ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENERIMA KENYATAAN


__ADS_3

Maid menunjukkan letak kamar Gemal yang sudah Jessi siapkan bersama Nenek Chika yang sangat bersemangat.


Tatapan Gemal tajam, mengerutkan keningnya melihat kamar yang sudah mirip tempat tidur anak-anak, banyak mainan.


"Aku tidak main robot lagi, jika dulu aku harus meminjam milik teman hanya untuk melihat bentuk robot." Senyuman Gemal terlihat, memegang mainan yang tersusun rapi.


Gemal langsung mandi, dan melihat lemari pakaiannya yang sudah penuh baju. Melihat dari merek baju, sudah tahu jika pakaiannya memiliki harga fantastis.


Suara ketukan pintu terdengar, Gemal mempersilahkan masuk dan melihat Mamanya masuk membawakan pewangi ruangan.


"Sayang, ini ada lemari es jika kamu ingin ngemil malam." Pintu kulkas terbuka.


Gemal langsung tertawa, dia diperlakukan seperti anak kecil. Dan semua fasilitasnya disediakan.


"Terima kasih Ma, tapi jika boleh Gemal jujur. Baju Gemal banyak dan masih layak pakai, dan Gemal tidak makan malam." Senyuman Gemal terlihat, dia pikir dinding ternyata lemari es, ada koleksi jam yang sangat mahal.


Gemal tidak ingin mengubah kehidupan, dia lebih suka dengan kesederhanaan. Sejujurnya Gemal tidak ingin menolak, tapi tidak ingin terlihat memaksa diri untuk menikmati.


"Perlakukan Gemal selayaknya, aku membutuhkan kasih sayang bukan kemewahan. Selama ini aku tidak kekurangan Kasih sayang, tapi Gemal ingin merasakan kasih sayang dari wanita yang melahirkan Gemal." Pelukan Gemal sangat lembut, bicara pelan agar tidak menyinggung.


Jessi mengerti, dia sangat paham jika putranya tidak menginginkan apapun. Melihat Gemal tumbuh sehat saja sudah lebih dari cukup.


"Gem, Mama hanya ingin merasakan memanjakan. Dua puluh lima tahun, kamu lahir ke dunia lalu menghilang dan sekarang sudah sebesar ini." Jessi tersenyum mengukur tubuh putranya yang sudah tinggi melebihi dirinya.


Tatapan Gemal mendadak sedih, tidak tega melihat Mamanya menangis. Seandainya memiliki anak lain mungkin mamanya tidak terluka sedalam ini.


"Maafkan Gemal ya Ma, Mama boleh membelikan apapun Gemal pasti menyukainya."


Jessi tersenyum, membuka tempat koleksi jam. Kening Gemal berkerut, karena ada jam anak-anak. Jessi sengaja memesan barang anak-anak.


"Nanti kita pulang ke rumah yang di luar, kamu pasti akan melihat kamar kamu yang memiliki banyak pakaian anak-anak dan mainan." Jessi tersenyum, meksipun Gemal tiada Jessi terus menunggu setiap tahunnya.


Air mata Jessi menetes, setiap tahun baginya sangat berat. Menunggu selama puluhan tahun, setiap hari menanti akan datang seorang anak kecil, remaja, dan dewasa.


"Lama sekali, kenapa harus dua puluh lima tahun?"


"Maafkan Gemal Ma, selama ini Mama pasti tersakiti. Menunggu Gemal setiap tahunnya." Air mata Gemal juga menetes, mengusap punggung Mamanya.


Sengaja membeli banyak barang, karena Mam Jes selalu menanti. Mama Jes takut, saat anaknya pulang tidak siap baju, makanan dan perlengkapan.


"Nanti kita pulang ke sana Ma, kita bagikan kepada orang yang membutuhkan. Gemal akan mengambil beberapa yang disukai untuk menjadi kenangan. Sekarang Mama tidak harus menunggu lagi, Gemal ada di sini." Senyuman Gemal terlihat, mengusap air mata Mamanya.


Jessi mencium kening putranya, Gemal harus berjanji menemani Mamanya berbelanja. Mereka akan melakukan banyak hal bersama.

__ADS_1


"Kamu janji sama Mama ya Gem."


"Gemal tidak bisa janji, tapi insya Allah Gemal tepati."


Mam Jes langsung menghubungi Diana, menanyakan waktu senggang Diana untuk menemaninya berbelanja.


Gemal tersenyum, Mamanya ingin Diana juga ikut bersama mereka. Bersenang-senang menghabiskan satu hari untuk tertawa.


"Diana siap kapanpun."


"Baiklah, Gemal menemui Papa terlebih dahulu." Gemal melangkah keluar, menoleh ke arah Mamanya yang sangat bersemangat.


Calvin juga meneteskan air matanya melihat kebahagiaan istrinya, melihat tawa setelah puluhan tahun membuat Calvin tidak bisa menahan lagi air matanya.


Pintu ruangan terbuka, Gemal berjalan mendekat melihat punggung Papanya yang membelakangi.


"Aku sudah mandi, boleh bicara sekarang."


Calvin mengusap matanya langsung melihat ke arah Gemal yang sudah duduk santai, kepalanya melihat sekeliling ruangan Papanya.


"Kamu sering berkunjung ke negara ini? bersama siapa?" Gemal melihat Calvin yang mengerutkan keningnya.


Calvin melihat sekeliling ruangan, dia sudah lama membangun rumah sekitar lima belas tahunan.


Meksipun kehidupan keluarga sedang terpuruk, Calvin harus tetap menjaga bisnis keluarga yang turun temurun.


"Bagaimana soal Salman? dia cukup berbahaya. Kapan saja dia bisa datang dan mencelakai siapapun?"


"Kamu mengkhawatirkan Diana, dia bisa menjaga diri sendiri."


Gemal menatap sinis, dirinya tidak mengkhawatirkan Diana, tapi Calvin yang bisa saja menjadi target terakhirnya.


Kegagalan membunuh Gemal bisa berubah haluan, Calvin ataupun Gemal yang mati akan menguntungkan Salman.


"Kamu harus hidup agar keluarga ini seimbang, Mama masih harus dilindungi, begitupun dengan nama keluarga. Jika kamu mati, hancur sudah pondasi keluarga ini." Gemal bicara sangat serius.


Tatapan Calvin tajam, langsung menunjukkan rekaman di laptopnya. Gemal berdiri di samping Papanya.


Salman sudah ditahan, tapi dia membawa seseorang dan memaksa ingin bertemu dengan Calvin.


"Gem, kamu boleh membenci aku karena gagal menjaga kamu dan membawa pulang ke rumah, tapi aku tidak bisa kehilangan banyak nyawa."


Kening Gemal berkerut, mendengar cerita Calvin. Saat Gemal lahir, terjadi keributan dan membuat Shima memiliki kesempatan membawa putranya.

__ADS_1


Generasi kedua meninggal dalam kecelakaan maut, beberapa bisnis berantakan, dan kondisi Jessi semakin memburuk.


Bertahun-tahun Calvin dan papanya mencoba memperbaiki keadaan, dan saat bisa menemukan Gemal. Ayah angkat Gemal juga dibunuh, Calvin hanya bisa menyelamatkan Hendrik, ibunya dan Gemal.


"Tidak sampai di situ Gem, banyak orang-orang lemah mulai kesulitan perekonomian, dan orang yang melakukan kejahatan orang dalam. Satu-persatu orang meninggal karena wabah, dan kita terpaksa fokus memperbaiki keadaan." Calvin tidak memiliki kesempatan untuk mencari lawannya.


Dirinya hanya berdiri sendiri bersama Papanya, dan akhirnya Calvin memutuskan untuk menjaga orang-orang yang ada di hadapan mereka.


"Setiap orang yang meninggal memiliki keluarga, dari pada banyak korban nyawa yang dipertaruhkan tepaksa jalan ini yang diambil."


"Apa yang Papa lakukan sudah benar, meyelamatkan nyawa orang lain lebih penting. Terus mencari aku hanya membahayakan banyak orang. Takdir sudah mengatur jalan ini, kita dipertemukan dengan cara terindah." Senyuman Gemal terlihat, meminta Papanya bersiap-siap.


Gemal ingin ikut melihat Salman, karena saat ini Calvin tidak harus bertahan sendiri karena Gemal sudah kembali.


"Ayo kita pergi, akhiri pertarungan ini dengan kemenangan."


"Terima kasih Gemal, kamu sudah mengerti keadaan."


Senyuman Gemal terlihat, berteriak meminta Papanya segera bergerak karena Gemal tidak suka menunggu.


"Dasar anak cerewet." Calvin langsung berjalan mengejar Gemal.


Kepala Calvin gelang-gelang, melihat istrinya sudah mengudang Diana untuk makan bersama mereka.


"Di, ayo ikut aku."


"Ke mana?" Jessi mengerutkan keningnya.


Tatapan Calvin tajam, menolak pergi jika Gemal ingin membawa Diana karena wanita hanya akan membuat repot.


"Kita pergi ke mana Gem?"


"Biasalah, bersenang-senang."


Calvin langsung duduk melotot, menolak untuk pergi jika harus menjadi nyamuk Gemal dan Diana.


***


follow Ig Vhiaazaira


vote hadiahnya


jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


__ADS_2