
Suara langkah kaki berlarian terdengar, tawa dari depan terdengar menyemangati untuk terus berlari pagi agar sehat.
"Papa, Ion tidak kuat lagi." Gheon langsung duduk dipinggir jalan.
"Satu putaran lagi Gheon." Gemal berteriak meminta ketiga anaknya berlari.
"Isel tidak mau lagi berlari, setiap minggu kita berlari, tidak ada manfaatnya Papa." Isel meluruskan kakinya, meminta Ian memijitnya.
Gemal tersenyum melihat ketiga anaknya yang sudah berusia tiga tahun, tidak terasa Gemal bisa memiliki tiga teman untuk berdebat.
"Isel jelak, mirip monyet." Ria mengayuh sepedanya, menjulurkan lidahnya.
Tatapan mata Isel tajam, mengambil batu langsung melempar Ria yang berusaha menghindar, tapi sepedanya tidak seimbang membuatnya masuk ke dalam semak-semak.
Suara tawa Isel dan Gion terdengar, mengejek Tika yang. sudah menghilang di dalam rerumputan.
"Astaghfirullah Al azim Ria, makanya jangan jahil." Gemal langsung berlari, membantu Ria yang sudah berantakan.
Kepala Ria langsung pusing, duduk sambil berpikir jika dirinya hilang ingatan.
"Kak Ria minum dulu." Ian memberikan minuman.
"Ternyata Ria kekurangan cairan." Senyuman Ria terlihat, langsung menghabiskan minuman Ian.
"Dasar tidak tahu malu, minuman kita dihabiskan." Isel menatap sinis.
Mata Ria juga menatap lebih tajam, Ria tahu betapa pemalas Isel. Dia tidak mungkin membawa minum, selalu mengandalkan Ian yang menyediakan kebutuhan.
Gemal membenarkan sepeda Ria, mengecek tubuh Ria ada luka di lututnya. Perdebatan antara Ria dan Isel terdengar.
"Bicara saja tidak jelas, ingin berdebat dengan Ria. Hello bukan level, belajar dulu cara makan, minum dan bicara dengan baik." Ria mengibaskan rambutnya.
Mendengar pertengkaran membuat Gemal tertawa, menasihati Ria dan Isel jika mereka bersaudara tidak boleh bertengkar.
Sepeda Dean dan Juan juga sampai, melihat Ria sudah berantakan. Menurunkan Yendri dan Devan agar melihat pertengkaran.
"Kak Juan, lihat dia. Melempar Ria dengan batu sampai jatuh." Andriana mengadu kepada kakaknya.
"Kak Ria yang mengejek Isel duluan, Isel tidak bohong kak Yendri." Tangan Isel menunjuk Tika meminta pembelaan Yendri.
Dean dan Juan juga berdiri di samping Tika, Gion, Ian, Yendri dan Devan berdiri di samping Isel.
"Ian ada tengah saja." Ghiandra langsung berpindah tempat.
"Yendri juga, cukup menjadi saksi."
Gemal menghubungi para ibu-ibu, menceritakan jika ada dua geng yang sedang bersiap untuk bertarung.
__ADS_1
"Kamu jangan menangis jika kalah." Ria menatap sinis Isel.
Gemal diam saja, menatap anak-anak yang menyelesaikan masalahnya. Ria dan Isel bersiap-siap untuk lomba berlari, Dean memulai keduanya untuk lomba berlari.
Keduanya berlari kencang, suara anak laki-laki menyemangati terdengar. Gemal juga bertepuk tangan mendukung Putrinya juga Ria.
Cukup lama menunggu keduanya sampai, tapi dari kejauhan sudah terlihat dua anak beda usia berlari kencang.
"Kenapa balik lagi, seharusnya lewat sana." Juan kebingungan.
Suara teriakan Ria dan Isel terdengar, diikuti oleh suara gonggong anak anjing.
"Kakak Ria tolong Isel." Tangisan Isel terdengar sambil berlari.
Ria balik lagi, meminta Isel naik punggungnya, langsung berlari lagi melewati para pria yang berteriak saat melihat anjing mengejar.
Semuanya langsung berlari kencang, suara teriakan terdengar membuat heboh satu komplek perumahan.
Anjing berhenti di depan Gemal yang tertawa puas sambil duduk memegang perutnya, tawa Gemal terhenti melihat anjing menggonggong di depannya.
"Papa lari." Ian berteriak, lanjut berlari lagi mengejar saudara yang lainnya yang larinya menggunakan langka seribu.
Gemal langsung berteriak langsung berdiri dan lari kencang, anjing juga berlari mengejarnya. Gemal melewati anak-anak yang sudah lari ngos-ngosan.
"Papa, kenapa tidak meyelamatkan Isel?" suara teriakan Isel terdengar, Ria berlari sekuat tenaganya.
Atika langsung menangkap anak anjing yang mungkin lepas dari pemiliknya, Tika bisa melihat anak anjing ketakutan.
"Ada apa kak Gem?"
"Di kejar anak anjing." Gemal mengusap keningnya kelelahan.
Anak-anak langsung terbaring kelelahan, Ria yang kehabisan nafas, karena harus menggendong Isel.
"Kak Gem berlari menyelamatkan diri sendiri?" Diana langsung cemberut.
Gemal langsung tertawa, merasa lucu dengan dirinya sendiri. Langsung cepat lari ke dalam rumah sebelum istrinya mengomel.
Kaki Ria yang terluka jatuh dari sepeda langsung sembuh, keringat mengalir dari dalam bajunya.
"Kenapa kita bodoh? apa gunanya sepeda." Dean menepuk keningnya, terheran-heran dengan mereka semua.
Seseorang datang, meminta maaf karena anjing kecilnya lari ke dalam perumahan, dirinya masih harus laporan ke penjaga untuk masuk.
Tika memberikan anak anjing, meminta pemiliknya lebih berhati-hati, jangan sampai masuk wilayah perumahan, karena banyak anak-anak.
"Lain kali hati-hati kak, anjingnya hampir mati dicekik anak-anak." Tika tersenyum manis.
__ADS_1
Suara pertengkaran Ria dan Isel terdengar kembali, Isel memukuli Ria sambil menangis. Diana langsung menggendong Putrinya yang jahil, tapi tidak suka dijahili.
Dimarah oleh Diana, Isel berteriak kuat. Langsung melangkah ingin pulang, melaporkan Mamanya kepada kedua Neneknya.
"Kak Tika ingin shopping, ada yang ikut?" Tika merapikan rambut panjangnya.
Aliya menahan tangan Tika, meminta membersihkan tangan setelah menyentuh hewan.
"Isel ikut,"
"Ria juga ikut."
"Jika ingin ikut cepat mandi, kak Tika ingin ke salon."
Suara teriakan Isel terdengar, salon yang Tika ucapkan berada di atas restoran mewah milik Shin. Isel memanggilnya kakak cantik, Isel sangat menyukai masakan Shin yang berbeda.
Suara gelas pecah terdengar, Diana hanya menganggukkan kepalanya. Putrinya dalam satu hari bisa memecahkan tiga gelas.
Calvin langsung mengambil cucunya, mengecek tangan, kaki. Setiap Isel terluka semua orang panik, hanya Diana yang paling santai.
"Jessi, ambil obat."
"Ya Allah luka lagi." Tangisan Mam Jes terdengar, tidak rela jika cucu kesayangannya terluka.
Kepala Diana geleng-geleng, Putrinya memang menjadi ratu yang berkuasa. Penjaga bukan hanya Kakaknya, ada dua kakek, nenek, Om, dan sepupunya.
"Mami, tangan Isel dibalut lagi." Senyuman terlihat, langsung duduk dipangkuan Diana.
"Sekalian, kepala kamu di balut. Sehari saja jangan memecahkan barang. Kamu tinggal saja bersama ayam dikandang." Di mendorong Putrinya menjauh.
Bibir Isel manyun, memeluk Diana. Di sudah paham jika Putrinya masih ingin menyusu, meskipun tidak ada air.
Diana susah sekali melepaskan Isel, karena jika menangis langsung heboh, dia mengadu jika Mamanya nakal.
Selesai merengek, Diana tinggalkan sebentar untuk membuat susu untuk Gion dan Ian, saat kembali Isel sudah mengaduk akuarium, memasukkan kepalanya bermain dengan ikan.
"Rasanya aku ingin gila." Diana berteriak kuat.
Kepala Isel basah, bajunya basah. Gemal batu selesai mandi keluar kamar, melihat istrinya yang sedang murka.
Melihat kemarahan Mamanya, Isel langsung turun kursi berlari kencang ke rumah neneknya satu lagi.
Mam Jes yang melihat mengusap punggung Diana, meminta sabar karena Isel sedang masa pertumbuhan.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1