ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
CITA-CITA


__ADS_3

Senyuman Tika terlihat, sudah mengenakan baju kebaya yang menjadi pilihannya. Tubuhnya yang langsing membuatnya semakin cantik. Bukan hanya Tika yang sudah mengenakan baju kebaya, Ria juga sudah siap.


Satu minggu tidak membuat masalah membuat Ria mati rasa, hanya melamun seperti tidak ada kehidupan.


"Ria, Kak Tika cantik tidak?"


"Pertanyaan bodoh, jika tidak cantik tebas saja leher MUA nya. Dibayar mahal bukan untuk menjadi badut, tapi ratu." Tatapan Ria Isel membuat tim MUA menundukkan kepalanya.


Ria terkenal dengan sikapnya yang tidak sopan, juga sangat angkuh. Tidak pernah menjaga perasaan orang lain.


"Maafkan Ria, dia memang seperti itu." Tika tertawa melempar wajah adik perempuan menggunakan kotak tisu.


Di dalam kamar hanya ada Tika dan Ria, saling berdiam diri. Mata Ria terpejam, berguling-guling di atas tempat tidur.


"Kak, nanti setelah menikah sering-sering pulang ke rumah, bermain lagi bersama Ria." Suara lembut dan pelan terdengar, Ria sedang menahan kesedihannya.


"Kakak tidak pergi ke manapun Ria, nanti kita berdua bukan tidak memiliki waktu bertemu atau bermain dan bertengkar seperti sebelumnya, hanya saja kita yang sudah terlalu sibuk." Tika menatap adik bungsunya, Ria bukan lagi adik kecil yang selalu menangis setelah bertengkar dengan Tika, bukan lagi di cengeng yang selalu mengadu kepada Kakaknya.


Adik kecil Tika menjadi wanita remaja, mulai sibuk dengan dirinya yang mencari jati diri. Bukan Tika ataupun Ria yang kesepian, namun Papi dan Maminya.


"Kamu jangan terlalu sering membatah Mami, kemungkinan tahun depan Juan juga sudah sekolah di negara lain. Kak Tika dan Kak Juna mungkin sudah sibuk dengan rumah tangga masing-masing, sisa kamu yang harus memutuskan jalan." Langkah Tika terdengar mendekati Ria yang sudah menangis.


Bagi Ria waktu terlalu cepat, dia belum ingin dewasa dan masih ingin bermain dan bersenang-senang. Menjahili Kakaknya, bertengkar dengan Maminya, lalu mengadu kepada Papi.


"Kamu harus mulia mencari teman, dia akan lawan juga kawan untuk kamu. Jangan kecewa jika belum menemukan teman sejati, teman yang menjilat lebih banyak." Tawa Tika terdengar, mengusap air mata Adiknya untuk mulai menyesuaikan diri.


"Tidak ada yang ingin berteman dengan Ria, kita berada di tingkat yang berbeda." Bibir Ria monyong, jika selama ini hanya menemukan musuh yang ingin menjatuhkannya.


"Kak Tika dan Shin juga dulunya musuh, kita berlawanan dan saling menjatuhkan,"


"Beda cerita, orang seperti Kak Shin hanya satu-satunya." Tatapan mata sinis masih terlihat.


Helaan napas Tika terdengar, Adiknya yang terobsesi menjadi orang paling cantik, dan juga populer sulit bergaul dengan orang yang berada di bawahnya.

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar, senyuman Juan terlihat barulah menatap Kakak perempuannya yang terlihat sangat cantik.


"Kak, semuanya sudah siap." Juan duduk di samping Tika yang menepuk pinggir ranjang.


"Juan, apa cita-cita kamu?"


Mendengar pertanyaan Tika pertama kalinya, mereka tidak dipaksa menjadi sesuatu karena pendidikan juga taat agama juga diutamakan.


"Entahlah ... Juan belum memikirkannya." Terlalu banyak pilihan yang membuat Juan binggung apalagi berkali-kali dia melangkah kelas melewati Ria dan Dean sehingga merasa binggung.


"Apa yang kamu sukai?"


"Juan ingin menjadi Dokter, kepintaran Juan sampai di sana. Sesekali ingin menjadi polisi juga agar bisa membela kebenaran, tapi bisnis juga baik. Atau Juan menjadi pilot saja?"


Teriakan Tika dan Ria terdengar bersama, mata tajam dua wanita Rahendra terlihat. Tidak ada yang mengizinkan Juan menjadi pilot karena akan jauh dari keluarga.


Sudah Juan juga tidak akan mendapatkan dukungan, seharusnya sejak awal tidak dipertanyakan apa cita- citanya.


"Lanjutkan bisnis keluarga kita, saat kamu berusia 17 tahun gantikan Kak Tika. Ria sudah memilih mimpinya, dan kamu harapan terakhir kami." Nada bicara Tika tegas, menatap adik laki- lakinya yang hanya mengangguk.


Jika suatu hari dia memilih menjadi dokter itu sesuatu yang luar biasa, kepintarannya bisa dimanfaatkan untuk menyelamatkan banyak nyawa. Begitupun jika memilih menjadi polisi, pekerjaannya juga mulia untuk membela kebenaran juga memberikan keadilan.


"Tika, jangan membebani Juan, dia bukan pembuangan terakhir untuk melanjutkan apapun. Lakukan apapun yang kamu sukai Juan, Kak Juna akan selalu mendukung kamu." Juna merangkul adik lelakinya yang tersenyum lebar.


Tatapan mata tiga orang melihat ke arah Ria, satu-satunya cita-cita yang tidak bermanfaat keinginan Ria. Dia ingin menjadi aktris juga model terkenal.


Menjadi seseorang yang dikenal di seluruh penjuru dunia, dan tidak ingin mengikuti keinginan keluarganya.


Tidak ada satupun dari keluarga yang menyetujui keinginan Ria, pilihannya terlalu mengumbar.


"Kenapa menatap Ria? aku akan tetap menjadi aktris." Mata Ria lebih tajam dibandingkan lainnya.


"Perdalam bela diri kamu agar bisa menjaga diri," Tika memperingati Ria yang sudah mulai menunjukkan mimpinya.

__ADS_1


"Perdalam juga ilmu kamu agar bisa menjadi seseorang yang bijak, berpretasi juga bermoral." Juna juga meminta Ria rajin belajar.


"Perdalam juga ilmu agama kamu agar bisa menjaga diri, dari dosa." Senyuman Juan terlihat menatap Ria yang mulai kesal.


"Seorang aktris tidak harus pintar, tidak juga harus ahli bela diri karena ada bodyguard, dan ilmu agama tidak ada di dunia artis, tidak mungkin aku sholat di panggung." Ria geleng-geleng kepala menatap tiga saudaranya yang aneh.


Juna meminta semuanya mengakhiri pembicaraan, dan mimpi Ria belum mendapatkan persetujuan sampai dia bisa mengalahkan Tika, mengimbangi kepintaran Juan, dan memperdalam ilmu agamanya.


"Tika, kita keluar sekarang untuk menuju hotel." Juna mengulurkan tangannya.


Senyuman Tika terlihat, memeluk lengan Juna dan Juan. Teriakan Ria terdengar lompat dari atas tempat tidur, merangkul lengan Juna untuk segera keluar.


Seluruh keluarga Tika sudah bersiap untuk berangkat, tatapan Tika melihat Dina dan Ana berserta keluarga ikut bergabung dengan keluarga Tika.


"Kenapa mereka berdua mirip kuntilanak?"


Semua orang menatap ke arah Ria, mata Aliya juga tajam memperingati untuk diam. Mulut Ria bisa membuat orang tersinggung.


"Siapa yang mirip kuntilanak?" Tika menatap Ria yang cemberut.


Bibir Ria monyong, menunjuk ke arah Dina dan Ana Seluruh orang menggunakan kebaya sedangkan keduanya menggunakan baju tertutup bahkan tidak menunjukkan bentuk badan sama sekali.


"Ria, mereka tidak bisa menggunakan kebaya karena membentuk tubuh," Juan meminta Ria diam.


"Kenapa ikut? merusak mata dan kenyamanan. Ria tidak suka ada yang keluar dari konsep,"


Senyuman Tika terlihat, apa yang Ria rasakan juga Tika rasakan. Penampilan yang berbeda membuatnya risih, sia-sia mencoba baju seragam jika akhirnya ada yang tidak mematuhi.


"Itu kak Shin, gila cantiknya." Ria menunjuk ke arah Shin yang ada di depan gerbang pintu rumahnya sebelum keluarga juga ke hotel.


Juna juga melihat ke arah Shin, tersenyum melihatnya yang sedang berbicara dengan penjaga.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2