ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENYEMBUNYIKAN PERASAAN


__ADS_3

Tangan Shin gemetar karena hampir ketahuan Tika soal perasaan yang mencintai Juna sejak lama. Jika mulut Rindi tidak bocor, tidak mungkin dia hampir ketahuan.


Bertahun-tahun Shin menyembunyikan perasaannya agar tidak ada yang tahu, Shin tahu diri siapa dirinya yang tidak berharap lebih bisa memiliki Juna.


"Kenapa kamu tidak jujur kepada Tika?"


Tamparan Shin kuat menghantam Rindi, tidak ada balasan dari Rindi. Dia hanya mengusap wajahnya yang memerah dan panas.


Melihat tatapan Shin, Rindi mengerti jika sedang marah. Kedua tangan Rindi mengepal menahan dirinya, apapun yang terjadi dia tidak boleh menyakiti siapapun apalagi Shin yang masih keluarga suaminya.


"Kenapa aku ditampar?"


"Mulut kamu sebaiknya diam! apa untungnya jika semua orang tahu?" kepala Shin menggeleng, hanya kekacauan dan perasaan saling menyalahkan yang terjadi.


"Kamu kenapa Shin? apa aku salah memberikan kamu dukungan?"


"Tidak! kamu tidak salah, tapi keadaan yang salah. Aku menyimpan perasaan ini bertahun-tahun, tapi kamu hampir mengacaukannya." Air mata Shin menetes, memegang dadanya yang terasa perih.


"Kenapa? aku tidak mengerti? setahu aku perasaan itu harus diungkapkan agar segala beban terlepaskan. Jika terus dipendam itu akan menyiksa." Rindi mengulurkan tangannya, meminta maaf jika prediksinya salah.


Shin memukul tanah sangat kuat, prediksi Rindi salah, tapi perasaanya yang salah dan memang tidak seharusnya ada dan tersimpan.


"Jika Tika tahu, dia mungkin akan membatalkan pernikahan dengan Kak Genta. Dia pasti akan melepaskan dan mengakhiri hubungannya, kamu ingin tahu kenapa? Juna dan Tika kandung, begitupun dengan aku dan Kak Genta. Apa kamu pikir aku sanggup memisahkan dua orang yang sangat aku sayangi, demi perasaan yang tidak terbalaskan?" Shin memukul kuat tangan Rindi yang terulur.


Kepala Rindi langsung tertunduk, tidak memahami apa yang terjadi. Rindi hanya ingin Shin bahagia, dan bisa bersama orang yang dia cintai, tapi jika bersama bisa menyakiti orang-orang terkasih maka hubungan itu tidak bisa dilanjutkan.


"Shin kamu ingin bertarung, lepaskan beban di hati kamu. Lupakan dia dan mulai hari ini kamu orang yang baru." Senyuman Rindi terlihat menatap mata Shin yang tajam juga merah.


Pandangan Rindi melihat ke arah Isel yang memperhatikan mereka, mata Isel bisa Rindi pahami. Meskipun dia gadis kecil yang nakal, tapi otaknya sangat cerdas dalam menilai dan memahami perasaan karena itulah, Rindi nyaman bersama Isel yang paham isi hatinya hanya melalui tatapan.


Tendangan Shin kuat menghantam perut Rindi, tubuh Rindi terlempar jatuh ke tanah. Senyuman menantang terlihat, langsung berdiri menyerang Shin balik.


Pertarungan terjadi tanpa ada yang tahu selain Isel, melihat keduanya bertarung serius membuat Isel khawatir.


Pukulan Shin tidak main-main, begitupun dengan Rindi yang mulai lepas kendali. Isel berlari masuk ke dalam rumah, menyelusuri koridor rumahnya sampai bisa menemukan orang yang bisa menghentikan.


"Kak, di mana Mami dan Papi?"

__ADS_1


"Di ruang keluarga Nona, ada yang bisa dibantu?"


Tangan Isel melambai, lanjut berlari membuka ruang rapat keluarga. Mata Isel berkeliling mencari orang yang tepat.


"Uncle, dengarkan Isel jangan panik. Please." Isel berbisik kepada Hendrik yang tersenyum langsung beranjak pergi.


Semua orang menatap Isel, Diana matanya sudah tajam melihat Putrinya yang mungkin saja membuat masalah.


Isel berlari keluar, menutupi pintu dan melihat Juna melangkah ingin masuk. Tangan Isel terentang menghentikan.


"Kenapa sayang?"


"Kak, Aunty Rindi dan Aunty Shin bertarung di taman belakang. Keduanya lepas kendali." Isel menarik tangan Juna untuk ikut dengannya.


Arjuna berlari lebih dulu, namun dia tidak tahu taman belakang yang Isel maksud begitupun dengan Hendrik yang kebingungan.


"Ke sini,"


"Ya Allah, Rindi berhenti!" Hendrik menarik istrinya yang memukuli Shin.


"Apa yang kamu lakukan? ingat kamu sudah berjanji tidak akan menyakiti. Kenapa bisa berkelahi?" Hendrik memeluk erat istrinya yang mengeluarkan darah dari hidung.


"Maaf, Rindi ingkar janji lagi. Mulai hari ini Rindi janji lagi, sudah usaha menahan tapi gagal. Maafkan Rindi yang sudah menyakiti." Kedua tangan Rindi terlipat, menatap suaminya yang terlihat terluka.


Rindi melihat ke arah Shin yang berada dalam pelukan Juna, melihat kedua tangan Juna memeluk erat, mengusap kepala Shin.


"Shin, kita ke rumah sakit sekarang?"


"Ay, Shin tidak ingin diobati. Tinggalkan Shin sendiri." Tangisan Shin terdengar menarik baju Juna, melihat darah keluar dari mulutnya.


"Aku tidak akan menyakiti kamu, kita obati lukanya. Ay janji ini tidak sakit." Juna mengusap punggung lembut.


"Bohong, Shin pasti akan dimarah karena bertengkar sedangkan Tika sedang persiapan pesta." Tatapan mata Shin melihat ke arah Isel yang menjadi patung.


Dengan lembut Juna menenangkan, tidak akan ada yang marah. Kekacauan memang selalu terjadi, meskipun Shin tidak bertengkar. Keluarga mereka sudah terlahir dengan banyaknya pengacau, sekuat apapun ditahan pasti akan tetap ada masalah.


"Itu tanda jika keluarga kita bahagia, setiap masalah menjadi hiburan. Kita obati lukanya sekarang." Juna ingin menggendong Shin yang menutup mulutnya.

__ADS_1


"Ay, gigi Shin hilang,"


Mata Juna terbuka lebar, antara menahan tawa dan kasihan. Shin memeriksa giginya yang kemungkinan ada yang patah atau sudah cabut.


"Ah Rindi, gigi Shin hilang satu." Suara Shin mengomel terdengar.


"Sudahlah, pakai gigi palsu saja." Juna mengangkat tubuh Shin yang penuh luka.


"Tidak mau, Ay jahat." Shin menangis memikirkan giginya.


Rindi yang melihat hanya terdiam, melihat tatapan Juna yang tulus kepada Shin membuatnya binggung. Shin menyerah terhadap perasaannya, tapi Rindi bisa merasa perasaan Juna.


"Sayang, kita obati lukanya." Hendrik menggendong Istrinya yang menganggukkan kepalanya.


"Sayang, apa dalam bersaudara ipar tidak boleh menikah?"


"Maksudnya? aku tidak mengerti?"


Rindi menjelaskan maksud ucapannya, seandainya saudara kandung Rindi menikah dengan saudara kandung Hendrik apa itu hal yang mungkin terjadi.


Sesaat Hendrik terdiam, mencoba berpikir karena belum pernah melihat kasusnya, juga tidak terpikir untuk mengetahuinya.


"Entahlah sayang, cukup rumit. Tanyakan kepada ahlinya. Kenapa kamu bertanya?"


Kepala Rindi menggeleng, tidak melanjutkan ucapannya. Rindi sangat yakin, jika Juna juga mencintai Shin. Keduanya berada di dalam perasaan yang sama, namun masih ragu karena status keluarga.


Di mata Rindi, Juna tidak tersentuh oleh wanita manapun, karena itu Rindi takut kepadanya. Dia sangat menjaga diri dari lawan jenis, berbeda dengan Shin yang terlalu dekat, bahkan sangat dekat.


"Dia pasti tidak menyadari perasaannya, wanita berhijab itu memang baik tidak heran jika dia binggung dengan perasaannya." Rindi tersenyum manis.


"Kenapa sayang?"


"Rindi pastikan, hubungan mereka rumit. Semoga saja tidak menjadi kacau." Rindi mencium suaminya yang sangat dicintainya.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2