
Sudah larut malam Aliya belum juga melihat Altha pulang, perasaannya tidak enak mengkhawatirkan Alt.
Ponsel Al terlihat tenang, berniat menghubungi Dimas tetapi masih ragu dan tidak ingin mengganggu pekerjaan mereka.
Jam sudah menunjukkan jam satu malam, Al masih mondar-mandir di depan pintu. Matanya juga tidak bisa tidur sama sekali
Perasaan Al tidak enak soal kejadian di hotel, pasti ada orang yang ingin menghancurkan Citra.
Dia sengaja menyerang saat pesta pernikahan, sasarannya juga anak Citra. Kejadian di jalanan juga Al sangat yakin di sengaja.
Jalanan yang sepi, dan kecepatan yang masih di atas rata-rata sengaja ingin menabrak Tika saat ingin menemui Citra.
"Apa yang kamu pikirkan Al? pintu terbuka tidak sadar." Altha menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang belum tidur.
"Ayang baik-baik saja?" Al langsung memeluk membuat Altha binggung.
"Kamu berharap aku terluka, ada apa? aku kotor jangan dipeluk." Senyuman Altha terlihat, langsung melangkah ke kamarnya diikuti oleh Aliya.
Altha menatap Aliya yang terlihat gelisah, langsung masuk kamar mandi untuk mandi baru bicara.
"Ada masalah apa di pesta Al?" Altha mengambil baju tidurnya, menggenapkannya sambil menatap Aliya.
"Mau aku siapkan makan tidak?"
"Aku tidak makan malam, kamu lapar?" Alt melangkah keluar menggandeng tangan Aliya.
Senyuman Al terlihat, langsung duduk di meja makan. Altha tahu Aliya belum makan dan tidak pernah mengatur jam makannya.
"Makanlah, tidak perlu buru-buru aku ada di sini untuk mendengarkan cerita kamu soal apapun." Tatapan lembut dan tenang terlihat.
Mata Aliya tidak berkedip sedikitpun, dia masih menatap pria tampan di hadapannya yang rambutnya masih basah dan wajahnya terlihat sangat segar.
"Ayang tampan." Al tertawa langsung mengunyah makanannya.
Altha juga tertawa, gelar tampan sudah lama dia pegang, dari zaman kecil sampai anak tiga juga ketampanan masih melekat.
Suara tawa Aliya sangat besar melihat Altha yang sangat percaya diri. Di balik sikap dingin ternyata Altha bisa melucu juga.
"Kenapa tertawa? ada yang lucu?" Alt tersenyum melihat Aliya cekikikan.
"Emh, kamu percaya diri sekali." Al mencubit tangan suaminya yang juga tertawa.
__ADS_1
"Aku memang tampan Aliya, jika tidak mana mungkin kamu mengejar aku."
"Maaf tuan Altha saya tidak mengejar, tapi menghukum." Aliya tidak bisa menghentikan tawanya.
"Ada apa di pesta? Citra mengusik kamu." Altha mengambil minum dan menghabiskannya.
Aliya menceritakan apa yang terjadi kepada Citra, dia juga sepertinya tidak menyukai sikap Altha yang membagi harta tanpa persetujuannya.
Al juga penasaran kenapa Altha memberikan sebagian besar hartanya untuk Citra, atau Alt melakukannya untuk Mora.
"Ayang kenapa melakukannya?"
Kepala Altha menunduk, sejak lulus sekolah Citra wanita satu-satunya yang mensupport dirinya. Mengejar mimpi, menikah, menjaga perusahaan dan memiliki anak.
Harta yang mereka miliki perjuangan bersama, Altha tidak membutuhkan harta. Dia hanya membutuhkan keluarganya, cukup memiliki rumah juga uang tabung untuk pendidikan anak-anak sudah cukup untuk Altha.
"Bagaimana soal keuangan Aliya?"
"Aku sudah menyediakan uang untuk kamu, Tika dan Juna sampai sarjana, kamu juga sebaiknya daftar kuliah dan aku yang membiayai." Alt menjelaskan soal keuangan yang sudah Altha atur untuk anak-anaknya.
"Kamu bukan hanya mengakhiri hubungan dengan Citra, tapi mengakhiri segala kenangan kalian." Al menyudahi makannya menatap lelaki di depannya yang tersenyum.
"Kenapa kamu tidak pernah menggunakan uang yang aku berikan?"
"Al, kamu jangan terfokus soal harta karena manusia tidak akan pernah puas soal kemewahan. Ayo kita tidur." Altha membereskan bekas makan Aliya langsung melangkah ke kamarnya untuk beristirahat.
Suara langkah kaki keduanya terdengar, Aliya belum siap menceritakan soal orang yang ingin menyerang Tika.
"Ayang, apa ada masalah pekerjaan?" Al memeluk lengan Altha yang langsung menoleh kepadanya.
"Tidak ada, hari ini hanya menyelesaikan kasus penyeludupan barang ilegal." Tatapan Altha langsung curiga melihat ekspresi Aliya.
"Sebelumnya ada masalah lain tidak? atau beberapa bulan, atau tahun yang masih membekas karena terjadi keributan besar." Aliya yakin orang yang menyerang pasti mengenal baik Citra dan Altha.
Kening Altha berkerut, tidak mengerti apa yang Aliya katakan. Dalam pekerjaan pasti keributan selalu terjadi, dan Al bertanya seperti orang yang mengintrogasi.
"Ada yang menyerang kamu atau anak-anak?" Altha duduk dipinggir ranjangnya meminta Aliya langsung mengatakan masalahnya tidak harus berbelit.
"Ada yang menyerang Tika, dan menghindari Aliya." Al menceritakan soal kecelakaan mobil.
Roby dan Tika sudah ada dipinggir jalan, tapi mobil sengaja menambah kecepatan mengarah kepada keduanya.
__ADS_1
Secara tiba-tiba klakson dibunyikan untuk menghindari Aliya, awalnya Al berpikir positif kemungkinan yang menabrak tidak disengaja.
Kejadian di pesta juga terulang, seseorang mendekati Tika dan memegang sebuah belati.
"Kenapa baru cerita sekarang?"
"Aku sudah menyelidiki plat mobil, dan ternyata itu palsu tidak terdaftar. Siapa dia? musuh Citra, kamu, Roby atau aku. Kenapa harus Atika?" Al menarik nafas panjang, kepalanya sudah lelah berpikir untuk mencari tahu.
Altha langsung mengecek CCTV rumah mereka, mengawasi sesuatu yang mencurigakan. Tidak ada yang mendekat atau mengawasi.
Al langsung mengambil alih untuk mengecek keamanan Citra di apartemen, Alt membiarkan Aliya melakukan hack secara ilegal selama tidak merugikan.
Tatapan mata Al dan Altha sama tajamnya, melihat mobil yang ingin menabrak Tika mengawasi kediaman Citra.
"Bagaimana jika menyakiti Mora?" Alt langsung memotret mobil melakukan penyelidikan siapa pemiliknya.
Al tersenyum sinis, dia berhasil membobol kamera di mobil dan melihat wajah orang yang ada di dalamnya.
"Siapa dia?" Aliya meminta Altha mendekatinya.
Altha mengerutkan keningnya, seorang pria tertawa menatap ke arah kamera. Suaranya sangat besar akan menyingkirkan Aliya jika terus ikut campur.
Layar langsung hitam, Al memukul meja karena ada yang mengetahui cara kerjanya. Siapapun yang ingin mencelakai anak-anak bukan orang sembarang.
Dia bisa tahu jika Al akan mengawasinya, dan mengancam akan melenyapkan Al jika terus melangkah maju.
"Aku akan mengurusnya Al, kamu cukup diam dan jangan terlalu ikut campur."
"Altha, zaman sekarang ancaman sudah menjadi senjata untuk menjatuhkan. Menasehati sudah tidak berguna lagi. Terkadang larangan adalah perintah. Aku ingin tahu sehebat apa dia." Al menutup laptopnya kuat, langsung memejamkan matanya tidur di atas ranjang.
Alt menatap foto pria dan mobil, Alt mengigat kembali mungkin ada sangkut pautnya dengan dirinya.
"Aku tidak mengenali mereka, kenapa dia ingin menyakiti Citra?"
"Dia bukan ingin menyakiti Citra, tapi hanya memberikan peringatan. Jika keinginannya tidak dituruti satu-persatu akan ada yang terluka." Al menepuk ranjang meminta Altha juga tidur.
"Kamu tahu banyak hal soal kejahatan, hati-hati Aliya jangan menganggap remeh."
"Aku juga seorang penjahat Altha." Al memeluk suaminya yang mengerutkan keningnya merasa aneh.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara--