ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
ADIKKU


__ADS_3

Keributan terdengar di rumah Genta, sulit bagi Genta untuk menahan emosinya. Dia sangat mencintai Tika, tapi tidak terlihat sedikitpun rasa kasihan karena tertutup emosi juga kesedihan melihat kondisi Adiknya.


Emosi yang memuncak membuat Genta angkat kaki dari rumah, Tika juga tidak berusaha menghentikan. Berpisah mungkin jalan terbaik bagi keduanya. Genta yang memiliki prinsip tidak menyukai rahasia, dan kebohongan sedangkan Tika tidak ada penyesalan sama sekali.


Rumah tangga keduanya retak, bahkan sebelum malam pertama. Jika Tika tahu pernikahan akan berantakan lebih baik dia tidak pernah menikah.


Perasaan keduanya sama-sama terluka, namun emosi menguasai sampai lupa jika saling mencintai.


"Kenapa rumah tangga kalian? Kak Genta ingin berpisah? kamu menyerah semudah itu Tik, di mana perjuangan Tika yang dulu terobsesi dengan Om tua?" Suara tawa terdengar, Rindi duduk di pinggir ranjang melihat Tika yang sedang menangis.


"Kenapa kamu kembali?"


"Entahlah, Kak Hendrik menemui Juna karena sebuah masalah. Kondisi Shin memprihatinkan dan mendekati gila." Tawa Rindi terdengar, merasa lucu melihat Shin gila.


"Apa lucunya? apa ini juga bisa menjadi candaan bagi kamu?" Tika terlihat marah, membanting pintu kamarnya meninggalkan Rindi sendirian.


Senyuman Rindi terlihat, mengambil sebuah map yang terletak di atas meja. Membuka isinya yang menunjukkan identitas Reza, dan Adiknya Rara.


Lama Rindi diam memperhatikan foto Reza, suara memanggil Kakak terdengar membuat Rindi meneteskan air matanya.


"Eza, ini kamu. Ini Eza, di mana dia sekarang? kenapa Eza bisa terlibat dengan Shin?" Rindi langsung berdiri memanggil Tika untuk memberitahu keberadaan Eza.


Tangan Rindi memegang perutnya yang terasa sakit, langsung duduk memejamkan matanya karena tiba-tiba perutnya keram.


Air mata Rindi menetes karena dirinya melupakan Adiknya, memori ingatan Rindi sangat kuat kecuali saat kecelakaan besar yang membuat kehilangan Maminya.


Rindi tidak pernah tahu penyebabnya, saat bangun Rindi sudah bersama Papinya. Sekarang semua ingatan kembali, bahkan penyebab kematian Mamanya Rindi tahu.


"Kenapa kamu Rindi?" Tika membantu Rindi berdiri untuk ke kamar.


"Adikku dibakar hidup-hidup oleh wanita gila, kami dipisahkan hanya karena dia lahir dari wanita malam, dan mencoba meminta pertanggungjawaban Papi." Tangisan Rindi terdengar membuat Tika binggung.


"Masalah aku sudah banyak Rindi, jangan menyusahkan." Tika berteriak kuat meminta Rindi menghubungi suaminya.

__ADS_1


"Dia adikku Tika, kami tumbuh bersama. Saat mereka tahu dia anak simpanan Papi, Kami terpisah. Di mana Eza?"


"Mana aku tahu?" Tika kaget melihat foto Reza di tangan Rindi.


"Kamu mengenal Reza?"


Kepala Rindi mengangguk, mereka terpisah lebih dari sepuluh tahun. Rindi tidak pernah ingat tragedi pembakaran Eza.


"Rin, dia pria yang membuat Shin menggila,"


"Tidak mungkin Eza melakukannya, dia sangat menghormati wanita. Eza anak baik, tidak mungkin dia menyakiti Shin." Tiba-tiba Rindi jatuh pingsan.


Cepat Tika menghubungi Hendrik jika Rindi jatuh pingsan. Perut Rindi juga mengeras, begitupun dengan kedua kakinya. Tika tidak mengerti apapun soal medis, sehingga tidak tahu harus melakukan apa?


"Kak Tika,"


"Juan, Dean cepat minta supir Mommy atau siapapun untuk membawa Rindi ke rumah sakit." Tika berteriak panik.


Dean langsung berlari kencang, sedangkan Dean meluruskan kaki Rindi, menekan kakinya menyentuh perut buncit yang sangat keras agar tidak kejang.


"Kak bantu Juan menggendong ke kamar." Juan memegang bagian atas, sedangkan Tika bagian kaki.


Tidak menunggu lama Juan berlari ke lantai atas, mencari obat-obatan di ruangan Juna juga infus untuk menjaga kehamilan Rindi.


"Juan apa yang kamu lakukan?"


"Memasang infus, kita tidak perlu ke rumah sakit. Kehamilan Aunty Rindi cukup sulit karena sering mengalami keram." Juan berhasil memasang infus, juga menyuntik obat yang aman untuk ibu hamil.


Dean datang membawakan kunci mobil juga supir, tapi Tika dan Juan sudah geleng-geleng tidak membutuhkannya lagi.


"Seharusnya tidak membuat Dean lari-larian,"


"Tuan muda, apa gaji bapak bisa naik?"

__ADS_1


"Tidak jadi." Dean membatalkan kenaikan gaji.


Perlahan mata Rindi terbuka, menatap infus ditangannya. Rindi memohon agar Tika mempertemukan dirinya dan adiknya.


"Tenang dulu Rindi, Eza baik-baik saja dia sedang menunggu kedatangan kamu. Sekarang aku tahu sebesar apa luka Reza, dia bisa melihat kakaknya, tapi tidak bisa menyentuh. Reza kehilangan segala-galanya dalam hidupnya, dan tumbuh dengan cara membanting tulang." Senyuman Tika terlihat, dia pastikan kali ini Reza bicara.


Alasan Reza diam karena tidak akan ada yang mempercayai dirinya kecuali kakaknya. Semua orang langsung memojokkan Reza, mengecap dirinya tangan kanan Dina, hanya Rindi yang mengatakan Eza anak baik.


Sebelum Reza mengatakan apapun, dirinya sudah buruk di mata semua orang. Sebelum dirinya membela diri langsung dihakimi.


"Terima kasih Rindi, setiap pertemuan pasti ada hikmahnya. Aku tidak tahu kenapa dulu kami berdua dipertemukan dengan kamu, ternyata jawabannya kita akan saling membutuhkan." Senyuman Tika terlihat, mengusap perut Rindi agar baby di dalam perutnya tenang.


Senyuman Tika terlihat lebar menatap foto pernikahannya dengan suaminya, ada foto Shin juga di antara mereka.


Pintu terbuka, Hendrik mengenggam tangan Istrinya yang sudah membaik. Juan ternyata cukup hebat sehingga bisa membantu Rindi.


"Jangan memikirkan apapun, ingat kondisi kehamilan kamu,"


"Kak, Rindi ternyata punya Adik. Adiknya Rindi laki-laki, dia selalu memasak agar Rindi bisa makan enak. Padahal masakan dia tidak enak, "


"Siapa? syukurlah jika kamu masih memiliki keluarga." Pelukan Hendrik lembut, mencium kening Istrinya.


"Dia Adik kandung Rindi, kami satu Papi, tapi beda Mami. Eza tinggal bersama Rindi sejak usia dua tahun, dia dibuang oleh Maminya." Rindi merasa sedih karena pada akhirnya Papinya juga membuang Eza saat tahu jika dia anak wanita simpanan.


Seandainya Rindi tahu, dia akan menyelematkan Adiknya, melindungi dan menyayanginya. Rindi sangat menyayangi Eza, dan ingin memeluk adiknya seperti dahulu.


"Kak Hen, Reza sebenarnya Adiknya Kak Rindi yang dibakar hidup-hidup. Reza pernah berkata hanya ada satu orang yang akan mempercayainya. Reza tidak akan mengatakan apapun kecuali kepada orang itu, Reza ingin diam karena bicaranya akan menjadi kesalahan." Tika mengusap air matanya, meminta izin kepada Hendrik untuk membawa Rindi bertemu dengan Eza.


Kepala Hendrik mengangguk, mereka akan mengunjungi Reza dan meminta keterangannya atas apa yang terjadi di hotel.


Setelah semuanya terbongkar, mungkin akan ada titik terang kondisi Shin, dan dia bisa menerima Juna sebagai suaminya.


"Rindi yakin, Eza tidak salah. Dia anak yang ceria, jahil, suka bercanda. Tidak mungkin Eza menyakiti seorang wanita karena dia sangat menghormati seorang wanita, orang tua, dan juga anak-anak. Eza tidak salah." Rindi sangat yakin Adiknya masih orang yang sama.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2