
Mobil yang Genta kendarai tiba di pelabuhan, beberapa orang menyambut kedatangan dua pasang suami istri.
Di depan mereka sudah ada kapal pesiar yang siapkan untuk acara pesta pernikahan. Kapal yang sangat besar, mampu menampung ribuan orang dengan kapasitas terbaik.
Tika dan Shin masuk lebih dulu, melihat besarnya kapal juga terasa sangat nyaman. Shin baru pertama kali naik kapal pesiar berukuran sangat besar.
"Berapa banyak uang keluarga Rahendra keluar untuk kapal ini, belum lagi acaranya." Shin melihat ke arah laut yang sangat indah.
"Wajar saja, Mami Al sangat bersemangat ingin mengadakan pesta pernikahan untuk Ay Jun. Bahkan Mami sudah menyiapkan uang khusus untuk dua Putra keluarga Rahendra jika menikah." Tika tersenyum menatap langit, Mamanya pasti bahagia sama seperti Juna dan Tika yang bangga memiliki Mami yang begitu luar biasa.
Senyuman Tika dan Shin terlihat, menatap Juna yang merangkul keduanya menatap jauh ke depan.
"Kak, Mama Citra pasti sedang tersenyum menatap kita,"
"Bukannya ada siksa kubur, bagaimana bisa tersenyum?" Isel yang baru datang bersama keluarga yang lain terdengar ribut.
"Melihat wajah Isel yang awalnya bahagia, langsung mendidih darah." Tika memeluk suaminya yang berdiri di sampingnya.
Arjuna mendekati Isel yang duduk sambil menikmati angin, usapan tangan Juna lembut di kepala Isel.
"Sel, kamu tahu tidak jika luka tubuh bisa diobati, sedangkan luka hati tidak ada obatnya?"
Kepala Isel mengangguk, dia tahu jika tergores di bagian luar bisa diobati. Sedangkan luka di dalam tubuh tidak bisa diobati.
"Isel lebih binggung lagi, bagaimana dalam tubuh kita bisa terluka?"
"Saat kamu marah, pasti langsung menangis, dada terasa sesak dan perih, padahal kamu tahu itu tidak ada lukanya. Begitulah lidah yang tidak bertulang membuat sakit hati." Suara Juna terdengar sangat lembut membuat Isel memegang dadanya.
Jika bicara kasar, tidak sopan di dalam keluarga bisa dimaklumi, tapi jika orang luar yang tersinggung atas ucapan, rasa sakitnya bisa menembus langit ke tujuh.
"Menakutkan sekali, Isel akan menjaga ucapan." Kedua tangan Isel menutup mulutnya.
"Ini baru greselin,"
"Ghiselin, Uncle bodoh sekali." Dengan wajah kesal Isel melangkah pergi.
Tawa Juna terdengar, Isel mudah sekali emosi. Sama seperti Mamanya yang mudah dilembuti, tapi jangan salah sebut sedikit saja langsung emosi.
"Bagaimana Juna, Genta? kapal pesiar ini cocok atau kalian menginginkan hal lain." Altha berjalan mendekati sambil mengagumi kapal.
__ADS_1
Kepala Juna dan Genta mengangguk, kapal yang dipersiapkan sangat istimewa dan berharap bisa membuat pesta pernikahan berkesan.
"Kenapa dulu Aliya menikah tidak seperti ini?"
"Rindi juga ingin pesta naik itu?" tangan Rindi menunjuk ke arah perahu nelayan yang sedang memancing.
"Perempuan gila satu ini, bagaimana konsepnya kapal kecil seperti itu?" Diana gemes, hanya bisa mengusap perut Rindi yang semakin besar.
Segala persiapan di mulai, Aliya bahkan menggunakan desainer terbaik untuk menyambut hari baik.
Pesta ulang tahun Tika dan Shin yang diadakan secara besar-besaran bersamaan dengan pesta pernikahan mereka.
***
Gaun mewah berwarna biru sudah ada di kamar khusus, Tika mencoba baju pengantinnya yang terlihat simpel dengan atasan putih. Sedangkan Shin menggunakan gaun biru yang lebih heboh Tika ingin Shin lebih dominan karena ini pesta pertamanya, sedangkan Tika sudah mengadakan pesta beberapa kali.
Senyuman keduanya terlihat, mengagumi kecantikan satu sama lain. Tika mengagumi kecantikan Shin, sedangkan Shin mengagumi ketulusan Tika yang sangat menyayanginya.
"Tik, terima kasih sudah menjadi Kakak yang baik untuk Shin,"
"Happy birthday Tika, kita akan terus merayakan ulang tahun bersama dari yang ke -12 sampai seumur hidup." Air mata Shin hampir menetes, merasakan terharu masih bersama setelah sekian lama.
Kepala Tika mengangguk, tertawa bersama setelah mengambil potret. Keduanya merasa seperti kembar meksipun terlahir dari rahim yang berbeda.
Suara ketukan terdengar, Ria masuk menggunakan gaun berwarna biru langit. Mengandeng tangan seseorang.
"Happy birthday Kak Shin, dan Kak Tika, happy weekend, wedding maksudnya." Senyuman seseorang terlihat menyapa.
"Siapa Ria?"
"Pembantu aku, sekalian menjadi budak. Soalnya seperti buntut mengikuti Ria terus." Kepala Ria geleng-geleng menatap wanita berpenampilan laki-laki.
"Tidak boleh seperti itu Ria, kamu membutuhkan sahabat seperti kita." Shin mencium pipi Tika.
"Cepatlah, semua orang sudah menunggu. Sebentar lagi kapal ini akan berlayar." Ria menatap sinis.
__ADS_1
Kedatangan dua lelaki membuat senyuman Tika dan Shin terlihat, mengulurkan tangan ke arah suami masing-masing untuk ke arah tempat pesta.
Ribuan tamu undangan menyambut dua pasang pengantin yang tersenyum lebar. Terlihat juga kue ulang tahun untuk menyambut Tika dan Shin yang bertambah usia.
"Happy birthday sayang." Aliya mencium Putrinya dan juga menantunya.
Tika juga memasangkan kalung sebagai hadiah untuk pernikahan, benda yang sangat berharga bagi Juna dan ingin Shin menjaganya.
"Kalian berdua harus bahagia, bertambahnya usia belajar lebih dewasa lagi. Mami bahagia melihat putra putri Mami tersenyum." Al memeluk Juna yang langsung mengusap punggung Maminya.
Seluruh tamu undangan memberikan selamat terutama untuk Juna yang belum sempat merayakannya apapun.
"Istri kamu cantik sekali Jun,"
"Kagumi istri aku sendiri, jangan melirik istri orang." Juna menatap sinis rekannya sesama dokter yang terus memuji kecantikan Shin.
Senyuman Reza terlihat, mengulurkan tangannya kepada Shin ingin mengucapkan selamat ulang tahun, juga selamat menempuh hidup baru.
Tangan Juna menyambutnya, tidak mengizinkan Reza menyentuh istrinya membuat Shin terheran-heran melihat suaminya yang posesif.
"Terima kasih Reza, aku harap kamu juga berjodoh,"
"Berjodoh sama siapa?" Juna langsung menimpali.
Genta menarik Juna untuk tidak terlalu sibuk menjaga Shin yang menjadi pusat perhatian. Suara Juna terlalu berisik.
"Lihat Tika berpelukan dengan pria lain." Juan menunjuk ke arah Adiknya yang memeluk seorang pemuda.
Tangan Genta langsung menarik pergelangan istrinya, menjauhkan dengan seorang pemuda yang ternyata masih keluarga jauh Altha.
Dari jauh Altha hanya tersenyum berdiri bersama Dimas dan Yandi menatap dua pria yang dulunya tidak tersentuh sekarang menjadi bucin, dan terlihat bodoh.
"Masih teringat dua puluh tahun yang lalu, Juna hanya anak kecil, dan teringat juga sepuluh tahun yang lalu Genta masih sangat remaja. Keduanya sama-sama dingin, tapi berakhir menjadi budak." Yandi menahan tawa melihat Altha dan Dimas merasa tersindir.
"Aku sudah tua sekarang, Putra dan Putriku sudah menikah,"
"Kita doakan semoga kamu segera menjadi Kakek Altha." Dimas menepuk pundak Altha pelan.
Suara mengaminkan terdengar, berharap akan segera ada tangisan bayi sehingga Altha memiliki mainan karena Ria sudah mulai remaja.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira