
Pelukan Tika erat kepada suaminya, mengadu karena Shin mengambil bajunya. Mereka bertarung selama berjam-jam.
"Kenapa selalu bermain pukul-pukulan? kalian berdua sudah dewasa. Apa lagi ini sampai babak belur?" Genta mengambil air mengusap wajah Tika agar sadar dari tidurnya begitupun dengan Shin yang di percikan air.
Kepala Tika menunduk terguran suaminya benar jika mereka berdua sudah dewasa tidak wajar lagi bermain pukul-pukulan, tapi Tika merasa apa yang dia lakukan tidak salah.
Hanya dengan bertarung Tika bisa menolong rasa sakit sahabatnya, jika mengakui dan jujur terlalu membuat Shin bersalah, maka melepaskan amarah solusinya.
Tika rela terluka asalkan bisa menemaninya sahabatnya, tidak perlu ada yang tahu perasaan Shin, cukup Tika saja.
"Yang, ayo pulang. Shin diusir dari rumah." Tika mengandeng tangan suaminya melarang Shin untuk ikut.
"Kakak." Shin lompat ke atas punggung Genta, meminta digendong karena matanya masih mengantuk.
Kepala Genta hanya bisa geleng-geleng, mengendong adik kesayangannya dan merangkul istri tercinta.
Tatapan Juna terlihat, berharap orang yang menggendong Shin dirinya. Tertawa dan melepaskan segala beban hati mereka.
"Ayo Juna kita berangkat,"
"Kalian yakin Altha untuk mengakhirinya?"
Kepala Altha mengangguk, dia meminta bantuan Dimas menjaga Putrinya Ria yang mungkin sedang membuat masalah.
Alt tidak bisa melihat Putranya menjalin hubungan tanpa rasa menginginkan, kesedihan Juna akan menjadi luka semuanya. Ria sudah lebih dulu kecewa karena orang dewasa lebih mengutamakan kehormatan daripada perasaan.
"Semoga semuanya baik-baik saja, apapun hasilnya kita dukung. Semangat Juna, perjuangan apa yang ingin kamu miliki ini baru namanya lelaki." Dimas mengusap punggung Juna agar tidak merasa bersalah karena membatalkan lamaran.
"Bisa menyemangati Kak, padahal dulu lebih parah dari Juna,"
"Kenapa mengungkit?" Dimas melihat istrinya yang berjalan pulang membawa penggorengan.
Kekesalan istrinya masih dibawa sekalipun sudah menikah lama, sikap Dimas yang tidak banyak berjuang selalu diungkit Istrinya.
Juna pamit untuk pergi bersama kedua orangtuanya, berbicara baik-baik dengan keluarga Hana mungkin solusi untuk hubungan selanjutnya.
__ADS_1
Tidak ada keraguan lagi dari Juna, dia sudah yakin untuk jujur kepada keluarga Hana meksipun tidak disambut baik.
Sesampainya di rumah keluarga Helen, Aliya tersenyum manis disambut baik oleh Helen yang tidak menyangka jika akan kedatangan tamu karena Aliya tidak memberitahunya terlebih dahulu.
"Hana, ada Juna dan kedua orangtuanya datang," suara lembut terdengar memanggil Hana yang sedang bersama keponakan kecilnya.
Senyuman Hana terlihat, menyapa tamu yang datang. Penampilan Hana sangat sederhana dan tertutup menunjukkan wanita yang sangat sopan baik perilaku maupun tutur sapa.
Pembicara terdengar santai, penuh canda dan tawa. Hanya Juna yang duduk diam, tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Tidak menunggu lama Yandi juga datang, cukup binggung melihat Altha datang tanpa pemberitahuan.
Keterkejutan Yandi dapat Altha mengerti, mereka sebagai polisi pasti langsung paham tujuan hanya melalui ekspresi.
"Len, aku ingin bertanya soal hantaran Hana? apa saja?"
Hana menyebutkannya, dan masih menyimpan tanpa membongkar sedikitpun. Sudah memahami maksud kedatangan keluarga Juna.
"Ada apa Aliya? apa ada masalah?"
Aliya menceritakan kejadian malam akan melarang, Juna membatalkan karena perasaan menolak. Tanpa ada jeda sedikitpun, secara langsung kabar Genta menghilang terdengar dan konsentrasi beralih.
Pernikahan Tika dan Genta yang sudah mepet, ditambah lagi keduanya jatuh membuat Aliya belum memiliki waktu untuk menjelaskan.
Aliya sudah mengutarakan permintaan maaf secara langsung karena tidak bisa datang dan berkunjung, respon Helen juga membuat Al salah paham.
Kata memaklumi, Aliya berpikir soal lamaran yang diakhiri secara sepihak, tapi ternyata ada pihak lain yang mengambil kesempatan untuk mengirimkan hantaran mengatasnamakan keluarga Rahendra.
"Kalian ingin membatalkan pertunangan? lalu bagaimana harga diri Hana? jika memang salah paham, bisa diluruskan dan tidak harus membatalkan." Helen melepaskan tangan Aliya, mempertanyakan banyak hal kepada Juna yang membatalkan sepihak.
Permintaan maaf Juna terdengar, mengungkapkan jika tidak ada yang salah dari Hana, dia wanita terbaik. Juna yang bodoh karena tidak bisa melanjutkan, dia salah karena mengikuti hatinya.
Juna tidak bisa memaksa perasaan, dia ingin pernikahan bahagia. Hana pantas mendapatkan lelaki lebih dari dirinya.
"Itu penghinaan Juna, bagaimana kalian berapa tahun yang lalu menginginkan Hana sampai kami menolak banyak lamaran demi hubungan baik kita. Hana rela menunggu kamu sampai dia melewati waktunya menikah." Bagi Helen pertunangan yang diumumkan di publik tidak merugikan Juna sama sekali, tapi berbeda dengan Hana. Nama baiknya tercoret sehingga banyak orang yang meragukan dirinya pantas tidaknya menjadi seorang istri.
__ADS_1
"Maafkan Juna, aku hanya ingin menjaga nama baik keluarga." Suara tamparan terdengar, kepala Juna menunduk membiarkan Helen memarahinya.
"Sakit tidak? tentu tidak bagi kamu, tapi bagi kami ini menyakitkan Juna!"
"Kak Helen cukup, Juna datang baik-baik bicarakan secara kekeluargaan,"
"Kekeluargaan apa? kamu tuli! dia memutuskan hubungan keluarga Hana. Apa kamu tidak malu?"
Kepala Hana menggeleng, dia tidak malu sama sekali karena apa yang terjadi bukan kesalahan Juna. Hana bersyukur karena Juna jujur tanpa bersandiwara.
Pernikahan yang dipaksakan tidak akan ada baiknya, Hana juga tidak menginginkannya jika hanya demi hubungan baik terpaksa menerima pernikahan.
Tangan Aliya mengepal kuat, tidak terima Putranya ditampar. Jika Juna dan Altha tidak menahan kuat tangannya mungkin Helen sudah mendapatkan tendangan hingga terbang jauh.
Al tidak terima Putranya dipukul, sudah Aliya katanya semuanya salah dirinya. Juna sudah jujur terhadap hatinya, tapi Al yang lalai.
"Lebih baik kalian pulang!"
"Ayo kita pulang Jun, aku tidak terima ada yang menyakiti anakku,"
"Al, lalu bagaimana dengan adikku? apa hanya kamu yang ingin melihat putra kamu bahagia, aku juga ingin adikku bahagia. Jika kamu diposisi aku bagaimana? seandainya Ria yang diperlakukan seperti ini apa kamu bisa menerimanya?" Air mata Helen menetes, begitupun dengan Aliya.
"Sudah aku katakan, ini salah aku. Tampar saja aku Len, jangan Putraku. Kamu kecewa sama aku juga, hubungan kita sangat dekat, bahagia Hana juga bahagia aku. Tetapi jika Putraku mengatakan tidak, sebaik apapun pilihanku maka aku tidak bisa." Al meneteskan air matanya menatap Helen yang sama terlukanya.
Helen melangkah ke depan pintu, membukanya lebar meminta keluarga Juna keluar. Dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan apapun lagi.
"Len, jaga sopan santun kamu. Tidak ada yang akan pergi selama aku di sini. Kamu tidak punya hak mengusir mereka,"
"Mereka menghina keluarga kita?"
Yandi menatap Hana memintanya melepaskan cincin pertunangan, Hana langsung melakukannya. Juna juga meletakkan cincin di atas meja.
"Kita memiliki hubungan baik jangan karena batalnya hubungan kalian maka hancur hubungan kita. Berhentilah bersikap paling bener, kita semua sudah tua jangan ikut campur untuk pernikahan siapapun." Yandi tersenyum melihat Hana untuk mengusap air matanya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira