
Di bawah pohon Shin duduk sendirian, mengingat saat pertama dirinya datang ke wilayah perumahan keluarga Tika yang penuh kebahagiaan, kekompakan, dan kekeluargaan.
Semua orang akur, saling menjaga dan mendukung sungguh menenangkan hati Shin yang memiliki banyak luka.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" katanya ingin pulang tidur." Juna menatap Shin yang duduk seorang diri sambil memejamkan matanya.
Senyuman Shin terlihat, bergeser dari tempat duduknya meminta Juna juga duduk di sampingnya. Shin menunjuk ke arah langit, melihat bulan yang sangat indah.
"Ay Jun kenapa keluar? sudah malam,"
"Kamu perempuan saja sibuk di luar rumah, pulang sudah malam." Juna duduk di samping Shin yang sudah melotot.
Mata Juna melihat ke arah bulan, heran dengan Shin yang menyukai matahari terbenam sekarang menatap bulan.
"Kenapa dengan bulan?"
"Apa? kak Juna bicara apa? kenapa dengan bulan?"
"Kenapa kamu menyukai bulan?"
"Shin bermusuhan dengan bulan." Tawa Shin terdengar melihat Juna yang menatapnya binggung.
Saat kecil, setiap malam Shin selalu menyempatkan waktu untuk melihat bulan. Dia terlihat paling bersinar di antara para bintang, meskipun bulan paling terlihat dia memiliki banyak teman. Berbeda dengan Shin yang tidak memiliki teman.
"Ada saat bulan ditinggalkan oleh bintang, di sanalah waktu yang tepat Shin mengejeknya." Senyuman Shin terlihat, melihat Juna geleng-geleng.
"Ternyata kamu memang gila,"
"Ay Jun, Shin belum gila, hanya saja hampir." Shin memukul pundak Juna yang berhasil menghindar.
"Ay Jun, apa artinya? kenapa kamu selalu memanggil seperti itu?"
"Memangnya tidak boleh?"
Juna diam saja tidak melarang sama sekali, Shin menunggu penolakan sampai Juna mengizinkannya.
__ADS_1
Helaan napas Juna terdengar, masih memikirkan hubungan Adiknya dan Genta. Juna tidak habis pikir, wanita yang dicintai seorang Genta, ternyata Adiknya sendiri.
Seharunya Juna peka saat Tika hampir kecelakaan, Genta mempertaruhkan nyawanya memeluk erat bahkan marah besar. Bodohnya Juna hanya menganggap biasa saja.
"Maafkan Kak Genta yang sudah lancang mencintai Tika, sebenarnya ini juga mengejutkan Shin, tapi perasaan tidak ada yang tahu." Hanya satu kali liat ekspresi Juna, Shin tahu jika pria yang duduk di sampingnya tidak terlalu setuju dengan hubungan Tika.
"Atika masih terlalu muda, sedangkan Kak Genta sudah berpikir untuk berumah tangga." Juna belum yakin, jika adiknya bisa memahami pemikiran Genta yang dewasa.
"Ay Jun hanya melihat Tika yang membuat masalah, suka bercanda, dan kekanakan. Ay Jun belum melihat sisi kewanitaan yang Tika miliki, dia penyayang, dewasa, perhatian, menolong tanpa menyebut dirinya." Shin saksi betapa dewasanya seorang Tika, dia bisa mengalah kepada orang yang pantas, dan dia bisa egois kepada orang yang tidak pantas.
Kedewasaan tidak bisa diukur dengan usia, di mata Shin Genta dan Tika masih jauh dewasa Tika. Dia mampu menjaga perasaan Genta, tapi jangan sekali saja Genta melakukan salah dia hanya melihat betapa buruknya Tika, padahal itu hanya cara agar pria lebih memahami dirinya.
"Cemburu hal yang normal, tapi wanita bisa menutupi kecemburuannya juga menyembunyikan perasaannya, berbeda dengan laki-laki dia tidak paham perasaan sendiri dan langsung kecewa dengan kesalahan wanitanya." Shin salah satu wanita yang menyembunyikan perasaannya, dan sampai kapanpun tidak ada orang yang boleh tahu.
"Benarkah, sama aku juga binggung dengan perasaan diri sendiri." Juna mengaruk-garuk kepalanya.
"Ay Jun harus mengikuti saran Shin, ayo kita pergi melepaskan beban." Senyuman Shin terlihat menarik tangan Juna untuk mengikutinya.
"Awas saja jika tidak mengurangi,"
Senyuman manis Shin terlihat, menggenggam tangan Juna untuk berjalan bersamanya.
Terpaksa Juna berlari mengikuti langkah Shin yang semakin jauh semakin cepat, napas juga sudah ngos-ngosan tidak sanggup lagi melawan Shin yang memang fisiknya sangat kuat
"Tidak sanggup lagi,"
"Bisa Ay, ayo. Shin saja masih kuat, jangan kalah dengan wanita apalagi masa lalu."
Setelah berlari cukup jauh Juna langsung terduduk, memegang perutnya. Hampir kehabisan napas karena berlari sangat jauh dari perumahan mereka.
Tatapan Shin melihat gedung hotel milik keluarga Rahendra, Shin mengulurkan tangannya meminta Juna berdiri kembali.
"Kamu ingin membunuh aku? lihat baju aku sampai basah." Juna mengusap keringat di keningnya.
"Ay Juna tidak pernah olahraga?"
__ADS_1
"Jika jauh seperti ini kita bisa membawa mobil, ini lumayan jauhnya." Juna mengomel kesal menatap Shin yang mengerjainya.
"Ah maaf Ay, Shin lupa jika ada mobil." Tangan Shin menepuk keningnya mentertawakan Juna yang ternyata bisa kesal dan mengomel.
Keduanya berjalan ke arah hotel, naik menggunakan lift ke lantai paling atas. Juna baru pertama kali naik ke atas hotel milik Maminya.
Kesibukan membuatnya tidak pernah ada waktu untuk melihat apa yang sudah berubah, melihat kota dari lantai paling atas sangat indah.
"Mama, Shin hari ini bahagia sekali. Bantu Shin berdoa agar cinta Kak Genta dan Tika bisa berakhir bahagia." Teriakan Shin terdengar, menggema ke langit.
Shin melakukan dua cara untuk mengobati rasa sakit juga nikmatnya, dia bukan wanita yang taat beribadah, bukan juga wanita baik-baik sehingga Shin berteriak untuk melepaskan.
"Orang selalu menangis di setiap doanya, tapi Shin hanya akan mengatakan terima kasih untuk hari ini, ujiannya cukup berat, tapi sepertinya yang diyakini bahwa aku mampu,"
"Lalu kenapa aku datang ke sini?"
"Shin pergi dulu, Ay Juna luapkan saja apa yang menyesakkan di dada. Tidak bisa Ay sebut di dalam doa, tidak bisa juga dilepaskan. Katakan apa yang Kak Jun inginkan, dan lepaskan semuanya." Shin melangkah ingin pergi.
"Tidak semudah itu Shin, aku tidak sekuat kamu yang mampu melewati dan menerima kenyataan." Juna duduk sambil memeluk lututnya.
Juna harus berpura-pura baik-baik saja di depan Mamanya, tapi di dalam pikiran Juna kenapa Mamanya begitu tega membuat hatinya hancur.
"Aku terlalu memaksakan diri untuk menyembuhkan Mama, padahal dia sudah kesulitan bertahan. Tanpa sengaja aku sedang menyiksa Mama dengan amarah dan hukuman melalui sakitnya." Juna mengepal tangannya kuat, matanya merah merasakan sakit.
Berkali-kali melewati proses operasi, setiap hari meminum obat, merasa sakit yang teramat sakit. Juna masih dengan egoisnya memastikan jika Mamanya pasti sembuh, sudah banyak darah yang diambil hanya untuk pemeriksaan, suntikan, dan obat-obatan silih berganti masuk.
"Bukannya aku jahat Shin? apa kamu masih berpikir jika aku baik? jika aku tidak marah dan kecewa?"
Shin hanya diam, menatap Juna yang mengusap matanya. Shin baru menyadari setelah Juna mengatakannya, secara tidak langsung Juna menunjukkan jika hukuman darinya dengan rasa sakit, tapi apa yang dia lakukan bukan hanya menyakiti Mamanya, tapi dirinya sendiri.
"Setiap manusia punya luka masing-masing, dan punya cara menyembunyikannya. Kak Juna hebat bisa bertahan, dan Shin yakin ada hal yang ingin Kak Juna dengar." Shin duduk di samping Juna, mengusap punggungnya.
Panggilan masuk, Juna melihat ponselnya panggilan dari Mamanya, Shin menjawab panggilan mendengar suara Citra yang terbata-bata.
Kedua tangan Juna memegang kepalanya, menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya. Menahan tangisannya karena sakit Mamanya kambuh lagi.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira