
Sudah larut malam Diana belum juga tidur, berguling-guling di atas tempat tidur, memukul ponselnya dan mencoret kertas.
Suara ketukan pintu terdengar, Diana sengaja diam meksipun mendengar ketukan dan panggilan Daddy-nya.
Dimas melangkah masuk, melihat Diana yang mencoret kertas sampai sobek.
"Ada apa Di?"
"Baik-baik saja Dad, Diana mungkin hanya lelah." Senyuman menyeringai terlihat.
"Jika lelah tidur, bukan bergadang." Dimas duduk di kursi rias Diana menatap putrinya yang masih dengan posisi awal.
Diana diam sesaat, air matanya menetes. Di tidak mengerti sekarang dia mudah sekali menangis.
Dimas menyadari jika putrinya memiliki masalah perasaan, padahal Dimas tahu Diana sudah berusaha memperbaiki dirinya.
"Dad, hati Diana sakit." Suara tangisan Diana terdengar menyayat hatinya.
"Cerita sama Daddy, jika berat jangan ditanggung sendiri." Dimas meminta Diana duduk di hadapannya.
Usia tidak memandang kedewasaan seseorang, Di tahu jika dirinya tidak dewasa dan masih sangat jauh dari kata baik.
Diana mengagumi sosok Hendrik karena di depan mata Di sangat baik, penyayang. Diana merasa tenang dan menginginkan untuk mendapatkan rasa kasih sayang yang tidak Diana dapatkan saat kecil.
Perasaan suka hancur dalam satu hari, dan Di memakluminya meskipun sebenernya sakit.
"Tidak ada yang tahu isi hati seseorang, apa yang di lihat mata belum tentu benar. Diana bisa memaafkan meksipun Hendrik menghina masa lalu Diana." Tangan Diana menghapus air matanya, menatap Daddy-nya yang tersenyum tenang.
"Di, apa yang kita pikir jahat memiliki alasan, begitupun perbuatan baik. Jangan pikiran baik buruknya seseorang, kamu hanya perlu memperbaiki diri kamu. Yang baik belum tentu sempurna, dan yang buruk belum tentu kejelekan." Dimas menggenggam tangan Diana sangat erat.
Diana tersenyum menganggukkan kepalanya, sebaik apapun dirinya tidak akan baik di mata orang yang tidak menyukainya.
"Daddy, Diana sedih saat Gemal memanggil nama Alina psikopat. Sakit sekali rasanya sampai Diana ingin mati saja, meksipun Diana tahu memang seorang psikopat." Suara tangisan Diana sangat besar didengar oleh Dean yang mengintip dari balik pintu.
Dimas menggelengkan kepalanya, mengusap air mata Di yang terus mengalir di pipinya. Suara tangisan Dean juga terdengar langsung berlari memeluk kakaknya.
"Kakak kenapa? siapa jahat sama kakak? nanti Dean marahi. Kakak tidak boleh menangis dan meninggalkan Dean." Tangisan Dean terdengar memeluk erat kakaknya sampai tidak ingin dilepaskan.
Anggun menangis di balik pintu, hatinya sedih mendengar tangisan kedua anaknya apalagi mendengar keluh kesah Diana soal perasaannya.
Diana memeluk erat adik mengusap kepala Dean agar berhenti menangis. Diana meminta maaf karena sudah membuat adiknya bersedih.
"Dean temani kakak tidur, Dean jaga sampai sakitnya sembuh."
__ADS_1
"Iya, maafkan Kak Di. Sudah jangan menangis." Diana tersenyum melihat adiknya, Daddy-nya bahkan Mommynya ikut menangis bersamanya.
Sekarang Diana sadar, dibalik kesedihannya ada kedua orangtuanya yang ikut terluka saat dirinya bersedih.
"Daddy, jangan marah kepada Gemal. Dia tidak salah, karena hanya mengenal sisi buruknya Diana tanpa tahu kebaikan Di." Mata Diana terpejam, menggenggam tangan adiknya tidur berdua.
Dimas hanya diam sampai hampir subuh duduk diam menemani Diana dan Dean tidur. Anggun masuk kamar mengusap punggung suaminya.
"Hati aku sakit melihat Di sedih, aku gagal menjaga dia dan melindunginya dari masa lalu. " Dimas meneteskan air matanya, memeluk pinggang Anggun yang juga menangis.
"Daddy, putri kita akan baik-baik saja, Diana gadis kuat. Adanya masalah, cara menguji kekuatan Diana melalui kelemahannya." Anggun mengusap kepala suaminya yang sudah menjadi ayah terbaik.
Anggun mendekati Diana, mencium keningnya. Meskipun Diana sudah dewasa, di mata Anggun masih putri kecilnya yang tidak boleh tersakiti.
Tatapan Anggun melihat putranya yang menggenggam erat tidak ingin melepaskan, meksipun keduanya selalu bertengkar.
***
Pagi-pagi Anggun sudah menyiapkan sarapan menunggu anak-anak bangun, suara Diana heboh sudah terdengar langsung memeluk Mommynya.
Dika melempar Diana mengunakan kotak tisu, sikap Diana yang kekanakan tidak berubah sama sekali.
Salsa juga tersenyum melihat Diana yang berbanding kebalik antara rumah dan rumah sakit.
"Kamu hari ini istirahat saja Di." Dimas mengusap kepala putrinya yang sudah ceria kembali.
"Biarkan Daddy yang bicara dengannya." Tatapan Dimas langsung tajam.
Anggun menepuk pundak suaminya yang mulai emosi, meminta Dimas memberitahu Diana tanpa banyak protes.
"Kamu pergi ke sana bersama Daddy."
"Daddy." Diana dan Anggun langsung melotot.
"Daddy, berhenti ikut campur urusan perempuan. Biarkan Dean saja yang ikut." Senyuman Dean terlihat.
"Sekolah Dean, ingat nilai kamu bebek semua." Dika tertawa melihat wajah Dean yang cemberut.
Salsa mengusap kepala Dean, membantunya duduk di kursi makan dan menyiapkan susu.
"Makan uncel biar tidak keriput, Uncle sudah tua." Bibir Dean monyong meminum susunya agar cepat besar.
Diana mencium pipi Mommynya dan Dean, memeluk Dimas dan Dika melambaikan tangan kepada Salsa untuk pamit pergi.
__ADS_1
"Diana lucu sekali."
"Tanpa Diana rumah ini sepi, kak Dimas dan kak Anggun sama-sama pendiam." Dika tersenyum melihat Salsa yang tertawa kecil.
Diana melajukan mobilnya menuju lokasi yang Daddy-nya berikan, sebelum pergi Diana mampir untuk membeli buah tangan.
Di tahu jika Gemal tinggal bersama ibunya, dan langsung membawakan beberapa kue kesukaannya.
"Karena ini kunjungan pertama, maka beli apapun yang aku sukai." Di tersenyum memasukan makanan.
Diana ingin tahu sejauh apa Gemal mengenal sosok Alina sampai terlihat marah, juga kecewa.
Mobil Di melaju ke rumah Gemal, Diana merasa aneh karena tempat yang dia kunjungi tidak asing.
"Rasanya aku pernah lewat sini?" Diana menghentikan mobilnya saat melihat Gemal duduk di atas jembatan.
Banyak wanita berlalu lalang lewat di depannya, dari anak ABG sampai ibu-ibu juga senyum melihat Gemal.
Tatapan Gemal fokus ke bawah, mengabaikan siapapun yang menyapa karena perasaan Gemal juga tidak tenang.
Diana berdiri di depan Gemal membuat banyak wanita menatap Diana sinis karena Gemal hanya bisa didekati berjarak lima meter, jika tidak dia pasti marah.
"Hei." Diana menyentuh kedua pundak Gemal yang kaget karena hampir didorong oleh Diana.
Tatapan mata Gemal tajam, menepis tangan Diana sambil memalingkan wajahnya.
"Ish tidak tahu malu sudah ditolak masih dikejar." Seorang wanita menatap Diana tajam.
Bibir atas Diana terangkat, menatap dengan matanya yang tajam. Jika tidak ada Gemal, sudah Diana robek mulutnya.
"Ayo kita bicara."
"Pergilah! tinggalkan aku sendiri."
"Sendiri, tapi kanan, kiri, depan penuh orang dari usia belasan tahun sampai lima puluh tahun menikmati ketampanan kamu. Dasar hobi tebar pesona." Diana menarik tangan Gemal sampai turun dari jembatan.
"Lepaskan!"
"Kamu ingin bicara masalah Alina di sini, baiklah akan aku mulai. Alina psikopat kecil yang membunuh seluruh keluarganya, bukan hanya keluarga tapi asisten rumahnya. Alina itu ...." Diana tersenyum Gemal menutup mulutnya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
vote hadiahnya ya