ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
VAMPIR


__ADS_3

Penggeledahan di lokasi lab yang terletak di apartemen elit terbongkar, pelaku berhasil melarikan diri meninggalkan bukti obat-obatan berbahaya.


Bahkan obat beracun yang sangat berbahaya juga di ditemukan, dan senjata ilegal juga penuh disembunyikan.


"Ini luar biasa, Gracia dan Hendrik sudah membangun tempat ini sekitar sepuluh tahunan. Gemal bisa menemukannya." Dimas menggelengkan kepalanya, melihat ke langit-langit apartemen.


Altha juga melihat ke sana, ada banyak foto Diana saat masih menjadi Alina, Dimas langsung membongkarnya dan menemukan sebuah buku.


Kepala Altha menggeleng, ada rahasia lokasi-lokasi tempat yang dipergunakan untuk memanipulasi kepolisian.


"Astaghfirullah Al azim, jahat sekali mereka menggunakan nama Alina untuk melakukan kejahatan." Dimas mencengkram kuat buku.


"Tidak heran, lokasi tanah bekas rumah pembantaian di jauhi banyak orang." Alt menghela nafasnya meminta tim baru untuk mengeledah ke sana.


Di tempat pengumpulan barang bukti, beberapa obat berbahaya langsung dilenyapkan karena tidak ingin ada yang mencuri kembali.


Altha memerintah anggotanya untuk mengejar Gracia dan Hendrik yang sudah ditetapkan sebagai buronan.


"Kita bisa menangkap mereka dengan mudah, tapi itu bukan harapan Gemal. Dia pasti menginginkan sesuatu dari Hendrik." Tatapan Dimas tajam melihat ke arah beberapa senjata yang digunakan untuk melakukan kejahatan.


Dimas menerima panggilan jika Diana sudah sadar, langsung bergegas ke rumah sakit karena sejak keluar dari ruangan perawatan Dimas belum melihat kondisi Diana.


Di rumah sakit sudah heboh, Diana memaksa diri untuk bangun, karena dia ingin melihat kondisi Gemal. Suntikan yang mengenai Gemal sama persis dengan racun yang pernah Diana buat.


Dalam beberapa jam bisa merusak organ dalam tubuh, dan akhirnya akan meninggal. Virus juga menyebar ke bagian saraf.


"Diana, Gemal belum bisa ditemui."


"Aku dokter Mommy, aku harus melihat ke kondisi dia." Di menggenggam tangan Mommynya.


"Kamu sekarang pasien, lihat kondisi kamu." Anggun meneteskan air matanya, karena pertama kalinya melihat Diana sangat lemah.


Diana langsung terbaring, meneteskan air matanya yang tidak berdaya. Diana yang dulunya kuat sekarang sangat lemah.


Aliya menenangkan Diana yang menyalahkan dirinya, Di tidak mengenali lagi kemampuannya sehingga melakukan kesalahan dan mencelakai orang lain.


"Kak Di, percayalah Gemal baik-baik saja, sejauh ini kondisinya baik."


"Jika dia meninggal, aku yang membunuhnya."


Diana memejamkan matanya, tidak ingin menangis di depan adiknya yang baru pulang sekolah.

__ADS_1


Suara Ria berbicara terdengar, mengkhawatirkan kondisi Diana yang terjun dari gedung.


Tika juga menggenggam tangan Diana, dia sangat mengkhawatirkan kondisi Di yang pertama kalinya terbaring di rumah sakit.


"Tika bangga sama kak Di yang selalu ada di rumah sakit, tapi sebagai dokter bukan pasien." Air mata Tika menetes, Diana selalu bangga kepada dirinya sendiri jika operasinya lancar, tapi terkadang sedih jika gagal.


"Kak Di harus sehat lagi, nanti pasien kak Di menangis karena rindu." Ria mencium tangan Diana pelan.


Mata Diana terbuka, mengusap kepala Ria yang memaksa ingin memeluknya. Tika juga mencium pipi Kakaknya yang terlihat sedih.


"Kak Di ingin menangis? jangan ditahan kak. Nanti semakin sakit." Tika menghapus air mata Diana yang mengalir.


Pintu ruangan Diana terbuka, Juna menatap Maminya sambil ngos-ngosan. Juna langsung mengambil air minum dan duduk di samping Juan dan Dean yang sedang makan.


Diana berusaha untuk duduk, melihat wajah Juna yang sangat cemas, Di yakin ada yang ingin Juna katakan.


"Bagaimana soal efek obat yang kamu suntikan? kak Di yakin obat itu baik karena pernah memeriksanya." Kening Diana berkerut.


Juna membenarkan soal obat jika kondisi Gemal pulih dengan cepat, karena racun mematikan sudah mendapatkan dua penawar sekaligus.


Aliya dan Diana langsung kaget, Arjuna memberikan file asli kepada Gemal dan satu penawar yang sama untuk menghindari jika ada sesuatu yang berbahaya.


"Juna yakin, kak Gem menyuntik dirinya sendiri sebelum menyelamatkan kak Di."


Gemal sudah tiga hari mengikuti Juna, dan di hari ketiga Juna menyerahkan semuanya. Gemal memiliki perasaan tidak enak, sehingga mengawal Juna dari dekat, dan dugaannya benar.


"Aku terlalu meremehkan pria satu ini?" Di menatap Juna yang terlihat banyak berpikir.


"Apa yang membuat Gemal terobsesi untuk menangkap Gracia?" Dimas melihat Juna yang mengangkat bahunya.


"Dia ingin menyelamatkan ibunya yang dijadikan uji coba oleh Hendrik, dia mengorbankan segalanya demi kesembuhan ibunya." Di meminta Juna menyerahkan salinan file yang ada di gelang.


Arjuna menatap Maminya, semuanya sudah diserahkan kepada Maminya bahkan hasil penelitian Juna juga disita oleh Aliya.


Komputer, laptop, tablet bahkan ponsel Juna juga disita karena dia merahasiakan selama lima tahu, dan tidak melibatkan Maminya.


"Semuanya aman di dalam lab, kamu sebaiknya cepat pulihnya." Al menatap Diana yang tersenyum tipis.


"Ada satu masalah lagi?" Juna menunjuk ke arah luar.


Dimas dan Altha langsung berlari keluar, Juna melihat Gemal meninggalkan kamarnya bahkan Yandi juga sedang mengejarnya.

__ADS_1


Diana langsung berteriak, seharusnya Juna mengatakan sejak awal jika Gemal sudah sadar.


Mendengar suara menyeramkan Diana, Juan dan Dean menghentikan makannya karena takut dibentak.


"Kenapa membentak putraku?" Al melotot tidak terima anaknya disalahkan.


Diana langsung meminta ponselnya untuk menghubungi Gemal, bekali-kali panggilan tidak mendapatkan jawaban.


"Angkat Gemal sialan!" Di mengumpat dan mencaci maki Gemal.


Andriana yang duduk di samping Diana meneteskan iler karena mulutnya menganga untuk pertama kalinya melihat Diana marah.


Tika juga pindah tempat duduk, Di kembali seperti awal bertemu sangat menyeramkan. Matanya bahkan menatap tanpa berkedip.


"Diana, tenangkan diri kamu." Anggun mengambil ponsel langsung kembali menghubungi Gemal.


Panggilan dijawab oleh Gemal, tidak ada suara yang keluar. Aliya meminta Gemal mengatakan tujuannya, karena Hendrik bisa dengan mudah membunuh dalam keadaan Gemal yang lemah.


[Bagaimana keadaan kamu Di? aku rasa kamu baik-baik saja. Maafkan aku yang menipu kamu soal obat yang ditemukan di tubuh tahanan, aku tidak bisa menunggu. Hendrik harus aku hentikan, karena mereka mengirim barang menggunakan kapal ilegal, dan masih memperdagangkan obat berbahaya.] Suara Gemal terdengar pelan, tapi sangat jelas.


[Baiklah, aku maafkan. Kembali dalam keadaan hidup, karena aku yang akan membunuh kamu.] Diana mematikan Panggilan, langsung menghubungi Daddy-nya.


Dimas mengirim bantuan, karena Gemal sudah melapor kepadanya untuk menyusul. Seluruh laporan soal penyadapan sudah dimanipulasi.


Kepolisian menunggu di bandara, tapi Hendrik dan Gracia melarikan diri melewati perairan.


"Suster, aku meminta catatan soal kondisi Gemal. Mungkin saja dia mati sebelum sampai." Di menatap tajam ke arah jendela.


"Kak Gemal tidak mungkin mati, dia terjun bebas memeluk kak Di seperti Spiderman."


"Kak Gemal manusia, bukan Spiderman? buktinya mobil yang ditimpa hancur kacanya." Ria menatap Dean yang menunjukkan aksi Spiderman.


"Mungkin dia vampir, tidak bisa mati." Juan mengunyah makanannya kembali.


"Jika dia vampir, kita semua mati." Ria memukul Juan yang sangat bodoh.


Aliya menatap Juna, dan melihat laporan kondisi Gemal yang mengalami beberapa jahitan di bagian kepala, punggung dan mengalami keretakan tulang.


"Apa dia memang vampir?" Al menatap Diana.


"Bodoh, dia manusia. Obat yang Juna buat cukup bagus untuk menghilangkan rasa sakit, dan menahan perdarahan." Di memberikan jempol kepada Juna.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2