ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KECELAKAAN


__ADS_3

Penjaga tempat makan di depan rumah sakit hanya menatap wajah Shin yang terluka, tapi dia asik menghabiskan makanannya.


"Cahya, kamu ...."


Shin menatap binggung, tidak melihat siapapun selain dirinya yang sedang menikmati makanan.


"Nenek memanggil Saya?" Shin menunjuk dirinya sendiri.


"Cahya, kamu Putrinya Cahya." Nenek mengambilkan air minum untuk Shin.


"Oh, nama saya Arshinta. Cahya nama Mama, tapi Mama sudah lama meninggal sejak Shin lahir." Senyuman Shin terlihat melanjutkan makannya.


Senyuman Nenek terlihat, mengambil obat membersihkan wajah Shin. Nenek sudah berjualan lebih dari tiga puluh tahun, dan mengenal Mamanya Shin yang baik hati.


"Nenek jualan tiga puluh tahun, kenapa tidak kaya? pembeli juga tidak ada." Kepala Shin celingak-celinguk.


"Tempat ini dulu ramai apalagi ada Mama kamu, dia suka ikut jualan makanan dan membawa banyak temannya." Nenek tersenyum melihat sikap Shin sama seperti Mamanya.


Wanita baik yang selalu membantu banyak orang selalu datang berkunjung dan berjanji akan kembali terus menerus, dia juga membawa suami dan anaknya. Nenek bahkan mengingat jelas, saat Cahya meminta doa saat ingin melahirkan anak keduanya.


Keluarganya sangat bahagia, memiliki Putra dan Putri. Sebelum pulang ke rumah Cahya dan keluarganya menyempatkan diri untuk makan.


Nenek bahkan melihat wajah Putri kecil yang sangat cantik, tapi hari itu menjadi terakhir kalinya Cahya dan keluarganya datang.


"Apa Shin cantik? cantik sekarang atau dulu?" Senyuman Shin terlihat, meminta Nenek tidak bersedih. Shin dan Kakaknya sudah ikhlas dan ingin membuka lembaran baru.


"Kamu sangat cantik, apa Kakak kamu juga ada di sini?"


"Tentu,"


"Sudah lama Genta tidak datang ke sini, dia tidak pernah tahu jika memiliki adik."


"Nenek ketinggalan informasi, kita sudah mengetahui semuanya. Dan pelaku yang mencelakai Mama dan Papa sudah mendapatkan hukumannya." Suara Shin mengejek terdengar.


Nenek tersenyum, mengusap kepala Shin dengan lembut. Nenek akan segera menutup toko untuk selamanya, tidak ada lagi pembeli yang akan datang karena banyaknya persaingan dan berubahnya zaman.


"Ini Nenek kembalikan uang yang tiga puluh tahun lalu Cahya pinjamkan, Nenek bahagia karena Genta tidak sendiri lagi, dan kamu juga terlihat bahagia." Nenek menyerahkan uang kepada Shin.


"Shin terluka Nenek bilang bahagia, sungguh luar biasa. Kenapa jumlah uangnya sedikit sekali?" Shin menepuk jidat, perubahan nominal mata uang juga sudah berubah seharusnya Nenek memberikannya bunga.


Tawa Nenek terdengar, Nenek pernah memberikan kepada Genta amun ditolak, sedangkan Shin meminta bunganya. Perbedaan sikap yang sungguh jauh berbeda, Shin mengikuti sikap Ibunya yang suka bercanda, sedangkan Kakaknya mengikuti Papanya.

__ADS_1


"Nenek ingin pergi ke mana?'


"Sudah waktunya Nenek istirahat, makanan hari ini gratis. Kamu boleh pulang karena Nenek akan menutup toko." Nenek membersihkan bekas makan Shin.


"Nenek sudah kaya, tidak berniat memberikan Shin bunga?"


"Kamu wanita materialistis,"


Suara Shin tertawa terdengar, mengucapkan terima kasih atas makanan juga jajan untuk dirinya. Shin beranjak pergi meninggalkan tempat makan kecil yang ada di seberang rumah sakit.


Nenek memperhatikan langkah Shin yang berjalan ke arah tempat ibadah, memasukkan uangnya.


"Uangnya sudah Shin kembalikan kepada Mama, jangan suka berhutang lagi Nek." Shin menjulurkan lidahnya sambil melambai-lambaikan tangannya.


Beberapa mobil mewah memasuki rumah sakit, Shin bersembunyi di balik pohon. Melihat Tika keluar dari mobil, berlari ke dalam rumah sakit.


"Ah mampus, kenapa Tika bisa ada disini?" Shin juga melihat Genta dan Gemal berlari ke dalam rumah sakit.


Di dalam rumah sakit, Tika masuk ke dalam kamar rawat. Melihat pria berbadan besar yang berdiri melihatnya sinis. Pukulan Tika kuat menghantam perut, tendangan juga melayang membuat pria dihadapannya jatuh telentang.


"Kamu mencari masalah karena menyakiti Shin, inilah akibatnya." Tika ingin melayangkan pukulan kedua, tangannya ditahan oleh Juna dan ditarik keluar kamar.


"Keterlaluan kamu, sikap kamu seperti preman Tika!" Juna menatap marah. Juna menjelaskan jika rumah sakit tempatnya orang sakit bukan tempat menghakimi apalagi adu kekuatan.


"Selesaikan di kantor polisi," Juna menatap Genta dan Gemal yang lari-larian.


"Di mana Shin?"


Juna sudah mengecek CCTV, penyebab awal terjadinya pertengkaran. Pria yang bermasalah dengan Shin sedang mengalami sakit, dia tidak mengingat siapa dirinya. Emosi juga tidak stabil, dia sudah keluar masuk rumah sakit berkali-kali.


Genta juga tahu jika pria yang bertengkar dengan Shin, selalu keluar masuk kantor polisi karena terlibat perkelahian.


"Dia seharusnya masuk rumah sakit jiwa,"


"Maafkan dia, kami sungguh meminta maaf." Wanita yang bersama pria besar meminta maaf sudah menyakiti Shin.


"Tidak dimaafkan, enak saja." Tika beranjak pergi menghubungi Shin.


Juna, Genta dan Gemal juga mengikuti Tika, mereka harus mencari Shin untuk melihat lukanya.


Panggilan Tika tidak dijawab, dari kejauhan Tika menatap seorang wanita yang berdiri di seberang jalan sambil menikmati es krim. Emosi Tika tidak terbendung, merasa emosi melihat Shin yang dengan santainya menunggu dari seberang jalan.

__ADS_1


"Aku yang akan membunuh kamu Shin!" Tika berlari.


Shin tertawa melihat Tika yang marah-marah, kendaran berhenti semua karena khusus pejalan kaki, Tika berlari menyebrang dan mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arah Tika.


"Awas Tik,"


Teriakan Shin kuat menutup matanya, mobil lewat dengan kecepatan tinggi segera melarikan diri. Tangan Shin bergetar membuka matanya melihat Tika berada dalam pelukan Genta.


"Tika! kamu tahu ini bahaya, kenapa tidak menghindar?" Genta memeluk erat, berteriak marah merasakan khawatir.


Gemal menarik tangan Tika dan Genta untuk menyingkir dari jalan, pengawal langsung mengejar mobil. Juna sudah terdiam seperti patung, jantungnya lemas melihat adiknya dalam bahaya.


"Kamu baik-baik saja Tika?" Gemal melihat Genta yang meneteskan air mata, memalingkan wajahnya mengusap wajah.


Tangan Gemal mengusap punggung Genta, menenangkan yang hampir saja melihat Tika kecelakaan.


Di seberang jalan, Shin masih berdiri tegak. Es krimnya terjatuh, begitupun dengan air matanya.


"Tetap di sana Shin, Kak Gemal akan menjemput kamu."


Semuanya pulang satu mobil, Tika dan Shin sudah berpelukan. Genta diam saja masih emosi, begitupun dengan Juna yang tidak terima Adiknya hampir kecelakaan.


"Hentikan mobilnya di kantor polisi Kak, Genta ada urusan."


Gemal menuruti, laporan sudah masuk jika pengedaran mengkonsumi obat terlarang. Demi ketenangan hati, Gemal mengizinkan Genta meluapkan emosinya.


"Juna ikut Kak,"


"Tidak, kamu pulang." Nada dingin terdengar yang tidak ingin dibantah.


Shin dan Tika takut jika Genta sudah bersikap dingin, Juna juga memilih tidak membatah daripada ada perdebatan.


Sesampainya di rumah Gemal meminta diam tidak menceritakan kepada siapapun karena di rumah sedang sibuk membuat baju untuk pernikahan.


"Kamu baik-baik saja Tika? kak Juna periksa dulu."


"Tika baik Kak, Shin yang butuh diperiksa." Tika melihat Shin yang takut masuk.


"Kalian berdua ikut Kak Jun,"


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


***


__ADS_2