
Tangan Tika menyambut uluran Genta, tersenyum manis merasa bahagia meksipun kejutannya bukan hanya mengejutkan Tika, namun Genta juga.
Di dalam kamar tidak ada dekorasi apapun, hanya tulisan I Will marry you. Tangan Tika menyentuh sebuah kue, secara tiba-tiba kue terbelah menunjukkan sebuah cincin yang cantik.
"Wow, kuenya bisa membelah sendiri." Genta bertepuk tangan.
"Bukan Kak Gen yang menyiapkannya?"
"Aku juga baru tahu ada kue seperti ini." Senyuman terlihat, Genta mengakui dia tidak tahu apapun.
"Siapa yang membeli cincin?"
"Oh, kalau itu aku." Cincin diambil, Genta meminta tangan Tika untuk memanjangkan cincin.
Tatapan mata Tika tajam, menahan emosinya melihat cincin yang berukuran besar. Bahkan di jari jempol juga tidak muat.
"Kebesaran sayang,"
"Kak Gen membeli ukuran siapa?"
"Aku,"
Pukulan Tika menghantam dada, mendengar jawaban semakin kesal karena Genta bisa tidak memikirkan jika jari wanita dan pria pastinya berbeda.
Rasanya Tika ingin menjambak rambut, jika dirinya tidak mencintai lelaki dihadapannya sudah lama dibanting.
"Maaf, nanti aku perbaiki." Ekspresi wajah Genta terlihat merasa bersalah.
"Sudahlah, nanti Tika yang perbaiki." Melihat wajah Genta merasa bersalah membuat Tika kasihan dan memakluminya.
"Sayang, aku juga membeli ini untuk kamu?"
Senyuman Tika langsung pudar, mengambil kalung hello Kitty. Ada rasa ingin tertawa, juga mengamuk. Tika hanya bisa menganggukkan kepalanya mengucapkan terima kasih, sekarang dirinya mengerti jika kekasihnya memiliki pesona dari wajah, juga keterampilannya namun soal cinta Genta nol besar tidak memiliki bakat apapun.
"Ayang tahu soal kalung ini darimana?"
"Isel menyukainya,"
"Allahu Akbar, terima kasih Ayang. Kenapa tidak membelikan Isel juga?"
"Itu juga kembar dengan Isel,"
Kedua tangan Tika menakup wajah Genta, menyatukan hidung keduanya. Mata Tika terpejam, menenangkan hatinya juga pikirannya untuk lebih sabar lagi.
__ADS_1
Senyuman Genta terlihat, menggenggam kedua tangan Tika. Mendaratkan ciuman ke arah keningnya, keduanya tersenyum bahagia menerima kekurangan masing-masing.
"Aku pria yang menyebalkan,"
"Iya, sangat menyebalkan. Terkadang Tika bertanya-tanya kenapa harus pria ini, aku terlalu sempurna untuknya." Air mata Tika menetes, memeluk erat merasa kecewa saat pikiran dan hatinya bertentangan.
Lelaki idaman Tika seseorang yang tampan, romantis, penuh kasih sayang. Dia yang selalu memiliki banyak waktu, dan memprioritaskan dirinya. Lelaki yang berjuang mendapatkannya, dan memiliki kelebihan di atas Tika.
Sekian banyak lelaki yang ditemukan, Tika tidak menemukan kesempurnaan itu. Tanpa dirinya sadari ada seseorang di sisinya yang sebenarnya tidak bisa sempurna karena mereka hanya manusia biasa.
Kesempurnaan hanya terjadi jika keduanya bersama, menutupi kekurangan satu sama lain. Dan siap dengan sebesar apapun masalah yang ada di hadapan mereka.
"Tika sangat mencintai Kak Genta,"
"Kenapa aku? itu pertanyaan yang tidak pernah bisa aku jawab. Kenapa wanita yang aku cintai harus kamu?"
"Emh ... mungkin Tika wanita yang ada di setiap doa Kak Gen?"
"Aku tidak pernah berdoa untuk seorang wanita, tapi mulai sekarang akan aku lakukan." Di setiap doa, Genta sempatkan menyelipkan nama Tika di dalamnya.
Doa agar keduanya segera dipersatukan, bukan hanya bertemu dua kepala, tapi siap lahir, batin, fisik juga ekonomi.
"Tika bukan wanita matre? mami selalu mengajarkan wanita juga harus mandiri,"
"Rasanya ingin segera menikah,"
"Kak Gen punya satu lagi kejutan. Semoga kali ini tidak mengecewakan." Satu tangan Genta menutup mata Tika, mengiringinya berjalan ke arah balkon.
Perut Tika sakit menahan tawa, tidak tahu apa lagi yang dilakukan Genta membuatnya terkesan. Apapun yang diberikan membuatnya geleng-geleng kepala.
Perlahan mata Tika terbuka, menatap kaget apa yang ada di bawah hotel. Senyuman Tika terlihat menatap ribuan balon membawa bunga setangkai bunga mawar merah.
Mulut Tika sampai mengaga melihat keindahan balon-balon yang berterbangan sampai ke atas.
Tangan Tika terulur, mengambil beberapa balon yang bisa tangannya gapai. Di setiap balon ada tulisan nama Tika, juga doa dan harapan.
"Indahnya, Tika menyukainya Kak,"
"Emh ... ini kejutan memalukan," batin Genta yang tidak menyangka dirinya memiliki pikiran untuk melakukanya.
Di tangan Tika ada sebuah balon yang membawa bunga berwarna merah, pink, dan putih. Setiap bunga memegang kotak kecil, Tika mengambil satu kontak dan membukanya.
Betapa terkejutnya Tika melihat cincin bermata biru ada di dalamnya, di dalam terlihat bening ada tulisan AA.
__ADS_1
"Ini cantik sekali,"
"Itulah cincin yang sebenarnya." Genta mengambil cincin memasangkan ke jari manis Tika yang sangat pas.
Tika lompat-lompat kesenangan, memeluk Genta yang juga tersenyum puas melihat Tika bahagia.
"Dari sekian banyak balon, kenapa bisa pas ya? Kak Genta tidak mungkin memasukan cincin ke semua balon?" Tika berharap Genta menggelengkan kepalanya.
"Apa aku sekaya itu mampu membeli seribu cincin?" Genta memegang balon yang memang terikat di dekat balkon kamar.
Atika bernapas lega, ternyata Genta tidak bodoh soal uang. Hati Tika benar-benar bahagia mendapatkan kejutan yang tidak pernah dirinya bayangkan.
Senyuman Tika dan Genta langsung lenyap, melihat balik berukuran besar terbang. Yang membuat kaget bukan balonnya, tapi ada Ria dan Isel di dalamnya.
"Kenapa mereka berdua ada di dalamnya? bukannya balon itu tidak bisa turun?" Tika menatap Genta yang geleng-geleng kepala.
Panggilan masuk dari Shin, Genta langsung menjawabnya jika Ria dan Isel menghilang. Mereka tidak bisa menemukan keberadaan keduanya.
Tatapan Genta tajam, menatap sinis dua anak yang melambai-lambai tangan layaknya seorang putri.
"Sayang, kita harus mencari bantuan. Jika balon sampai pecah, keduanya bisa jatuh. Lagian kenapa bodoh sekali? itu bukan balon udara." Genta menghubungi tim penyelamat untuk menurunkan balon yang di naik dua manusia yang kurang pekerjaan.
"Ayang, Tika ingin tertawa, tapi khawatir." Atika langsung duduk menundukkan kepalanya tertawa melihat Adiknya terlalu bodoh.
Genta juga memalingkan wajahnya tidak bisa menahan tawa, merasa lucu melihat kedua wanita melambai tersenyum bahagia tanpa mengetahui bahaya yang sedang mengintai.
"Dada Kak Tika," Isel tersenyum lebar.
"Kalian berdua hati-hati, jangan panik." Tika menutup wajahnya melambaikan tangan.
Ria mulai menyadari kelalaiannya, berteriak meminta Genta menurunkan helikopter. Ria tidak ingin terbang ke negara lain.
"Kenapa Kak Ria?"
"Ini semua gara-gara kamu, membuat balon terbang. Kita berdua tidak bisa turun bodoh!" Ria langsung ingin menangis takut jatuh.
"Kak satu balon pecah." Isel duduk sambil mengintip Tika yang masih tertawa.
"Kak kita terbang semakin tinggi." Isel mulai ketakutan.
"Diamlah Isel, lebih baik kamu berdoa sebelum kita jatuh." Tatapan mata Ria tajam.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira