
Suara berisik, ribut dan kehebohan terdengar. Pukulan tangan Isel menghantam Tika yang mengganggunya, tangisan Isel terdengar sangat besar.
Turun ke lantai langsung berguling-guling, menendang apapun yang ada di dekatnya. Gemal yang melihat langsung mengangkat Putrinya yang mengamuk.
"Kenapa kamu Isel?"
"Kak Tika naka." Tangisan dan teriakan terdengar.
Diana yang mendengar langsung berlari, menatap tajam Isel memukul mulutnya yang teriakan-teriakan. Kebiasaan Isel yang selalu mengamuk selalu memancing emosi Di.
"Diana!"
"Apa? ini karena kamu yang selalu memanjakan dia, apapun keinginan dia selalu dituruti, dan jika tidak didapatkan akan mengamuk. Kebiasaan ini tidak akan membuat Isel dewasa." Teriakan Diana menggema membentak Gemal.
Isel sudah menangis sesenggukan, menutup mulutnya. Gemal menurunkan Isel, menatap tajam Diana yang selalu mengajak ribut di depan anak.
"Aku tidak menyukai kebiasaan kamu yang bernada tinggi di depan anak." Gemal menutup mata Diana untuk berhenti melototinya.
Tangan Diana menepis kuat, Isel menatap kedua orangtuanya yang sedang berdebat karena cara didik keduanya yang berbeda untuk mendewasakan Isel.
Atika menompang dagu memperhatikan pertengkaran Diana dan Gemal soal anak, Isel hanya garuk-garuk kepala melihat perdebatan.
"Cukup Di!"
"Sialan kamu Gemal, jangan bentak aku!" Di berteriak di depan wajah Gemal.
"Lanjutkan, terus, bagus bertengkar seperti itu." Dimas geleng-geleng kepala melihat menantu dan Putrinya.
"Awas kamu, jangan dekati aku." Di mendorong dada Gemal, langsung melangkah pergi.
"Kenapa kamu main fisik?" Gemal menahan pergelangan tangan Diana yang terus menepisnya.
Senyuman Tika terlihat, pertengkaran rumah tangga terlalu romantis. Anaknya baik-baik saja, kedua orangtuanya yang heboh.
"Kenapa mereka Tika?" Al berjalan mendekati Isel yang matanya merah.
"Tanya Isel Mi, dia mengamuk kepada Tika karena kawannya pergi bersama Ria. Dia tidak terima langsung memukuli Tika."
Mata Isel langsung menatapnya sinis, Aliya mengusap kepala Isel yang sangat pemarah dan selalu ingin diutamakan.
"Isel juga mau ikut, Kak Tika tidak mengizinkan. Isel marah." Hentakan kaki terdengar, kedua tangan Isel dilipat di dadanya.
Dimas langsung menggendong cucu kesayangannya, membawanya untuk pergi menyusul Hendrik yang membeli sesuatu bersama Rindi dan Ria.
__ADS_1
Tatapan mata Isel masih melotot melihat Tika yang menjulurkan lidahnya, Aliya hanya bisa menepuk jidat melihat keponakan kecilnya yang suka mengamuk.
Tika memeluk Aliya dari belakang, merindukan Maminya yang beberapa hari ditinggalkan. Al melihat Citra yang keluar kamar setelah beristirahat.
"Kapan Tika siap memaafkan dia Mami?" pelukan Tika semakin kuat.
"Saat hati kamu siap sayang, Mami yakin suatu hari Tika akan membuka hati dan memaafkan. Putri Mami wanita tangguh dan tahu cara menata hati. Mami akan selalu bersama Tika, kamu punya Mami." Al mengusap kepala Tika Putri yang sangat dicintainya melebihi diri sendiri.
Langkah kaki Ria memasuki rumah, melihat Aliya dan Tika sedang berpelukan hanya menatap aneh.
"Sudah pulang Ria?"
"Iya, ini Tika membeli makanan untuk Papi." Ria menunjukkan makanan untuk Papinya.
"Punya Mami mana?"
"Tidak ada, kamu beli sendiri Aliya." Ria langsung berlari kencang sebelum Maminya murka.
Tawa Tika terdengar, mengusap punggung Maminya. Aliya dan Atika seperti sahabat sangat dekat, Aliya dan Adriana seperti musuh bebuyutan tidak bisa akur.
Al berjalan bersama Tika menuju tempat makan, Shin dan beberapa Koki sudah sibuk menyiapkan sarapan pagi.
Ria sudah menyusun cemilan yang dibelinya bersama Rindi, beberapa buah-buahan yang tidak ada di negaranya.
"Ria, kamu membeli makanan diluar? Kak Shin sudah masak." Bibir Shin sudah monyong.
Senyuman Ria terlihat, mencicipi masakan Shin yang membuatnya lapar. Ria selalu menghindari masakan Shin karena bisa membuatnya lupa diri karena terus lapar, dan berat badannya bisa naik.
"Kamu sudah cantik Ria, tubuh kamu juga bagus, tidak perlu diet lagi." Citra mengusap kepala Ria yang memegang pinggangnya.
"Benarkah Ria cantik? Ria calon model, dan artis terkenal tidak boleh berpenampilan buruk." Ria mengambil kaca, memperhatikan polesan tipis diwajahnya.
Citra merapikan alis Ria, memilih warna lipstik yang sesuai usianya. Melarang Ria menggunakan alat make up berlebihan karena wajahnya masih sensitif.
"Gunakan alat make-up seusai masa remaja, kamu sudah cantik dari lahir."
"Cantik Ria apa Kak Tika Ma?"
Senyuman Citra terlihat, memuji kecantikan Ria yang melebihi siapapun. Tika mengetuk meja pelan, dan tidak setuju jika Tika yang tercantik.
"Tika lebih cantik,"
"Kata Mama Ria tahu." Lidah Ria terjulur, mengambil makanan memasukkan ke dalam mulutnya sambil joget-joget kesenangan.
__ADS_1
Melihat Tika dan Ria saling mengejek membuat Citra merindukan Mora, mungkin jika Putri kecilnya masih ada dia dan Tika mungkin akan selalu bertengkar untuk memperebutkan siapa yang paling cantik.
"AW sakit." Ria memegang piring ingin memukul Tika.
"Atika, tidak boleh memikul. Ria bisa terluka." Citra mengusap lengan Ria, mengusap kepalanya untuk duduk diam.
Kedua mata Tika dan Ria bertatap, mata Ria terlihat menantang Tika dan akan membalas pembuatan Tika kepadanya.
Satu-persatu orang mulai datang mengelilingi meja makan untuk sarapan bersama, Mam Jes meminta Shin juga bergabung.
"Di mana Juna, Genta, Juan, Iyan, Gion, Dean, kenapa para pria menghilang?" Mam Jes binggung karena banyak sekali nama jika berkumpul.
"Kak Juna di rumah sakit, Kak Juan ada penelitian bersama Kak Dean, kak Iyan dan Gion di perpustakaan sejarah bersama Kak Genta. Mereka akan bergabung nanti malam." Isel duduk dipangkuan Gemal meminta disuap.
"Dari mana kamu tahu Isel?" Tika bahkan tidak tahu jika Genta ke perpustakaan sejak pagi.
"Tentu Isel tahu, selesai sholat Isel masuk ke kamar semua orang kecuali Kak Tika, Kak Shin, dan nenek lampir Ria."
"Cari mati kamu Isel?" Ria sudah mengangkat pisau daging.
Tawa terdengar, meminta semua berdoa untuk makan bersama. Rindi memperhatikan Diana yang rambutnya basah padahal sudah mandi dari pagi.
"Ayang, kenapa Alina mirip Irish? sudah mandi, lalu berhubungan dengan laki-laki, mandi lagi." Rindi menatap Hendrik yang menutup mulutnya.
Gemal langsung batuk, hampir menyemburkan makanannya. Aliya, Anggun, Atika dan Mam Jes menahan tawa.
"Biarkan saja Rindi, dia punya suami?" Al menatap tajam Rindi menahan tawanya.
"Aku hanya bertanya?"
"Pertanyaan kamu membuat otak Tika dan Shin traveling!" Diana ingin melempar Rindi menggunakan sendok.
Altha melihat Rindi hanya bisa geleng-geleng, Dimas menatapnya tajam merasa binggung dengan pilihan Hendrik yang bersedia menikahi wanita aneh.
"Apa kamu akan terus membanding-bandingkan setiap orang dengan apa yang kamu lihat? tidak semuanya boleh kamu pertanyakan Rindi." Papa Calvin tersenyum meminta Rindi makan.
"Maaf Pa,"
"Kak Gemal di perpustakaan bersama pacarnya, ini Gion kirim foto wanita cantik berdiri bersama Kak Gem." Ria menunjukkan kepada semua orang foto di ponselnya.
Atika langsung merampas ponsel, meremasnya kuat. Mata Tika memperhatikan wanita di samping Genta.
"Pilih kuburan atau rumah sakit?" Tika menutup ponsel Ria.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira