
Pintu ruangan operasi terbuka, Juna melangkah keluar melihat masih ada Dokter Calvin, Anggun, Mam Jes, dan Gemal.
"Jun, lebih baik kamu melihat Mama Citra terlebih dahulu." Anggun mengusap lengan Juna yang terlihat lelah.
Suara langkah kaki Tika berlarian terdengar, langsung memegang pergelangan tangan Kakaknya ingin mengetahui kondisi Shin.
"Kak Jun, Mama Kak Juna diserang orang, pelaku berhasil ditangkap. Mama Kak Juna masih dalam perawatan." Tika mengintip ke dalam ruangan operasi.
"Mama Kak Juna, juga Mama kamu. Bersikaplah sopan." Juna menatap adiknya dingin.
Tika hanya memberikan senyuman sinis, apa yang terjadi kepada Citra kesalahannya di masa lalu, Atika tidak ingin bertanggung jawab.
Tatapan Juna sinis, ingin memarahi Tika tetapi bukan waktunya untuk berdebat hal tidak penting.
Diana dan Aliya tiba bersama Dimas, Juna langsung mendekati Di meminta penjelasan soal masalah penyerangan Mamanya.
"Kak Juna jelaskan terlebih dahulu kondisi Shin."
"Dia baik-baik saja, Papa Calvin bisa menjenguknya." Juna melangkah pergi untuk menemui Mamanya.
Aliya mendampingi Juna, memberikan pengertian kepada Putranya agar tidak mengungkit masa lalu Citra lagi.
Siapapun orang yang ingin menyakiti Citra, tugas Juna untuk menjaga dan menyelesaikannya.
"Maafkan saya Dokter Juna yang tidak bisa menjaga Mama Citra." Li masuk dan melihat kondisi Citra yang harus dirawat di rumah sakit.
Al mengusap punggung Li, apa yang terjadi bukan kesalahan Li. Dia sudah melakukan yang terbaik, bersyukurnya Allah masih melindungi Citra.
Tangan Juna menggenggam jari jemari Mamanya, Juna tidak mengerti langkah apa yang dirinya harus ambil.
Mendengar ucapan Tika meminta Mamanya menanggung sendiri ulah kejahatannya, tidak melimpahkan kepada Tika yang harus menyelesaikannya.
"Mi, Juna kecewa sekali, tetapi Juna tidak bisa mengatakannya lancang seperti Tika yang bisa mengutarakan ketidaksukaannya." Juna menundukkan kepalanya.
Al meminta Dokter Li keluar, melihat tatapan mata Aliya Liana langsung melangkah pergi meksipun dirinya ingin sekali menemani Juna.
Tangan Al mengusap punggung Putranya, kecewa sebuah rasa yang dianggap sepele, tetapi lebih menyakitkan dari amarah yang menggebu-gebu.
__ADS_1
"Sakit sekali dada Juna, satu sisi Juna tidak suka dengan ucapan Tika, tetapi apa yang dia katakan benar. Mami, sekuat apa Juna menutupi kesedihan ini." Arjuna mengusap wajahnya.
"Kenapa? Juna menyerah hanya karena sebuah rasa kecewa. Mami tahu kecewa tidak ada obatnya, kecuali rasa sabar." Al memeluk Putranya yang memiliki banyak amarah yang ditahannya.
Al berjanji akan selalu mendukung keputusan Juna, apalagi bersangkutan dengan Mamanya. Al percaya akan ada waktunya Juna melepaskan seluruh amarahnya
Kapan amarah lepas, Juna harus menghadapi menjalani dan mengikuti prosesnya, Al tidak ingin Juna melepaskan tanggung jawab memberikan contoh baik untuk adik-adiknya.
"Saat ini Juna hanya ingin Mama Citra sembuh, tetapi belum juga masalah satu selesai sudah ada penyerangan." Juna akan menggunakan penjaga untuk Mamanya, bahkan Dokter yang bisa masuk harus Juna tentukan.
"Mami setuju, kita perketat keamanan." Al menerima panggilan dari Altha langsung menjawabnya.
Juna keluar ruangan, menatap Li yang kepalanya ada luka akibat benturan saat melakukan perlawanan. Juna duduk di samping Li yang menunjukkan senyuman manis.
"Maaf, kamu terluka karena menjaga Mama." Juna menghela napasnya.
"Aku baik-baik saja Dokter Juna, sebaiknya aku yang menjaga, Dokter harus beristirahat dan mengganti baju." Li tahu Juna kelelahan baru selesai operasi belum sempat melakukan apapun langsung menemui Mamanya.
Kepala Juna mengangguk, melangkah pergi ke ruangannya untuk mengganti baju dan mengisi perutnya.
"Kak Juna, kapan Shin akan sadar?"
Wajah Tika sangat terkejut, terlalu lama jika menunggu Shin sampai berhari-hari, belum lagi khawatir Shin masih tetap buta.
"Aku yakin penyerangan Tika hanya pengalihan untuk membunuh Shin." Tika bergegas pergi ke kantor polisi untuk menemui pelaku penyerang yang di interogasi oleh Genta.
Sepanjang perjalanan Tika, masih memegang ponsel wanita yang kecelakaan. Saat ada di jalan terowongan Tika membuang ponsel yang datanya sudah dipindahkan.
Senyuman Tika terlihat, mempercepat laju mobilnya menuju kantor polisi. Atika langsung meminta izin mengatasi namanya Papinya untuk menemui Genta.
Dari balik layar, Tika melihat pelaku yang hanya duduk diam. Tatapan sangat khawatir dan ketakutan.
"Dia tidak ingin bicara, bagaimana keadaan Shin?"
"Baik, dia akan bangun dua sampai enam jam lagi atau dua sampai tiga hari." Tika melipat tangannya di dada.
Genta menarik napas panjang, terlalu lama menunggu Shin bangun belum lagi waktu untuk melihat hasil matanya.
__ADS_1
"Tika, bagaimana kamu bisa masuk ke sini?"
Senyuman Tika terlihat, seandainya Genta tahu jika dirinya memiliki identitas yang bisa mengimbangi Genta. Terlalu mudah bagi Tika keluar dan masuk.
"Kenapa dia terlihat gelisah?"
Genta juga penasaran, tetapi bertanya tidak membuahkan hasil. Pelaku tidak mengeluarkan sepatah katapun sekalipun dipukul.
"Aku ingin masuk ke sana, kamu tidak perlu ikut." Tika menepuk pundak Genta, berjalan ke ruangan.
Kedatangan Tika membuat pelaku semakin ketakutan, tangan Tika melambai ke arah kamera.
"Kamu percaya, jika kamera ini bisa dipantau banyak orang, hacker yang hebat pasti bisa melakukannya." Tika mematikan kamera membuat Genta kaget.
Tika duduk di depan pelaku, mengetuk meja pelan memintanya untuk makan agar memiliki tenaga untuk meminta kebebasan.
"Aku tidak akan bertanya dua kali, jadi dengarkan baik-baik." Tika tersenyum sinis.
Pelaku menatap wajah Tika, meyakinkan Tika jika dirinya tidak akan menjawab apapun. Dia melakukan kejahatan tanpa perintah dari siapapun.
"Bagaimana keadaan Melly? dia selamat beberapa puluh tahun yang lalu, mengendalikan Citra untuk membuat kekacauan sampai akhirnya dia hidup bebas, Citra menanggung sendiri. Aku rasa sekarang giliran kamu menjadi kambing hitamnya?" Tika bertepuk tangan sambil tertawa.
"Dari mana kamu tahu, dia ...." Ekspresi pelaku celingak-celinguk mencari aman.
"Aku tahu semuanya, dia penyebab kematian adikku, dan Uncle Roby. Dia bahkan membunuh anak tirinya." Senyuman Tika terlihat karena dia mengetahui semua kejahatan Melly yang selalu bergonta-ganti nama.
Pintu ruangan terbuka, Genta melangkah masuk melihat Tika yang lancang mematikan kamera. Bisa saja pelaku menyakiti Tika yang masuk tanpa pengawasan.
"Saya akan memberikan keterangan, orang yang memberikan perintah ...." Mulut pelaku langsung berbusa, Genta melihat Tika yang geleng-geleng kepala.
Genta berteriak meminta petugas melarikan ke rumah sakit, tatapan mata Genta tajam melihat Tika yang mengangkat kedua pundaknya.
"Kamu akan menjadi orang yang bertanggung jawab karena mencelakai pelaku, kenapa kamera dimatikan?" Pukulan Genta kuat menghantam meja.
"Jangan marah Om, nanti semakin tua." Tika tersenyum, mencium tangannya lalu menempelkan di pipi Genta.
"Atika!" tangan Genta mencengkram rahang Tika kuat, memintanya tidak main-main dengan hukum.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira