
seluruh keluarga berkumpul, Aliya mengangkat baju Tika yang sobek. Menatap Putrinya yang duduk menundukkan kepala.
"Kenapa disobek Tika? kita tidak mempunyai waktu untuk membuat lagi, atau kalian pakai kostum Halloween saja." Al menaikan nada bicaranya menatap Shin dan Tika yang saling tatap.
Mata Shin masih terlihat mengantuk, menjulurkan lidahnya ke arah Tika yang wajahnya menunjukkan kekesalan.
"Bukan Tika yang menyobeknya, tapi Shin." Pukulan Tika menghantam paha Shin yang langsung meringis mengusap pahanya.
"Bukan disobek, tapi kamu yang tambah gendut karena itu bajunya tidak muat." Pukulan Shin juga kuat ke arah paha Tika.
Atika langsung berdiri, memegang pinggangnya yang kecil. Berteriak kuat ke arah Shin yang menyebut dirinya gendut.
Telinga Shin dan Tika ditarik oleh Aliya meminta keduanya diam dan berhenti bertengkar, Al tidak ingin mendengar dalam satu minggu Shin dan Tika bertengkar apalagi membuat masalah.
"Kalian berdua mendengarkan Mami?"
"Iya," jawab Shin dan Tika bersamaan.
"Ini juga berlaku untuk Ria dan Isel, kalian berdua awas membuat masalah." Jari telunjuk Al menunjuk ke arah dua wanita yang duduk berjauhan.
"Isel tidak nakal, terakhir nakal waktu terbang naik balon." Senyuman Isel terlihat, memakaikan baju kepada bonekanya.
Diana mengusap dada, Isel mengatakan dia tidak membuat masalah, baru beberapa jam dari memecahkan meja makan, air di kamar mandi banjir sampai ke kamar, buku sekolahnya sobek semua, ikan di kolam mati, ditambah lagi bunga di cabut semua dan mengatakan tidak membuat masalah.
"Kenapa Kak Di?"
"Tidak ada Al, semuanya aman hanya pikiran Di saja yang melayang." Senyuman Di terlihat menatap Putri semata wayangnya yang sudah menyobek baju boneka.
"Mama, beli boneka baru ya. Lihat sudah sobek semua, Isel tidak suka." Kedua tangan Isel membawa boneka yang tanpa busana.
"Iya nanti,"
"Janji ya, awas kalau bohong."
__ADS_1
"Sel, kamu sadar tidak jika kamu itu nakal sekali, Mama hampir gila Sel. Mama memang mempunyai banyak dosa, tapi kenapa ujian melalui kamu?" Di menatap Aliya yang sudah tertawa melihat Diana stress.
"Isel masih kecil Mama,"
"No, kamu sudah besar sayang. Please jangan karena kamu perempuan satu-satunya bisa berbuat sesuka hati. Mama tidak menyukainya Sel,"
"Anak baik seperti apa Mama?"
"Tidak nakal, tidak membuat masalah, dan menuruti ucapan orang tuanya. Dalam satu minggu ini, Isel usahakan tidak membuat masalah. Anak kecil dia yang belum bisa berjalan, Isel sudah besar, jadi turutin ucapan Mama." Di memberikan jari kelingkingnya.
"Itu namanya bayi Mama, dia belum bisa melakukan apapun. Isel bukan bayi, tapi anak-anak." Tatapan Isel sinis, menatap Mamanya marah.
"Tatapan ini Mama tidak suka, kamu terbiasa apapun yang diinginkan pasti dikabulkan. Sekali lagi membuat masalah tidak masuk akal, Mama akan menghukum kamu." Di menatap tajam mata Putrinya yang langsung menundukkan kepalanya.
Melihat Isel menunduk Aliya tidak tega, memeluknya lembut membawanya duduk di samping Tika.
"Kenapa memecahkan meja? kamar banjir, bukunya disobek? kamu marah karena apa?"
"Isel tidak marah, hanya ceroboh. Maid yang menabrak meja, Isel pukul menggunakan pedang lalu pecah semua. Jika sampai ada yang duduk lebih bahaya tahu!" Isel membentak Aliya yang membenarkan ucapannya.
"Apa yang bisa Shin bantu?"
"Tidak ada, kamu cukup diam dan jangan membuat masalah. Mami, Kak Di, Kak Anggun, Mam Jes, Helen dan Ana yang akan mengurusnya." Al menakup wajah Shin yang masih mengantuk.
"Kenapa lamarannya harus heboh Ma? kita bisa berkumpul secara kekeluargaan." Tika menghela napasnya karena acara lamarannya secara besar-besaran.
Aliya juga tidak terlalu menyetujui, tapi dari keluarga Leondra yang menginginkannya. Amanah dari kedua orang tua Gemal mengharapkan putranya mengikat seorang wanita secara besar.
"Tradisi keluarga Genta seperti itu, karena mereka ada keturunan raja pada masanya. Mam Jes dan Papa Calvin ingin yang terbaik untuk Genta agar tidak menjadi penyesalan." Al menatap Tika dan Shin yang menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana soal pernikahan? apa akan mengudang ribuan orang atau pestanya semeriah raja dan ratu." Shin tidak mengerti soal keluarga yang hanya diketahui oleh Genta.
Kepala Mam Jes menggeleng, acara lamaran yang besar-besaran berbeda dengan pernikahan yang lebih sakral hanya keluarga terdekat.
__ADS_1
"Rencana Mama setelah ijab kabul secara keluarga, baru pesta secara umum. Tidak harus ribuan orang intinya pesta mewah di hotel yang kalian inginkan." Mam Jes menunjukkan daftar hotel.
"Ay Gen setuju?"
"Tidak, bahkan lamaran juga dia pusing sendiri. Setiap hari Genta mengomel karena dia sibuk bekerja, tapi banyak panggilan soal lamaran." Mam Jes tertawa melihat putranya yang semakin hari banyak bicara.
"Tika juga pusing, ribet."
"Makanya kamu diam saja, keluarga kita sudah lama tidak pesta terakhir pernikahan Di. Sekarang dia sudah memiliki tiga anak yang sudah berusia hampir tujuh tahun. Rindu juga berkumpul dalam kebahagiaan." Anggun tersenyum mengusap lengan Diana yang memeluknya.
Aliya dan Mam Jes setuju, mereka memiliki jadwal padat untuk mengurus lamaran satu minggu ke depan, dan acara pernikahan dalam hitungan bulan.
Senyuman Shin terlihat, antara bahagia dan sedih yang dirasakannya. Sahabat dan Kakaknya akan disatukan oleh ikatan pernikahan, sedangkan dirinya masih bertahan dengan kesendirian.
Shin yakin dia pasti akan kesepian, Tika pasti akan sibuk dengan rumah tangganya, saja Shin hanya menjadi benalu.
Tangan Tika menggenggam jari-jemari Shin, ke manapun Tika pergi, sesibuk apapun dirinya tidak akan pernah meninggalkan Shin. Mereka akan terus bersama, dalam hal apapun.
"Nanti kita tinggal bertiga, aku tanpa kamu pasti tidak berdaya. Janji harus tinggal bersama Tika?"
"Siap, jangan lupakan Shin." Pelukan Tika dan Shin erat saling menyemangati.
"Aku serius Shin untuk mencari lelaki itu, kamu tidak boleh pergi jauh dari Tika, harus selalu bersama tidak peduli badai angin ribut." Tika menyatukan jari jemarinya, berharap Shin mengerti perasaannya.
"Iya, aku akan selalu bersama kamu. Sampai kita tua, sampai kematian menjadi pemisah." Shin berjanji tidak akan meninggalkan apapun yang terjadi.
Kepala Tika mengangguk, langsung menangis. Dia takut jika suatu hari Shin menikah dengan lelaki lain dan dibawa pergi ke negara lain. Shin akan sibuk dengan keluarganya, dan begitupun dengan Tika.
"Kenapa menangis? kamu akan menjadi Kakak ipar Shin masih takut kehilangan." Al mengusap air mata Putrinya.
"Aku tidak akan menikahi lelaki yang berbeda negara,"
"Oh, berarti pria itu satu negara dengan kita? thank you informasinya." Tika tersenyum menghapus air matanya, dia pastikan akan menemukan lelaki yang Shin cintai.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira