
Suasana hening masih terasa, Juna santai saja menghabiskan minuman menunggu Genta merespon ucapannya.
Secara tiba-tiba Genta berdiri, melangkah ke kamarnya tanpa memperdulikan Juna yang masih menatapnya.
"Kenapa tidak ditanggapi Kak? apa ada yang salah?"
"Apa kamu berpikir ini benar? aku ipar kamu Jun. Sekian banyak wanita pilihan kamu Shin, bukannya Hana idaman lelaki." Suara Genta pelan, jika bukan iparnya sudah Genta pukul.
Kepala Juna mengangguk, dia juga tidak menyangka dengan perasaannya, sudah berkali-kali mencoba jika perasaannya tidak benar.
Semakin dihindari, hatinya semakin tidak baik-baik saja. Terlalu sakit untuk melepaskan sehingga Juna memutuskan mengakui perasaannya.
"Apa Shin tahu? apa dia juga mencintai kamu?"
"Aku belum mengatakannya, dan tidak tahu cara mengatakannya lebih tepatnya aku takut ditolak. Apa Kak Genta punya solusi?"
"Ipar gila, kamu pikir aku setuju?"
"Aku tidak meminta restu, aku hanya meminta saran." Senyuman Juna terlihat, pamitan untuk pergi karena jam sudah hampir pukul dua dini hari.
Genta menatap sinis Juna, tidak tahu harus menganggapnya Kakak ipar atau adik ipar. Kepala Genta semakin pusing ditambah istrinya yang sedang marah.
Pintu kamar terbuka, Genta menyembunyikan kartu kunci melihat Tika yang sudah berkelumbut selimut sambil memeluk guling.
Pelukan Genta terasa dari belakang, mencium pipi istrinya yang sangat pemarah jika keinginannya tidak dituruti.
"Sayang, Juna mengatakan mencintai Shin. Apa itu benar?"
Mata Tika terbelalak, langsung membalik badannya menatap suaminya yang kebingungan.
"Ayang binggung?"
Kepala Genta mengangguk, otaknya tidak bisa berpikir dan tidak paham tindakan Juna. Bagaimana bisa dia menikahi Shin yang statusnya adik kandung Genta.
"Yang, sebenarnya di sini yang paling egois, jahat, keras, dan kejam itu Tika. Aku orang yang menghalangi perjuangan mereka." Senyuman Tika terlihat, merasa bersalah karena hanya Shin dan Juna yang takut melakukan kesalahan karena keegoisan Tika.
"Kenapa bicara seperti itu? apa sangkut pautnya dengan kamu?"
Tika terlentang melihat ke arah langit-langit kamarnya, mengingat kembali saat Shin mengatakan dia menyukai seorang pria yang tidak segaja ditemukan di bandara.
Bertahun-tahun masa remaja hanya membahas soal pangeran impiannya, dan Shin ingin menemukannya. Beberapa tahun kemudian Juna muncul di kediaman Leondra, dan bertemu dengan Shin kedua kalinya.
__ADS_1
Bodohnya Tika masih tidak menyadari, kekaguman Shin terhadap Juna sangat besar. Mulut kotor Tika mengatakan jika Kakaknya mencintai seorang wanita baik, dan Tika menyakiti perasaan Shin.
Sejak pertemuan keluarga Shin tidak pernah mengungkit kembali soal pria yang dia cintai, kecuali Tika yang membahasnya.
Pria yang Shin kagumi seakan-akan tidak pernah ada di dunia, dia hanya halu yang tidak mungkin menjadi nyata.
"Sebelum kita menikah, akhirnya Tika menyadari pria itu,"
"Shin mencintai Juna lebih dulu, sebelum kita saling mengenal?"
"Benar Ayang, aku egois takut kehilangan kamu sehingga mengabaikan perasaan Shin hanya karena dia tidak ingin mengutarakan perasaannya lebih dulu. Shin meresa juga tidak mungkin mencintainya." Tika menghela napasnya, merasa bersalah tapi tidak ingin mengakuinya.
"Juna tidak tahu soal perasaan Shin?"
"Ya, demi kehormatan kita membiarkan keduanya saling dekat tanpa ikut campur, biarkan takdir yang mempersatukan." Pelukan Tika erat meminta maaf karena sudah menyakiti perasaan Shin.
Genta mengerti perasaan bersalah Tika, jika Genta tahu sejak awal juga pasti tidak yakin untuk melangkah maju karena bisa melukai hati adiknya.
"Apa keluarga mengizinkan mereka menikah?"
"Tentu, tapi harap maklum saja jika kebingungan." Mata Tika terpejam kembali berharap perjalanan cinta Juna dan Shin tidak memiliki halangan.
Suara pintu terbuka terdengar, Shin tersungkur jatuh. Genta membuka matanya melihat adik perempuannya ngos-ngosan.
"Maaf salah kamar, aku tidur di lantai atas." Shin tertawa menutup pintu kembali.
Tangan Genta mengusap dada, bersyukurnya tidak sedang melakukan apapun. Bisa-bisanya Shin menerobos masuk.
"Awas kamu Shin, aku balas." Tika menutup matanya, dia sudah tahu jika Shin akan datang karena sebelum Genta masuk Shin berlari dari rumah Leondra untuk mengungsi.
"Kenapa Shin lari-larian?"
"Dia hanya jahil, seperti tidak tahu tingkah lakunya saja." Tika memukul tempat tidur merasa dendam.
Pelukan Genta erat meminta Istrinya memaklumi kejahilan Shin yang sama saja. Salah Genta yang lupa mengunci pintu.
"Ayang, Tika membutuhkan belaian." Bibir Tika monyong menciumi bibir Genta.
"Aku juga menginginkannya Tika, bisa tunggu beberapa hari lagi. Aku akan membawa kamu ke suatu tempat. Kita habiskan malam di sana, selama Dina belum tertangkap hati aku tidak tenang." Tubuh Tika didekap lembut, janji laki-laki yang terpaksa Tika percaya.
Pikiran Tika juga teringat kepada Dina, dia yakin pasti Ria mengetahui keberadaannya karena mereka sempat bertemu. Menunggu Genta terlalu lama, Tika harus bertindak sendiri untuk menghentikan manusia licik.
__ADS_1
Kelicikan harus dibalas kelicikan juga, maka Tika hanya bisa bergerak secara rahasia untuk menghentikannya.
"Tika berikan waktu tiga hari, pokoknya kita harus menghabiskan malam berdua, tanpa Shin." Jari kelingking Tika bersatu dengan Genta.
Keduanya mengakhiri malam dengan berciuman panjang tanpa melakukan hubungan. Tika paham jika konsentrasi Genta sedang berada di kasus Dina.
Mami Aliya benar, jika ada kasus yang bersangkutan dengan keluarga apapun cara menggoda tidak akan mampu mengalihkan perhatian.
Suara Genta tidur terdengar, pelan-pelan Tika turun dari atas tempat tidurnya melangkah keluar kamar untuk menemui Shin.
Dugaan Tika benar, manusia pengacau belum tidur karena sibuk memaksa di dapur. Kedua tangan Tika terlipat di dada, memperhatikan Shin yang menikmati masakannya sendiri.
"Sudah menemukan kabar soal Dina?"
Shin tersentak kaget, ingin melempar Tika menggunakan sendok. Shin meletakan makanan di atas meja, Tika juga mengambil sendok untuk ikut makan.
"Kamu tahu ini jam berapa Shin?"
"Jam tiga dini hari, jam yang paling pas bagi hantu berkeliaran." Shin menciumi bau wangi masakannya.
"Kamu setannya, kita harus menemukan Dina secepatnya,"
Kepala Shin mengangguk, dia akan segera mencari tahu keberadaan Dina secara rahasia. Menggunakan cara ilegal lebih cepat dan efektif daripada terus menunggu.
Kepolisian terlalu banyak aturan, dan membuat pusing menunggunya. Kehilangan Dina sudah menjadi kesalahan besar.
"Melawan penjahat secara langsung lebih menyenangkan daripada bermain petak umpat seperti ini,"
"Hotel, kemungkinan besar Dina di hotel tempat kita menemukannya. Bagaimana jika dia bersembunyi di sana?"
"Benar juga, kenapa tidak terpikirkan di sana?" Tika tersenyum menatap Shin yang otaknya sedang jalan jika menemukan makanan.
Tika akan mengawasi hotel, Shin hanya perlu masuk ke sana untuk menemukan kebenaran jika Dina bersembunyi di hotel.
"Aku yakin Dina pasti memiliki orang kepercayaan?" Shin mengunyah makanan yang sangat enak rasanya.
"Kita juga harus menemukan orang itu,"
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1