ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENATAP BULAN


__ADS_3

Suara Altha pelan menegur Aliya, tatapan Al melihat ke bawah mendengarkan ucapan suaminya yang selalu seperti Kakek-kakek yang hobi ceramah.


Al seperti anak kecil yang mendengarkan nasihat, dengan penuh kesabaran Al hanya diam membiarkan suaminya yang selalu menegurnya dan kedua Putrinya dengan nada yang sama.


"Maaf, hanya Diana lawan yang imbang. Dia tidak mungkin mati dengan mudah." Al tersenyum menggenggam tangan suaminya.


"Kamu memberikan contoh yang buruk untuk anak-anak,"


"Mereka sudah biasa dengan pertengkaran, biasanya juga Isel lawan Ria. Tika dan Shin juga selalu bertengkar, tapi sampai saat ini masih baik-baik saja." Pelukan Al lembut meminta maaf kepada suaminya, tingkah lakunya kekanakan.


Genta berdiri di depan pintu kamar yang tidak tertutup rapat, bisa mendengar pembicaraan keduanya. Al bahkan membahas soal Atika yang kemungkinan memiliki pacar.


"Kak, bagaimana jika Tika melangkahi Juna?"


"Bicara apa kamu ini?"


Ketukan pintu terdengar, Genta melangkah masuk sambil mengucapkan salam. Tersenyum melihat Altha yang binggung melihat Genta.


"Ada apa Gen?"


"Maaf ganggu, Genta biasa bicara dengan Om Altha sekalian Kak Aliya juga. Genta ingin jujur sesuatu." Jantung Genta berdegup kencang, menatap Aliya yang geleng-geleng kepala.


"Katakan saja, Om akan mendengarkannya." Alt mempersilakan Genta duduk.


Belum sempat Genta bicara, mulutnya dibekap oleh Aliya. Rambutnya juga dijambak tanpa sepengetahuan Altha.


"Keluar Genta jika masih ingin hidup." Al berbisik pelan.


"Kenapa Aliya?"


"Ini Kak, Genta ada urusan. Ini juga sudah malam, sebaiknya kamu berjaga Gen. Jangan tunda pekerjaan." Al menepuk punggung Genta kuat.


Tangan Genta mengusap kepalanya, izin pamit kepada Altha yang kebingungan melihat Genta pergi sebelum mengatakan apapun.


Di depan pintu Tika memeluk Genta erat, merasa khawatir jika Papinya secara langsung menolak hubungan keduanya.


"Mami sudah tahu, tapi lebih baik kita tunda untuk memberitahu Papi." Tika mengusap wajah Genta yang masih tidak nyaman ada yang disembunyikan.

__ADS_1


"Siapa saja yang belum tahu?"


"Papi, Kak Jun, dan Papa Calvin. Kita tidak berdua juga diminta menemui Mam Jes." Tika merasa Mam Jes juga merasa berat menerima hubungan keduanya, tapi ada Diana dan Gemal yang mendampingi.


Genta menggenggam tangan Aliya untuk menuju ruangan Mam Jes, Genta tidak peduli apapun keputusan akhir. Tujuan dirinya baik, tidak berniat menyakiti pihak manapun.


Dari kejauhan Shin hanya menatap Kakaknya dan Tika yang saling mencintai saja memiliki jalan yang rumit, lalu bagaimana dirinya yang mencintai sepihak.


Kepala Shin menggeleng, memilih keluar hotel menenangkan pikirannya. Rencana mengintip kekacauan kamar pengantin sudah gagal, Tika tidak bisa ikut dan Shin juga tidak bersemangat melihat sendirian.


"Wow, bulan malam ini indah sekali." Shin duduk di taman, tidak jauh dari hotel.


"Shin, apa yang kamu lakukan di sini?" Juna melihat sekeliling yang sepi.


"Hanya melihat bulan, Kak Juna dari mana?" Shin melihat tangan Juna memegang kantong plastik.


Juna duduk di samping Shin, mengeluarkan minuman dari dalam plastik. Senyuman Shin terlihat, menerima pemberian pria yang sangat dicintainya.


"Terima kasih untuk rekomendasi obat yang kamu berikan, ini salinan buku yang sudah aku sempurnakan. Kamu simpan saja." Juna menyerahkan buku soal medis yang sudah dicetak, juga isinya sudah Juna teliti.


"Kak Juna hebat sekali, dalam waktu singkat bisa membuat buku." Shin tersenyum membuka buku.


"Kenapa Kak Juna tidak menjawab?"


"Aku tidak suka banyak bicara,"


"Setidaknya orang bertanya harus dijawab, memangnya aku patung atau hantu." Shin menutup buku melihat ke arah langit.


Suasana semakin hening, lamunan dua orang berbeda karakter juga pola pikir yang sangat berlawanan buyar mendengar suara ponsel Juna.


Tanpa sengaja Shin melihat layar ponsel, ada foto Hana. Senyuman Shin terlihat menatap Juna yang berdiri menjawab panggilan, menjauh dari Shin.


"Tenyata mereka selalu berkomunikasi,"


Tatapan Shin fokus melihat langit, matanya terpejam bersandar di kursi taman. Merasakan angin malam yang menebus otak nya.


"Jika ingin tidur ke kamar, jangan di sini." Juna duduk kembali.

__ADS_1


"Siapa yang tidur? Shin hanya menikmati angin. Kak Juna ada hubungan apa dengan Kak Ana?"


"Aku tidak punya kewajiban menjawabnya,"


"Kak Hana wanita baik, jika Shin menjadi pria juga pasti menginginkannya. Dia wanita yang taat beribadah, baik akhlaknya, juga cantik wajahnya." Senyuman Shin terlihat menatap Juna yang juga tersenyum kecil.


"Cantik itu relatif, paling penting akhlaknya." Juna menatap wajah Shin yang tersenyum sangat manis.


Kepala Shin mengangguk, dirinya berpikir setelah Hendrik dan Rindi, ada Kakaknya Genta yang akan menyusul, tapi ternyata ada saingan juga. Juna sudah memiliki calon yang pas.


"Aku tidak terburu-buru untuk menikah, rasanya pernikahan masih sangat jauh."


"Jangan berkata seperti itu Kak Jun, wanita memang menunggu, tapi dia akan memilih siapa yang tercepat. Kak Juna jangan banyak berpikir, nanti keduluan." Peringatan dari Shin membuat Juna berpikir jika ucapan Shin benar.


Melihat raut wajah Juna, Shin sangat memahami jika dia masih memikirkan Mamanya Citra. Sikap Tika yang tidak peduli membuat Juna mengkhawatirkan Mamanya.


Shin juga bisa menebak jika Juna masih belum memaafkan Mamanya, ada luka yang masih Juna pendam di dalam hatinya.


"Kak Juna harus bisa memaafkan, meksipun Shin tahu itu tidak mudah. Ikhlas membutuhkan waktu dan proses yang panjang, dan Kak Juna sudah melewatinya. Sudah waktunya melepaskan beban." Mata Shin terpejam, bicaranya sangat pelan seakan-akan memiliki rasa sakit yang sama seperti Juna.


"Kamu satu-satunya orang yang mengetahui isi hatiku, di lubuk hati terdalam masih ada rasa kecewa, marah, kesal, sakit, juga emosi yang tertahan. Aku sendiri tidak tahu cara melepaskan, sabar sudah, mencoba ikhlas juga sudah, tapi di sini masih sakit." Juna menepuk dadanya pelan, menundukkan kepalanya.


Senyuman Shin terlihat, meminta Juna menatapnya. Shin ada satu rahasia yang belum diketahui oleh siapapun. Cara Shin melepaskan rasa sakitnya, dan Juna akan dia ajari cara meluapkan amarah.


"Kamu tidak meminta aku kebut-kebutan ataupun berkelahi, jangan konyol aku tidak tertarik." Juna mengerutkan keningnya melihat senyuman licik Shin.


"Aman, ini cara agar Kak Juna tidak menyakiti Mama Citra. Ada orang yang menangis sepuasnya melepaskan beban, tapi ada juga yang melepaskan dengan meluapkan amarah." Shin berdiri, meminta Juna mengikutinya.


Paksaan Shin tidak membuat Juna bergerak, rencana Shin pasti bukan hal yang baik. Menghadapi Tika saja menguji kesabaran, dan perbuatannya tidak bisa ditebak apalagi Shin yang sama gilanya.


"Sorry Shin, Kak Juna capek. Waktunya istirahat." Juna berjalan ingin kembali ke hotel.


"Kak Jun, sebentar saja." Shin mengejar Juna yang menghindarinya.


Suara ledakan terdengar, Juna melihat ke lantai atas hotel. Shin sudah tertawa lepas melihat kamar Rindi kacau.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira.


***


__ADS_2