ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MEMAAFKAN


__ADS_3

Di dalam ruangan pribadi Altha mendengarkan penjelasan Yandi soal Citra yang datang ke kantor polisi, menyerahkan diri secara baik-baik.


Sekarang Citra sudah ditahan, dan akan disidang secepatnya agar mempertanggungjawabkan perbuatannya yang melakukan banyak kejahatan.


Anggun dan Aliya saling pandang, melihat kesukarelaan Citra jauh lebih baik sehingga tidak membuatnya semakin terluka.


"Alhamdulillah jika Citra tulus menyerahkan diri, semoga dia bisa memperbaiki diri." Senyuman Anggun terlihat, menggenggam tangan Aliya.


"Apa yang Alhamdulillah? kamu ditusuk atas perintah Citra kak Anggun." Yandi menatap tajam, dia tidak suka melihat Anggun yang terlalu mudah memaafkan seseorang.


Senyuman Anggun terlihat, dirinya cukup bahagia diberikan kesempatan untuk hidup dan melihat dunia kembali. Membenci Citra bukan solusi apalagi membalas dendam.


"Apa aku harus menusuk Citra juga? berarti aku tidak ada bedanya sama dia."


Aliya tersenyum, Anggun memang wanita terbaik. Al juga ingin memaafkan Citra setulus Anggun.


Saat ini prioritas Aliya menjaga putra putrinya agar selalu bahagia, daripada waktu dihabiskan untuk balas dendam lebih baik digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat.


Banyak waktu yang bisa dihabiskan dengan canda dan tawa, kenapa harus mengunakan emosi yang membuat beban pikiran.


Pintu ruangan Altha terbuka, Diana masuk menatap tajam semuanya yang binggung melihat ekspresi Diana.


"Apa benar Citra menyerahkan diri? apa lagi yang dia rencanakan?" Diana berteriak kuat.


Anggun menarik tangan Diana, meminta duduk dan berhenti membenci Citra apalagi menuduh sesuatu tanpa bukti.


"Mom, seseorang tidak akan mudah berubah. Di penjara tempat tinggalnya penjahat, melarikan diri dari sana bukan hal yang sulit. Penjara juga salah satu tempat istirahat dan sembunyi paling aman." Tatapan Diana dingin, meminta Mommynya mengerti jika tidak mudah bagi seseorang untuk menyerah, jika sudah terlanjur kehilangan segalanya.


"Lalu apa hukuman terbaik Di?" Dimas menatap putrinya yang pikirnya sangat berbeda jauh dengan Anggun.


"Hukum mati dia Daddy, itu akan menjadi akhir yang paling baik."


Aliya menatap Altha yang tidak memberikan respon apapun, apapun keputusan akhir dari kasus Citra juga penentu perasaan putranya.


Jika Tika belum mengerti apapun, lima sampai sepuluh tahun ke depan Tika pasti lupa jika Citra Mamanya. Dia hanya tahu jika Al Maminya, tapi berbeda dengan Juna.


Sepuluh sampai dua puluh tahun, bahkan seumur hidup Citra di penjara pasti Juna ingat dan ada pikiran suatu hari nanti ingin melihat Mamanya.

__ADS_1


"Aku memaafkan Citra, dan membiarkan hukum yang menentukan hukuman paling pantas. Aku berterima kasih kepadanya karena memberikan putra dan putri yang akan aku pastikan menjadi anak-anak yang baik." Al mengusap air matanya, hukuman terberat bagi Citra kehilangan.


Seberat apapun tuntutan hukum, rasa penyesalan dan bersalah yang paling menghacurkan. Kesempatan memang ada, tapi tidak semua mendapatkannya.


Melihat kebesaran hati Aliya, Diana hanya bisa terdiam langsung melangkah ingin pergi tanpa mengatakan apapun.


"Di, kita sama, beruntungnya kita memiliki kesempatan." Al menatap kakaknya yang juga menoleh dengan tatapan tajam.


Aliya tidak menyesal atas apa yang terjadi di masa lalu, karena itu sudah menjadi jalan hidupnya.


Diana juga harus belajar melupakan kehidupan lamanya, mulai menemukan kebahagiaan dalam jalan kebaikan.


"Aku tahu kamu ingin melindungi kami semua, tapi masa lalu kita biarkan ada di belakang. Aku ingin memulai hidup sebagai Aliya, ibu dari anak-anakku. Ini kebahagiaan yang pernah aku impikan." Al menyentuh perutnya, menyentuh kalung di lehernya dan menatap gelang yang melingkar di pergelangan tangan.


Senyuman Diana terlihat, menganggukkan kepalanya. Dirinya tidak ingin mengkhawatirkan Aliya lagi, dia sudah bahagia bersama suami dan anaknya. Hanya Diana yang belum menemukan tujuan.


"Di, kamu tidak harus menjaga kami. Karena Mommy yang akan menjaga kamu." Anggun tersenyum, menggenggam tangan Diana, setulus hati Anggun sangat menyayangi Diana.


Lidah Diana menjulur, dia sudah besar dan bisa menjaga diri. Saat dia terluka hanya satu hal yang pertama kali Anggun lakukan, langsung menangis.


"Kamu pikir membuat anak seperti membuat adonan." Dimas menggelengkan kepalanya.


Yandi menutup telinga Diana, sebaiknya mereka pergi. Jangan sampai kepolosan Diana ternodai ulah Daddy-nya yang tidak tahu malu.


"Aku tidak polos, dan tahu cara membuat anak. Daddy tidak mau membuat adik untuk Di, sudah saatnya aku mencari sugar Daddy untuk memberikan Daddy cucu." Diana langsung berlari kencang sebelum melihat tatapan tajam Dimas.


Mendengar ucapan Diana, Altha langsung tertawa. Dimas menendang Altha mentertawakan dirinya yang diejek menjadi kakek oleh Putrinya sendiri.


"Jangan harap kamu bisa menikah muda Diana, tunggu usia adik kamu dua puluh tahun." Dimas menolak menjadi kakek muda.


Anggun dan Aliya hanya bisa tertawa, Dimas dan Anggun sama cocoknya jika soal marah. Anggun harus mempersiapkan diri melihat dinginnya Dimas, juga pertengkaran Diana dan Dika yang tidak berkesudahan.


"Aliya, Altha. Kak Anggun belum sempat mengucapkan selamat untuk kalian, selamat menjadi orang tua lagi." Senyuman Anggun terlihat memeluk Aliya.


"Kak Anggun juga selamat, besok sudah menjadi istri. Semoga menjadi keluarga bahagia." Al mengusap punggung Anggun.


Altha dan Dimas mengucapkan amin bersamaan, mereka berteman sejak muda, bekerja bersama dan sekarang menjadi tetangga.

__ADS_1


Suara Tika terdengar, Altha membuka pintu melihat putrinya sudah berlarian kencang mengatakan jika ada perempuan seksi.


Al kaget melihat wanita seksi yang Tika katakan, Anggun juga sama kagetnya. Langsung tertawa bersama saat menyadari wanita seksi yang Tika puji sebenarnya bukan wanita.


"Siapa dia Uncle? halo aku Tika." Senyuman Tika terlihat menatap Dika yang cekikikan tertawa.


"Hai cantik."


"Tika ... T ... I ... k ... a. Atika bukan cantik." Tatapan Tika yang awalnya ramah berubah jutek.


Suara tawa Dika terdengar sampai terpingkal-pingkal, Diana juga sama tertawanya melihat Kenan berdandan ala wanita yang membuat Tika tidak mengenalinya.


"Apa yang kamu lakukan Kenan? sudah lelah kamu menjadi laki-laki." Dimas menjambak rambut palsu Kenan, menatap geli.


Altha mengusap perut Aliya, amit-amit anaknya bertingkah seperti Kenan yang bercandanya kelewat batas.


"Kenapa Ayang." Al tertawa melihat Altha merinding.


"Jijik aku." Alt tersenyum memeluk Aliya dari belakang.


"Uncle Kenan, membuat Tika kecewa saja."


Suara tawa semua orang terdengar, menganggap Kenan dan Dika gila hanya untuk penyamaran melakukan hal konyol.


"Siapa yang mendadani kamu?" Anggun geleng-geleng kepala.


Semua orang melihat ke arah Juna yang membawa tas make up, langsung melempar sampai berhamburan.


Kepala Juna langsung menggeleng, dia tidak menyentuh hanya menemukan di depan rumah.


"Arjuna ...." Aliya dan Tika berteriak histeris, koleksi make up mereka hancur karena Juna lempar.


***


Follow Ig Vhiaazara


jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


__ADS_2