ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SAINGAN


__ADS_3

Suara gelas kaca jatuh terdengar, Anggun kaget melihat Jessi datang ke rumah Altha bersama suaminya dan anak-anak.


Aliya juga sama kagetnya, anak-anak terlihat tidak terkejut sama sekali dengan kedatangan Jessi.


"Kak Jes, astaga ... kapan datangnya?" Anggun langsung memeluk dan kebingungan.


"Sudah beberapa hari, kami baru pindah ke rumah sebelah. Anak-anak juga sering bermain ke rumah." Jessi tersenyum memeluk Aliya, menyapa Altha.


Suara salam terdengar, Dimas baru selesai mandi. Dan langsung kaget melihat Calvin duduk bersama Altha sambil bercerita.


"Kenapa ada di sini?" Dimas langsung duduk bersama.


Tatapan Dimas tajam melihat Altha, Gemal tidak berhenti dari pekerjaannya. Hanya cuti sebulan, dan Dimas tidak mengetahuinya.


Alt tersenyum melihat kekesalan Dimas, mereka sengaja menyembunyikan keputusan Gemal yang ingin identitasnya sebagai Gemal anak orang kaya tidak diketahui banyak orang.


Dia bahagia sebagai Gemal yang biasa, tidak memiliki apapun. Dan Altha mendukung keputusan Gemal.


"Dia masih bekerja?" Dimas tersenyum ikut senang, karena bocah pembuat masalah dan pecicilan tidak meninggalkan tugasnya.


Altha menganggukkan kepalanya, keputusan Gemal didukung oleh Calvin. Apapun yang membuat Gemal bahagia pasti dituruti, sekalipun harus meninggalkan segalanya.


"Kenapa pak Calvin juga di sini?"


"Aku akan ikut ke manapun Gemal." Jawaban singkat yang membuat Dimas kesal.


Alt hanya tertawa melihat dua orang yang sama-sama dingin, tegas dipertemukan pasti akan ada adu keheningan.


"Papi, Ria cantik tidak?" Senyum Ria terlihat menunjukkan gaunnya.


Belum sempat Altha menjawab, Tika sudah muncul dan menjambak rambut Ria mengambil kuncir rambutnya yang di ambil tanpa izin.


Suara tangisan menggema langsung terdengar, Altha garuk-garuk kepala melihat dua putrinya yang sudah main kejar-kejaran.


"Ini punya Tika."


"Pinjam, Ria hanya baru memakai lima menit. Rambut Ria mirip singa." Tangisan Ria terdengar, mengejar kakaknya memaksa untuk memakainya.


Aliya yang melihatnya langsung berteriak, pengasuh Ria membawa banyak kuncir rambut dan Ria menginginkan milik kakaknya.


"Kamu ingin memilih sekarang, atau Mami bakar kuncir rambut kamu."


"Mami selalu membela kak Tika, tidak sayang sama Ria."


"Oh ... aku yang melahirkan, mengandung dan menyusui, mengeraskan kepala kamu masih dikatakan tidak sayang. Kamu tidak boleh mengambil milik kakak kamu." Al selalu mengajari anak-anak untuk bisa menjaga milik masing-masing dan tidak boleh mengambil milik saudaranya.


"Mengandung dulu baru melahirkan, Mami nakal." Ria bersembunyi di belakang Tika melihat mata Maminya hampir keluar.

__ADS_1


Arjuna langsung merapikan rambut adiknya, menguncir ulang menadahkan tangannya kepada Tika yang terpaksa menyerahkan kepada kakaknya.


Juna menggendong Ria membiarkan Maminya pergi, tangan Juna mengusap kepala Tika.


"Sesama saudara harus saling berbagi, satunya tidak boleh egois menguasai yang bukan hak milik, dan yang satunya lagi tidak boleh pelit terhadap saudara. Kepada orang lain juga kita harus berbagi apalagi keluarga." Juna meminta kedua adik perempuannya mengerti.


Juna meminta Ria meminta maaf kepada Tika, dan izin untuk meminjam milik kakaknya, berjanji akan menjaga dan mengembalikan.


"Maafkan Ria kak Tika, Ria pinjam ya. Nanti Ria kembalikan, jika tidak hilang." Senyuman cengengesan terlihat dari wajah Ria yang manja kepada kakaknya.


Atika menganggukkan kepalanya, memaafkan adiknya yang kebiasaan mengambil miliknya.


Calvin bertepuk tangan pelan, Juna memang sempurna. Dia bisa adil untuk kedua adik perempuannya dan mengajarkan kerukunan.


"Anak laki-laki kamu hebat Alt."


"Dia sudah dewasa sejak usia delapan tahun, dan Aliya mendidik dia bukan sebagai anak, tapi teman mengajarkan banyak hal."


Alasan Aliya mengajari Juna untuk mengendalikan adiknya karena dirinya tidak ingin merusak hubungan dengan anak tirinya.


Jika Al membela Ria, sudah pasti Tika merasa tidak disayang, dan Ria akan berbuat semena-mena.


Altha juga tidak bisa melakukannya, keduanya darah daging Alt. Rasa sayang dan cinta tidak bisa Altha bandingkan sehingga tidak bisa memarahi keduanya.


"Bagaimanapun didikan Aliya, cara terbaik agar bisa mengendalikan Juna." Dimas tahu jika Juna lebih mendengarkan Maminya daripada siapapun, termasuk Papinya.


"Gemal juga anak yang baik Calvin, dia memiliki hati yang sangat tulus." Alt tersenyum menepuk pundak.


"Alt, apa Aliya dan Alina memiliki hubungan baik?"


Dimas dan Altha saling tatap, langsung menggelengkan kepalanya. Al dan Alin musuh bebuyutan pada masanya.


Kening Calvin berkerut, Al yang memiliki trauma masa lalu, tapi Alin yang tersiksa lahir dan batinnya.


"Alina sudah meninggal, membawa semua kenangan buruknya. Meksipun dia jahat, ada kebaikan yang tersembunyi." Alt menatap istrinya yang tertawa mengatur tempat kue.


"Kebaikan yang tersembunyi lahir atas nama Diana, dia lahir kembali dengan wajah yang sama karakter yang berbeda. Aku akan mempertaruhkan nyawaku bagi siapapun yang menghidupkan sosok Alina, karena aku yang mendidik dan mencintai dia." Dimas mengerutkan keningnya, menatap tajam Calvin.


Senyuman Calvin terlihat, dirinya sudah melihat sosok Alina yang akan muncul jika ada yang menyakiti keluarganya.


"Di mana Diana?" Anggun menatap Dika yang baru datang bersama Salsa.


"Mana Dika tahu kak,"


"Uncel, mana kado Dean?"


"Dean, cium tangan dulu. Tanya kabar Uncle, baru tanya hadiah." Dika langsung mengangkat tinggi keponakannya yang sudah bertambah besar.

__ADS_1


"Turunkan, Dean bosan melihat wajah Uncle. Mana hadiahnya Aunty?"


Salsa memberikan sebuah bungkusan, suara Juan dan Ria berlari juga terdengar meminta kado untuk mereka.


"Tika, kado untuk kamu sayang."


"Terima kasih Aunty," Senyuman Tika terlihat memeluk hadiahnya.


"Kak Tika juga dapat kado, nanti kalau kak Tika ulang tahun Ria juga harus dapat kado." Tatapan Ria menggemaskan.


Salsa menganggukkan kepalanya, tersenyum bahagia menatap anak-anak yang dulu Salsa bantu kelahirannya sudah berusia enam tahun.


Calvin berjabatan tangan dengan Dika, memperkenalkan dirinya. Calvin sudah tahu jika Dika adiknya Dimas, karena sudah menyelidiki identitasnya.


Salsa menemui Aliya, tersenyum melihat Jess. Langsung memperkenalkan dirinya, dan menyapa Helen yang perutnya sudah kelihatan.


"Sebentar lagi ada dedek bayi." Salsa mengusap perut.


"Semoga kamu juga segera berisi." Helen mengusap perut Salsa.


Suara mengaminkan terdengar serempak, Jessi merasakan memiliki banyak keluarga.


"Di mana Yandi Len?"


"Pekerjaan dia nomor satu, istri nomor tiga."


"Siapa nomor duanya?" Jessi menatap binggung.


"Anakku." Aliya, Anggun dan Helen menjawab serempak.


Suara tawa terdengar, Salsa celingak-celinguk mencari keberadaan Diana yang tidak terlihat batang hidungnya.


"Jangan mencari Diana, dia masih kelayapan." Al menggelengkan kepalanya menjadikan Diana tamu terakhir.


"Kak Anggun, di rumah sakit ada seorang dokter yang mengejar Diana."


"Namanya Dokter Alber, Diana sudah menangis memanggil Gemal. Aku meminta dia menikahi Alber, karena salah sendiri melepaskan Gemal."


"Diana menantunya keluarga Leondra." Mam Jes tidak setuju Di bersama pria lain.


Anggun tersenyum, dia hanya bercanda ingin menjodohkan Diana. Anggun sendiri tidak mengenal keluarga Alber, dan Dimas tidak akan mudah memberikan restu.


"Tunggu ... Diana menghubungi aku meminta bantuan mencari seseorang untuk mengambil mobilnya, dan terdengar suara pria memanggil sayang." Salsa berani bersumpah jika dia tidak bohong.


"Gemal di mana sekarang?" Al menatap kaget.


"Belum kembali, berarti sekarang Gemal mempunyai saingan." Mam Jess terlihat sedih.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2