.


"Pak, ketemu." Tim menyingkirkan bebatuan.


Gemal langsung mendekat, melihat tangan Genta yang meremas sebuah kertas. Kedua tangan Gemal menggenggam, merasakan denyut nadi.


"Genta, tidak. Cepat singkirkan bebatuan ini!" Gemal berteriak histeris, meminta Genta bersabar.


Dimas memegang denyut nadi yang tidak terasa lagi, darah juga sudah mengenang. Tangisan Gemal terdengar. Tidak terima jika adiknya terluka.


Dimas menatap Altha, menggelengkan kepalanya. Calvin juga berlari melihat evakuasi korban, tubuh Genta masih tertimpa, hanya tangannya yang sudah terlihat.


"Genta, ini Papa Nak. Kamu belum menemui Shin, belum melihatnya bisa menatap kita lagi. Genta, berikan pergerakan Papa mohon." Calvin memegang denyut nadi yang tidak terasa lagi.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2