ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MOGOK BICARA


__ADS_3

Sudah satu minggu Juna dan Shin tidak bertegur sapa, keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing dan berusaha mengendalikan perasaan agar kembali seperti sediakala.


Kondisi Isel juga sudah jauh lebih baik, meskipun belum ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.


Shin melangkah memasuki rumah sakit, melihat punggung Juna yang berjalan bersama Ana. Shin mengikuti dari belakang, melihat Ana tersenyum dan matanya menunjukkan kekaguman terhadap pria di sisinya.


"Ay,"


Langkah Juna terhenti, menatap Shin yang menggunakan baju sangat feminim. Rambutnya berwarna keriting terurai, keduanya terdiam saling memandang. Lama tidak melihat Shin, Juna merasa melihat sosok orang baru.


"Shin, kamu lama tidak terlihat?" senyuman Ana menyapa Shin yang juga tersenyum manis membalasnya.


"Ayo kita ke ruangan Dina,"


Kepala Shin tertunduk, merasa Juna benar-benar mengabaikannya. Rasanya Shin kembali ke masa lampau, di mana dirinya dan Juna tidak bertegur sapa.


"Kenapa tangan kamu?" Juna menarik tangan Shin, menatap jari Shin yang terbalut kain mengeluarkan darah kembali.


"Luka saat masak." Senyuman Shin terlihat, mengikuti Juna untuk mengobati tangannya.


Suara Shin meringis terdengar, lukanya cukup dalam dan tidak diobati hanya ditutup kain. Juna membersihkan darah.


"Sakit Ay, Shin boleh nangis tidak?"


"Sudah tahu sakit, bisa tidak jangan terluka. Seharusnya juga langsung menemui aku, bukan membungkus dengan kain seperti ini." Suara tangisan Shin tidak Juna hiraukan, membiarkan merasa sakit akibat tidak sayang kepada diri sendiri.


Tangan Shin tidak bergerak lagi setelah diobati, Juna memberikan air minum mengusap air mata yang masih mengalir di pipi.


"Kenapa rambut kamu sudah keriting? disambar petir." Juna menggeleng kepalanya.


Suara tawa Shin langsung pecah, rambutnya begitu indah sesuai dengan musim dibilang disambar petir.


"Ini lagi trend, Kak Juna saja yang tidak tahu." Shin merapikan rambutnya.


"Jangan banyak ganti, kamu sudah cantik dengan rambut biasanya,"


"Apa sekarang tidak cantik?"

__ADS_1


Juna langsung diam, ingin memukul mulutnya, bisa-bisanya memuji secara terang-terangan.


Wajah Shin terlihat kesal, pamit ke ruangan Isel setelah mendapatkan ejekan dari Juna jika rambut barunya jelek.


"Ay Juna juga jelek rambutnya, mirip Naruto." Shin menutup pintu kesal.


"Kamu cantik Shin, apapun yang kamu kenakan sangat cantik. Aku tidak menyukai kamu yang terlampau cantik, membuat banyak orang menatap kagum." Batin Juna di dalam hatinya tidak bisa mengutarakan secara langsung.


Pintu ruangan Isel terbuka, Isel masih terlelap tidur. Diana dan Gemal hanya tersenyum melihat Shin datang.


"Bagaimana kondisi Isel Kak?"


"Mendingan Shin, hanya saja dia belum bicara. Kak Di merindukan Isel yang cerewet, kapan Putriku akan kembali ceria." Di menutup matanya menahan air matanya agar tidak keluar.


"Di mana yang lainnya? kenapa hanya ada Kak Di dan Kak Gem?"


"Masih pulang, nanti datang lagi. Isel juga membutuhkan istirahat, dan lebih baik terasa tenang." Gemal menatap Putrinya yang tidak menyapa siapapun.


Langkah Shin mendekati Isel, menepuk keningnya agar bangun. Selama melihat Isel hidup, hampir tidak pernah melihatnya menutup mata.


"Sampai kapan kamu ingin diam? buatlah masalah, lakukan keributan, sudah waktunya kamu bangkit. Kenapa harus Aunty datang dulu baru berulah?"


Diana dan Gemal bangkit berdiri, mendekati Isel yang sudah menutup mulutnya. Tangisannya terdengar meminta maaf karena sudah bicara.


Kedua tangan Gemal memeluk erat, meminta Isel untuk tidak menangis. Ucapan Gemal salah diartikan oleh Isel, selama berhari-hari Isel tidur dikarenakan menahan diri untuk tidak bicara.


Maafkan Papa sayang, bicaralah Nak. Kami rindu mendengar suara kamu." Air mata Gemal menetes menciumi seluruh wajah Isel.


"Semuanya gara-gara Aunty, Papa jadinya sedih. Isel bisa jadi anak durhaka tahu, awas Aunty ya. Nanti Isel pukul pakai pedang, Isel belah kepalanya. Dasar kriting, rambut mie, kerebo mirip orang hutan." Suara Isel teriak-teriak memarahi Shin yang memegang kepalanya.


Tawa Gemal dan Diana terdengar, memeluk Putrinya yang akhirnya mengomel kembali setelah satu minggu mogok bicara.


"Mama kangen Isel, peluk Mama sayang." Kedua tangan Diana memeluk putrinya begitupun dengan Isel yang mengusap punggung pelan.


Mata tajam terlihat, masih kesal dengan Shin yang memiliki rambut baru. Meskipun terlihat sangat cantik, namun Isel masih marah.


"Dasar Isel bodoh, sudah tahu racun masih saja di minum." Lidah Shin menjulurkan, Juna menarik telinga Shin yang seperti anak kecil.

__ADS_1


"Isel sakit, perut Isel panas. Dada sesak, keluar sabun dari mulut, terus darah juga keluar dari hidung. Isel rasanya ...."


"Sekarang Isel baik-baik saja, jangan diingat lagi. Maafkan kita yang lalai menjaga kamu. Di mana yang sakit katakan kepada Kak Jun?"


Wajah Isel berpaling dari Juna, tidak ingin menjawab dan terlihat marah. Diana yakin putrinya tahu jika minuman Shin ada racun, tapi kemarahannya ditunjukkan kepada Juna.


"Bagaimana caranya agar Isel memaafkan Kak Jun?"


"Jauhi Aunty Hana, dia bodoh. Isel tidak suka dengan perempuan baik seperti dia. Kak Juna tidak boleh menikah sama dia, menikah saja dengan Kak Shin. Isel tidak suka dengan wanita baik dan bisa manfaatkan, Kak Juna tidak boleh bersama dia." Suara Isel meninggi menatap marah Juna.


Kepala Juna mengangguk, dia akan mendengarkan apa yang Isel inginkan. Bagi Juna kesembuhan Isel jauh lebih penting, anak kecil selalu terang-terangan jika kecewa dengan seseorang.


"Sayang, Kak Jun dan Aunty Ana ...." tangan Juna menghentikan Gemal, melarang membatah ucapan Isel.


Apa yang terjadi memberikan trauma, mungkin awalnya hanya dianggap main, namun setelah tahu rasanya sakit pasti mulai khawatir.


"Kenapa kamu meminum racun? kenapa tidak biarkan saja Hana yang meminumnya?" Shin mendekati Diana yang juga menunggu jawaban Isel.


"Isel penasaran rasanya,"


"Kamu tahu darimana sayang jika itu racun?"


Isel melihat seorang pria berbadan besar, memberikan minuman kepada pelayan. Isel mendengar jika minuman itu spesial beracun, dan khusus untuk Hana.


Dalam pikiran Isel itu minuman spesial seperti minuman restoran mewah, ada rasa spesial dan hanya boleh untuk satu orang.


"Isel ingin mencoba minuman racun, warnanya sama dengan minuman ... bukannya sama Ma?"


"Beda sayang, racun bisa membunuh. Makanya Isel harus sekolah, belajar yang rajin agar tidak bodoh sampai minum racun. Satu lagi, jadi manusia jangan serakah." Di mengusap kepala Isel lembut.


"Maafkan Isel ya Mama, nanti Isel belajar soal racun saja. Tenyata Isel bodoh tidak tahu minuman racun." Helaan napas Isel terdengar..


Diana memalingkan wajahnya, emosi terpancing melihat Isel. Terkena musibah bukan membangkitkan semangatnya untuk belajar, tapi hanya ingin tahu soal racun.


"Sabar Diana,"


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2