
Kemarahan Genta terdengar, Tika merusak bukti untuk kasus yang hampir merenggut nyawa Mamanya.
"Kamu punya otak? gunakan. Apa hidup kamu penuh dengan candaan?" Suara Genta lantang, melihat mata Tika yang terlihat santai.
"Saat menghadap orang seperti mereka, aku tidak menggunakan hati dan pikiran karena melawan orang tidak berakal kita juga harus kehilangan akal." Tangan Tika menyentuh dagu Genta, mendekatkan wajah keduanya.
"Kamu memang wanita kurang ajar, tidak bisa menghormati orang yang lebih tua." Tangan Tika ditepis kasar, Genta semakin tidak menyukai kehadiran Tika.
Senyuman Tika terlihat, langsung melangkah pergi meninggalkan Genta untuk melihat pelaku yang sudah dilarikan ke rumah sakit.
Beberapa polisi berlarian, Genta juga ikut berlari melewati Tika yang sudah tahu apa yang terjadi di jalan. Pelaku hanya orang yang memiliki kemampuan bela diri, tetapi tidak mempunyai mental penjahat.
Selama di dalam pengawasan Tika bisa melihat mata yang ketakutan, ekspresi wajah yang was-was merasa ada yang mengawasi dan siap membunuhnya.
Melihat mobil polisi kejar-kejaran, Atika juga melajukan mobilnya untuk mengejar mobil yang membawa pelaku ke rumah sakit.
Dugaan Tika benar, terjadi sesuatu saat pelaku dibawa ke rumah sakit. Ada tiga mobil yang mengikutinya, memaksa mobil untuk berhenti tetapi beberapa polisi di dalamnya masih bertahan.
Mobil Genta dan Atika beriringan, alarm keamanan juga sudah berbunyi. Penggunaan jalan lain sudah menyingkir karena area jalan sedang berbahaya.
"Jika seperti ini akan ada aksi bunuh diri." Tika melajukan mobilnya, mengambil jalur lain langsung mempercepat lajunya untuk menghentikan tiga mobil yang menyerang.
"Apa yang Tika rencanakan?" Genta melihat mobil Tika keluar jalur, jika ada mobil berlawanan bisa membahayakan nyawanya.
Senyuman Tika terlihat, berhasil melewati mobil lain. Secara tiba-tiba, Tika putar arah berlawanan dengan kecepatan tinggi menghentikan mobil.
Mobil polisi berhenti, tapi tiga mobil yang menghadang mempercepat laju tidak peduli dengan Atika yang berdiri di tengah jalan.
"Kalian ingin melarikan diri, jangan harap." Atika mengarahkan dua senjata ke mobil, suara tembakan terdengar, ban depan mobil ditembak membuat dua mobil oleng langsung menabrak pembatas jalan.
Mobil terakhir masih mempercepat lajunya, satu senjata diarahkan di ban, dan satunya ke arah kepala supir.
"Satu ... dua ... ti ...." Tika belum menembak, mobil sudah berhenti lebih dulu.
Supir langsung keluar, mengangkat tangannya berlutut tidak ingin mati ditangan Tika yang mengarahkan senjata di kepala.
__ADS_1
Mobil Genta juga tiba, melihat tiga mobil berhasil dihentikan. Beberapa orang berbadan besar keluar, bergerak menyerang Tika yang sudah bertarung.
Pertarungan satu wanita melawan delapan pria bertubuh besar tidak bisa dihindarkan, Genta langsung berlari untuk membantu Tika.
"Ternyata kalian cukup banyak, berapa kekayaan orang yang membayar kalian?" Tika melayangkan pukulan.
Genta juga langsung bertarung, melumpuhkan lawan yang dikirim untuk membunuh pelaku utama yang menyerang Citra.
Atika sengaja membuat pelaku dikeluarkan dengan alasan keracunan, lalu dilarikan ke rumah sakit untuk menangkap komplotan lain yang pastinya dikirim untuk membunuh pelaku agar barang bukti hilang.
Beberapa polisi datang, langsung mengelilingi pelaku penyerangan. Tika tersenyum melihat Genta yang menatapnya.
"Lepaskan satu, tangkap delapan. Lawan sedang dalam kegelisahan karena rencana pertama dan kedua gagal." Senyuman Tika sangat manis, bangga dengan dirinya sendiri.
"Kamu baik-baik saja Tika?" Genta melihat bibir Tika pecah karena mendapatkan pukulan.
Tangannya juga berdarah, mengalami luka karena terlalu banyak memukul. Kaki Tika juga sudah tidak menggunakan sendal lagi.
"Jangan pedulikan aku, urus saja mereka. Setidaknya dalam satu minggu ini tidak akan ada yang mendekati Shin dan Citra karena mereka sibuk menyusun rencana baru." Tika berjalan ke mobilnya yang sudah mengeluarkan asap.
Genta melihat Tika mengambil tasnya dari dalam mobil berjalan menjauh meninggalkan lokasi yang sedang gaduh karena delapan pelaku kejahatan tertangkap.
"Kamu tidak keracunan?" Genta melihat mulut yang ada bekas busa.
"Dia menjamin saya untuk diringankan hukumannya, memberikan sebuah permen sampai mulut berbusa."
"Atika memang wanita licik, bawa pria ini kembali ke kantor polisi." Genta menutup pintu mobil langsung melangkah pergi mengejar Tika yang masih berjalan kaki.
Dari kejauhan Genta melihat Tika berdiri di depan toko, mengikat rambut panjang agar rapi. membuka jaketnya membuang di tempat sampah.
"Aku mirip gembel." Tika masuk ke toko, membeli sepatu untuk kakinya.
Sebelum memakai sepatu, Tika membersihkan kakinya yang ada luka. Sesaat Tika terdiam, seandainya ada Shin mungkin sekarang ada yang mengobatinya.
"Kenapa kamu harus di rumah sakit? membuat sedih." Tika mengusap matanya.
__ADS_1
"Bagian mana yang sakit?" Genta langsung berlutut, mengangkat kaki Tika melihat luka langsung mengobatinya.
"Om, apa Shin bisa melihat kita lagi? apa dia siap membuka kasus ini lebih dalam lagi." Tika melihat ke langit malam yang mulai terasa dingin.
Genta hanya diam saja, mengobati kaki Tika. Saat Atika meringis, Genta meniup lukanya agar tidak perih.
Tatapan mata Genta melihat bibir Tika yang ada darahnya, langsung membersihkan perlahan agar tidak mengalami bengkak.
"Kamu terbiasa mengambil keputusan sendiri, apa yang kamu lakukan hari ini berbahaya." Genta memasang jaket agar Tika tidak kedinginan.
"Ini menyenangkan, aku suka melihat lawan ketar-ketir. Mereka pasti sedang penasaran, tidur juga tidak mungkin tenang." Tawa kecil Tika terdengar.
"Jika orang tua kamu tahu, pasti sangat khawatir." Genta menghela napasnya.
Kepala Tika mengangguk, orangtuanya pasti khawatir karena Putri mereka terlibat dengan kejahatan, tetapi Tika tahu Mami dan Papinya tahu batas kemampuan dirinya.
Atika tidak akan mati konyol, dengan mempertaruhkan nyawanya. Dirinya hanya ingin mengobati luka hatinya, dan membuat orang yang melukainya membayar kontan perbuatannya.
"Aku tidak peduli apa masalah kamu Tika, tetapi apapun yang bersangkutan dengan Shin kamu harus memberitahu aku, termasuk masalah ini." Genta mengulurkan tangannya, meminta Tika pulang dan beristirahat.
"Masalah Shin juga masalah Tika, berarti masalah Tika juga urusan Om juga. Kita berdua memiliki masalah yang sama." Tangan Tika memukul telapak tangan Genta yang meringis kesakitan.
Tika kaget, tangan Genta langsung berdarah karena luka pisau saat menangkap pelaku yang menyerang Citra belum diobati.
Cepat tidak membersihkan darah, mengobatinya perlahan karena luka cukup dalam. Tika bahkan meringis kesakitan.
"Siapa Melly Tika?"
Atika menatap wajah Genta spontan, tidak menyangka jika Genta mendengar Tika menyebut nama Melly.
"Dia seseorang dari masa lalu Mami Al dan Citra, Mami menangkap bandar terbesar bersama Papi, dia istrinya bandar tersebut." Tika menatap mata Genta yang langsung serius.
"Hubungan dengan Citra?"
"Mama memiliki anak dari Putra tirinya, tetapi Uncle Roby dan Amora meninggal dalam kecelakaan yang disebabkan oleh Alina, tetapi sebenarnya Alin hanya perantara kejahatan mereka." Tika meneteskan air matanya, jika menyebut adik kecilnya yang sudah tiada.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira