
Suara canda dan tawa terdengar makan bersama keluarga besar sesuatu yang luar biasa, karena kediaman Leondra jarang kedatangan keluarga, apalagi bersama anak-anak yang tidak bisa diam.
Arjuna yang paling bahagia, karena setelah empat tahun bisa berkumpul dengan keluarganya. Tertawa dan bercanda bersama.
"Bagaimana rasanya Juna? kamu pasti belum pernah makan siang enak seperti ini?" Di tersenyum melihat Juna yang menikmati makanannya.
Senyuman Juna terlihat, menganggukkan kepalanya membernarkan ucapan Diana jika rasanya enak.
"Makanannya enak, tapi ... terlalu asin." Juna menyelesaikan makanannya.
"Tandanya Shin sudah siap menikah, atau kamu yang ingin menikah Jun?" Di menggoda Juna dan Shin.
Kepala Shin tertunduk, masih tidak percaya. Pria yang dia kagumi, ternyata kakak sahabatnya sendiri.
"Kak Di tidak boleh bicara seperti itu, Tika tidak mengizinkan kak Juna bersama Shin. Tidak cocok." Tika tidak ingin Kakaknya dan sahabatnya memiliki hubungan.
Ekspresi Shin langsung lemes, Tika memang jarang membicarakan Kakaknya. Dan tidak mudah bagi Tika mengizinkan Juna dekat dengan siapapun, apalagi Shin yang Tika larang pacaran.
Aliya juga setuju, Shin dan Juna memiliki masa depan yang panjang. Keduanya harus fokus karir, Shin juga harus kuliah.
Soal percintaan urusan belakang, karena jodoh tidak akan lari kemanapun. Meksipun dikejar jika bukan jodoh tidak akan mampu.
Senyuman Shin terlihat, kisah cintanya kandas sebelum diungkapkan. Keluarga lelaki yang dicintainya, tidak menyetujuinya. Shin menyadari perbedaan dirinya dan keluarga Arjuna yang jauh berbeda.
"Mami, kak Di jangan membicarakan hal yang tidak masuk akal. Juna tidak terpikirkan, tujuan hidup Juna bukan untuk cinta. Jangan membicarakan cinta dengan Arjuna." Tatapan Juna langsung dingin membuat Aliya dan Diana tertawa, diikuti yang lainnya.
"Kak Juna tenang saja. Shin memiliki pacar idaman." Tika merangkul Shin yang menganggukkan kepalanya.
Tatapan Shin melihat Juna yang tidak sedikitpun melirik dirinya, Juna sudah melupakan dirinya, mungkin juga tidak mengenalinya.
Selesai makan bersama, keluarga berkumpul di ruangan sambil mengobrol bersama. Pembicaraan terlihat serius, Gemal menolak untuk menerima bisnis keluarga.
Meksipun Papanya hanya menjalankan amanah soal pembagian tugas pembagian warisan dari kakek Ken.
Penerima utama sudah pasti Calvin dan Jessi, lanjut ke Gemal dan Diana. Genta dan Hendrik juga mendapatkan bagian.
__ADS_1
Bahkan Arjuna juga masuk daftar penerima warisan dari kekayaan kakek Ken, tidak ketinggalan ketiga cucunya yang masih kecil juga sudah memiliki aset sendiri peninggalan Opanya.
Keputusan Juna membuat seluruh orang terkejut, dirinya menyumbangkan bagian warisannya untuk anak-anak yang memiliki penyakit serius tetapi kekurangan dana.
Juna mengucapkan terima kasih, dirinya hanya orang lain di kelurga Leondra, tetapi Kakek Ken memberikan kasih sayang adil untuknya. Juna menerima apa yang diberikan, tapi keinginannya untuk mendonasikan warisan kakek Ken atas nama Kakek sendiri.
"Kamu yakin Juna, tidak sebagian saja."
"Tidak Pa, Juna sudah sangat yakin. Apa yang Juna miliki sudah lebih dari cukup, banyak orang yang membutuhkannya. Dibalik rezeki Juna, ada rezeki mereka juga. Insyaallah kebaikan kakek Ken mengalir." Doa Juna diaminkan semua orang.
Altha tersenyum melihat Putranya yang tidak berpikir dua kali untuk mengambil keputusan, dirinya terlalu yakin ada yang membutuhkan darinya.
Al memeluk Putranya, rasanya Al jatuh cinta kesekian kalian kepada Juna, meskipun Al sudah jatuh cinta sejak Juna kecil. Rasa sayang Al tubuh, karena dari sikap dingin Putranya ada kelembutan di hatinya.
Mata Gemal tidak berkedip sama sekali, anak muda seperti Juna memikirkan nasib orang lain. Gemal berharap anak-anaknya akan mengikuti jejak Juna yang memiliki hati baik.
Suara langkah Isel membuat Gemal langsung berdiri, melihat Putrinya yang sudah terguling dari lantai dua. Pengawal yang menjaga juga panik, Isel tidak bisa diam.
"Kenapa Isel? jangan main di tangga." Gemal langsung mengendong Putrinya.
"Aku tidak yakin Isel memiliki kebaikan seperti Juna, dia keras kepala, egois, pemarah seperti aku." Gemal mengusap dadanya.
Suara Ian terdengar, menyerahkan buku Juna yang dirinya pinjam. Ian mengangumi isinya, dan memberikan jempol untuk Juna karena memiliki kecerdasan membuat buku yang bisa dinikmati banyak orang pencinta medis.
"Ian suka bukunya?"
"Iya, Ian suka." Ghiandra menjelaskan semua isi buku yang dirinya baca.
"Kamu pintar sekali, usia tiga tahun sudah bisa membaca. Ria membutuhkan lima tahu baru bisa A B C sampai D. Tingkat bacaan kamu terlalu tinggi." Juna mengambil bukunya kembali.
Diana membenarkan ucapan Juna, Ian satu-satunya yang bisa membaca, jika Isel jangan ditanya melihat huruf langsung disobek, dirinya lebih menyukai bermain, daripada belajar. Sedangkan Gion anaknya aktif, tapi pemalas, jika dia bisa menunda, maka tidak akan dikerjakan tugasnya, sebelum waktunya mepet.
"Setiap anak memiliki proses masing-masing Di." Mam Jes menatap cucunya Ian yang mengagumi Juna.
"Kakak, Ian setiap hari baca buku. Kak Shin yang meminjamkan, semua buku kak Shin bagus dan bermanfaat."
__ADS_1
"Kamu belajar buku kue juga?" Juna mengusap kepala Ian yang menggeleng.
Aliya mencium wajah Ian yang berbeda dengan Isel, Ian sangat lancar bicara, pintar otaknya, baik dan suka mengalah. Ian sangat suka membahagiakan orang lain.
"Ian, kamu lebih sayang kak Gion atau adik Isel?" Anggun menatap cucu kesayangannya.
"Emh ... Ian sayang Allah, Papa dan Mama, saudaranya Ian, sayang keluarga besar, Ian bahagia jika ada orang bahagia." Senyuman manis terlihat.
Mam Jes menggenggam tangan cucunya, Ian masih kecil, memiliki kedua orang tua utuh, tidak harus menjadi seseorang yang baik untuk semua orang.
Keluarga sangat menyayangi anak-anak tanpa membedakan, begitupun dengan Ian. Dia sangat berharga, melebihi apapun.
"Sayang, nikmati masa kecil kamu dengan bermain dan bersenang-senang, lakukan kesalahan agar kamu tahu rasanya teguran. Ian masih terlalu kecil untuk menjadi seseorang yang luar biasa." Mam Jes mengkhawatirkan sikap diam cucunya, yang selalu mementingkan orang lain, tanpa tahu apa yang dia inginkan.
Suara Gion memanggil adiknya terdengar, Ian langsung berlari cepat mengikuti Kakaknya tanpa adanya penolakan.
Diana hanya tersenyum, Ian adalah dirinya. Masa kecil terlalu membosankan, bedanya Diana diajarkan kekerasan, sedangkan Ian diajar dengan cinta dan kasih sayang.
"Ma, Ian sebenernya hanya sempurna di mata saudaranya, tapi di depan Di dia selalu menangis, meminta dimanja, tapi tidak ingin membuat Isel iri dan cemburu. Dia masih anak kecil yang manja, kekanakan juga sangat jahil." Di menatap suaminya yang setuju dengan ucapan Diana.
Mungkin semua orang tahunnya Isel yang nakal, Gion yang pemalas, Ian yang pendiam, tapi di mata Diana Gemal ketiga anak tetap sama.
Meksipun Isel nakal dia perhatian ketika kedua kakaknya bersedih, kecewa dan marah. Isel hanya anak yang tidak bisa di keras. Begitulah dengan Gion, apapun tugas yang Diana berikan, selalu terakhir mengerjakan, tapi hasilnya tetap maksimal. Sebagai anak pertama, Gion bertugas menjaga kedua adiknya sehingga selalu meringankan masalah.
***
Follow Ig Vhiaazaira
***
mau up kisah Juna atau nanti, soalnya kisah Diana sudah cukup, kasihan jika ada konflik lagi.
Ini beberapa part sebelum tamat.
***
__ADS_1