
Suara Altha teriak-teriak memanggil Aliya terdengar, seluruh mata menatap Papi mereka yang aneh.
Anak-anak sedang makan bersama Aliya, mereka menikmati waktu sore dengan bersantai menikmati makanan ringan.
"Papi kenapa teriak?" Tika mengipasi mulutnya yang panas, karena memakan gorengan.
"Kamu ikut aku, anak-anak lanjutkan makannya." Alt menatap Aliya yang masih sibuk meniup makanannya.
"Nanti, jika aku pergi sekarang makanan bisa habis." Aliya menatap Tika yang tidak berhenti makan.
"Atika, makanan jangan dihabiskan." Altha menarik tangan Aliya untuk mengikutinya.
Bibir Al monyong, langsung berjalan di belakang dan duduk di sofa kamar melihat Altha yang menggelengkan kepalanya.
Alt duduk di depan Aliya melihat wajah istrinya yang sungguh keterlaluan, Altha tidak tahu harus menyalahkan Aliya atau ini kesalahan dirinya sendiri.
"Kamu balas dendam memisahkan aku dan Citra?" Alt tertawa melihat Aliya menganggukkan kepalanya.
Tubuh Altha terduduk lemas, Aliya balas dendam hanya karena hal sepele. Dia tidak mendapatkan perhatian dari Altha, dan tidak memiliki kesempatan untuk mendekatinya.
Kehadiran Citra yang sudah mirip kembaran Altha, selalu bersama dalam hal apapun membuat Aliya hanya bisa melihat dari kejauhan.
Kemarahan Aliya menuju puncaknya, saat Citra menghampiri Al dan mengancamnya untuk mengirim ke penjara jika Al terus mengikuti Altha.
Bahkan surat yang Aliya kirimkan dibakar, disobek. Tatapan kesedihan Aliya tidak membuat Citra iba bahkan menganggap dirinya pengemis dan penipu.
"Apa yang terjadi pada kalian bukan kesalahan aku, tapi tidak bisa aku pungkiri jika Aliya yang paling bahagia melihat kehancuran kalian. Aku sudah membayar sumpah untuk memisahkan." Senyuman Al terlihat, mengagumi dirinya sendiri yang menang.
"Apa alasan kamu menyelamatkan Hariz?"
"Secara tidak langsung dia yang memisahkan kalian, aku membalas kebaikan dia yang berhasil membalaskan dendam aku." Mulut Aliya penuh makanan, tidak perduli dengan kemarahan Altha.
"Masalah kita hal sepele Aliya, tidak sebanding dengan kesalahan Hariz." Suara Altha meninggi, membentak Aliya yang pikirannya sangat pendek.
Pukulan di atas meja kuat, Aliya menatap tajam tidak habis pikir dengan ucapan Altha yang sepele.
"Sepele untuk kamu, tapi menghancurkan untuk aku." Al menatap sinis.
__ADS_1
"Kenapa aku harus membayar penderitaan kamu? apa yang terjadi dalam hidup kamu tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Tidak ada Aliya!" Teriak Altha terdengar, menghamburkan foto-foto sampai berserakan.
Wajah Aliya tertunduk, Altha benar dia tidak ada sangkut pautnya. Dulu Aliya masih kecil dia membutuhkan sandaran untuk bertahan hidup, melihat anak laki-laki yang datang menggenggam tangannya, Al berharap dialah sandaran.
Al terus menunggu berharap bisa melihat lagi, tidak perduli hujan ataupun panas Al menunggu Altha di tempat kejadian kecelakaan.
Satu tahun Aliya lewati penuh harapan, dan menemukan Altha melewati tempat kejadian dan menatapnya.
Hari yang sama saat Al melihat ayahnya selingkuh, sungguh Al binggung dengan apa yang dia lihat lalu berlari pulang mengatakan kepada ibunya.
Pertengkaran terjadi, Aliya mendapatkan pukulan sampai jatuh pingsan. Dirinya disebut malapetaka bagi siapapun yang menghidupinya.
Sejak kejadian itu, Ayahnya selalu pulang mabuk, dan memukul Aliya dan ibunya. Terus terulang bertahun-tahun.
Al tidak tahu harus meminta bantuan siapa, dia terus menangis mencari Altha agar meyelamatkan dirinya.
Harapan yang Aliya simpan bertahun-tahun, mengejar Altha juga bertahun-tahun agar sekali saja dia menatap seperti saat kecelakaan.
Kehadiran Citra menghancurkan hati Aliya yang sudah hancur, dia meminta Al berhenti mengikuti Altha dan mencaci makinya.
"Aku belajar dengan giat sampai menjadi anak terpintar agar keadaan membaik, tapi aku salah Altha hari kelulusan ibu bunuh diri. Aku berlari kencang mencari kamu dan Citra mendorong aku kuat mengatakan anak sialan, benalu. Aku hanya meminta tolong selamatkan ibuku, tapi kalian menutup mata dan telinga." Aliya tertawa sangat kuat, melihat dirinya yang bodoh.
"Lelaki sialan, istrinya meninggal dia bukan menangis tetapi berhubungan dengan wanita lain di dalam rumah yang masih ada mayat istrinya." Al mengigit bibirnya sangat kuat, dadanya terasa sakit jika mengingat kejadian saat itu.
Altha mengangkat kepala Al, ada darah menetes karena bibirnya terluka.
"Aku dipukul, ditenggelamkan, dicekik." Aliya membuka bajunya, memperlihatkan kepada Altha bekas luka yang tidak akan pernah sembuh.
Altha hanya bisa terdiam, dia tidak tahu sebesar apa sakit Aliya sehingga dia yang dihukum untuk bertanggung jawab terhadap semua yang terjadi.
"Kamu ingin tahu apa penyebab semua ini terjadi? karena harta Altha. Orang-orang miskin yang secara dadakan kaya sehingga lupa daratan. Aku akan membunuh mereka, pasti akan aku lakukan jika mereka muncul kembali."
"Jangan salahkan orang lain Aliya, jalan yang kamu pilih keputusan yang salah."
Aliya tersenyum, dia tidak peduli jalannya benar ataupun salah. Al tidak ingin menjadi orang baik, dia tidak ingin mengantungkan kepercayaan kepada orang lain, terutama manusia.
Semua orang akan berubah karena kekuasaan, dan tidak akan bisa mengurangi beban besar. Apa yang Aliya lakukan baginya sudah paling tepat, karena dia bisa sekuat sekarang.
__ADS_1
"Aku tidak bisa memaafkan kamu Aliya."
"Aku tidak membutuhkannya Altha, kamu tahu semuanya sudah terlambat." Al langsung berdiri ingin melangkah pergi.
"Siapa yang membunuh keluarga kamu? tidak ada barang yang hilang, juga tidak ada orang lain selain kalian." Tatapan Altha tajam.
"Aku, aku membunuh mereka semua bahkan saudaraku." Aliya duduk kembali dihadapkan Altha.
Kecurigaan Citra benar jika dirinya psikopat kecil, Aliya tahu jika dirinya gila dan mengalami depresi berat sehingga apapun yang terjadi di tanggapi serius.
"Kenapa kamu melakukannya?"
"Mereka semua jahat, menakutkan." Mata Aliya terpejam, sungguh tidak kuat untuk mengingat kejadian menakutkan baginya.
Altha menghela nafasnya, dia kehabisan cara untuk menerima perbuatan Aliya. Meskipun dirinya tersakiti tidak perlu meloloskan Hariz hanya karena dendam.
"Sekarang dendam kamu sudah tuntas, kami sudah bercerai."
Aliya tertawa, Altha benar mereka sudah bercerai, tapi satu hal yang belum terselesaikan dan menjadi akhir hubungan mereka.
"Apa lagi yang kamu inginkan?"
"Membalas budi." Al tersenyum manis mengusap wajah suaminya.
Altha menggenggam tangan Aliya, menarik kembali keinginannya yang meminta Aliya membalas budi.
"Aku punya satu permintaan Aliya." Alt menatap sangat serius.
Aliya menganggukkan kepalanya, mendengarkan ucapan Altha yang kecewa kepada dirinya. Altha berharap Aliya pergi dari hidupnya dan anak-anak secara diam-diam, menghilang selamanya.
"Seharusnya aku tidak menggenggam tangan kamu saat kecelakaan, seharusnya aku pergi saja seperti yang Citra katakan. Seharusnya kita tidak bertemu kamu Aliya." Alt melepaskan tangan meminta Al keluar.
"Kamu tidak punya kesempatan untuk kembali kepada Citra, aku sudah membuat Roby dan Citra untuk bersatu dan menjadi penentu masa depan Mora." Al tersenyum langsung berjalan pergi.
"Aku tahu, karena itu aku tidak bisa memaafkan kamu. Memisahkan aku dengan anakku."
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara