ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERSAMA MAMA


__ADS_3

Terpaksa Juna meminjam mobil manager hotel, langsung bergegas kembali ke apartemennya untuk menemui Mamanya yang sakitnya kambuh lagi.


"Shin, pakai sabuk pengaman kamu." Juna mempercepat laju mobil, fokus melihat ke depan.


Tatapan Shin fokus melihat Juna, baru saja Juna mengatakan jika sakit Mamanya sebuah hukuman karena sudah menyakiti dirinya juga Adiknya, tapi Shin hanya melihat Juna yang sedang tersakiti karena rasa bersalah.


Mobil berhenti di depan apartemen, mobil belum dimatikan pintu saja tidak tertutup Juna sudah berlari kencang.


Shin keluar mobil, menutupi pintu melangkah perlahan ke dalam rumah. Shin melihat Mama Citra sudah muntah darah, perawat yang Juna minta menjaga sedang pergi karena hal darurat, namun tidak menghubungi Juna.


"Mama sakit lagi Jun,"


"Bagian mana yang sakit?"


"Semua, Mama harus dioperasi lagi?" Citra menatap sedih Putranya yang geleng-geleng kepala.


Mendengar tangisan Mama Citra yang menceritakan kondisi sakit semua membuat Shin tidak berani masuk, ada kesedihan yang tertahan melihat kondisinya.


Sakitnya hati seorang anak, tidak mungkin sanggup jika melihat orang tuanya meringis kesakitan. Sebesar apapun kesalahan, anak tidak akan bisa diam jika orang tuanya terluka.


Suara Juna menenangkan terdengar, memberikan obat pereda sakit. Shin hanya duduk menatap lampu, menunggu sampai Mama Citra tenang, dan Juna juga keluar.


Sampai hampir subuh barulah Juna keluar, melihat Shin yang masih duduk tanpa tidur. Senyuman Shin terlihat, meminta Juna beristirahat dan dia yang akan menjaga Citra.


"Kamu sudah izin Kak Genta belum?"


"Sudah, saat tiba di sini kirim pesan kepada Mama." Shin masuk ke dalam kamar Mama Citra, melihat kondisinya yang memang memburuk lagi.


Operasi terakhir memang lancar, tapi bukan berarti tidak bisa terulang kembali. Tubuh Mama Citra semakin kurus, bahkan membiru.


Mata Shin tidak mengantuk sama sekali,


otaknya tidak jalan melihat kondisi Citra yang memprihatinkan. Shin mengerti jika pengobatan apapun mungkin sulit untuk menyembuhkan.


Dari sekian banyak buku yang Shin baca, tidak ada pemikiran pengobatan terbaik. Melakukan operasi lagi, maka akan memperburuk keadaan apalagi kondisi Citra terus memburuk.


"Shinta, kamu Arshinta?" Mama Citra terbangun sambil tersenyum.

__ADS_1


"Hai Tante, bagaimana kondisi Tante?"


Kepala Citra menggeleng, menunjukkan infus di tangannya. Citra tidak mereda dirinya baik, Shin jauh lebih tahu kondisinya.


"Juna banyak cerita soal kamu, katanya kamu ahli pengetahuan soal medis." Citra menyentuh tangan Shin yang sangat mulus.


Senyuman Shin terlihat, dia tidak sehebat yang Juna katakan. Shin hanya membaca sekedar hobi untuk menambah pengetahuan, Shin lebih menyukai masak. Dia seorang koki yang hebat, memiliki cabang di luar negeri.


Dengan sombongnya Shin menceritakan kehebatan membuat Citra tertawa kecil, mengingatkan kepada Putrinya Tika yang sangat cerewet, tapi dia tidak bisa mendengarnya lagi.


Jika Tika bicara hanya membentak dan memarahinya, tidak ada lagi candaan juga tawa Putri kecilnya.


"Tante percaya karma? mungkin Tante sedang mendapatkannya." Shin bicara pelan tidak bermaksud menyinggung.


Meksipun Tika bersikap dingin, tapi Shin tahu di hati kecil pasti merindukan Mamanya, dia hanya tidak tahu cara mengawali untuk bisa berbicara, memeluk dan tertawa seperti dahulu.


"Dulu Tante meninggalkannya, sekarang banyak orang meninggalkan Tante. Itu salah satu karma, tapi Tante percaya tidak dengan kesempatan kedua?"


"Apa kamu percaya?"


"Tentu Shin percaya, Allah saja selalu membuka pintu taubat, selalu memberikan kesempatan dan dari rasa sakit yang Tante rasakan mengurangi dosa. Kenapa manusia tidak bisa memberikan kesempatan? jawabannya Tante yang tidak ingin mengambilnya." Tangan Shin mengusap tangan Citra yang terbaring, hanya ada tulang dan kulit yang terlihat hilang sudah wanita yang dulunya cantik hampir sempurna.


Sampai matahari terbit, Citra dan Shin bercerita banyak hal. Shin sampai berguling-guling di atas tempat tidur Citra, menceritakan kenakalannya bersama Tika sejak usia muda.


Citra sampai kaget jika dulu Shin dan Tika musuh bebuyutan, mereka berdua sampai masuk rumah sakit karena bertarung dengan anak tingkah atas. Mereka juga kerepotan menjaga Diana yang hamil bayi kembar tiga, belum lagi kondisi Di yang tidak stabil.


Beberapa kali masuk kantor polisi karena kasus mencuri, berkelahi, balapan, sampai Altha angkat tangan meminta Tika dan Shin masuk rumah sakit jiwa.


"Siapa yang selalu membela kalian?"


"Siapa lagi kalau bukan Mami Al, pengacara kita Mommy Anggun. Tika kehabisan uang jajan karena harus membayar Mommy, pinjam sama Shin tenyata udah limit gara-gara Shin beli mobil belum ada SIM menabrak pembatas jalan, mobilnya disita Daddy Dimas." Tawa Shin terdengar, sedangkan Citra tercengang kaget.


"Kalian berdua manusia apa bukan?"


Shin langsung diam, Citra memarahinya yang menghabiskan uang dengan membuat kekacauan. Shin anak orang kaya yang berkuasa sampai uang dia buat seperti memetik daun.


"Meksipun keluarga Leondra kaya, kamu harus menghargai orang tua yang lelah mencari uang."

__ADS_1


"Uang yang Shin habiskan bukan milik keluarga Leondra, tapi keluarga ... keluarga siapa? intinya uang dari orang tua angkat Shin." Senyuman Shin terlihat, kenakalan sudah berlalu.


"Irish selalu menyakiti kamu?"


Kepala Shin mengangguk, sejak kecil Irish dan suaminya menyakiti Shin secara fisik dan mental. Keduanya berpisah, dan Shin ditinggalkan sendirian di dalam rumah mewah, dengan banyak uang.


"Semuanya sudah berlalu, Shin sekarang baik-baik saja,"


"Kamu bahagia membuat masalah?"


"Ya, saat aku membuat masalah jadi banyak yang memperhatikan." Senyuman Shin lebar, tapi air matanya menetes.


Citra mengusap air mata Shin, pintu terbuka Juna sudah rapi menatap Citra dan Shin yang saling pandang.


"Juna ke rumah sakit sebentar, nanti balik lagi. Shin kamu bisa ...."


"Shin tetap di sini, Kak Juna minta duit. Shin lupa membawa uang untuk membeli bahan masakan." Shin berdiri di atas tempat tidur, lompat ke bawah membuat Citra tertawa sedangkan Juna sudah menatap tajam.


"Kamu bisa turun baik-baik?"


"Bisa." Shin naik lagi, lalu turun lagi.


Juna mengeluarkan dompetnya, Shin melihat ke dalam menatap uang Juna yang lumayan banyak.


"Kak, tidak ingin memberikan kartu saja?"


"Kamu pikir aku bodoh, gaji satu bulan bisa kamu habiskan satu hari." Juna meletakkan uang ke atas telapak tangan Shin.


"Dasar pelit,"


Juna melangkah pergi setelah pamitan, Mama Citra hanya tersenyum baru pertama kali melihat Juna bicara panjang bersama wanita.


"Shin, Mama Citra boleh meminta tolong?"


"Boleh, Shin punya banyak Mama. Ada Mama Cahya, Mama Jes, sekarang Mama Citra. Ada apa Ma?"


"Temani Mama bertemu Mora, bisa?" Citra tersenyum melihat Shin mengangguk kepala.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2