ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
DISERANG


__ADS_3

Seluruh keluarga berkumpul di depan ruangan operasi, Shin sudah dibawa ke dalam ruangan setelah melewati proses.


Juna melangkah ke arah ruangan, langsung melangkah masuk untuk segera memulai operasi sesuai jadwal yang sudah ditentukan.


Beberapa Dokter berlarian, Li berjalan mendekati pihak keluarga mengatakan jika Citra sudah dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan drop.


"Ada apa Dokter Li?"


"Saya harus bertemu dengan Dokter Juna sekarang, ada hal penting bersangkutan dengan Mama Citra."


Dokter Calvin langsung terkejut, operasi baru saja dimulai, tidak mungkin Dokter utama meninggalkan ruangan operasi begitu saja.


"Apa gunanya Kak Juna mempercayai kamu? jika pada akhirnya masih menganggu pekerjaan Kak Juna." Tika menatap tajam Li.


Senyuman Li terlihat, segala keputusan ada pada Juna, Li memang Dokter yang bertanggung jawab, tapi Juna wali pasien yang harus menyetujui prosedur.


"Aku akan menggantikan Kak Juna,"


"Maaf, tidak bisa. Saya harus bicara dengan Dokter Juna." Li langsung melangkah mundur, Tika hampir memukul wajahnya.


Gemal langsung menarik Tika, melarangnya untuk melakukan kekerasan saat keadaan sedang tegang.


Operasi baru saja di mulai, keselamatan Shin sedang dipertaruhkan. Kondisi Citra juga tidak bisa diabaikan apalagi sudah tidak sadarkan diri.


Diana langsung mengetuk pintu, meminta izin untuk masuk dan memberitahu Juna soal kondisi Mamanya.


"Arjuna, Mama kamu." Di melangkah mundur, meminta Li bicara langsung.


Baru saja Li mengeluarkan suara, teriakan Juna terdengar membentak Li dengan kasar. Pintu ditutup dengan kuat membuat Li ketakutan.


Senyuman Calvin terlihat, Li belum mengenal baik siapa Arjuna. Tidak ada yang bisa mengalihkan perhatiannya saat di dalam ruangan operasi kecuali Maminya.


Calvin belum pernah melihat Juna meninggalkan ruangan operasi, kecuali saat Aliya jatuh di kamar mandi, Juna langsung panik meksipun Al sudah mengatakan dirinya baik-baik saja.


Li langsung melangkah pergi, setelah pamitan dengan seluruh keluarga. Dirinya harus mengawasi Citra sampai Juna selesai operasi.


"Citra masih saja menjadi benalu, dia hanya menyusahkan kak Juna." Tika menatap sinis, melihat ke arah kamar Shin.


Al menahan tangan Tika, melarangnya bicara hal buruk soal Mamanya. Seharusnya Tika mengikuti jejak Juna untuk menjaga dan merawat Mamanya.


"Kenapa kamu sayang?" Gemal merangkul Diana yang terdiam.


"Di takut melihat mata Juna, dia marah. Jika Di yang dibentak tadi sudah menangis aku di dalam sana." Di merinding mengingat tatapan Juna.

__ADS_1


"Juna memang pemarah saat di ruangan operasi, makanya tim yang bekerja dengan Juna semua profesional dan berpengalaman. Arjuna tidak menerima kesalahan sedikitpun." Dokter Calvin tersenyum, melihat menantunya ketakutan.


Sudah cukup Diana menyeramkan, tapi Arjuna jauh lebih menakutkan jika bersangkutan dengan pekerjaannya.


Al langsung pamit pergi sebentar, langsung mencari ruangan Citra. Dari balik pintu, Al melihat Dokter sedang berjuang mengembalikan detak jantungnya.


"Aku rasa keadaannya kemarin sudah membaik, tapi kenapa tiba-tiba bisa memburuk lagi?" Al menghela napasnya memikirkan Putranya yang pasti semakin banyak pikiran.


Seorang Dokter melewati Aliya, hidung Al mencium bau aneh. Pintu langsung tertutup rapat, gorden juga ditutup membuat Al tidak bisa melihat kondisi di dalam ruangan.


"Ada apa Al?" Di berdiri di samping adiknya.


"Tidak tahu, bau tubuh Dokter tadi aneh sekali." Al meminta Diana mengecek ke dalam ruangan.


Tangan Di menekan handle pintu, tapi terkunci dari dalam. Al langsung ingin mencari bantuan, Diana mengambil kunci dari sakunya langsung membuka pintu dengan kuat.


Al dan Diana kaget melihat Dokter Li sudah tergeletak di lantai, dua suster yang membantu juga tidak sadarkan diri.


Citra sudah kejang-kejang, Aliya langsung melihat jendela yang terbuka, baju kedokteran sudah tergeletak.


"Kak Alin, Al akan mengejarnya." Al langsung keluar dari balkon kamar.


Diana langsung memasang kembali alat bantu pernapasan, menekan dada Citra agar detak jantungnya kembali.


Keadaan sedang tegang, pikiran Diana juga terbagi antara harus menolong Citra, tetapi adiknya Aliya sedang melakukan pengejaran sendirian.


Diana memanggil Dokter lain untuk mengantikan Li yang masih tidak sadarkan diri. Keselamatan Citra paling utama.


"Kak Di mana Mami?" Atika kaget melihat keadaan Mamanya.


"Mami kamu sedang mengejar pelaku."


Atika langsung keluar ke balkon, melihat dari kejauhan Maminya bertarung dengan seorang pria yang wajahnya ditutupi.


"Sedikit saja Mami terluka, mati kalian semua." Tika langsung lompat, turun melewati balkon.


Beberapa orang kaget melihat Tika yang mencari mati, turun dari lantai yang tinggi tanpa rasa takut.


Tika berlari kencang, pelaku sudah berlari. Al masih melakukan pengejaran untuk menghentikan.


Sebuah mobil melaju, Tika berteriak meminta Maminya hati-hati. Al berhasil melewati mobil, langsung mengejar kembali begitupun dengan Tika yang lari kencang.


"Aliya, Atika, kenapa mereka main kejar-kejaran?" Dimas keluar dari mobil, begitupun dengan Genta yang langsung berlari mengejar.

__ADS_1


Pukulan Aliya mendarat, Tika juga melayangkan tendangan. Dua wanita menyerang secara bersamaan.


Al langsung melangkah mundur melihat kemampuan bela diri Putrinya yang sangat tinggi, Atika dengan mudahnya melumpuhkan lawan sampai bertekuk lutut.


"Siapa yang memberikan perintah?" Tika mencengkram kuat leher.


Tangan Tika ditarik Genta, genggaman Genta sangat erat memegang pisau yang hampir menembus perut Tika.


Satu kali pukulan Genta, lawan langsung tidak sadarkan diri. Darah menetes dari tangan Genta yang masih memegang pisau.


"Ada apa ini Aliya?" Dimas berlari ngos-ngosan.


Kepala Al geleng-geleng, dirinya tidak tahu pasti. Al hanya berniat menjenguk Citra, tetapi ada yang berencana membunuhnya.


"Bagaimana kondisi Citra?"


"Diana masih menanganinya." Al mengusap wajahnya karena sudah lama tidak bertarung.


Dimas meminta Genta mengurus orang yang berhasil ditangkap, mengintrogasi sampai menemukan alasan masuk akal penyerangan Citra.


Tatapan Al melihat Putrinya yang memiliki kemapuan bela diri yang tinggi, padahal Al tidak mengajari lebih dari bela diri ringan.


"Mami baik-baik saja?"


"Iya Sayang, kita lihat Mama kamu sekarang." Al berjalan bersama Tika dan Dimas.


Kepala Tika melihat ke arah Genta yang mengabaikan tangannya, langsung menjalankan perintah yang Dimas berikan.


Di ruangan Citra, Diana sudah duduk di lantai sambil berpikir. Apa yang terjadi kepada Citra pasti dendam lama.


Satu masalah belum selesai, sekarang ditambah lagi masalah baru yang memecahkan kepala.


"Bagaimana kondisi Citra?" Tika membantu Diana untuk berdiri.


"Sudah stabil, syukurnya racun belum masuk ke tubuhnya karena aku dan Al sudah masuk." Di menghela napasnya merasa pusing.


"Siapa yang ingin menyakiti Citra? padahal dia sudah lama di penjara." Dimas menatap Aliya yang geleng-geleng kepala.


Atika menatap Mamanya, tangan Tika mengepal erat. Pasti orang yang sama menyerang Shin, saat mengetahui Mamanya di rumah sakit langsung diserang untuk mengalihkan perhatian.


"Shin ... apa dia baik-baik saja?" Tika langsung berlari keluar untuk ke ruangan Shin.


"Tika, tidak menemui Citra sama sekali, dia lebih mempedulikan sahabatnya." Al melihat sedih wajah Citra.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2