ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
DIKHIANATI


__ADS_3

Hampir setengah jam Diana duduk santai, menghabiskan permen lollipop menatap pukulan yang saling menjatuhkan.


Hati Diana merasa senang melihat dua gadis cantik yang masih berdiri tangguh belum ada yang terjatuh, melihat keduanya mengingatkan Di kepada adiknya Aliya.


"Ayo Atika, pukul lagi. Shin semangat." Di bertepuk tangan, rasanya perut Di juga bergerak mengikuti dirinya yang bahagia.


Sampai permen hampir habis, Di langsung berdiri Tika terpental, begitupun dengan Shin.


Teman-teman Shin langsung maju, menyerang Tika yang sudah terjatuh. Shin meminta temannya berhenti, dirinya tidak ingin ada pengeroyokan.


"Shin, bantu Tika." Diana ragu ingin maju, karena bisa saja dirinya masuk rumah sakit.


Tendangan Shin melayang, menyerang balik temannya. Melihat Shin yang berkhianat, dirinya diserang balik. Salah satu gadis mengeluarkan gunting.


Atika masih tergeletak, menyentuh bibirnya yang berdarah, hidung juga mengeluarkan darah. Tika langsung duduk, melihat pertarungan Shin.


Wajah cantik Shin terluka karena gunting, tubuh Shin terjatuh. Hampir saja gunting menunjuk matanya, jika dia tidak menghindar.


"Kamu sama Shin, seperti Tika. Dia anak seorang narapidana sedangkan kamu anak yang terabaikan." Tatapan sinis terlihat.


"Ya, kamu benar. Aku menyadari kekurangan, karena itu aku tidak pernah menghina orang lain, berbeda dengan kalian. Sudah miskin, jelek, kurang kasih sayang, sadar diri. Orang seperti kalian, hanya akan menjadi bawahan orang seperti aku." Senyuman Shin sinis langsung meludah, mengeluarkan darah dari mulutnya.


Kemarahan semakin terlihat, Shin gadis muda yang berkuasa, tetapi dia hanya mengendalikan anak-anak lain, tidak pernah turun langsung menyerang siapapun apalagi melakukan pengeroyokan.


Siapapun yang ada di belakang Shin pasti akan merasa berkuasa, karena dia memiliki segalanya dan bisa memberikan apapun.


"Sekarang kamu akan hancur Shin." Empat wanita langsung menahan tangan Shin.


Satu wanita menarik rambut, Atika langsung kaget. Rambut Shin digunting sampai berhamburan, tamparan juga menghantam wajah cantiknya.


"Kenapa tidak melawan?" Tika hanya melihat Shin tersenyum, ditendang dan dipukuli.


Diana yang melihat hanya bisa terdiam, hatinya sakit sekali melihat kondisi Shin yang sebenarnya ingin melihat dirinya babak belur.


Darah yang keluar dari tubuhnya sesuatu yang menyenangkan, Shin tidak merasa sakit ataupun takut. Dirinya sudah mati rasa.


Tatapan Di melihat Atika yang berlari menghentikan, Tika memukul lima wanita yang menyerang Shin.

__ADS_1


"Kalian sahabat, tapi tidak menunjukkan kesetiaan." Tika menatap lima wanita yang sudah terjatuh.


"Tidak ada kesetiaan dalam hidup ini, semua akan berkhianat pada akhirnya." Shin langsung duduk, menyentuh rambutnya yang ada di jalanan.


Tika langsung membantu Shin berdiri, menyentuh rambut pirang yang hilang setengah dan potongannya juga sangat berantakan.


Tubuh Tika langsung didorong kuat, Diana berteriak kuat langsung berlari melihat Tika jatuh ke jembatan.


Lima gadis yang menyerang langsung melarikan diri, satu tangan Shin menggenggam Tika, dan satunya bertahan memegang jembatan.


"Kenapa kamu berat sekali? kebanyakan dosa." Shin berteriak menarik tangan.


"Tarik bodoh, arus air deras. Tika bisa mati konyol." Atika mengumpat Shin yang tidak bertenaga sama sekali.


"Sialan mulut kamu, aku dari tadi sudah bertahan dan menarik, dasar kamu saja yang kebanyakan beban." Shin tidak sanggup lagi menarik.


"Tika belum siap mati, jika aku jatuh kamu yang pertama aku bawa ke akhirat." Tika mencoba menggapai tangan Diana.


"Jika kamu jatuh, kita jatuh bersama bodoh." Shin menarik tangan.


Mobil Gemal tiba, langsung berlari keluar menangkap tangan Tika. Mengangkatnya ke atas dan langsung memeluk Tika dengan wajah cemas.


"Astaghfirullah Al azim Tika, kamu ingin membunuh kami semua." Gemal mengusap kepala Tika, memeluknya sambil mengusap punggung.


"Tika baik-baik saja kak Gem." Senyuman Tika terlihat, melihat tangannya yang terasa panjang sebelah.


Tatapan Gemal tajam melihat Shin, ingin memarahinya tetapi kondisi Shin juga sama tidak baiknya.


"Genta, hubungi keluarga anak ini, antar terlebih dahulu ke rumah sakit." Gem menatap Genta yang mengejar lima gadis yang berlari, tetapi gagal menghentikannya.


Mata Tika melihat ke arah Genta, wajah yang tidak asing tetapi Tika lupa di mana pernah bertemu Genta. Melihat Tika menatapnya, Genta berusaha menghindar.


"Mari saya antar ke rumah sakit." Genta mempersilahkan Shin.


"Tidak perlu Om tua, aku bisa pulang sendiri." Shin langsung melangkah pergi.


Suara tawa Tika langsung terdengar, Gemal dan Genta masih terdiam mendengar ucapan Shin yang memanggil Om tua dan pak tua. Diana lebih besar lagi tertawanya, kasihan melihat dua pria tampan, tapi jelek di mata Shin.

__ADS_1


Di langsung menarik tangan Tika dan Shin untuk masuk ke mobil, membawa keduanya ke rumah sakit untuk diobati.


"Ayang, ayo cepat." Di memanggil Gemal yang masih mengusap dada.


"Hei, Om tua. Bawa pulang sepeda Tika, jangan sampai lecet. Baterai habis, jadi semangat mengayuh." Senyuman Tika terlihat, langsung masuk mobil.


Diana tidak berhenti tertawa, di dalam mobil Tika dan Shin lanjut adu mulut, Gemal yang mengendarai mobil menjadi binggung, sebenarnya apa yang diributkan Shin dan Tika.


"Diamlah Shin, anak-anak lain tidak mungkin menyerang, jika kamu tidak tersenyum mengejek." Tika melipat tangannya di dada.


"Kamu terlalu baper Tika, aku memang suka tersenyum manis. Lagian aku tidak pernah menghina, menyebut nama kamu saja tidak sudi." Shin mengerutkan keningnya.


"Dasar mulut sampah, pertarungan kita belum selesai, kita lanjutkan suatu hari nanti." Tika membuang arah pandangnya.


"Kalian berdua bisa diam tidak, kak Gem binggung."


"Biarkan saja mereka berdebat, Diana menyukainya dan membuat hati Di bahagia. Lanjutkan." Di tersenyum menatap dua gadis yang babak belur.


Tangan Shin menyentuh perut Diana, membisikkan kepada baby agar tidak memiliki mulut cerewet seperti Tika, dan tidak mudah emosi, baper, apalagi sampai salah paham.


"Minta diremas mulut kamu?" Tika menatap sinis Shin yang masih bicara dengan perut Diana.


"Baby tidak akan bertahan lama, dokter mengatakan mereka tidak tumbuh dan harus digugurkan. Kita sedang bersiap melepaskannya." Di berusaha tersenyum mengusap perutnya.


Kening Shin berkerut, baginya dokter tidak punya hak memutuskan. Segala sesuatu yang dokter prediksi belum tentu benar, karena segala keputusan ada di tangan Tuhan.


"Setiap hari Shin berdoa, tuhan kapan aku mati, tidak di cabut-cabut nyawa. Lelah menunggu Tuhan mengabulkan, bahkan Tuhan mengancam akan menghukum Shin merasakan lebih banyak penderitaan. Lalu aku minta kapan aku bahagia? kalian ingin tahu jawabannya? nanti." Suara tawa Shin terdengar, meminta Diana terus bertahan, karena apapun yang terjadi maka terjadilah.


Senyuman Diana terlihat, menyentuh rambut panjang Shin yang sudah hilang. Bahkan Shin menikmati pengeroyokan dan terus bertanya penderitaan apa lagi yang akan datang.


"Kamu juga harus kuat Shin."


"Aku sangat kuat, nanti Shin akan temani kak Di untuk bersenang-senang. Apapun masalah jangan dipikirkan, ikuti cara hidup Shin. Hidup hari ini nikmati, besok mati ya sudah mati saja." Tatapan Shin serius, menyemangati Diana.


***


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


__ADS_2