ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MAKAN MALAM KELUARGA


__ADS_3

Kue cantik ada di tengah meja, keluarga satu-persatu mulai kumpul. Berkeliling menikmati meja untuk menikmati makan malam.


Sebelum makan Altha memimpin doa untuk putrinya di usia yang bertambah dewasa, meminta anaknya menjadi orang yang berguna, bermanfaat, juga memiliki akhlak yang baik, menjadi anak yang taat.


Doa baik juga untuk Shin yang bertambah usia, Alt dan keluarga berharap Shin menjadi pribadi yang lebih anggun, bisa menggapai mimpinya, dan semakin baik hatinya.


Kepala Shin mengangguk, mengangkat tangannya. Shin mengungkapkan jika dirinya tidak mempunyai mimpi, cita-cita. Dia hanya hidup hari ini, karena mungkin besok mati.


Diana menutup mulut Shin agar berhenti bicara omong kosong, jika mendengar doa seharusnya diaminkan, bukan dikomplain.


"Baiklah waktunya kita makan." Ria langsung mengunyah makanannya.


Sesaat hening, karena sibuk dengan makanan masing-masing. Shin tersenyum melihat semua orang memuji masakannya.


"Shin, mulai besok kamu harus membawa bekal untuk Tika juga."


"Siap bos, nanti Shin bawakan."


Suara tangisan Ria terdengar, dia sudah merangkak di meja besar, mengambil ayam goreng rebutan dengan Juan. Terpaksa Juan mengalah, karena suara besar Tika menggema.


Shin memberikan ayam untuk Juan, meminta lanjut makan. Aliya hanya tersenyum melihat semua orang lahap makan.


"Kapan kamu berencana membuat restoran Shin?" Calvin siap menjadi investor untuk Shin jika ingin membuka bisnis.


"Tidak tahu Uncel, mungkin setelah uang Shin habis."


"Jangan menunggu habis dulu baru mencari, seharusnya sebelumnya." Dimas geleng-geleng kepala.


"Untuk apa kita sekolah, bekerja padahal sudah kaya tujuh turunan? Ria mengoceh sambil mulutnya penuh.


Tidak ada yang menimpali Ria, karena tidak akan ada habisnya jika harus berdebat. Ria akan selalu menang.


"Alhamdulillah kenyang." Gemal mengusap perutnya.


"Alhamdulillah, semua makanan bersih." Nenek tersenyum melihat Shin yang mirip seseorang.


Suara dentuman air terdengar, Ria lompat ke dalam kolam berenang langsung menyelam dan muncul lagi.


Altha mengusap dadanya, hanya bisa geleng-geleng melihat putri nakalnya yang sudah makan langsung berenang, padahal sudah malam.


"Ya Allah, berikan aku kesabaran lebih." Al memijit pelipisnya, tidak ada gunanya marah, Atika sudah kebal.


Meksipun Aliya marah, tidak akan menghentikan kenakalan Ria. Hari ini meminta maaf, besok diulangi lagi.. Begitu selama bertahun-tahun.

__ADS_1


"Mami Ria mandi ya?"


"Terserah." Al memalingkan wajahnya.


Suara tawa terdengar, hanya mempunyai satu Ria saja sudah membuat kejang-kejang, apalagi ada tiga bisa mati berdiri Aliya.


"Dulu waktu Ria dan Tika masih kecil aku stres, karena dua-duanya nakal sekali. Bersyukurnya ada Arjuna." Al geleng-geleng, sekarang Tika sudah besar, setidaknya sedikit berkurang.


"Ada satu lagi penerus?" Dika menyindir Isel, menjadi wanita satu-satunya menjadikan dirinya ratu diantara semua pria.


Diana dan Gemal harus mengumpulkan kesabaran berlipat-lipat ganda, karena menjaga putri mahkota.


"Benar sekali, wanita satu-satunya yang dikelilingi banyak laki-laki. Siapa yang berani menyentuhnya? cucu Dirgantara dan Leondra." Aliya mengucapkan selamat kepada Diana karena akan merana menjaganya.


Helen mengusap punggung Diana, meksipun Isel cucu utama, Diana juga putri utama dan menantu satu-satunya.


Senyuman Diana terlihat, membenarkan ucapan Helen. Selama Gemal membela, Isel tetap kalah.


"Kak Gem harus bela Diana, tidak boleh selalu membela Isel. " Tatapan Diana tajam, mengancam suaminya.


Senyuman Gemal terlihat, anak masih kecil saja dicemburui. Membesarkan ketiganya saja masih membutuhkan waktu panjang.


Ria naik ke atas, memeluk Papinya karena kedinginan. Ria langsung membuka bajunya, menatap Papinya yang melotot.


"Ria belum punya Nen seperti kak Tika, lihat punya Ria masih tenggelam." pukulan kuat di punggung Ria terdengar, tangisannya langsung pecah, berlari ke dalam rumah.


Aliya memukul Putrinya yang tidak sopan, jika tidak dimarah tidak berhenti membuat masalah.


"Jangan main tangan, dia anak perempuan."


"Ria sudah besar, jika tidak begitu masih mengoceh di sini." Al duduk kembali ke kursinya.


Altha menghela nafasnya, Ria juga selalu memancing kesabaran. Keluarga yang lain hanya tertawa melihat tingkah Ria yang konyol.


"Boleh di makan tidak kue ini? Dean mau."


"Boleh, anakku." Al langsung memotong kue, membagikan kepada semua orang.


"Kue Ria jangan dihabiskan." Dari lantai atas Ria hanya menggunakan ****** *****.


"Aku pecahkan kepala kamu Ria, satu, dua, ti ...." Al menggelengkan kepalanya.


Suara tawa kembali terdengar, Ria memang tidak ada tandingan. Jika dulu Tika hiburan Diana, sekarang Ria,. sebentar lagi ada Isel.

__ADS_1


Pujian untuk kue Shin belum habis, dia memiliki ciri khas rasa yang tidak membosankan. Habis banyak juga tidak akan puas.


Suara langkah kaki Ria terdengar, langsung duduk. Rambutnya belum di sisir, langsung memakan kue.


Alt menegur Ria yang mandi air kotor berwarna merah setelah berhari-hari belum di ganti, selesai mandi tidak dibilas lagi langsung menggunakan baju.


Mendengar Papinya menegur dengan tatapan dingin, membuat Ria melepaskan kuenya. Berlari lagi kembali ke kamarnya untuk mandi ulang sebelum Papanya semakin marah.


"Ada tempat takut dia Alt?" Calvin tersenyum melihat Tika lari kencang.


"Memang takutnya hanya sama Papi dan Kakaknya Juna. Jika Juna Ria wajib izin dulu baru boleh melakukan apapun." Al juga heran anak-anaknya tidak ada yang takut dengan dirinya.


Padahal Al yang selalu marah, memukul, tapi tetap saja berani melawan.


"Normal itu Al, kita yang terbiasa marah tidak ditakuti, tapi yang jarang bicara bagi mereka menakutkan." Salsa menatap Diana yang hanya menganggukkan kepalanya.


Senyuman Shin terlihat, masih beruntung ada yang menegur jika melakukan kesalahan, tidak seperti dirinya. Apapun yang dilakukan, tidak ada yang marah apalagi memuji.


Hidupnya sepi, setiap hari mengulangi aktivitas yang sama. Berharap ada saja yang memarahinya atau menegurnya, bisa juga menasihati.


"Shin, jangan bandingkan hidup kita dengan orang lain, terkadang bahagia orang berbeda. Semua orang yang ada di sini memiliki masa lalu yang sama sulitnya, kita sama berjuang. Kenapa kita sekarang bahagia? karena kita tidak mendapatkan di masa lalu." Dimas menyemangati Shin, jika badai akan berlalu.


Meksipun banyak orang yang mengatakan jika setelah badai akan ada pelangi, tapi kenyataannya yang datang bukan pelangi, namun badai yang lebih besar lagi.


Mam Jes memeluk Shin, dirinya suka melihat Shin yang kuat, mandiri. Percaya jika suatu hari Shin akan menemukan bahagianya.


"Semangat Shin." Tika langsung berdiri, terpeleset dan jatuh ke kolam.


Air bekas Ria membuat jalanan licin, tidak ada yang berani mentertawakan Tika, karena dia pasti marah.


"Ayo naik Tika." Shin mengulurkan tangannya.


Tika bukan naik, tapi menarik tangan Shin sampai jatuh ke kolam. Tawa Tika terdengar, memeluk Shin yang marah-marah.


"Kak Tika mandi, Ria juga mau. Suara Ria lompat terdengar, Altha sudah berteriak, tetapi percuma saja, Ria sudah basah lagi.


***


follow Ig Vhiaazaira


***


Sebentar lagi TAMAT

__ADS_1


__ADS_2