
Jantung Aliya berdegup kencang, memeluk ibunya Elen yang juga sama khawatirnya. Yandi belum juga muncul meskipun sudah mendapatkan kabar istrinya lahiran.
Salsa sudah ada di dalam kamar persalinan, tersenyum santai melihat Helen yang masih tenang.
"Masih harus kuat, bismillah lahiran normal." Senyuman Salsa terlihat.
Suara Helen meringis terdengar, tim Salsa sudah bersiap untuk membantu mengeluarkan bayi, karena air ketuban sudah pecah.
Dari dalam ruangan sudah terdengar suara Yandi yang baru tiba, Salsa meminta suster mengizinkan suami untuk masuk dan melihat persalinan.
Yandi langsung masuk, menggenggam tangan istrinya yang sudah basah keringat. Salsa langsung memberikan aba-aba agar Elen tenang, mendorong perlahan bayi.
Hanya beberapa menit, suara bayi menangis terdengar. Salsa langsung mengambil bayi yang menangis sangat besar.
"Alhamdulillah bayi laki-laki." Salsa menyerahkan kepada suster.
"Alhamdulillah ya Allah, aku menjadi Ayah." Air mata Yandi menetes, langsung mencium kening istrinya.
Selesai tugasnya Salsa langsung melangkah keluar, melihat keluarga Helen yang sangat khawatir.
"Bayi sudah lahir, jenis kelamin laki-laki. Bayi dan ibu sehat." Salsa tersenyum melihat keluarga yang berpelukan.
Tatapan Salsa melihat ke arah Diana yang masih duduk sambil mengemil makanan, tidak ada suara yang keluar kecuali bunyi mulutnya mengunyah.
"Di, ayo ikut aku ke ruangan." Tangan Salsa terulur, menarik Diana untuk ikut dengannya.
"Ada makanan tidak? aku masih lapar." Di langsung berjalan mengikuti Salsa yang tertawa kecil.
Salsa menyadari sesuatu yang aneh dari Diana, menjadi dokter sejak usia muda sudah membuat Salsa sangat memahami perubahan hormon ibu hamil.
Pintu ruangan Salsa terbuka, mempersilahkan Diana untuk masuk. Salsa meminta Di menimbang berat badannya.
"Sekarang aku terlihat lebih gemuk." Di tersenyum manis.
Meksipun dirinya banyak makan, berat badannya tidak naik secara drastis, karena Diana memang sulit naik berat badan.
"Aku melihat perubahan dari kamu, tapi agar lebih jelas. Kita lakukan pemeriksaan terlebih dahulu." Salsa meminta Diana melakukan tes.
Suara panggilan dari ponsel Diana masuk, ada operasi darurat yang membutuhkan Diana untuk menanganinya.
Mendengar ada pasien darurat, Diana langsung melangkah pergi menolak untuk diperiksa, dan akan menyempatkan diri untuk menemui Salsa kembali.
Suara langkah kaki Diana berlarian terdengar, melihat dokter memanggil Diana untuk segera memeriksa.
"Sudah berapa lama kondisi pasien turun?"
__ADS_1
"Beberapa menit yang lalu Dok, dia mengalami gagal jantung, dan resikonya cukup berbahaya, karena usia pasien yang sudah tua." Dokter menjelaskan kondisi pasien yang cukup sulit untuk di operasi.
Diana terdiam sesaat, langsung meminta ruangan operasi. Mendengar perintah dari dokter utama, semuanya langsung bergerak.
"Minta izin pihak keluarga untuk ditindaklanjuti, kita langsung melakukan operasi dadakan." Di melangkah keluar untuk mengganti bajunya.
Operasi dilakukan selama lebih dari sepuluh jam, detik-detik terakhir penglihatan Diana mendadak kabur dan tidak bisa menyadari apa yang sedang dia lakukan.
"Dokter Di."
"Kamu lanjutkan untuk menutup luka, operasi juga berjalan lancar, meksipun waktu yang dibutuhkan lebih lama."
Diana langsung keluar, dan terduduk di depan pintu. Matanya berkunang-kunang, kepalanya pusing, mual dan kesulitan menjaga keseimbangan tubuh.
Melakukan operasi besar secara dadakan, membuat kondisi tubuhnya drop. Di mencoba mengendalikan diri, dan mencoba untuk tenang.
Perlahan Diana berjalan ke ruangannya, membuka baju operasi dan mencari obat untuk meredakan rasa sakitnya.
Mata Di masih terpejam, menancapkan suntikan yang belum sempat masuk ke tubuhnya. Diana langsung ambruk dan jatuh pingsan.
***
Aliya yang sudah menjemput anak-anaknya, mengantar pulang barulah menyempatkan diri untuk menjenguk Helen kembali.
Helen tersenyum, mengucapkan terima kasih karena Aliya sudah bolak-balik hanya demi menemani dirinya.
Ketukan pintu terdengar, Salsa langsung masuk mengecek kondisi bayi yang terlihat baik-baik saja, begitupun dengan kondisi ibunya.
"Al, kamu merasa ada yang aneh dari Diana?"
"Iya, kerjaannya makan terus. Dan lebih kekanakan." Al baru menyadari jika dirinya tidak melihat keberadaan Diana.
Salsa menjelaskan jika Diana sepertinya sedang mengalami ngidam dan melewati trimester pertama kehamilan, melihat dari perubahan tubuh juga emosinya.
"Menurut kak Salsa, Diana hamil."
"Hanya prediksi Al, aku belum sempat meminta Diana periksa, dia mendadak ada operasi darurat." Mata Salsa melihat ke arah jam.
Seharusnya operasi Diana sudah selesai, tapi tidak ada jawaban dari panggilan ponselnya.
Aliya langsung pamitan kepada Helen dan Yandi untuk menemui Diana, jika kondisinya sedang hamil berbahaya jika melakukan operasi dengan kurun waktu yang lama.
"Di mana Dokter Diana?"
"Sudah keluar lebih dulu Dok, kemungkinan di ruangannya."
__ADS_1
Al dan Salsa langsung berjalan ke ruangan Diana, mengetuk pintu bekali-kali tetapi tidak ada jawaban sama sekali.
Salsa membuka pintu menggunakan kode sandi, langsung teriak kaget melihat Diana sudah tergeletak di lantai.
"Astaghfirullah, Diana." Salsa langsung kaget melihatnya.
Aliya langsung mengangkat kepala, melihat wajah Di pucat. Bahkan bibirnya juga pucat, tangannya dingin, wajahnya putih tidak berdarah.
Al mengangkat Diana untuk naik ke atas ranjang, Salsa langsung memasang infus. Memanggil dokter yang bisa menangani kondisi Diana.
"Kak Di sadar, bangun kak." Al mengusap tangan Diana, perasaan Aliya sangat khawatir.
Air mata Al menetes, mengkhawatirkan kondisi Diana yang terkulai lemas. Al lebih suka Diana yang membuat masalah, daripada Di yang terbaring tidak berdaya.
Al menghubungi suaminya untuk memberikan kabar kepada Gemal soal kondisi Diana, Altha tidak menjawab begitupun dengan Dimas.
"Bangun Diana, kamu kelelahan." Salsa mengusap wajah Diana yang panas.
Perlahan mata Diana terbuka, melihat sudah banyak dokter yang mengelilinginya. Terlihat wajah Aliya yang cemas, dan banjir air mata.
"Aku lapar, butuh makan." Di langsung mual, memuntahkan air karena perutnya kosong beberapa jam.
"Diana sudah sadar, tolong dok." Al membersihkan mulut Di yang baru saja mengeluarkan air.
Salsa melarang dokter untuk menyuntik, takutnya prediksi Salsa benar. Jika benar kondisi bayi masih lemah, jika obat-obatan dimasukkan ke dalam tubuh bisa membahayakan.
"Kak Di kelelahan, ini bahaya." Al duduk sambil menggenggam tangan kakaknya yang masih dingin.
"Aku kenapa? tubuhku tidak selemah ini sampai jatuh pingsan." Di memejamkan sesaat matanya, masih merasakan pusing.
Tatapan Aliya dan Salsa bertemu, belum ingin mengatakan prediksi mereka. Tidak ingin memberikan harapan kepada Di sebelum pemeriksaan jelas, dan menunggu Gemal yang masih belum bisa dihubungi.
Suara pintu terbuka terdengar, Anggun langsung masuk dan terduduk lemas mendapatkan kabar Diana jatuh pingsan.
Al membantu Anggun berdiri, mengatakan Diana sudah sadar meskipun kondisinya belum baik.
Suara tangisan Diana terdengar, tidak ada sebab penyebab menangis. Anggun mengusap kepala putrinya yang terasa sakit.
"Sayang, Mommy di sini Nak." Anggun ikutan menangis.
"Lapar ... Diana lapar." Tangisan Di semakin kuat meminta makan.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1