
Melihat darah belum juga berhenti, akhirnya Altha membantu Alina untuk mengobati lengannya. Perasaan Altha sakit melihat wanita yang memiliki wajah yang sama dengan istrinya diabaikan.
Alin menepis tangan Altha, meminta keduanya mencari keberadaan Anggun.
Segala cara sudah Dimas lakukan untuk menemukan Anggun, tapi tidak ada hasilnya. Anggun benar-benar menghilang.
"Bagaimana dengan keluarga?"
"Anggun tidak memiliki keluarga, satu-satunya orang yang dia anggap keluarga hanya Roby, tapi sekarang Roby juga sudah tiada." Dimas mengacak rambutnya.
Alin menutup telinganya, langsung mengecek ponselnya. Atika bangun dan mencari Maminya, Alin langsung panik.
Suara Tika memanggil Mami terdengar, Altha langsung pamit pulang bersama Alin. Terlihat sekali wajah khawatir Alin.
"Tenanglah, Tika baik-baik saja."
"Aku tidak pernah berjanji kepada siapapun? Aliya satu-satunya orang yang meminta aku berjanji, terutama soal Tika dan Juna." Alin melihat ke arah luar jendela mobil.
Sesampainya di rumah Alin melihat Tika mengetuk pintu kamar Altha, langsung cepat digendong kembali ke kamarnya.
Luka tembak tidak Alin rasanya, melihat senyuman Tika sudah menjadi obat bagi rasa sakitnya.
"Adikku bahagia untuk pertama kalinya saat bersama kalian." Alin meminta Tika tidur kembali.
Selesai menidurkan Tika, Alin langsung membuka DIARY kusam dan menjalin kembali ke dalam diary baru milik Al yang menceritakan betapa bahagianya dirinya.
Sampai matahari terbit Alin baru selesai menyalin kisah hidup adiknya selama lima belas tahun, dari tulisan jelek sampai bagus.
Alin tertawa lucu, Aliya tinggal kelas selama dua tahun hanya demi menyelamatkan hidup orang lain.
"Apa kamu membutuhkan waktu dua tahun hanya untuk menangkap mereka? bodoh sekali kamu Al. Menyingkirkan seorang penjahat dengan hukum, kamu tidak tahu betapa banyaknya pejabat ilegal." Alin menggelengkan kepalanya.
Dua tangan langsung memeluk Alin dari belakang, senyuman Alina terlihat langsung menggendong putrinya melangkah ke kamar mandi untuk cuci wajah.
Suara kehebohan terdengar di lantai bawah, Citra teriak-teriak memanggil Altha yang tidak sedikitpun menghiraukannya.
Alin dan Tika langsung berlari ke lantai bawah, Citra tidak ingin makan sebelum Altha turun, dan sarapan bersama.
"Masih pagi sudah rusuh, kamu makan ya langsung makan saja." Alin menatap tajam.
"Aku akan menunggu Altha."
__ADS_1
"Hunny bunny swete, sayang ayo kita sarapan." Alin teriak kuat, Juna langsung menarik baju Alin, membisikkan sesuatu.
Tangan Alin menutup mulutnya, langsung memanggil Ayang. Meminta untuk segera turun dan sarapan.
Dari dalam kamar Altha masih menatap foto Aliya, setetes air matanya menyentuh pipi. Pagi-pagi sudah ribut, membuat dada Altha semakin sesak.
Suara wanita yang dirindukannya tidak terdengar sudah lebih dari dua bulan, Altha kesulitan untuk bertahan lebih lama lagi.
"Sayang, kamu di mana? pulang Al. Aku merindukan kamu." Altha menutup matanya.
Suara Alina berteriak membuat gendang telinga Altha terasa sakit, wanita berisik yang membuat rusuh rumah, ditambah lagi oleh Citra yang selalu meminta perhatian.
Pintu kamar terbuka, Altha langsung melangkah turun melihat Citra dan Alin bertengkar, Juna sampai tidak bisa menelan makanan.
"Papi, ayo sarapan." Tika menarik tangan Altha untuk duduk di tempatnya.
"Alt, akhirnya kita bisa makan satu meja lagi."
Alin langsung menendang kursi roda Citra, memintanya pindah meja, jangan menjadi pengganggu keluarga kecil mereka.
"Perempuan sialan."
"Kalian lanjutan saja, aku langsung pergi bekerja. Juna Tika jika ada sesuatu langsung hubungi Papi." Al melangkah pergi, mengabaikan Al dan Citra yang rebutan ingin menyentuh Altha.
Mobil Altha meninggalkan rumah, seseorang sedang memantau kediamannya dengan tatapan tajam.
***
Keributan di kediaman Altha tidak ada habisnya, Alina berkuasa di lantai atas sedangkan Citra berkuasa di lantai bawah.
Arjuna hanya bisa menghela nafasnya, kasihan melihat Papinya yang tidak terurus, jarang pulang karena sibuk mencari Aliya.
Pintu kamar Alin diketuk, Juna langsung melangkah masuk dan melihat Alina yang sedang sibuk sendiri di komputernya.
"Bagaimana soal pencarian Mami?"
"Juna, Mami kamu baik-baik saja, tapi ada hal buruk yang akan terjadi di rumah kita." Alina tertawa lucu, selama satu Bulan dia menyelidiki soal Citra dan Ayahnya yang selalu bertemu secara diam-diam.
"Siapa dia?"
Alina tersenyum, wanita yang merawat Citra sebenarnya seorang dokter yang memiliki praktek secara ilegal. Dia cukup hebat dan terkenal, juga sangat kejam.
__ADS_1
Kakek Juna sengaja mengirim dia untuk merawat Citra, dan memiliki tujuan jahat dan tidak jauh dari harta.
Selama satu bulaym, Alin mengetahui jika kondisi Citra sudah hampir pulih, bahkan perlahan bisa berjalan.
Juna tidak tahu harus bahagia atau bersedih, bahagia karena Mamanya sembuh, tapi sedih melihat Mamanya masih saja ingin balas dendam.
"Apa yang Mama rencanakan?"
"Mendapatkan Altha kembali, ini obat yang akan membuat keduanya bisa memiliki anak lagi." Alin langsung menyembunyikan obat, karena dia tidak boleh mengotori otak Juna.
Arjuna mengerti semuanya, tapi Maminya sudah mengajari banyak hal sehingga Juna jauh lebih mengerti lebih dari pikiran Alin.
"Katakan saja, aku tahu soal hal seperti ini."
"Tahu dari mana? nanti Mami kamu marah." Alin menolak berbagi dengan Juna.
Alina terbiasa memiliki bawahan, dia tidak bisa diam jika sudah menemukan bukti, sehingga Juna menjadi teman ceritanya soal rencana Citra dan perawatnya.
Dari layar laptop, Juna melihat Mamanya berdiri dari kursi roda, menghubungi seseorang untuk memulai rencana mereka.
Senyuman Alina terlihat, sudah cukup lama dirinya tidak bertarung, sudah saatnya menyingkirkan Citra juga Ayahnya.
"Baiklah, kita mulai perang ini Citra. Kamu akan melihat siapa Alina." Al tersenyum mengusap kepala Juna yang terlihat sedih.
"Apa yang akan kamu lakukan? kenapa tidak menghubungi Papi?"
"Juna, maafkan aku yang harus melakukan dengan caraku. Dunia kejahatan tidak ada hukumnya, siapa yang kuat dia bertahan, siapa yang lemah pastinya hancur." Alin memegang kedua pundak Juna untuk lebih kuat lagi.
Meskipun Citra ibu kandungnya, dia sudah melewati batasan. Mungkin Alin tidak bisa mengatakan apa yang terjadi di masa lalu, tapi ada karma yang harus dibayar.
"Mama tidak melakukan kejahatan, dia hanya menginginkan Papi."
"Kamu salah Juna, sebenarnya Mama kamu sudah melakukan kejahatan." Alin melangkah ke dekat jendela.
Kejahatan Citra yang Aliya tutupin ada di buku diary, demi kebahagiaan Tika dan Juna Al menganggap semuanya tidak terjadi.
"Aku berjanji tidak akan membunuhnya, tapi aku akan membuatnya menghilang dari kehidupan kalian. Juna aku tahu kamu tidak terima, tapi mengertilah ini demi kebaikan kalian." Tatapan Alin tajam.
Arjuna menganggukkan kepalanya, meminta izin untuk memiliki sedikit waktu untuk bersama Mamanya. Membiarkan dirinya dan Tika membujuk untuk terakhir kalinya.
Alina menyetujuinya, langsung menjawab panggilan yang membuatnya sangat terkejut karena bisa mendengar suara Aliya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazara