ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MALAM TERAKHIR


__ADS_3

Malam sebelum ijab kabul, Tika tidak bisa tenang. Hatinya gelisah juga merasa cemas, pernikahan terdengar mudah namun mendekati hari H banyak kekhawatiran.


Kegelisahan Tika dirasakan oleh Shin yang setia mendampinginya ke manapun Tika melangkah, bukan hanya Shin yang ada di sisinya Hana dan Rindi juga terlihat lebih tenang.


"Malam ini sangat indah, beberapa rumah terang benderang. Keajaiban yang sangat luar biasa, karena besok Tika berstatus Istri." Shin tersenyum melihat dari balkon atas penuh lampu.


"Emh ... hanya kamu yang jomblo." Lidah Rindi terulur, sesekali masih memikirkan soal Reza yang tidak bisa Rindi ingat dengan jelas.


"Kak Hana juga,"


Senyuman Hanna terlihat, menghibur Shin yang belum memiliki pasangan sedangkan sahabatnya kesulitan tidur karena masih deg-degan.


"Mami, Tika takut." Teriakan Tika terdengar sangat besar, diikuti tawa tiga wanita yang mengejeknya secara habis-habisan.


Rindi pamit duluan, dia ingin beristirahat karena perutnya mual dan juga kepalanya pusing. Sejak hamil Rindi lebih terlihat lemah, bawaan kehamilan terlalu sering kelelahan.


Hana menemani Rindi meninggalkan Shin dan Tika yang lanjut bermain game. Tika tiduran di paha Shin, kedua jarinya sibuk menekan layar.


"Tik, haruskan kita membangun istana seperti di game ini?"


"Boleh saja, tapi suami aku tidak punya banyak uang. Lalu uang siapa yang kita habiskan?" Tika memasukkan ponselnya ke dalam mulut karena terlalu sering kalah.


"Emh, bagaimana ...."


"Bagaimana jika kamu juga menikah? kita tinggal bersama, dan bermain sepuasnya." Senyuman Tika terlihat tangan menunjuk ke arah bintang, menghitung banyaknya sinar di langit.


"Tik, siapa nama Putri dan Putra kamu nantinya?"


"Siapa ya? dia harus menggunakan nama Gentari,"


"Kenapa?" Shin tertawa karena ada namanya di Putrinya Tika.


Kepala Tika menggeleng, jauh dari sebelum menikah Tika sudah memikirkan nama belakang anaknya, dia harus seperti Shin. Bukan hanya memiliki wajah yang cantik, tapi kuat dan tangguh. Tika sangat menyukai nama Gentari apalagi itu nama keluarga kandung Genta dan Shin.


"Nama Putriku harus ada Shinar, seperti langit yang indah penuh Cahya. Aku ingin Putriku bersinar seperti cahaya yang menyinari bumi." Kedua tangan Shin terentang, teringat dengan Mamanya jika cahaya selalu bersinar.


Nama yang indah, Tika sangat menyukainya. Berharap persahabatan keduanya terjalin hingga tua, memiliki Putri ataupun Putra yang memegang erat tali persaudaraan juga persahabatan.

__ADS_1


"Tari dan Shinar akan menjadi sahabat seperti kita,"


"Iya, aku berharap hal itu benar Tik." Shin memeluk erat kepala Tika, kedua tangan Tika memukuli Shin karena tidak bisa bernapas.


Suara tawa keduanya terdengar sampai ke lantai bawah, beberapa penjaga juga tersenyum mendengar dua kuntilanak yang masih bercengkrama penuh canda dan tawa juga keisengan masing-masing.


Aliya yang berniat meminta Tika tidur mengurungkan niatnya, hatinya bahagia melihat dua gadis remaja sudah beranjak dewasa namun tidak mengurangi sedikitpun kebersamaannya.


"Jauhkan kedua dari marabahaya, aku sangat mencintai dua wanita ini." Al mengusap air matanya, memutuskan kembali ke kamar.


Kepala Tika dan Shin melihat ke bawah balkon, menatap Ria yang sedang memanjat. Pintu rumah ada, tapi lebih memilih memanjat berniat mengerjai dua perempuan yang sedang asik bersenda gurau.


"Bantuin naik,"


"Naik sendiri, kalau jatuh tanggung sendiri." Tika menatap sinis adik perempuannya yang menangis karena tidak bisa lanjut naik.


"Fisik Ria cukup lemah, lebih banyak berlatih Ria bukan hanya memoles wajah." Shin menarik tangan Ria yang cemberut.


Ketiganya duduk santai melihat langit, Ria mengoceh panjang lebar hanya didengarkan oleh Shin dan Tika yang sesekali saling pandang.


"Kak, Ria punya hadiah pernikahan, tapi jangan menilai harganya." Sebuah kotak kecil dikeluarkan.


Kepala Shin menoleh ke arah Tika yang ketakutan melihat kodok yang tiba-tiba lompat ke arahnya, sedangkan Ria sudah puas tertawa melihat Kakaknya histeris.


"Tika, Shin, Ria, sudah waktunya tidur." Suara Gemal terdengar dari lantai bawah, tiga wanita melihat ke arah Gemal yang menunjuk ke arah jam tangannya.


Ria melihat ke arah Shin dan Tika yang langsung melangkah pergi, sebuah peringatan jika tim keamanan akan menyelusuri area secara rahasia tanpa boleh ada yang tahu demi keamanan bersama.


Kamar Shin ditiduri oleh tiga orang, satu ranjang bertiga sambil berpelukan erat. Ria berada di tengah, kedua kakinya berada di atas tubuh Tika dan Shin.


"Shin kamu sudah tidur?"


"Iya sudah,"


Pukulan Ria mendarat di kanan dan kiri, meminta untuk diam. Dia ingin tidur karena jam lima pagi harus sudah make up.


Tika yang menikah, Ria yang paling awal di make up. Tidak membutuhkan waktu lama, ketiganya tertidur sambil berpelukan erat.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka, Altha berjalan pelan melihat sekitar Kamar. Senyuman terlihat menatap kedekatan ketiganya sampai menyempatkan malam terakhir untuk tidur bersama.


Kebahagiaan terbesar Altha melihat Tika menemukan kebahagiaan, apalagi keduanya menikah atas dasar cinta.


"Alt, kamar ini aman." Yandi tersenyum menutup pintu.


"Putriku akan segera menikah Yan, dulu dia menangis meminta ditemani tidur saat Mamanya pergi, sekarang dia akan memiliki teman sehidup semati." Alt menepuk pundak Yandi, berjalan mengecek ruangan lain.


"Begitulah waktu, setelah ini giliran Juna. Tidak menyangka hubungan akan sedekat ini,"


Seluruh rumah sudah diperiksa, tidak ada pelacak atau peledak apapun yang bisa membahayakan.


Pintu ruangan kontrol terbuka, Genta masih belum tidur memantau seluruh rekaman CCTV tidak ada satupun yang rusak.


"Sudah waktunya tidur Gen, besok membutuhkan tenaga lebih apalagi malamnya." Kedipan mata Gemal terlihat, menjahili adiknya yang tidak merespon sama sekali.


Beberapa titik tempat masuk dan dianggap rawan bisa kecolongan dijaga ketat. Genta mengirim bawahnya yang terpilih untuk ambil bagian.


"Apa seluruh rumah aman? bagaimana dengan Tika dan Shin? mereka sudah tidur." Genta menatap Kakaknya yang geleng-geleng.


"Aman Gen, Papi langsung yang mengeceknya." Altha masuk bersama Yandi.


"Papi, sekarang sudah memanggil Papi." Tawa Gemal terdengar merasa geli melihat hubungan kerja menjadi keluarga.


Pundak Gemal dipukul, masih sempat bercanda dan menggoda adiknya yang perasaannya sedang tegang.


Genta terlihat saja menjaga image, padahal dia sedang menahan perasaan yang masih deg-degan juga cemas berlebihan.


"Pi, terima kasih sudah mengecek langsung, aku masih tidak percaya dengan Kak Gemal." Genta tersenyum melihat Dimas juga ikut bergabung sambil membawa sebuah berkas.


"Aku tidak tahu harus mengatakan ini atau tidak, tapi aku rasa kalian harus tahu." Berkas dilempar di atas meja membuat suasana hening.


Gemal memberanikan diri untuk membukanya, langsung tercengang kaget saat mengetahui laporan jika Dina berhasil melarikan diri.


"Kita semua harus berhati-hati." Gemal menunjukkan surat pemberitahuan jika tahanan melarikan diri.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2