
Tatapan mata Diana tajam, mendengar ocehan ibu penjual kue. Pandangannya melihat ke arah bawah jembatan.
Diana tidak tahu apa yang sedang dilihat, hanya bisa diam mengikuti langkah kaki wanita tua yang berjalan.
"Bu, kuenya masih banyak. Diana beli saja ya." Di mengambil satu kue, tapi langsung ditahan.
"Jangan nak, kuenya tidak enak." Ibu tersenyum melarang Diana memakan kue yang tidak layak dikonsumsi.
"Sekarang ibu ingin pergi ke mana?" Di lanjut berjalan mengikuti.
"Ibu ingin pulang, tapi lupa jalan pulang."
Diana terkejut, langsung menawarkan untuk mengantar pulang karena Diana tahu rumahnya ibu penjual kue.
Tanpa menolak akhirnya Diana mengantar pulang menggunakan mobilnya. Senyuman Ibu terlihat menyentuh mobil Diana.
"Anak ibu mengumpulkan uang untuk membeli mobil agar bisa jalan-jalan, tapi uangnya selalu habis untuk berobat." Air mata dari wajah tua menetes merindukan putranya yang sudah lama tidak pulang.
Mobil Di berhenti di rumah sederhana, langsung melangkah masuk bersama ibu yang kebingungan meletakkan kuenya.
Diana menatap foto keluarga, melihat ke foto yang lain dan cukup kaget saat melihat foto Gemal dan Hendrik yang terpisah.
"Astaghfirullah Al azim, kenapa aku baru melihatnya?" Di mengambil dua foto yang ada di dalam lemari kaca.
"Foto anak ibu, dia Gemal dan dia Hendrik. Keduanya tampan dan wajahnya hampir mirip." Ibu tersenyum mengusap wajah Hendrik.
Diana mengerutkan keningnya, ibu Gemal tidak mengenali anaknya lagi bahkan salah menunjuk foto.
"Gemal sudah lama tidak pulang, ibu takut tidak punya banyak waktu lagi." Air mata menetes mengenai bingkai foto.
Diana menggenggam tangan wanita baik dihadapannya, Di tidak bisa menjanjikan bisa menyelamatkan, tapi demi melihat seorang ibu tersenyum Diana ingin berjuang.
"Bu, saya dokter Diana temannya Gemal dan Hendrik. Saya satu rumah sakit dengan Hendrik." Di menunjukkan foto Hendrik yang ada di tangannya.
"Oh iya yang ini Hendrik, dan ini Gemal."
"Terbalik Bu." Diana meneteskan air matanya, langsung memeluk ibu yang langsung menangis memeluk Diana erat.
Diana sudah mendengar kondisi ibu Gemal dan penyebabnya, Gemal sudah menceritakan semuanya.
"Ibu harus dirawat, Diana akan bertanggung jawab."
"Jangan Ana, kasihan Gemal harus membayar rumah sakit, dia hampir putus sekolah karena biaya pengobatan."
"Ana yang tanggung jawab Bu, jangan pikirkan soal biaya, sekarang paling penting ibu harus sembuh. Bisa tidur dan beristirahat seperti harapan Gemal." Diana mengusap air matanya, melakukan segala cara untuk membujuk ibunya Gemal.
"Ibu harus izin Gemal, dia belum pulang."
__ADS_1
"Biar Diana yang izin sama Gemal, ibu ikut Diana untuk diperiksa."
Pelukan Diana sangat erat, mengusap punggung ibu yang mengucapkan terima kasih berkali-kali karena Diana ingin berteman dengan anaknya.
"Ibu bisa bertemu Hendrik?"
Kepala Diana mengangguk, mengemas pakaian langsung membawa ibu Gemal ke rumah sakit untuk melakukan beberapa pemeriksaan.
Sepanjang perjalanan Diana menggenggam erat tangan, tidak ingin melepaskan sedikitpun.
Suara panggilan di ponsel membuat Diana harus melepaskan genggamannya, menjawab panggilan dari Aliya yang meminta menjemput Arjuna.
Diana langsung berhenti di sekolahan Juna, suara salam terdengar membuat Diana tersenyum.
"Ibunya kak Gemal?"
"Juna kenal?" Di menatap Arjuna yang duduk di belakang memperhatikan ibu tua di depannya.
Juna hanya menganggukkan kepalanya, karena sering melihatnya berjualan dan ada melihat Gemal marah-marah.
"Kenapa bisa bersama kak Di?"
Diana menjelaskan jika ibunya Gemal orang pertama yang dilakukan uji coba menyempurnakan obat, tapi dia tidak mendapatkan penawar selama bertahun-tahun.
Cia melakukan kesalahan dalam prakteknya, dan yang lebih buruknya lagi Para ilmuwan kehilangan rekaman obat.
"Kak Di ingin mengecek keseluruhan, Juna rasa cukup sulit karena uji coba pertama gagal sedangkan penawar yang ada sangat berbeda." Tatapan Juna tajam.
Diana sepemikiran dengan Arjuna, sehingga ingin melakukan pengecekan detail.
"Efek sampingnya sekarang apa kak?"
"Mulai lupa, dan tidak mengenali bahkan orang terdekat, perlahan pendengaran tidak berfungsi lagi, penglihatan juga menghilang."
"Efeknya sudah merusak sistem saraf, seadanya ada obat juga harus operasi, dan masalahnya sulit bertahan di meja operasi." Arjuna menggelengkan kepalanya, menghela nafasnya bekali-kali.
Arjuna mengikuti Diana untuk melakukan pengecekan, dari layar Diana sudah bisa memprediksi betapa kecilnya harapan mereka.
"Tidak ada harapan, lebih baik memanfaatkan waktu daripada membuang waktu untuk pemulihan." Juna langsung melangkah pergi, menggunakan earphone berjalan menyusuri koridor.
Diana hanya menunjukkan senyuman, langsung ke ruangan rawat memasang infus dan memberikan obat.
Penawar obat berbahaya yang Hendrik ciptakan berhasil Diana sempurnakan, tapi tidak memberikan efek apapun.
"Semangat Bu, harus bertahan." Diana mengusap kepalanya.
Melihat pasiennya sudah memejamkan matanya untuk beristirahat, karena obat mulai beraksi.
__ADS_1
Diana melangkah ke ruangan Gemal, menatapnya sambil tertunduk. Di juga sudah meminta Salsa membantunya menyampaikan kepada Hendrik kondisi ibunya.
"Gem bangun, kamu harus bertemu ibu kamu." Di menatap wajah Gemal yang masih pucat.
***
Sudah tiga hari Diana ada di ruangan ibunya Gemal, bahkan tidur di sana mendengarkan ocehan dan cerita masa muda.
"Ana, beberapa hari ini ibu bisa tidur dan bermimpi indah, sudah lama ibu tidak tidur."
"Iya Bu, harus kuat ya. Diana akan melakukan segala cara agar rasa sakitnya berkurang." Di mengusap matanya.
"Di, ibu tidak ingin operasi, jika akhirnya tidak bisa melihat anak-anak ibu lagi." Air mata juga menetes membasahi pelipis mata.
"Ibu pasti sembuh." Diana tersenyum terus menyemangati.
Suara ketukan terdengar, Diana langsung berdiri menarik selimut membiarkan ibu tidur kembali.
Diana berjalan ke ruangan Hendrik yang sudah bisa bangun, bahkan memaksa untuk bertemu ibunya.
"Diana, tolong biarkan aku melihat ibu."
"Boleh, tapi jangan menangis dan terkejut jika dia tidak mengenali kamu." Di mendorong kursi roda Hendrik untuk melihat ibunya.
Yandi melepaskan borgol tangannya, menunggu di depan ruang rawat membiarkan Hendrik masuk bersama Diana.
Air mata Hendrik menetes, mengusap tangan ibunya menciumnya bekali-kali.
"Hendrik, kamu di sini nak. Ibu kangen kamu." Ibu memeluk Diana, Hendrik mengusap punggung ibunya meminta maaf.
Suara tangisan Hendrik semakin membesar, mencium tangan ibunya, memohon maaf atas kebodohan dan kejahatannya.
"Hen, ibu minta maaf ya nak belum bisa membahagiakan kalian, tapi ibu meminta satu hal sama kamu, jaga adik kamu Hen. Ibu tidak bisa bertahan lebih lama lagi, kasihan Gemal. Kalian berdua harus akur, saling menjaga." Air mata ibu terlihat, menatap wajah Hendrik yang penuh air mata.
Ibu selalu menyayangi kedua anaknya, tidak membedakan satu dengan yang lain. Setiap anak memiliki kekurangan, dan ibu orang yang mensupport kekurangan agar menjadi kelebihan.
"Bu maafkan Hendrik."
"Iya sayang, kamu jangan nakal lagi. Jaga diri baik-baik." Ibu tersenyum mengusap air mata putra pertamanya.
Diana tidak kuat menahan air matanya, langsung melangkah keluar membiarkan Hendrik menghabiskan waktunya bersama ibunya yang sudah lima tahun tidak berjumpa.
Pintu kamar Gemal terbuka, Diana terdiam melihat Gemal duduk bersandar menatap ke arah jendela yang sedang panas terik matahari.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1