
Tim berhasil mengeluarkan tubuh yang ditemukan dalam keadaan hancur, seluruh bagian tubuh remuk, wajah juga hancur terkena reruntuhan.
Tubuh Gemal langsung terduduk lemas, melihat kondisi Genta yang mengenaskan. Kematiannya terlalu menyakitkan dalam keadaan hancur.
"Pa, bagaimana ini?" Gemal mengusap wajah Genta yang penuh luka.
"Dia bukan Genta, di telapak tangan Genta ada bekas luka lama yang tidak bisa hilang, sedangkan tangan ini bersih." Papa Calvin mengecek kedua tangan.
"Apa Genta masuk ke dalam bersama orang lain?" Gemal langsung menyingkirkan jasad, membersihkan tangannya.
"Tidak Pak, Genta masuk sendirian. Sudah ada yang memperingati untuk kembali, tetapi dia meminta anggota lain pergi lebih dulu."
"Korban ini bukan Genta?" Dimas menatap Calvin dan Gemal yang menggelengkan kepala.
Altha dan Dimas langsung mengucapkan Alhamdulillah, setidaknya mereka punya harapan mencari Genta yang belum diketahui posisinya.
Tim dikerahkan kembali untuk membongkar seluruhnya, tatapan Alt melihat ke arah reruntuhan yang ada pergerakan.
"Gemal, lihat itu." Alt berlari diikuti oleh yang lainnya.
"Genta, ini Papa. Kamu baik-baik saja." Calvin menyingkirkan reruntuhan.
Semua orang bergerak cepat, setidaknya ada jawaban dari Genta masih sadar dan membutuhkan pertolongan.
Tangan Genta berhasil keluar, memberikan petunjuk yang langsung dikenali oleh Dimas. Meminta semuanya mundur.
"Kita angkat lemari secara bersamaan, Genta berada di bawahnya." Dimas meminta Gemal yang mengangkat bersama anggota polisi lainnya.
"Satu dua tiga." Suara teriak Gemal terdengar, semua orang menggunakan tenaga mengangkat lemari secara bersamaan, karena Genta kehabisan napas kesulitan untuk bertahan.
Gemal langsung melindungi Genta agar tidak tertimpa lagi, tubuhnya penuh luka dan berjam-jam berada di bawah reruntuhan.
"Genta ... belum mati kamu." Gemal mengangkat tubuh Genta yang sudah kehabisan tenaga.
Di mobil, Papa Calvin memberikan oksigen, membiarkan Genta terbaring untuk mengambil napas.
Tatapan Genta melihat ke arah satu korban, Gemal langsung menutupinya meminta Adiknya untuk bernapas dengan baik dulu, baru mengurus hal lain.
"Larikan Genta ke rumah sakit sekarang, tubuhnya tidak bisa digerakkan karena terlalu lama dibawah." Calvin menghubungi rumah sakit untuk segera menyiapkan ruangan.
"Kak Gem, ambil kertas itu." Genta berbicara terbata-bata, menunjuk ke arah korban.
__ADS_1
"Syukurlah, kamu masih sadar Gen." Dimas melihat tubuh Genta yang penuh darah.
"Kenapa kamu di bawah lemari Genta? tapi ada bagus juga dibawahnya. Jika tidak pasti mati seperti orang itu. Genta diselamatkan oleh lemari ...." Gemal langsung terdiam, melihat kertas yang ada surat perintah untuk pembunuh Shin dan Citra secara bersamaan.
Gemal menatap Adiknya yang masih meringis kesakitan, menyembunyikan kertas untuk diamankan terlebih dahulu.
Beberapa mobil langsung meninggalkan lokasi, di dalam mobil Genta sudah muntah darah. Gemal mengusap tangan Genta untuk bertahan.
"Maafkan aku Gen, kamu kecelakaan karena aku yang memaksa, tapi salah kamu sendiri menjadi bawahan aku." Gemal meringis, melihat Papanya yang menatap tajam.
***
Di rumah sakit Shin terbangun, matanya masih ditutup karena belum boleh dibuka sebelum satu minggu. Tangan Shin meraba kepala seseorang yang ada di pinggir ranjang.
"Atika, kamu dari mana? kenapa ada bau pria?" Shin tersenyum menggoda Tika yang menghela napasnya.
Shin langsung diam, menepuk pelan tangan Tika. Shin tahu Atika sedang ada masalah sehingga menghela napasnya.
"Aku rasa Genta tahu siapa aku?" Tika mengacak-acak rambutnya.
"Emh ... Kak Genta memang tahu kamu." Shin duduk mendengar cerita Tika.
Wajah Shin juga sama kagetnya, jika Genta tahu Tika seorang agen rahasia bisa kacau. Tidak ada yang boleh tahu, karena demi keamanan Tika sendiri.
"Pura-pura bodoh saja, tapi kamu sudah bodoh." Shin juga sama binggung.
Suara Tika merengek terdengar, pintu terbuka tidak menghentikan Tika yang mirip orang gila. Ria yang datang membawa makanan langsung memeluk Kakaknya yang sedang menangis.
"Sabar Kak, jangan menangis." Ria juga ikutan sedih.
"Aku bisa mati Ria." Tika memeluk adiknya yang juga langsung menangis.
"Ada apa ini?" Tangisan Isel juga terdengar, langsung naik ke atas ranjang Shin menangis sesenggukan.
"Kenapa Isel menangis?" Shin mengusap punggung Isel.
"Tidak tahu, Isel ikut-ikutan saja." Senyuman Isel terlihat, menatap Tika dan Ria yang celingak-celinguk.
Juan membantu Tika berdiri, membawanya ke sofa untuk tenang terlebih dahulu. Keluarga memang sedang diuji secara berturut-turut.
"Kasian kak Genta, Kak Shin juga belum sembuh, sekarang Kak Genta juga." Dean langsung duduk lemas melihat kondisi Genta.
__ADS_1
Tika menatap adik-adiknya, binggung dengan ucapan Dean. Genta tidak mungkin buta sama dengan Shin apalagi sampai mendonorkan mata.
Tangisan Ria terdengar kembali, menceritakan jika saat mereka tiba di rumah sakit bersamaan dengan mobil ambulans yang membawa Genta.
Tubuh Genta penuh darah, bahkan sampai menetes. Kesadaran Genta hilang karena banyak muntah darah.
"Ria! bicara yang jelas. Aku masih melihat Genta pagi tadi." Tika menggoyangkan tubuh Ria.
"Itu pagi Kak, sekarang kak Genta ada di ruangan perawatan. Mami juga masih di sana karena kaget. Mama Jes juga sudah menangis histeris." Ria berteriak menyakinkan Tika yang masih tidak percaya.
Shin langsung turun dari ranjang, memegang infus di tangannya. Berjalan sambil meraba sekitar, tubuhnya langsung terduduk lemas mendengar kondisi Kakaknya.
Kepala Tika masih menggeleng, dia sangat yakin jika Genta sudah menyelesaikan pekerjaan dan beristirahat di apartemen sebelum menjenguk Shin. Tidak mungkin dalam hitungan jam, Genta sudah masuk rumah sakit.
"Juan katakan ini tidak benar?" tatapan Tika melihat adik lelakinya.
"Ini benar Kak, melihat kondisinya sepertinya bukan kecelakaan lalu lintas, tetapi bangunan." Juan melihat tubuh Genta penuh sobek-sobek dan bau bangunan.
"Ada korban meninggal juga." Dean menatap Tika yang sudah berlari keluar, melewati Shin yang berjalan di depan pintu.
Juan dan Dean mengejar Tika untuk menunjukkan kamar rawat, Shin sudah berjalan meraba mencari keberadaan Genta.
"Mencari siapa gadis buta?"suara seseorang terdengar tidak asing bagi Shin.
Shin langsung berbalik, bisa mendengar langkah mendekatinya. Suara pukulan dan teriakan terdengar, Isel memukul menggunakan pedangnya.
"Kamu ingin menyakiti Kakak Shin? kalahkan Isel dulu." Pedang Isel sudah terangkat kembali.
Tubuh Isel langsung didorong sampai terhentak jatuh. Tangisannya terdengar, memarahi orang yang mendorongnya, dan akan melaporkan kepada kedua Kakaknya.
"Isel ... siapa kamu?" Ria langsung memeluk Isel sambil menatap tajam.
"Kak pukul dia, Isel didorong."
"Kamu yang lebih dulu memukul kepala saya." Wanita yang mendekati Shin langsung pergi menjauh.
Penutup mata Shin terbuka, Ria dan Isel takut melihat Shin yang berdiri, napasnya ngos-ngosan dan mandi keringat. Infus dilepas secara paksa, Shin langsung berjalan cepat. Darah juga menetes dari tangannya.
"Kak Shin ... bahaya. Mata kak Shin belum waktunya dibuka, nanti infeksi." Ria berteriak, mencari nomor Kakaknya untuk memberikan kabar.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira