
Pembicaraan Shin dan Tika sangat serius, tanpa keduanya sadari jika Aliya mendengar semuanya. Selama tiga bulan Tika dan Shin mengejar Melly yang berpindah-pindah negara untuk menghindarinya.
Meksipun Tika belum bisa memaafkan Mamanya, tapi demi kebaikan keluarga dirinya ingin melindungi.
"Aku harus menahan Melly secepatnya, saat Mama operasi salah satu bayangannya datang untuk menggagalkan, bersyukurnya Kak Genta yang bergerak cepat." Kepala Tika tertunduk, masih kecewa karena gagal.
"Aku tahu, kita tidak bisa bersantai. Beberapa kali, Melly mengirim Rindi untuk menemui Citra. Jangan sampai Mama kamu salah jalan lagi." Shin menunjukkan pergerakan lawan yang sempat dirinya selidiki.
"Terima kasih Shin, kamu satu-satunya yang memahami aku saat ini, tanpa kamu ini sangat sulit." Senyuman Tika terlihat, memeluk sahabatnya.
Senyuman Al terlihat, dirinya sangat mempercayai Putrinya yang kuat. Apa yang terjadi saat meeting sudah Al perkirakan. Putrinya tidak akan mampu dijatuhkan.
Al memilih pergi bersama Citra, memberikan waktu kepada Tika untuk menyelesaikan pekerjaan jika ingin semuanya baik-baik saja.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan Tik?"
"Tidak punya pilihan, kita gunakan cara kedua. Jika mengejar di negara luar gagal, mereka yang harus berkunjung ke sini." Suara ketukan tangan Tika terdengar, senyuman licik terlihat di wajah cantiknya yang menyimpan kemarahan.
Kepala Shin mengangguk, dirinya akan segera bersiap untuk melihat hasil terakhir dari perjalanan tiga wanita jahat yang sudah mempermainkan mereka.
Suara deringan ponsel Shin berkali-kali terdengar, pembicaraan Shin dan Tika menjadi tidak bisa serius.
"Angkat Shin, pusing aku mendengarnya." Atika menatap punggung Shin yang berlalu pergi, pendengaran Tika tidak mungkin salah jika yang menghubungi Shin Genta.
Bibir Tika monyong, merasa aneh dengan sikap Genta yang selalu menghubungi Shin. Saat pergi bekerja saja harus laporan.
"Ada hubungan apa mereka berdua?" Tika menatap kesal punggung Shin.
"Tik, ayo kita makan bersama Kak Genta." Tangan Shin merangkul meminta Tika berjalan.
"Kalian saja, aku tidak ingin menganggu moments romantis kalian." Tika berjalan ke kursi kerjanya, mengambil beberapa berkas yang harus ditandatangani.
Senyuman Shin terlihat, menganggukkan kepalanya mengerti jika sahabatnya sedang cemburu. Setiap Genta menghubungi Shin, pasti sikap Tika berubah kesal.
"Ayo Tika, sebentar saja. Ada hal penting yang ingin Kak Genta bicarakan." Kedua tangan Shin terlipat, memohon agar Tika ikut dengan dirinya.
Setelah berpikir lambat, akhirnya Atika setuju dan mengikuti Shin untuk bertemu Genta yang sudah tiga bulan tidak terlihat batang hidungnya.
__ADS_1
Sesampainya di restoran yang dijanjikan, Genta sudah duduk diam bermain game di ponselnya yang memang sepi kecuali berurusan dengan perkejaan.
Senyuman Genta terlihat saat menatap Shin, memeluk lembut adik perempuannya yang baru saja kembali dari perjalanan bisnis. Mata Tika menatap sedih, tidak mengerti dengan perasaan yang terluka.
"Tika, apa kabar?" Genta mengulurkan tangannya.
Tika berjalan ke kursi, mengabaikan jabatan tangan Genta. Senyuman Genta tetap terlihat meskipun diabaikan tanpa alasan.
Genta sudah memesan makanan terlebih dahulu untuk mereka bertiga, Atika menatap pelayan yang menatap wajah Genta sangat lama.
"Kenapa kamu tidak memakai topi? terlihat jelek seperti itu." Tika memperhatikan penampilan baru Genta yang sudah memotong rambutnya, terlihat lebih rapi dan tampan.
Shin hanya tertawa mendengar protes Tika, Genta melihat sekeliling yang memang selalu memperhatikannya. Topi hitam langsung dipasang, Genta juga tidak nyaman menjadi pusat perhatian.
"Kak Genta menurut sekali kepada Tika? Shin penasaran jangan sampai ada rasa." Tawa Shin terdengar mengejek Kakaknya yang sudah batuk karena memakan hidangan panas.
Air minum langsung Shin serahkan, meminta Kakaknya pelan-pelan saja. Sudah waktunya memiliki pendamping, usia Genta sudah cukup dewasa.
"Apa yang kamu bicarakan Shin? aku belum tertarik untuk menikah. Masih terlalu banyak hal yang belum diungkapkan." Tangan Genta mengaduk makanannya.
"Apa Kak? perasaan cinta harus diungkapkan secepatnya jika tidak ingin kecewa. Astaga ... Shin ada janji hari ini, kalian berdua lanjutkan. Nanti kita bertemu lagi." Shin mengambil kunci mobil Tika, meminta Genta yang mengantar Tika.
"Bagaimana soal Melly?"
"Aku tidak ingin membahasnya, sebaiknya kita pisah di sini." Tika berdiri dari duduknya, pamit kepada Genta untuk pulang.
Pergelangan tangan Tika ditahan, Genta memintanya untuk duduk dan berbicara berdua. Ada hal penting yang ingin Genta bicarakan.
"Temani aku makan, tidak nyaman makan sendirian di tempat umum yang menjadi pusat perhatian." Genta menarik pelan tangan Tika untuk duduk di sisinya.
Akhirnya Tika menurut, duduk di samping Genta yang melanjutkan makannya. Senyuman Tika terlihat menatap pria yang sedang makan.
"Kamu tidak makan?"
"Aku kenyang." Tika mengambil tisu, mengambil sisa makanan di bibir Genta.
Apa yang Tika lakukan menjadi pusat perhatian, suara sorakan terdengar membuat keduanya canggung dan binggung saat pelayan membawa kue besar, juga sebuah cincin.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Tika kebingungan melihat cincin, Genta hanya menggeleng tidak mengerti.
Banyak pengunjung yang bersorak meminta Genta memasangkan cincin, keadaan semakin rusuh dan heboh membuat Tika menepuk pundak Genta.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Pikir sendiri, katakan kepada mereka ini salah paham." Atika menundukkan wajahnya menahan malu.
Genta langsung berdiri, dari sekian banyak tamu yang datang ke restoran, pandangan Genta melihat keberadaan Irish. Senyuman sinis Genta terlihat, mengulurkan tangannya kepada Tika.
Atika menyambut tangan Genta, melihat cincin yang terpasang di jarinya. Genta berbisik meminta Tika juga memasangkan cincin.
Suara tepuk tangan terdengar saat cincin sudah terpasang, suara meminta berciuman terdengar membuat Genta kaget.
"Terima kasih semuanya, kita permisi." Genta menggenggam jari jemari Tika untuk berjalan pergi keluar restoran.
"Kak Genta,"
"Ada Irish di sini, aku rasa Rindi mengawasi aku dan mempersiapkan semua ini. Aku pikir kamu yang mengatur makan di sini." Genta menatap wajah Tika yang juga terkejut.
"Wanita itu masih terobsesi kepada Kak Gen? baguslah, ini kesempatan kita untuk menangkap mereka semua." Tika tersenyum manis menatap cincin di jarinya.
Tika melihat sekitar, ada beberapa mobil yang mencurigakan. Genggaman tangan keduanya semakin erat, Tika akan mengunakan hubungan mereka untuk membuat Rindi lepas kendali
Saat keadaan panas, Tika akan memberikan boom untuk menghacurkan segalanya. Bukan hanya Rindi dan Irish yang tertangkap, tetapi Melly sekaligus.
"Apa rencana kamu?"
Tika menatap sebuah mobil yang bergoyang, terlihat pintu terbuka. Seorang wanita ingin keluar, tetapi dipaksa masuk ke dalam mobil oleh beberapa pengawal.
"Kita pergi dari sini Tik,"
"Maafkan Tika, mungkin ini lancang dan memalukan." Tika menahan tangan Genta, mendekati bibir pria dihadapannya, saat sudah berdekatan Tika mengurungkan niatnya yang sangat rendah.
"Maaf, anggap ini hanya misi." Genta mendekati bibir Tika, menciumnya lembut cukup lama membuat suara teriakan menggema dari arah mobil yang terparkir.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira