
Sebelum Juna pulang masih menyempatkan diri meminta maaf secara pribadi kepada Hana, sungguh tidak ada niat Juna mempermainkan apalagi merusak hubungan baik keluarga.
Sejak kecil Juna sudah sangat mengangumi Hana, dia panutan bagi Juna juga Kakak yang baik. Banyak nasihat yang Hana berikan kepadanya untuk selalu kuat.
Setulus hati Juna mengangumi Hana sebagai seorang wanita, menganggap Hana wanita yang sangat baik.
"Kak Hana tidak memiliki cacat apapun, Juna baru sadar rasa kagum dan cinta itu berbeda,"
"Sekarang kamu sudah dewasa Juna, kamu sudah benar mengambil tindakan. Kak Hana bahagia melihat kamu yang sekarang, sebagai seorang Kakak aku bangga." Senyuman tulus masih terlihat, tidak ada kemarahan sedikitpun dari wajah Hana.
"Maafkan Juna Kak, tidak ada niat mempermalukan apalagi merendahkan. Sekali lagi Juna meminta maaf." Kepala Juna tertunduk dalam merasa sangat bersalah.
"Maaf hanya untuk seseorang yang melakukan kesalahan, kamu tidak salah. Jodoh sudah diatur, kita tidak disatukan dalam ikatan pernikahan, tapi izinkan Kak Hana tetap menjadi Kakak untuk kamu. Kita tetap menjaga hubungan keluarga yang erat seperti dahulu. Juna tersenyumlah, Kak Hana sedih jika kamu juga merasa bersalah." Hana membentuk senyuman di wajahnya meminta Juna tersenyum kepadanya.
Mereka akhiri hubungan dengan baik, Hana ikhlas karena dia sangat percaya kematian yang pasti di dunia ini. Doa Hana dia dan Juna dipertemukan dengan jodoh terbaik menurut takdir.
Air mata Aliya dan Altha menetes, Juna akhirnya kehilangan wanita baik untuk mereka, tapi lebih percaya Juna memilih wanita terbaik menurut hatinya.
Mata Helen sembab melihat keikhlasan hati Adiknya, Hana sudah cukup banyak diuji. Kehilangan sahabat yang dia percaya, dan kehilangan Cinta yang dia nantikan selama ini.
"Siapa wanita itu Jun?"
"Maksudnya Kak Hana?"
"Apa dia Shin? kamu mencintai ipar Tika." Hana tersenyum menyadari jika Juna menyimpan rasa kepada ipar Adiknya.
"Ya, aku menginginkannya, dan aku ingin mengakuinya." Juna jujur pertama kali hanya di depan Hana.
"Percepat, dia wanita yang memiliki wajah cantik, hati cantik dan sangat penyayang meksipun kurang sabar," Hana tersenyum karena dulu Juna selalu pusing karena kenakalan Tika, tapi sekarang dia memilih wanita yang sama aktifnya.
Keluarga Juna pamit undur diri, Helen tidak mengantar keluar hanya Yandi dan Hana yang mengantarkan. Aliya sedih melihat sahabatnya yang terluka, tapi apa yang bisa dia perbuat kecuali melepaskan persahabatannya.
__ADS_1
"Al, jangan terlalu memikirkan Helen, dia akan membaik setelah mendengar Hana ceramah dua puluh empat jam." Yandi menyemangati Aliya yang menganggukkan kepalanya.
"Aku pulang, terserah jika masih marah. Aku tidak akan meminta maaf karena kamu sudah memukul Putraku. Setidaknya kita impas." Al melangkah ke mobilnya sambil mengusap air matanya.
Mobil melaju pergi, Juna memeluk Maminya yang masih menangis. Masih merasa sedih karena hubungannya dan Helen yang merenggang.
"Ini semua gara-gara kamu Juna, awas saja kamu tidak berhasil mendatangkan wanita itu. Mami Ngantung kamu." Al mencubit telinga putranya yang tersenyum.
Panggilan masuk di handphone Aliya, dari rumah memberikan kabar jika Ria berkelahi dan dilarikan ke rumah sakit.
Tangan Aliya sampai gemetaran, anaknya ikut tawuran sampai tertusuk pisau karena lawannya para lelaki.
Kedua tangan Al memegang kepalanya, memberitahu Altha soal kondisi Ria tidak sadarkan diri di rumah sakit.
Jantung Altha dan Juna berdegup kencang, Ria bukan Tika yang suka berkelahi. Dia lebih suka menyindir dan memanasi orang, tapi jarang sekali terlibat pertengkaran secara grup.
"Tenang Mami, Ria pasti baik-baik saja." Juna memeluk Maminya yang memegang dada menghubungi Tika soal kondisi Adiknya.
"Ria, diamnya kamu tidak akan menyelesaikan masalah!"
Mata Ria sinis, melewati Juna begitu saja. Tidak peduli rasa sakit diperutnya. Panggilan Aliya dan Altha juga tidak dihiraukan.
"Kenapa kalian semua keras kepala? apa Mami selalu membawa ke dalam masalah? hanya karena keinginan tidak dituruti, kamu bisa mendiamkan orang yang lebih tua. Di mana sopan santun kamu?" Al berteriak menarik pundak Ria untuk melihatnya.
"Aliya jangan emosinya, Ria masih terluka." Altha mengusap wajah Putrinya ingin tahu kondisinya.
"Kak Juna periksa ulang kondisi kamu, jangan seperti ini Dek,"
"Bukannya keluarga kita hebat? ada berapa kepala polisi di sini dan berapa yang menjadi dokter, ada pengacara bahkan pengusaha hebat. Cari tahu sendiri, bukannya kekuasaan kalian bisa mendapatkan segalanya. Inilah menjaga kehormatan." Ria tersenyum sinis tidak membutuhkan pengobatan.
"Kenapa kamu marah Ria? bicara dengan Kak Juna."
__ADS_1
"Aku tidak marah Kak." Tangan Tika menunjukkan ke arah banyaknya orang jenius, memiliki pangkat juga status tinggi, tapi kalah dengan seseorang yang hanya bekerja sendiri.
Dia tidak memiliki banyak bawahan, tidak juga memiliki banyak uang, tidak memiliki pangkat juga status bahkan tidak dikenal siapapun.
Otak jenius mampu mengalahkan satu wanita kecil yang licik, dia tidak membutuhkan bantuan siapapun, tapi mampu membuat banyak orang ketar-ketir.
"Orang yang hampir menusuk Dina, dia datang ke sekolah sebagai pelayan dan menyerang Ria. Ingin tahu apa yang dia katakan? bagaimana kondisi Aliya? persahabatannya hancur, Putranya patah hati, malam pertama Tika berantakan, Isel jatuh sakit, Genta sibuk mengejarnya padahal dia tidak pernah bersembunyi. Di mana kekuasaan kalian semua? tidak ada gunanya sejak awal sudah mengikuti permainannya." Tendangan Ria menghantam kursi, Ria bersumpah akan membalas Dina, merobek mulutnya yang mengeluarkan bau melebihi sampah.
Senyuman Shin dan Tika terlihat, menyukai Ria yang akhirnya bangkit menunjukkan siapa dirinya. Dina menganggap Ria yang mudah dia taklukan, tapi salah besar.
Darah yang ada ditubuh Ria bukan miliknya, tapi Dina menusuk tubuhnya sendiri karena Ria bisa membalikkan keadaan.
Beberapa mobil melaju pulang, Tika menatap tangan Ria yang mengepal erat. Dia akan menemukan Dina sebelum polisi dan memukulinya.
"Ria, dia manusia licik jangan dianggap remeh. Polisi saja sudah berhasil dikecoh, kita hanya perlu memancing dia keluar." Shin meminta Tika tidak ikut campur dan fokus terhadap pernikahan. Dia bisa liburan beberapa hari untuk menghabiskan malam bahagianya.
Teriakkan Ria terdengar, joget-joget kesenangan saat mengetahui pertunangan Juna dan Ana sudah dibatalkan. Senyuman lebar Ria terlihat merasa puas jika rencana Dina gagal.
"Apa Dina yang menyerang kamu?" Tika tidak percaya dengan ucapan Ria.
"Bukan, aku yang menyerang dia duluan,"
"Apa benar soal ucapan Dina?"
"Jangan bodoh kak Shin, itu hanya karangan Ria saja. Kapan lagi bisa menghina polisi, dokter dan pengusaha sekaligus." Tawa Ria terdengar, Dina tidak punya kesempatan untuk bertanya karena sibuk bersembunyi.
Tika dan Shin langsung mengumpat, Ria memang paling pintar drama sehingga tidak bisa membedakan dia jujur atau berbohong.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1