
Beberapa wanita seksi dan cantik yang ada di kamar Gemal terkejut, langsung merapikan baju. Berdiri rapi di depan Gemal.
Diana langsung melangkah keluar, tidak ingin melihat kemarahan Gemal yang memang paling sensitif jika miliknya disentuh orang lain, apalagi disalahgunakan.
Mendengar kemarahan Gemal, Mam Jes langsung melangkah masuk, teriak kaget melihat kamar Putranya.
Calvin dan Kakek Ken juga masuk, hanya bisa terdiam melihat apa yang ada di depan mata mereka.
Gemal menarik tangan, langsung melempar lima wanita keluar. Diana merinding, melihat lemparan kasar Gemal.
"Gemal, jangan memukul wanita." Calvin langsung menahan putranya.
"Ampuni kami tuan."
"Ampun, sadar apa yang sudah kalian lakukan? kalian membayangkan aku, dan berlima bercengkrama di dalam kamar saling memuaskan. Najis! melihat wanita rendah seperti kalian." Suara Gemal tinggi, tidak segan-segan menghina dan mengeluarkan ucapan kasar.
"Bersihkan kamar Gemal." Mam Jes memerintah pelayan lain.
"Tidak perlu, aku tidak akan menyentuh kamar kotor yang penuh cairan menjijikan." Gemal meludah, kakinya menendang meja kecil menjatuhkan vas bunga.
Mam Jes langsung mengusap punggung putranya, marah boleh namun jangan membuat takut orang lain. Satu yang salah, jangan melibatkan orang-orang yang tidak bersalah.
"Nak, lima orang yang melakukan kesalahan, tapi ada ratusan yang terkena imbasnya." Mam Jes meneteskan air matanya.
Manusia makhluk yang selalu khilaf, dan lupa tujuan awalnya setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Kalian berlima saya pecat, dan silahkan tinggalkan tempat ini. Renungkan apa yang kalian lakukan, dan jangan pernah berharap bisa melangkahkan kaki di sini." Mam Jes menatap penjaga, mengeluarkan lima orang yang terlibat.
Melihat apa yang terjadi keamanan kamar Tuan muda diperketat, terutama Arjuna dan Hendrik yang akan tinggal menetap.
Tidak ada yang diizinkan masuk, siapapun yang ketahuan mendekati kamar akan langsung dikeluarkan dari kediaman Leondra.
"Gemal, kamu ingin pindah kamar di mana?"
"Aku tidur di hotel saja." Gemal masih menatap sinis semua orang.
Tatapan Kakek Ken melihat Diana yang menahan tawa, tingkah laku suaminya jika sudah kesal sulit sekali dikembalikan senyumannya.
"Maafkan kami yang lancang Tuan muda, kami sibuk di dapur untuk menyambut, tidak menyadari ada beberapa oknum yang keluar jalur." Pemimpin asisten rumah tangga berlutut dihadapan Gemal.
"Bersihkan kamar baru, karena ada istriku yang harus istirahat." Suara Gemal terdengar lebih pelan.
Senyuman Diana terlihat, baru berani mendekat setelah melihat Gemal mulai reda amarahnya.
__ADS_1
Kamar Gemal dipindahkan, seluruh maid juga Jessi kumpulan agar tidak ada yang melanggar peraturan, terutama mendekati tiga tuan muda.
"Apa yang mereka khayalan bisa menyentuh tubuh seorang Gemal?" Diana menyentuh dada menggoda suaminya.
Gemal langsung menahan tangan istrinya, menarik Diana sampai terjatuh di atas tubuhnya.
"Memalukan, membayangkannya saja membuat kesal." Gemal mengeratkan pelukannya.
"Mungkin kamu terlalu tebar pesona, memberikan harapan kepada mereka." Di menatap tajam.
Kening Gemal berkerut, ada masalah yang sebenarnya belum sempat mereka bahas dan selesaikan.
Seseorang mengetuk pintu kamar, Gemal mempersilahkan masuk. Tersenyum melihat seorang pria yang masih muda menundukkan kepalanya kepada Gemal dan Diana.
"Siapa dia Ayang?" Di memeluk lengan Gemal.
"Genta Pati Leondra, orang kepercayaan Papa. Dia salah satu pengawal rahasia yang terlatih." Gemal memperkenalkan Diana kepada Genta.
Kepala Genta masih tertunduk, memberi hormat kepada Diana, dan berjanji akan mengabdi.
"Kamu yang mengambil kartu digital milik Tika?" Di menutup mulutnya, melihat pria muda dan tampan dihadapannya.
"Maafkan aku Nona muda, dia terlalu lancang." Genta masih tertunduk.
"Aku akan mengakui kehebatan kamu, jika selama lima tahun, Tika tidak berhasil menemukan keberadaan kamu." Di tertawa kuat, diikuti oleh Gemal.
Kepala Genta terangkat, mengerutkan keningnya melihat Gemal dan Diana mentertawakan.
Suara panggilan ponsel Genta terdengar, tangan Diana terulur meminta Genta menyerahkan ponselnya.
Panggilan langsung dijawab, Diana menutup mulutnya mendengar suara Tika mencaci maki Genta.
Tatapan Genta dan Gemal sama kagetnya, karena hitungan hari, Tika berhasil menemukan nomor ponsel, jika sampai Tika menemukan Genta, dia pastikan akan membunuh Genta.
Diana mematikan panggilan, Gemal meminta Genta menghilangkan kontaknya agar Tika mengira, jika Genta ada di negara yang berbeda.
"Apa hidupku dalam bahaya?" kepala Genta geleng-geleng.
Anak remaja seumuran Tika, bisa menemukan nomor ponselnya. Diana meminta Genta berhati-hati, Tika wanita psikopat yang meneruskan tahta Aliya Natusha.
Genta menyerahkan laporan soal wanita yang menyerang Diana saat berada di kamar rias pengantin, Gemal langsung memperhatikan kondisi pelaku.
"Siapa yang menyerang mereka?"
__ADS_1
"Anak remaja pemilik kunci." Genta menunjukkan rekaman CCTV.
Diana dan Gemal terdiam melihat Tika yang memiliki keahlian bela diri, suara tawa Gemal terdengar. Tika bahkan bertengkar dengan Genta.
"Kamu masuk ke dalam daftar hitam Atika." Tangan Gemal menunjuk Genta yang menutup tangannya bekas cakaran.
Genta menjelaskan kondisi pelaku, tidak ada yang tahu soal penyerangan kecuali, Gemal, Diana, Tika dan Genta.
Kemungkinan ada yang tahu, tapi yang lain memilih diam, karena tidak menyebabkan keributan besar.
Melihat cara bicara Genta, Diana cukup kagum. Usia Genta masih muda, tapi sangat cerdas dan cara menutupi kasus sangat rapi.
"Berapa usia kamu Genta? punya pacar?" Di sangat penasaran, karena wajah Genta sangat tampan.
Gemal menakup wajah istrinya, melarangnya menatap Genta terlalu lama. Gemal tidak ingin, jika istrinya direbut pengawalnya.
"Genta, jangan coba-coba menatap istriku. Kita harus mencoba beradu tarung, agar aku tidak khawatir." Gemal menatap sinis, meminta Genta menundukkan kepalanya.
"Aku rasa Genta lebih kuat dari kamu?" Di mengusap wajah suaminya.
"Sayang, haruskah sekarang. Aku juga lebih tampan dari Genta."
"Genta jauh lebih tampan, kamu sudah tua Gemal. Aku menyukai brondong." Diana memeluk Gemal yang sudah mengamuk.
Lemparan bantal melayang, Genta mencoba menghindar. Diana hanya tertawa memeluk suaminya yang ingin membunuh Genta.
"Tuan, sebaiknya saya permisi."
"Jangan lupa tutup pintu, Genta tampan." Di berteriak mendengar pintu ditutup kuat.
Suara pertarungan Diana dan Gemal terdengar, Genta yang berdiri di depan pintu hanya geleng-geleng kepala.
Kepala Genta tertunduk melihat Arjuna, berharap dirinya mengawal Juna bukan Gemal. Karena melihat tingkah Gemal yang mirip kuda liar, membuatnya lelah.
Suara teriakan di dalam kamar masih terdengar, Genta dan Arjuna saling pandang. Kamar hampir hancur saat Diana dan Gemal bertarung.
"Ada apa?" Mam Jes menatap kamar.
"Biarkan saja, Gemal bertemu Diana. Keduanya api dan air sulit bersatu, dasar dua orang dewasa yang tingkahnya kekanakan." Calvin meminta Genta menemuinya di ruangan pribadi.
Mam Jes hanya tersenyum, berharap cucu kaan segera hadir meskipun ada api dan air.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira