ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERTEMU KELUARGA


__ADS_3

Senyuman Gemal terlihat, makan malam bersama keluarga Dimas dan Anggun. Keharmonisan sangat terasa di dalam keluarga.


Perdebatan kecil antara dua D yang tidak ada habisnya, Anggun yang sangat adil dengan kedua anaknya meskipun Diana sudah dewasa.


"Selamat makan." Di dan Dean sudah siap dengan sendok masing-masing.


Gemal langsung memasukkan makanan ke mulutnya, tapi langsung diam melihat Diana dan Dean yang mengerutkan kening.


"Daddy dulu yang makan, baru kita juga. Seandainya ada racun, kita selamat." Dean langsung tertawa diikuti oleh Diana.


Gemal langsung mengambil tisu, mengeluarkan makanannya. Tatapan Gemal langsung panik.


"Maafkan saya pak."


"Santai saja Gem, Dean dan Diana sengaja mengerjai kamu, biasanya mereka juga yang makan lebih dulu." Dimas tersenyum melihat kejahilan kedua anaknya.


Diana langsung menyendok makanan, diikuti oleh Dean yang tersenyum sambil makan. Gemal juga lanjut makan.


"Makan yang banyak Gem, jangan malu-malu." Senyuman Anggun terlihat memberikan air minum.


"Terima kasih Tante." Gemal menyukai masakan Anggun.


Diana dan Dean langsung kaget, menatap Mommynya yang mendapatkan pujian pintar memasak.


"Kak Gemal pernah melihat nasi goreng hitam tidak? jika belum sering-sering sarapan di sini." Dean tertawa, karena Maminya terlalu memiliki banyak kasus di persidangan sampai lupa sama nasinya.


"Sudah cukup, habiskan makannya." Tatapan Dimas dingin, menghentikan Dean yang tidak berhenti mengomel.


Selesai makan, Gemal mengambil buah apel, mengupasnya sampai mengiris tangannya dan mengeluarkan darah.


"Astaghfirullah Al azim, darah birunya keluar." Dean langsung menadah darah Gemal menggunakan tangannya.


Suara Dimas, Anggun dan Diana langsung tertawa besar, tingkah laku Dean yang berlebihan tidak mengerti arti dari darah biru.


"Apa yang kamu pikirkan Gemal sampai bisa terluka?" Anggun langsung menutupi darah menggunakan tisu.


"Kenapa warnanya merah Mommy?"


"Dean, darah biru hanya istilah untuk keturunan anak bangsawan. Jika warna darah tetap sama merah." Senyuman Anggun terlihat menatap putranya yang menganggukkan kepalanya.


"Oh, Dean pikir warna darah ada yang biru." Wajah Dean terlihat kecewa.


Tatapan Gemal binggung, Dean percaya sekali jika dirinya keturunan darah biru.


Selesai makan malam, Gemal pamitan untuk pulang, karena dia harus bersiap-siap untuk pergi bekerja.

__ADS_1


"Pak Dimas, Tante dan Dean, kak Gemal pulang dulu."


"Besok ke kantor, jangan putar arah ke tempat lain." Dimas menatap tajam.


"Siap pak laksanakan." Gemal langsung pamitan.


Diana berlari pelan, mendekati Gemal yang sudah naik ke atas motor. Menyerahkan sebuah kotak kecil.


"Apa ini?" Gemal membuka kotak, ada kalung yang memiliki lambang.


"Ini hadiah dari Ibu, selama merawat ibu dia menitipkan ini. Kamu harus jaga dengan baik." Diana langsung memasangkan di pergelangan tangan dijadikan gelang.


Gemal menatap binggung, tapi menerima karena peninggalan dari ibunya. Diana mempersilahkan Gemal pulang.


Sepanjang perjalanan sesekali Gemal melihat gelang, menghela nafasnya mempercepat laju kendaraannya.


***


Pagi-pagi Gemal sudah ada di kantor, melihat kasus baru yang harus mereka tangani. Suara keributan di pagi hari terdengar karena ada keluarga terpandang yang datang, dan membutuhkan pengawalan polisi.


"Gem, bantu mereka untuk mengawal keluarga bangsawan."


"Sorry, aku sibuk." Gemal tidak memalingkan sedikitpun pandangannya."


"Astaga membuat repot saja, tugas aku menangkap penjahat kelas berat bukan mengawal keluarga kaya." Tatapan Gemal sinis, tidak suka diperintah.


Yandi meminta Gemal pergi, dia tidak perlu lama di sana, karena akan ada yang menggantikannya.


"Ais membuang waktu saja." Kening Gemal berkerut melihat keluarga bangsawan datang dengan bodyguard, tapi masih minta dikawal.


"Jaga ucapan kamu Gemal, mereka keluarga Leondra yang memiliki kekuasaan."


"Oh, kenapa aku selalu mendengar nama keluarga ini?"


Semua orang melihat ke arah seorang pria yang masih terlihat sangat tampan, berjalan bersama seorang wanita yang sangat cantik.


Di belakang mereka ada pasangan paruh baya yang berjalan sambil tersenyum, ada juga seorang wanita tua yang duduk di kursi roda bersama pasangannya.


"Apa mereka generasi ketiga dan keempat?" Gemal menatap wajah mereka yang memang sangat terawat.


Seluruh orang berjalan mengikuti untuk menjaga keamanan, dan berjalan menuju mobil untuk pergi ke Mansion yang sudah dikosongkan hanya khusus untuk keluarga Leondra.


Sepanjang perjalanan mengawal, Gemal memutuskan untuk tidur dan tidak mempedulikan orang-orang yang sangat mengagumi keluarga terpandang.


"Gem bangun, kita sudah sampai Mansion."

__ADS_1


"Kalian saja yang keluar, aku mengantuk." Gemal tidak mempedulikan, langsung melanjutkan tidurnya.


Sebuah mobil mewah berhenti, Diana langsung keluar dan menatap keluarga Leondra yang mengundangnya secara pribadi.


"Dokter Di."


"Selamat datang di negara kami, dan saya akan membantu mengawasi kondisi keluarga." Di tersenyum manis melangkah masuk ke dalam Mansion.


Beberapa polisi langsung masuk ke mansion terlebih dahulu, memastikan rumah benar-benar aman dan nyaman.


Tatapan Diana tajam, menahan wanita cantik di sampingnya untuk berhenti melangkah. Mata Diana melihat ke arah lain dengan tajam, membuat polisi diam dan memperhatikan.


Gemal di dalam mobil mengerutkan keningnya, langsung mengambil senjata dan melangkah keluar.


"Awas." Gemal langsung menarik tangan seseorang saat menyelinap masuk.


Tatapan Gemal tajam saat melihat wanita yang ada di hutan juga bisa ada di Mansion, langsung memborgol tangannya dan melumpuhkan.


"Shima, di mana anakku?" Suara teriakan histeris terdengar.


Langka kaki berlari langsung mencekik wanita yang sudah Gemal borgol memohon untuk mengembalikan anaknya.


"Di mana anakku Shima?"


"Dia hidup menderita dan kesepian, ini hukuman untuk keluarga Leondra karena kalian hanya menganggap aku sampah dan benalu." Air mata terlihat menatap wanita cantik di hadapannya.


Seorang pria mengarahkan senjata, Gemal langsung mengangkat tangannya untuk tidak membuat keributan.


"Aku juga tersakiti, suami yang aku cintai menikahi wanita lain, dan tidur bersamanya. Tidak ada gunanya aku menjadi wanita, tapi lebih hancur saat aku menjadi ibu tidak bisa menyusui dan melihat anakku. Regut saja nyawaku, tapi kembalikan anakku." Kedua tangan terlipat, memohon agar anak yang hilang puluhan tahun dikembalikan.


Lelaki tampan juga melipat tangannya, banjir air mata memohon agar anaknya dikembalikan. Mengaku salah karena bersikap tidak adil dan egois.


"Aku minta maaf, dan kami keluarga Leondra memohon maaf dan meminta putra kami dikembalikan."


"Dia ada di sebuah tempat, hidup seorang diri karena kehilangan keluarga angkatnya. Dia ada diantara kalian." Senyuman Shima terlihat, langsung melangkah pergi meninggalkan Mansion.


Suara tangisan terdengar, mengejar Shima tapi ditahan oleh Diana yang meminta mereka tidak mendekati seorang psikopat yang mentalnya sudah hancur.


Di menatap Gemal yang hanya berdiri diam, melihat pergelangan tangan Gemal yang tidak menggunakan gelang yang dia berikan.


Tatapan Gemal juga tajam melihat Diana, langsung melangkah pergi meninggalkan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2