ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SAINGAN BARU


__ADS_3

Pintu apartemen Juna terbuka, seorang wanita cantik berdiri di depan Juna sambil tersenyum sangat manis.


"Dokter Li, bantu Shin untuk masuk dan tunggu aku di ruangan tamu." Juna langsung masuk untuk melihat kondisi Mamanya yang sempat drop.


Tangan Shin dipegang oleh Liana, langsung duduk di ruang tamu. Senyuman manis Li terlihat, menatap mata Shin yang ternyata buta.


"Kamu pasiennya Dokter Juna?" Dokter Li tersenyum manis, nada bicaranya juga sangat lembut.


Kepala Shin mengangguk, mengumpat keadaanya yang tidak bisa melihat secara langsung wajah Dokter Li. Shin merasa tidak suka, ada perempuan lain yang dekat dengan Juna.


Banyak pertanyaan yang ditanyakan kepada Shin, Liana tertarik dengan Shin yang bisa dekat dengan dengan Juna.


Selama mengenal Juna, Li tidak pernah melihat Arjuna berkomunikasi dengan wanita secara berlebihan.


Kepada pasiennya saja, Juna hanya menyapa saat di rumah sakit atau sedang pemeriksaan. Pertama kalinya Juna satu mobil dengan wanita yang hanya sebatas pasiennya.


"Apa sakit kamu begitu parah? sampai Juna harus mengantar langsung ke rumah sakit." Li menatap Shin yang tersenyum sinis.


"Kenapa Dokter Li? penasaran hubungan aku dan Dokter Juna? kamu benar, hubungan kami lebih dari sekedar Dokter dan pasien." Shin tersenyum bangga, menunjukkan tanda kepemilikannya.


Tawa Li terdengar, bahkan sampai terpingkal-pingkal. Mengenal Juna selama enam tahun membuat Li sangat mengetahui siapa Juna.


Kening Shin berkerut, tawa Li seakan-akan mengejek dirinya. Shin bersumpah akan melihat wajah Li yang beraninya mentertawakan dirinya.


"Bagaimana kondisi Mama Li? sekarang Mama juga masih tidur." Juna menutup pintu kamar perlahan, langsung mendekati Shin dan Dokter Li.


"Semakin buruk Juna, kita belum bisa melakukan operasi melihat kondisinya, tunggu beberapa hari lagi untuk kita memutuskan." Li bicara sangat tegas, juga terlihat akrab dengan Juna.


Kepala Juna mengangguk, meminta Li benar-benar mengawasi Mamanya. Juna ingin secepatnya mengangkat kangker yang di derita Mamanya.


Shin mulai gelisah, rasanya Shin ingin mencongkel matanya yang tidak bisa melihat Juna dan Li yang masih berbicara serius.


"Apa mereka duduk bersebelahan? atau berhadapan? jangan-jangan saling menggenggam tangan." Shin membatin di dalam hatinya, kakinya menendang meja yang ada di depannya.


"Astaghfirullah Al azim, kamu baik-baik saja." Li langsung mendekati Shin mengecek kakinya.


"Kenapa kamu Shin? ada yang sakit?" Juna menyingkirkan meja.


"Maaf, Shin pamit pulang saja. Ay Juna tolong hubungi Tika." Shin meraba mencari Juna sebelah mana.

__ADS_1


Tangan Shin memegang pundak Li, menyentuh rambut panjangnya. Li berteriak kesakitan rambutnya dijambak oleh Shin.


"Maaf, aku tidak tahu." Shin cemberut, padahal di dalam hatinya tertawa mengejek.


Juna langsung memegang kedua tangan Shin, langsung mengecek mata Shin. Li juga memperhatikan Juna yang membicarakan mata Shin.


Keduanya terlibat kembali pembicaraan serius, Shin rasanya ingin sekali mencekik leher Li yang selalu mencampuri ucapan Juna.


"Diam, aku tahu. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang Ay Jun. Shin ingin melihat dunia secepatnya." Shin langsung berdiri, meringis kesakitan karena menabrak meja.


"Ay Jun, apa kalian pacaran? kenapa panggilnya Ayang?" Li tertawa mengejek panggilan Shin.


Tatapan Shin langsung tajam ke arah suara yang tertawa cekikikan seperti kuntilanak, hati Shin sudah terbakar api amarah.


"Aku dan Shin hanya sebatas hubungan ...." Juna melihat ponselnya yang ada panggilan masuk.


"Ay panggilan aku kepada semua orang tergantung sifat dan sikap, ada juga yang aku panggil Ay anjing, Ay brengsek, Ay sampah, Ay binatang, khusus untuk Dokter Li, Ay kuntilanak." Shin tersenyum sinis membuat Li langsung terdiam.


Suara panggilan terdengar, Li langsung melangkah ke kamar sambil memanggil Juna yang masih menjawab panggilan.


Li mengecek kembali kondisi Mama Citra yang sudah bangun, Juna langsung berlari mendekati Mamanya yang tersenyum.


Citra meminta maaf membuat Juna khawatir, selama ada Dokter Li disampingnya Juna tidak harus mengkhawatirkan Mamanya.


"Sudah tugas saya Ma, lagian Juna memberikan kepercayaan besar untuk mengawasi Mama Citra." Li tersenyum mengusap tangan Citra.


"Bagaimana perasaan Mama?"


"Baik Nak, Dokter Li menjaga dengan sangat baik."


Juna tersenyum, bersyukur karena Dokter berpengalaman seperti Li bersedia menjaga Mamanya.


"Kalian berdua sudah lama saling mengenal Jun?"


Arjuna menganggukkan kepalanya, dirinya dan Li sudah lama saling kenal karena berada di rumah sakit yang sama.


Li dan Juna berada ditingkat yang berbeda karena Juna Dokter jalur prestasi yang memiliki kemapuan medis luar biasa.


"Mama Citra tahu, Juna Dokter termuda yang paling hebat, Li sangat iri karena Juna ada di atas Li padahal aku lebih tua dua tahun." Tawa Li terdengar bersama Citra yang juga senang melihat kedekatan keduanya.

__ADS_1


Dari balik pintu Shin terduduk lemas, hatinya sangat hancur karena Li mendapatkan dukungan dari Mama kandung Juna.


"Shin, ayo kita ke rumah sakit." Juna membantu Shin untuk berjalan.


"Juna, malam ini kamu pulang ke sini untuk makan malam." Li mengantarkan Juna sampai mobilnya.


"Aku tidak bisa janji,"


Li tersenyum sangat mengerti kesibukan Juna, dan memakluminya dan akan mejelaskan kepada Mama Citra agar mengerti.


"Hati-hati di jalan Jun, Shin sampai bertemu lagi." Tangan Li melambai.


"Najis," Shin meletakkan handphone ditelinga berpura-pura ada panggilan agar Juna tidak curiga, padahal sengaja menyindir Li.


Mobil melaju pergi, Shin mempertanyakan hubungan Juna dan Li yang terlihat sangat akrab.


"Dokter Liana, dia juga mengenal kak Genta bahkan sejak kecil saling kenal."


"Kenapa? siapa dia?" Shin menggenggam erat tangannya.


"Mama Li, Dokter pribadi keluarga Leondra, hubungan Li dan keluarga Leondra sangat dekat, jadi wajar saja." Juna menghentikan mobilnya di rumah sakit.


Shin langsung terkejut, menahan tangan Juna untuk keluar mobil. Shin mengumpat di dalam hatinya, lawannya ternyata ada hubungan dengan keluarga Leondra.


"Lalu kenapa menjaga Mama Citra? apa hubungannya sama kamu?"


Juna melepaskan tangan Shin, langsung melangkah keluar membukakan pintu Shin memintanya untuk turun.


Keberadaan Li sangat Juna butuhkan, dia seorang Dokter yang sedang mendalami penyebaran kanker sehingga Juna merekomendasikan Dokter Li.


Ekspresi Shin langsung lemas, kepalanya pusing memikirkan wajah Li yang terdengar dari suaranya sangat lembut, pasti memiliki wajah yang sangat cantik.


"Belum juga mengungkapkan perasaan, sudah ada saingan." Shin membanting pintu mobil sangat kuat.


"Kenapa kamu terlihat kesal?" Juna menatap sinis, dirinya merasa aneh dengan perubahan sikap Shin.


Tanpa menjawab Shin langsung melangkah sendiri tanpa tahu tujuannya, Juna langsung menarik tangan Shin untuk berjalan bersamanya.


"Arjuna ... Arshinta ... kalian berdua dicari dari tadi. Juna kamu keterlaluan merahasiakan ini dari keluarga soal kondisi Shin." Suara teriakan dari kejauhan terdengar, Juna menghela nafasnya melihat Dokter cantik yang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2