
Suara langkah kaki Altha berlari terdengar, menatap Tika sudah duduk di atas meja sambil cemberut sedangkan Aliya tidur menjadikan paha Arjuna bantal.
Juna hanya duduk diam membaca buku, dan satu tangannya mengusap rambut Maminya yang baru selesai menangis.
"Ada apa Juna?" Alt duduk melihat anak-anaknya.
"Tanya Tika Pi, hari ini dia membuat Mami selalu menangis." Tatapan Juna tajam melihat adiknya yang menggigit kukunya, cemberut dan terdiam.
Tatapan Altha berpindah kepada si kecil yang duduk bersila di meja, ada tas kecil yang Tika dukung.
Altha meminta Tika menjelaskan kenakalan yang dia lakukan sampai membuat Maminya menangis, karena Alt tidak ingin Tika berbuat kelewatan batas.
Atika hanya mengangkat bahunya, dia juga binggung letak salahnya di mana. Maminya selalu menangis, tapi Tika suka melihat Maminya menangis.
"Tika, Papi selalu mengajari kamu sopan santun, dan tidak kelewatan dalam bercanda. Jelaskan apa kesalahan kamu?" Altha menghela nafas, dia harus meninggalkan pekerjaan, hanya karena anaknya membuat istrinya menangis berkali-kali.
"Tika tidak tahu, apapun yang Tika lakukan Mami menangis." Bibir Tika monyong, menatap Papinya sinis.
Saat makan Tika mengambil ayam Maminya langsung menangis, Tika meminjam ponsel menangis, tidak sengaja menjatuhkan sendok menangis, mengambil apapun yang menjadi milik Maminya selalu menangis.
"Tika lagi belajar beladiri, tidak sengaja menjatuhkan sapu, tidak menyentuh Mami sama sekali tapi langsung menangis." Kedua tangan Tika terangkat.
Dirinya tidak tahu salahnya di mana, Maminya terlalu sensi sehingga menangis terus. Marah tidak berani akhirnya menangis.
Altha mengaruk kepalanya, hanya masalah sepele sudah ribut. Dirinya harus bergegas pulang hanya karena kenakalan Tika dan Aliya yang tidak berhenti menangis.
Aliya terbangun, langsung memeluk Altha sambil menangis menunjuk Tika yang selalu menganggu.
"Kenapa menyalahkan Tika? kak Juna tolong bela Tika."
"Terserah kalian, satunya nakal, satu lagi cengeng." Arjuna melanjutkan membaca bukunya.
"Kamu kenapa sayang? ayo kita bicara." Altha menggenggam tangan istrinya yang memang banyak berubah.
Kepala Aliya menggeleng, Al tidak tahu kenapa dirinya sangat sensitif. Melihat ponsel ada anak kecil menangis saja Al langsung ikutan menangis.
Perasaan Aliya terlalu baper, melow dan apapun yang dia lihat membuatnya mudah menangis. Saat kesal Al hanya ingin menangis.
Altha memijit pelipisnya, tidak mengerti apa yang sedang terjadi kepada istrinya yang berubah.
"Kamu ada banyak beban pikiran? atau ada hal yang tidak kamu sukai. Katakan saja agar aku bisa memperbaikinya." Kedua tangan Altha menakup wajah Aliya, siap mendengarkan apapun keluhan Al soal rumah tangga mereka.
__ADS_1
Senyuman Aliya terlihat, mendekati telinga Altha membisikkan sesuatu. Alt hanya bisa menepuk jidat mendengar istrinya ingin berhubungan di siang hari.
"Kamu pasti menangis jika aku menolaknya." Senyuman Altha terlihat, binggung ingin mengatakan apa.
Aliya tertawa, meminta Altha mengusir kedua anak mereka yang bisa menggangu terutama kemunculan Tika yang tidak mungkin bisa diam.
"Papi, Mami Juna ke kamar dulu." Arjuna langsung meninggalkan ruang keluarga untuk melanjutkan pekerjaannya di kamar.
Atika sudah membawa tas, sepatu boot, juga alat perang lainnya untuk menemui Diana yang tinggal di depan rumah mereka.
"Tika, pulang jangan sore apalagi malam. Hati-hati, di rumah Uncle sedang ada persiapan untuk pernikahan." Alt melihat putrinya dari jendela yang sudah berlari untuk bermain.
Aliya memeluk Altha dari belakang, langsung minta digendong ke kamar. Alt menurut apapun keinginan istrinya karena jika berdebat Al pasti menangis.
Dua jam Altha dan Aliya habiskan untuk tidur bersama, tidak menghiraukan suara ketukan pintu yang bekali-kali terdengar.
"Ayang, siapa yang menganggu?" Al mendorong Altha untuk membuka pintu.
Pintu terbuka, Tika langsung masuk dan lompat ke atas tempat tidur. Altha hanya bisa menarik nafas panjang, Aliya tidak menggunakan baju sama sekali, sedangkan Tika sudah masuk.
"Tika, keluar dulu sayang." Alt mengambil bajunya.
"Mi, Mami bangun. Mami dengarkan Tika." Atika masuk ke dalam pelukan Maminya yang cemberut.
Kening Tika berkerut, maminya tidak punya pekerjaan apapun bisa capek. Tika mengusap wajah Aliya memaksa Maminya bangun.
"Ada apa? kamu belum tidur siang ya?" Al langsung duduk, memegang selimut yang menutupi dadanya.
"Mami ikut Tika dulu, nanti Tika tunjukkan." Mata Tika berkedip pelan memberikan isyarat.
Aliya menganggukkan kepalanya, langsung membawa selimut ke kamar mandi. Altha juga sudah menggunakan bajunya kembali tersenyum melihat Aliya yang masih lelah.
"Sayang, aku pergi dulu ya." Altha mencium seluruh wajah Aliya.
Al langsung membalas, meminta Altha berhati-hati dan selalu memberikan kabar jika pulang terlambat.
Selesai mandi, Aliya mengikuti Tika yang memaksanya untuk ikut ke rumah Anggun yang sudah ramai orang-orang memasang tenda untuk pernikahan.
"Apa yang ingin kamu tunjukkan kepada Mami?" Al mengerutkan keningnya melangkah masuk ke dalam rumah.
"Tika sebentar lagi ulang tahun, nanti pesta harus seperti ini." Tika menunjukkan pelaminan yang sudah dihias indah.
__ADS_1
Tatapan Aliya tajam, acara pernikahan dan ulang tahun berbeda. Otak Tika sudah liar karena berteman dengan Diana.
"Di, kamu mengajari Tika apa?" Al mendekati kakaknya yang sedang makan setelah lelah berkerja.
"Apa? aku tidak tahu."
Aliya duduk bersama Diana, melihat Atika yang mengecek tempat-tempat untuk acara ulang tahunnya harus mirip dengan pesta pernikahan Anggun dan Dimas.
"Tante, Tika sangat menyayangi kamu. Dia bercerita jika Maminya hari ini banyak menangis, sehingga ingin memberikan acara pesta agar Maminya tertawa lagi." Senyuman Diana terlihat, meminta Tika mendekat agar tidak menggangu para pekerja.
"Aku juga sangat menyayangi dia Di." Aliya langsung menggendong Tika duduk dipangkuan.
Diana meminta Tika duduk di kursi, berbahaya duduk bersama Aliya. Diana juga menyarankan agar Al periksa ke dokter untuk cek kesehatan.
"Mami Tika sakit?"
"Mungkin." Diana menatap Mommynya yang membawakan makanan.
Anggun menatap Aliya yang masih diam, melihat makanan yang Anggun bawa Al langsung berlari ke kamar mandi.
Melihat Al yang berlari, Anggun langsung mendekatinya. Melihat Aliya muntah, dan membantu menepuk pelan punggung Al.
"Kamu baik-baik saja Al?"
"Aku rasa tidak kak." Aliya menyentuh perutnya, Al memang selalu muntah jika melihat makanan tertentu.
Suara Tika berteriak terdengar, menarik kakaknya Juna mengatakan jika Maminya sakit dan muntah-muntah.
"Mami baik-baik saja." Juna menatap dengan cemas.
"Iya sayang, mungkin hanya kecapean." Al mengusap kepala Juna yang ngos-ngosan berlari.
"Mami tidak punya pekerjaan, kenapa bisa lelah?" Tika menatap Anggun, meminta membawa maminya ke rumah sakit.
Anggun tersenyum, menatap Aliya yang mungkin memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya.
"Kamu sudah melakukan tes Al?" Anggun tersenyum dan ikut bahagia jika dugaan mereka benar.
Aliya hanya menggeleng, dia akan mencobanya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara