ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TERIMA KASIH


__ADS_3

Suasana makan malam terasa hangat, Altha melihat pertama kalinya Juna bisa tersenyum sambil makan, bahkan berdebat dengan Al yang suka menggodanya.


"Tika, duduk yang baik nanti jatuh." Alt tersenyum memegang kursi putrinya yang goyang-goyang.


"Iya Papi." Tangan Tika memukul adiknya Mora yang makannya disuap.


Aliya tertawa melihat Mora yang marah menyemburkan makannya ulah Tika yang melarang Mora menghabiskan makanannya. Pertengkaran dua bersaudara beda umur, membuat Al merasa memiliki keluarga.


"Tika sudah, kasihan adik kamu."


"Suap juga."


"Tika duduk di dekat Papi, nanti disuap." Altha menarik kursi putrinya, juga membawa makanan.


Suara langkah kaki terdengar mendekati ruang makan, kepala Aliya dan Altha menoleh secara bersamaan.


"Selamat malam anak-anak kesayangan Mama." Citra tersenyum mencium ketiga anaknya.


Citra langsung duduk, menatap anaknya yang terdiam. Suasana yang penuh canda tawa langsung berubah hening.


Citra mengeluarkan belanjaannya untuk Juna, bahkan membelikan tablet baru. Beberapa baju untuk putranya.


Tika juga mendapatkan hadiah, bahkan ada boneka kesukaannya untuk Putri cantiknya yang sudah pintar dan mandiri.


Mora juga mendapatkan baju baru, mainan baru yang Citra beli untuk mengganti mainan lamanya.


"Ini untuk kamu Altha." Citra memberikan bungkusan sambil tersenyum manis.


Altha tersenyum langsung mengambil dan meletakkannya, mengucapkan terima kasih dengan santai.


Aliya menatap serius, Citra berbicara dengan yang lainnya tidak menganggapnya ada di sekitar sungguh membuat Aliya kesal.


"Mana hadiah untuk Mami?" Tika melihat ke arah mamanya yang hanya terdiam.


"Hadiahnya hanya untuk keluarga, bukan orang asing." Tatapan Citra sinis melihat Aliya yang hanya duduk diam.


Atika mengerutkan keningnya, Maminya jika membelikan sesuatu semuanya mendapatkan bagian. Bahkan asisten rumah tangga, baby sister mendapatkan hadiah yang sama rata, tidak membandingkan antara keluarga dan orang lain.


"Tika binggung, Mami sama Mama cara pikirnya berbeda."


"Kenapa binggung? ambil yang baik buang yang buruk, jika Tika bahagia dengan berbagi bersama orang lain lakukan, tapi jika hati Tika tidak tersentuh maka jangan lakukan. Bedakan mana yang yang bisa membuat Tika bahagia." Al mengusap kepala Tika, langsung pamit untuk ke kamar.


Aliya memberikan Citra waktu untuk bersama anak-anak, saling melepaskan rindu juga bisa merasakan kehadiran ibu kandung mereka.


Senyuman Citra terlihat, menatap Aliya yang tahu diri jika Al tidak bisa dibandingkan dengan dirinya.


"Juna, Tika kalian bicaralah dengan Mama, Papa masih ada pekerjaan." Alt langsung pamit kepada Citra untuk memberikannya waktu bersama anak-anak.

__ADS_1


"Alt, aku juga ingin mengobrol bersama kamu."


"Berarti harus ada Aliya." Senyuman Altha terlihat, menepuk pundak Juna untuk tetap bersama Mamanya.


Di kamar Aliya sudah mulai menyelidiki gadis yang menjadi korban kecelakaan, mengecek beberapa hal yang dikunjungi dan orang-orang yang ditemui.


"Kenapa dia pergi ke sini? bukannya ini club." Al memperbesar layar rekaman, melihat seseorang yang tidak asing.


Tidak Aliya sadari jika Altha sudah berdiri di belakangnya, menatap tajam rekaman yang Aliya lihat.


"Mobil siapa itu?"


"Astaghfirullah, bikin kaget saja." Al memukul tangan Alt yang mengerutkan kening.


"Lebih perbesar lagi ... lagi ... stop." Altha mendekati komputer, mengetuk jarinya di meja.


"Kenapa kamu di sini? seharusnya menemani mantan istri kamu." Al menatap tajam, mematikan komputer membuat Altha menatap balik tajam.


"Cemburu?"


Aliya langsung tertawa, tidak ada sejarah dirinya cemburu apalagi dengan wanita seperti Citra, mereka beda jauh.


"Pakai jaket kamu, kita pergi ke sana." Alt mengambil jaketnya, juga topi.


"Kenapa harus ke sana?"


"Aliya, kebenaran tidak bisa dibuktikan hanya karena kita percaya, tapi harus ada bukti nyata."


Jika ada Citra urusan akan panjang, banyak pertanyaan tidak penting. Altha sudah lelah berdebat, juga rasanya semakin menyakitkan.


"Aku baru tahu jika di sini ada pintu lain."


"Minta Helen menjaga anak-anak jika Citra pulang, seadanya Citra ingin bertemu katakan saja kita sudah tidur." Alt mengeluarkan mobilnya langsung melaju pergi.


Aliya tersenyum, merasa lucu dengan tingkah Altha yang menghindari mantan istrinya. Al yakin kedatangan Citra bukan semata-mata ingin bertemu anak-anak, tapi ingin mendekati Altha kembali.


Apapun tujuan Citra Al tidak perduli, selama tidak mengusik hidupnya, maka akan Al biarkan.


Dari kejauhan mobil yang Aliya dan Altha curigai keluar bersama seorang wanita, langsung mengikuti mobil menuju sebuah rumah mewah.


Altha berpikir cara untuk masuk, sedangkan Aliya langsung mematikan beberapa CCTV agar tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka.


"Rumah ini dijaga ketat."


"Rekaman satu minggu yang lalu hilang, pasti ada sesuatu yang ditutupi." Aliya melihat sekitar.


"Kita tidak bisa masuk, CCTV ada di mana-mana. Penjagaan juga ketat." Altha melihat Aliya yang menggambar sesuatu.

__ADS_1


Al harus masuk ke ruangan kontrol komputer, beberapa rekaman CCTV sudah dihapus, Al bisa mengembalikan program yang hilang, tapi membutuhkan akses untuk bisa terhubung dengan komputer utama.


"Melakukan hack lagi Al?"


"Iya, cari cara untuk mengalihkan perhatian penjaga. Berikan Aliya waktu sepuluh menit, kita ketemu lagi di mobil." Al langsung keluar sebelum Altha selesai bicara.


Altha tidak setuju, tapi langsung melihat Aliya melompati pagar, melihat CCTV yang tidak bergerak.


"Ais perempuan satu ini." Altha langsung berlari ke gerbang, membunyikan bel untuk mengalihkan perhatian.


Al langsung masuk, melihat satu-persatu orang yang berjaga di ruangan kontrol komputer mulai keluar.


Senyuman Aliya terlihat, langsung mengambil alih komputer, memperbarui perangkat dan mengambil alih rekaman.


"Meninggalkan sedikit bukti untuk kenang-kenangan sepertinya bagus." Al tersenyum langsung melangkah keluar.


Keributan terdengar, Altha melangkah mundur melihat Aliya yang melambaikan tangannya sambil tersenyum.


"Kamu baik-baik saja?" Alt melihat tangan Al yang tergores.


"Kita pergi dari sini, dan mencari tempat yang tenang."


"Ini pertama kalinya aku mirip orang gila yang membantu pencurian." Altha mengacak-acak rambutnya.


"Ini juga pertama kali aku mencari bukti kebenaran, biasanya aku perlahan akan melupakannya." Senyuman Al terlihat, mengucapkan terima kasih.


Di sebuah taman sepi, Al mengambil laptopnya dan melihat rekaman yang sudah dihapus. Cukup lama Aliya mencarinya sampai akhirnya Altha yang melakukan.


Tangan Altha terhenti, matanya langsung mengalihkan ke arah luar, meletakan laptop Aliya yang memperlihatkan aksi kekerasan juga pelecehan.


"Jahat, ibu jahat." Al menutup laptopnya, melihat kegelapan yang sangat sunyi.


Altha menghubungi kepolisian untuk mengeledah rumah yang baru mereka kunjungi, pelaku pelecehan dan kekerasan, juga pesta obat sedang diadakan.


"Kamu baik-baik saja Aliya?"


"Iya, aku baik sangat baik. Dada Al terasa sakit melihat seorang ibu yang menjual anak sendiri, hanya demi uang dan gengsi. Sungguh mirisnya." Al menyentuh dadanya yang terasa sesak.


Alt menggenggam tangan Aliya, memastikan jika kejahatan akan terungkap. Gadis yang menjadi korban akan mendapatkan keadilan.


"Terima kasih Altha."


"Aku yang ingin mengucapkan terima kasih, aku salah menilai kamu."


Aliya tersenyum, Altha tidak tahu siapa dirinya. Mungkin jika suatu hari tahu pasti akan kecewa.


***

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


__ADS_2