
Sentuhan lembut menyentuh bibir Aliya, bibir dingin lelaki di hadapannya menciumnya dengan lembut.
Aliya mencengkram kuat ponselnya, mematikan cahaya ponsel memejamkan mata tidak bisa menolak.
Altha duduk di samping Al, memejamkan matanya menyadari apa yang baru saja dirinya lakukan.
"Maaf, aku hanya kecewa dan ingin merasakan menyentuh wanita yang tidak aku cintai." Altha mengusap wajahnya.
"Bagaimana rasanya?" Al tersenyum menatap wajah Altha yang tidak terlihat, karena semua lampu sudah mati.
Altha tidak menjawab, menyentuh dadanya yang tidak karuan. Melihat ke arah Aliya yang tidak terlihat ekspresi wajahnya.
"Kamu ingin mandi, baju kamu basah." Aliya berdiri ingin melangkah pergi.
Altha menarik tangan Aliya, membuatnya jatuh ke pangkuan. Alt memeluk erat pinggang Aliya memejamkan matanya.
"Sebentar saja Aliya, aku ingin menangis meluapkan rasa sakit hatiku." Altha meneteskan air matanya, merasakan sakit hatinya.
Tangan Aliya mengusap kepala suaminya yang menangis tersedu-sedu, Aliya bisa merasakan sakitnya perasaan Altha. Citra wanita yang sangat beruntung, karena dicintai oleh lelaki yang sangat tulus.
Terkadang Aliya ingin egois ingin memiliki Altha, tapi dirinya tahu diri jika tidak bisa mengambil cinta Altha yang hanya untuk Citra.
Altha melepaskan pelukannya, mengusap air matanya mengizinkan Aliya pergi dan meninggalkan dirinya sendiri.
Tanpa ada pertanyaan Aliya langsung turun dari pangkuan Altha, melangkah menuju kamar untuk beristirahat.
"Altha, jangan bersedih berlarut-larut. Apa yang terjadi tidak bisa diulang kembali, kamu hanya memiliki pilihan melepaskan atau mempertahankan. Mora tidak salah, tapi kalian orang dewasa yang bersalah." Al langsung melangkah menaiki tangga, meninggalkan Altha yang masih terdiam.
"Kamu tidak ada niat menggoda aku, lalu apa tujuan kamu meminta pertanggungjawaban dan ingin menjadi istri." Altha mengusap wajahnya, melangkah ke kamarnya untuk mandi dan beristirahat.
Di kamar Aliya berdiri, memberikan susu untuk Mora, Alt langsung mandi tanpa mengatakan apapun.
Selesai memberikan susu Aliya langsung naik ke atas ranjang, memejamkan matanya secara paksa karena sulit sekali untuk tidur.
Altha juga naik ke atas ranjang, matanya masih terbuka melihat ke arah lampu yang belum dimatikan.
"Al, kenapa kamu tidak pernah mengatakan soal Mora?"
"Aku tidak punya hak ikut campur, itu urusan rumah tangga kalian?" Aliya meminta maaf, karena menyembunyikan kebenaran soal Citra, karena bagi Aliya anak bukan sebuah lelucon.
"Siapa ayah kandung Mora?"
Aliya langsung membalik badannya, melihat wajah Altha yang terlihat sangat serius. Al juga mengatakan akan mempertahankan Amora apapun yang terjadi, kening Aliya berkerut.
"Altha, kamu tidak berniat mempertanyakan kepada Citra yang sebenarnya terjadi?" Al binggung melihat respon Altha yang lebih mengutamakan mempertahankan Mora, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Apa yang harus aku pertanyakan?" Altha menghadap ke arah Aliya.
"Apapun?"
"Kenapa kamu selingkuh? pasti alasannya, aku dijebak, semua ini juga salah kamu yang selalu meninggalkan aku. Apapun tuduhan aku pasti dipojokan." Kening Alt berkerut.
Aliya menggelengkan kepalanya, menyentuh kening Altha yang terasa dingin. Al masih binggung harus ikut campur atau membiarkan saja.
"Tuan Al, kejahatan apa yang paling mengerikan? sesuatu yang kamu anggap paling sulit dan menyentuh perasaan." Wajah Aliya terlihat sangat serius, menunggu jawaban Altha yang sangat binggung.
Altha sudah melihat banyak kejahatan, pembunuhan, penganiayaan, pelecehan, penyuluhan senjata, obat terlarang, kecelakaan, pembantai, tawuran. Hampir semua kejahatan dalam kategori berat sudah dia hadapi.
"Pernah menyelidiki kasus korupsi?"
"Biasanya itu urusan jaksa." Alt lebih menyukai kasus yang menantang.
Aliya memukul kepala suaminya, membuat Altha teriak. Aliya langsung menutup mulutnya melihat Amora mulai bergerak di dalam box.
"Kurang ajar sekali kamu Aliya? aku bukan teman atau bawahan kamu." Altha menatap tajam, kesal melihat Aliya.
"Iya maaf, kamu membuat kesal saja." Senyuman Aliya terlihat, mengusap kepala suaminya, langsung meniup dan memberikan ciuman agar Altha tidak marah.
Keduanya tidur kembali, masih membicarakan soal kejahatan. Aliya hanya mendengar cerita Altha soal kasus berat yang dia tangani.
"Kejahatan terberat bukan soal kematian, tapi sesuatu yang merugikan orang lain."
"Tidak juga, bagaimana soal kejahatan cyber? apa kamu meremehkan mereka?" Al menatap Altha yang langsung duduk.
Aliya turun dari atas rajang, mengambil laptopnya langsung duduk kembali di samping Altha.
Tatapan mata Altha tajam melihat apa yang Aliya lakukan, dengan mudahnya Al bisa mengacaukan lalu lintas sesuka hatinya.
"Inilah penjahat cybercrime, aku bisa mengendalikan semua hanya dengan komputer. Orang-orang seperti kalian tidak akan mudah menghentikannya." Aliya tersenyum melihat mata Altha yang mengambil alih laptop.
"Kamu juga mengawasi Haris?"
"Tidak juga, aku tidak akan melakukan sesuatu jika tidak menguntungkan."
Altha tersenyum, istri mudanya ternyata bisa menjadi teman dalam bercerita juga berbagi pemikiran.
"Altha, kamu yakin ingin mempertahankan Amora?"
"Iya, sekalipun Citra menuntut."
Aliya menunjukkan sesuatu, meminta Altha berhati-hati berurusan dengan Anggun, karena dia pengacara yang akan segera berhadapan dengan Altha.
__ADS_1
"Anggun, dia temannya Citra?"
"Bukan, dia pengacara ayahnya Mora."
"Aku ayahnya." Tatapan Altha tajam, Aliya hanya menganggukkan kepalanya.
Wajah Aliya terkejut, saat Altha mengambil sesuatu dari balik laptopnya, senyuman Alt terlihat menarik hidung Aliya.
"Sudah aku duga, perempuan licik seperti kamu pasti mengambil memori yang asli." Altha langsung ingin melangkah pergi.
Aliya menahan Alt, memintanya mengembalikan memori yang memiliki banyak rahasia.
"Aku akan tahu semua hubungan Citra dan lelaki yang bersamanya, aku ingin mendapatkan Mora."
"Altha sialan, kamu licik." Al cemberut, memori asli jatuh ke tangan Altha.
Bermalam-malam Aliya tidak bisa tidur, melihat Alt yang sudah lama terlelap. Bergerak mendekatinya, mencari memori.
"Dasar Altha licik, kamu menipu aku dengan berbicara santai." Al membuka genggaman tangan Altha, melihat di bawah bantal.
Kepala Aliya pusing, di memori ada sesuatu yang penting Altha tidak boleh melihatnya. Jika sampai Altha tahu selesai sudah nasib Al.
Kaki Altha menendang Aliya sampai jatuh dalam pelukannya, Alt meminta Aliya tidur jika tidak ingin terjadi sesuatu.
"Kembalikan memorinya?"
"Tidurlah, atau kamu ingin aku yang menidurkan."
"Malam ini kamu agresif sekali."
Mata Altha terbuka, melihat Aliya yang menutupi tubuhnya dengan selimut. Jika dirinya ingin sudah lama dilakukan, tapi Alt tidak sebodoh Citra.
"Kenapa kamu menahan diri?" Al bersiap untuk melarikan diri.
"Memang kamu siap, jika iya mendekat." Altha ingin menangkap tangan Al yang sudah melarikan diri keluar kamar
"Altha." Aliya langsung jatuh di depan kamar, darah mengalir dari kepalanya melihat seseorang berhasil melarikan diri.
Di dalam kamar Altha kaget mendengar teriakan Aliya, menunggu sebentar sampai Al melangkah masuk.
"Altha, ada seseorang." Al langsung pingsan.
Altha langsung berlari, menepuk tangannya menghidupkan seluruh lampu di rumahnya. Aliya sudah tergeletak, Altha masih bisa melihat siapa yang masuk ke rumahnya.
"Aliya bangun."
__ADS_1
***